Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 98 – Uap Panas Ilmu Kebal: Sebuah Perlindungan Pandan Wangi

Menyadari bahwa tamu mereka juga membutuhkan waktu untuk sendiri, Ki Gede lantas mempersilakan Kinasih beristirahat.

“Angger dapat meluruskan punggung sepanjang malam,” ucap Ki Gede pada Kinasih. “Tentu saja ada kepayahan dan kejenuhan karena Angger melewati masa sulit lebih lama daripada kami di Tanah Perdikan.”

Kinasih pun meminta diri lalu bergegas menuju bilik yang disiapkan untuknya.

Demikianlah, Prastawa dan Ki Gede segera membicarakan pokok-pokok penting dari jawaban Kinasih. Di sela-sela pembicaraan itu, sekali-kali Prastawa melontarkan pandangan jauh. Dia berharap pada kehadiran Agung Sedayu dan Pandan Wangi pada waktu itu.

Pada percakapan yang diselimuti kabut tipis yang mulai menurun. Gerimis tipis membuat suasana malam di Tanah Perdikan terasa cukup mencekam.

Di pendapa, beberapa peristiwa yang tidak diungkapkan oleh Kinasih pada Prastawa membuat Ki Gede Menoreh  mengakui bahwa Agung Sedayu tidak salah pilih utusan. Kinasih benar-benar menjawab sesuai dengan pertanyaan. Gadis itu tidak keluar dari jawaban yang sama dengan yang diterima Ki Gede Menoreh.

Namun demikian, Prastawa mengernyitkan dahi ketika Ki Gede menyampaikan berita yang tidak didengarnya dari Kinasih.

“Apakah ada niat tertentu darinya dengan tidak mengatakan peristiwa itu pada saat saya sedang bicara dengannya?” tanya Prastawa pada Ki Gede.

“Sebelum kau datang, aku sengaja memintanya untuk menjawab pertanyaanmu saja,” jawab Ki Gede.

“Tapi, Paman, saya terkunci dari peristiwa Slumpring maupun kotaraja,” kata Prastawa, “bahkan, maaf, Paman pun tidak membuka hal itu pada saya.” Nada sedikit jengkel jelas terdengar dari suaranya.

Ki Gede mengangguk, Dia mengerti suasana hati Prastawa yang berkembang saat itu. Prastawa  mengenal baik Agung Sedayu sehingga bagaimana mungkin dia membiarkan Agung Sedayu terancam bahaya? Ki Gede kemudian berkata, “Aku sengaja tidak membeirtahumu karena beberapa pertimbangan.”

“Saya mendengarkan,” sahut Prastawa.

“Besar kemungkinan kau akan menyusul Agung Sedayu atau setidaknya mengirim orang untuk mencari tahu keberadaannya. Sedangkan kita tahu bahwa ancaman masih mengintai wilayah ini pada masa itu, ” jelas Ki Gede.

Prastawa membenarkan penilaian itu tapi dia masih berdiam diri.

“Yang terpenting dari itu semua adalah kabar Slumpring dapat mengguncang perasaan para pengawal. Itu adalah kenyataan yang mungkin terjadi. Walau masih sebuah kemungkinan, kita tidak dapat membiarkan kabar angin berhembus lalu memunculkan anggapan-anggapan yang buruk tentang diri Ki Rangga atau kita semua,” kata Ki Gede. “Lawan dapat menggunakan segala pemikiran dan percakapan yang timbul menjadi senjata tanpa wujud.”

“Tapi mereka tetap membicarakan tanpa setahu kita, ” Prastawa mencoba membantah.

“Anakku, kita tidak dapat mengendalikan pikiran maupun perasaan orang lain. Tapi, bukankah pembicaraan itu mereda karena setiap pemimpin Tanah Perdikan ternyata tidak mengetahui persis kejadian itu? Seandainya kau tahu, para bebahu juga mengetahui, apakah tidak ada penambahan atau pengurangan dari berita itu?” Ki Gede bersuara lunak.

Sebenarnya Prastawa dapat melihat serta menerima kebenaran dari ucapan Ki Gede Menoreh, maka dia pun menghembus napas kuat-kuat. Agaknya dia ingin membuang kegeraman.

“Untuk itu, aku ingin kau membuka ruang maaf bagi Paman atas pertimbangan itu,” kata Ki Gede. “bahkan bila kau anggap Paman tidak mematuhimu sebagai kepala keamanan dan kau anggap membahayakan, hukuman darimu pasti aku jalankan dengan penuh kerelaan.”

Lagi-lagi Prastawa berkutat dengan udara dingin yang terasa menyesakkan dada. Bagaimana dia dapat menghukum Ki Gede Menoreh, pemimpin tertinggi Tanah Perdikan sekaligus juga pamannya?

Sejenak kemudian kesunyian datang melanda pendapa. Baik Ki Gede maupun Prastawa sama-sama bergayut di alam pikiran dan perasaan masing-masing.

Jauh di belakang kediaman Ki Gede Menoreh.

Gerimis tipis membasahi rambut Agung Sedayu dan kain penutup kepala Pandan Wangi. Mereka tidak berpencaran untuk menelusuri atau mencari bekas-bekas yang mungkin ditinggalkan oleh lawan. Tidak pula ada percakapan padahal mereka berdiri berdampingan dalam jarak yang cukup dekat. Barangkali mereka sedang sama-sama mengenang pertempuran masa silam ketika Ki Peda Sura menebar ancaman. Suasana yang membedakan hanyalah curah hujan, tapi kegelapan malam dan juga perasaan masih sama seperti yang dulu.

“Apakah kau sudah tak dapat menahan diri?” tanya Agung Sedayu memecah keheningan.

Pandan Wangi menggeleng, lalu jawabnya, “Saya masih dapat bertahan mengikuti Kakang.” Suara Pandan Wangi terdengar bergetar.

“Baiklah,” ucap Agung Sedayu sembari mengangguk meski sempat muncul keraguan dalam hatinya. “Kita bergerak lagi.”

Wilayah yang akan mereka datangi sebenarnya adalah daerah yang cukup luas dengan keadaan tanah yang tidak bersahabat, apalagi pada malam buta dan gerimis seperti pada waktu itu.

Penjelajahan itu… Mereka seperti tidak mengenal lelah atau udara dingin! Agung Sedayu dan Pandan Wangi melakukan pengamatan, membuat penilaian  serta pemeriksaan dengan bertumpu pada kemampuan meringankan tubuh!

Demi menuntaskan rencana yang akan disusun, Agung Sedayu memerlukan lebih banyak bahan yang dianggap penting. Dia bahkan menerobos penjagaan barak pasukan khusus! Sementara Pandan Wangi melakukan pekerjaan di luar barak. Rupanya Agung Sedayu sudah memperhitungkan keberadaan Glagah Putih dan Rara Wulan di dalam barak pasukannya, maka permintaan agar Pandan Wangi tetap berada di luar memang masuk akal. Ketinggian ilmu Glagah Putih dapat menjangkau desir langkah Pandan Wangi. Bukan karena kemampuan Pandan Wangi yang lebih rendah, tapi pergerakan Glagah Putih sudah berada pada tingkat yang membahayakