Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 110 – Hari Keempat Kedatangan Agung Sedayu

Ketika sudah merasa cukup untuk mengalihkan perhatian supaya suasana tidak meningkat makin tegang, Agung Sedayu kemudian berkata, “Ki Gede sekalian. Yang terlewat dari pembahasan adalah mereka mungkin sengaja mundur karena ingin menghindari perang sampai titik darah penghabisan.”

“Bagaimana maksud Ki Rangga?” tanya Ki Gede dengan alis berkerut.

“Mereka menguasai sebagian wilayah Sangkal; Putung dalam waktu cukup lama. Hingga Panembahan Hanykrawati berpulang, mereka masih juga tak bergerak menyerang atau melakukan hal lain. Selain karena semua jalur telah ditutup sehingga tidak ada jalan selain yang mengarah ke Tanah Perdikan, mengapa mereka menempuh jalan itu? Mengapa mereka tidak memaksakan diri untuk masuk dengan cara bertempur habis-habisan? Tentu ada sesuatu yang tidak kita ketahui dan sedang dalam pengembangan pemikiran para pemimpin mereka,” ucap Agung Sedayu. “Di Alas Krapyak, mereka harus kehilangan tokoh panuran, Ki Sekar Tawang. Mereka memaksakan diri agar tetap dapat mencapai kedudukan mendiang Panembahan Hanykrawati yang berada di dalam pesanggrahan perburuan bersama Raden Mas Rangsang. Tapi Panembahan Hanykrawati sedang berada dalam keadaan yang mustahil tersentuh oleh tangan manusia. Jadi, setelah Watu Sumping, saya simpulkan bahwa Ki Garu Wesi adalah orang yang jauh lebih waspada dan hati-hati setelah peristiwa Alas Krapyak.”

“Segalanya terlihat masuk akal dan sulit dibantah jika kita memandang kejadian Watu Sumping pada keadaan sekarang,” ucap Pandan Wangi.

Ki Gede mengangguk, demikian pula Prastawa.

“Apakah Ki Rangga dapat meraba alasan mereka mundur hingga tanah Menoreh?” tanya Prastawa.

Agung Sedayu menggeleng, katanya kemudian, “Yang kita lihat adalah mereka menguasai sebagian Sangkal Putung, lalu bergerak mundur tanpa peduli dengan penilaian orang bahwa mereka kalah perang di Watu Sumping.”

Ki Gede Menoreh menerawang jauh sambil berucap, “Seandainya kita tahu maka itu tidak mengurangi ancaman mereka pada tanah ini. Kita tegaskan untuk tidak peduli dengan alasan mereka, itu pun tidak mengubah keadaan bahwa Raden Atmandaru dan pengikutnya ambil bagian pada sejumlah kerusuhan diTanah Perdikan dan Mataram.”

“Bila demikian, apakah saya dapat mengutarakan sebagian rencana untuk mengatasi  gerakan Raden Atmandaru?” Agung Sedayu meminta izin pada Ki Gede Menoreh.

“Silakan. Saya percayakan dengan wewenang penuh sebagai Kepala Tanah Perdikan Menoreh pada Ki Rangga dan Prastawa sebagai kepala keamanan,” jawab Ki Gede Menoreh lalu mengangkat tongkat yang menjadi simbol kekuasaannya. “Ki Rangga dan Prastawa dapat membuat keputusan penting tanpa perlu membicarakan lagi dengan saya.”

Ki Gede Menoreh kemudian mengalihkan pandangan pada Pandan Wangi, katanya, “Wangi, kau dapat mendampingi mereka berdua.”

Pandan Wangi mengangguk lalu berkata, Saya siap sedia, Ayah.”

Agung Sedayu lantas meminta Prastawa agar membuat kesan seolah-olah seluruh wilayah Tanah Perdikan Menoreh menjadi daerah yang tidak terjaga. Tentu saja permintaan itu memaksa Prastawa berpikir keras. Dalam keadaan yang cukup genting, menarik pengawal dari tugas perondaan dan penjagaan tentu akan mengundang kecurigaan dari pihak lawan. Meski sempat menolak sambil mengemukakan bantahan, Prastawa akhirnya dapat menerima permintaan Agung Sedayu sebagai bagian siasat perang. Demikianlah suasana pembicaraan hingga senja pun menjadi hangat karena setiap orang bebas menyatakan pikiran.

Saat Majapahit diguncang intrik dan dendam pasukan tersingkir, nama Bondan mulai disebut sebagai harapan—atau ancaman

Hari keempat kedatangan Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh.

Keesokan harinya, siasat Agung Sedayu ternyata membuat Tanah Perdikan Menoreh menjadi gempar. Sebagian pengawal saling bertanya-tanya sementara mereka sudah mendengar pergerakan laskar Ki Garu Wesi ke arah lereng Gunung Kendil. Itu benar-benar membuat kening mereka berkerut. Tapi karena tidak ada yang keberatan, baik Ki Gede maupun Prastawa, maka berangsur-angsur siasat senapati Mataram itu dapat mereka terima dengan sepenuh hati.

Tak hanya para pengawal, kabar peniadaan kegiatan penjagaan dan perondaan bahkan mengundang rasa penasaran dari barak pasukan khusus sendiri. Tapi mereka dapat sabar menunggu penjelasan Ki Rangga Agung Sedayu atau orang yang akan mewakilinya. Dalam waktu itu, Glagah Putih cukup sibuk menjawab pertanyaan dari sebagian lurah atau kepala regu pasukan khusus. Tapi Glagah Putih juga mengatakan bahwa dirinya pun tidak mengetahui alasan di balik penarikan pengawal.

“Kami mendengar pengosongan gardu-gardu jaga itu berawal dari usulan Ki Rangga,” kata seorang kepala regu pada Glagah Putih. “Tentu saja itu seperti menambah beban pikiran dan perasaan banyak orang Menoreh. Bagaimana baiknya kita pada hari ini, Ki?”

“Saya sama sekali belum bertemu Ki Rangga sejak beliau meninggalkan barak ini,” ucap Glagah Putih. “Tadi malam, kami juga tidak bertemu. Apakah Ki Rangga bermalam di rumah atau di tempat lain? Beliau tidak mengtakan apa pun pada saya. Jadi, lebih baik kita bersabar hingga Ki Rangga datang lalu membuat segalanya tampak terang benderang.”

Kerumunan kecil itu lantas membubarkan diri seelah menganggap saran Glagah Putih itu cukup masuk akal. Hubungan baik yang dibangun berdasarkan rasa saling percaya seringkali menjadi benteng terakhir yang paling kuat. Sesederhana itulah sikap para ketua regu saat mendengar atau menyaksikan suatu peristiwa yang terkait dengan keputusan pemimpin mereka.

Keputusan Agung Sedayu yang kemudian dijalankan Prastawa cepat meluas dan dapat mencapai dusun-dusun kecil perbukitan Menoreh. Para bekel dan jagabaya bahu membahu menerapkan perintah itu dengan sgenap kemampuan. Walau sebagian menganggapnya sebagai kejanggalan karena tidak ada rencana cadangan untuk mengisi gardu jaga, tapi mereka tetap memandang baik keputusan yang datang dari pedukuhan induk tersebut.

Keadaan itu juga menjadi bahan pembicaraan pengikut Raden Atmandaru. Bahkan sekelompok orang yang jarang turut serta dalam banyak peristiwa pun merasa penting untuk membicarakan itu.

“Aku kira sebaiknya ada orang yang dapat mendampingi Raden Atmandaru pada keadaan yang tidak menentu seperti saat sekarang,” ucap Ki Hariman. Orang ini sudah berdiam di Gunung Kendil jauh sebelum Alas Krapyak menjadi rusuh. Namun demikian, dia tidak sering berhubungan dengan banyak orang selain Ki Manikmaya. Dua orang tersebut pun lebih banyak bicara dan bertukar pikiran tentang kanuragan. Persamaan lainnya adalah mereka jarang membahas tata kelola pemerintahan seandainya Raden Atmandaru berhasil merebut singgasana Mataram.

Mendengar ucapan Ki Hariman, Ki Manikmaya mengerutkan kening lalu menduga dalam pikirannya bahwa orang itu seakan sedang melepaskan diri dari tanggung jawab gerakan. Maka dia pun berkata, “Berpekan-pekan kita berada di lapangan ini. Makan dan tidur tak jauh dari gua. Tiba-tiba Kyai berpendapat tentang Raden Atmandaru.”

“Kyai, harap tidak salah paham dengan ucapan tadi,” sahut Ki Hariman. “Aku pikir kita masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri. Lawan yang bakal Kyai hadapi jelas bukan perempuan sembarangan. Bahkan kita pun tidak dapat mengabaikan Mataram meninggalkannya hanya karena dia seorang perempuan renta. Aku tidak mengatakan ilmu Kyai belum sepadan dibandingkan perempuan itu, tapi lebih pada menyayangkan karena sebenarnya kita masih ada waktu.”

Ki Manikmaya menatap tajam Ki Hariman. Meski tidak secara langsung mengatakan kedangkalan imunya, tapi dia cukup berani secara terbuka membandingkan dirinya dengan perempuan renta, Nyi Banyak Patra.

“Bukan aku yang lebih membutuhkan waktu tambahan, tapi engkaulah orangnya yang mempunyai kepentingan itu,” tukas Ki Manikmaya. “Mendalami tulisan tidak pernah sama dengan orang yang pernah bertemu dengan orang yang menulisnya. Agung Sedayu maupun Swandaru jauh lebih mudah memahami maksud tulisan karena meeka bertemu langsung dengan Kyai Gringsign. Sedangkan Anda hanya dapat membaca. Itu bukan cara yang baik dan sesuai jalur sekalipun kemampuan Anda jauh di atas perempuan renta itu.”

Ki Hariman tertawa lantang, kemudian berkata, “Apakah Kyai juga menginginkan kitab ini? Marilah, Kyai tidak perlu malu untuk mengatakan terus terang. Anda lihat, berapa banyak orang-orang berkemampuan tinggi di sekitar Kyai yang ingin mendapatkan kitab Kyai Gringsing?”

Kabar mengenai kitab Kyai Gringsing yang berada di tangan Ki Hariman bukanlah omong kosong di kalangan pengikut Raden Atmandaru, tapi  mereka hanya dapat memendam keinginan untuk merebutnya dari Ki Hariman. Kesaktian Raden Atmandaru menjadi bahan pertimbangan khusus bagi orang-orang yang haus ilmu kanuragan dan pengobatan. Ki Tunggul Pitu dan Ki Sekar Tawang sudah tidak menjadi halangan, tapi Ki Garu Wesi dan Ki Manikmaya dapat melibas mereka dengan mudah.

Lebih dari itu, pemikiran Raden Atmandaru dengan membiarkan kitab Kyai Gringsing tetap berada di tangan Ki Hariman juga bukan tanpa alasan. Perhatian Agung Sedayu akan terbagi dan itu akan menjadi kelebihan yang dapat dimanfaatkan. Serahkan Ki Hariman pada senapati Mataram itu, lalu hantam Mataram dengan sekuat-kuatnya! Bagi Raden Atmandaru, keberadaan Ki Patih Mandaraka dan Agung Sedayu adalah duri yang harus disingkirkan lebih cepat dibandingkan Pangeran Purbaya. Dia sudah mempunyai jurus khusus untuk menghadapi putra mendiang Panembahan Senapati tersebut. Tai semuanya masih membutuhkan waktu untuk mewujudkan rencana.

Mendadak suasana di sekitar dua orang itu menjadi hening. Pendengaran mereka menangkap getar suara kedatangan seseorang yang melangkah cepat menuju ke tempat mereka berbincang. Sekejap kemudian, tatapan mata mereka memandang pada arah selatan.

Seorang laki-laki berperawakan sedang melambaikan tangan pada Ki Manikmaya dan Ki Hariman. Setelah berhadapan dengan dua orang itu, dia berkata, “Raden Atmandaru menyampaikan harapan yang baik untuk Ki Sanak berdua.”

“Harapan yang sama pula untuk beliau pada masa-masa mendatang, jayalah selamanya,” sahut Ki Manikmaya, sedangkan Ki Hariman membalasnya dengan anggukan kepala.

“Raden Atmandaru menitipkan pesan pula agar Ki Sanak sekalian berkenan datang di kemah induk,” lanjut utusan Raden Atmandaru kemudian menambahkan, “secepatnya.” Usai menyampaikan pesan pendek Raden Atmandaru, orang itu segera meminta diri lalu berbalik arah sebelum Ki Manikmaya dan Ki Hariman memberi tanggapan,

“Marilah, selain kedatangan Ki Garu Wesi, tentu ada hal lain yang tak kalah penting,” kata Ki Manikmaya sambil mengibaskan kain panjang yang membalut kakinya. SAama persis dengan utusan Raden Atmandaru, Ki Manikmaya juga meninggalkan tempat tanpa menunggu tanggapan Ki Hariman.

“Edan kabeh!” umpat Ki Hariman lirh lalu bersegera menyusul langkah Ki Manikmaya.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 60 – Cambuk Agung Sedayu Belum Berhenti Berdentum

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 48 – Keberanian Agung Sedayu Membatasi Gerak Pangeran Selarong

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 66 – Swandaru Menebar Ancaman

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.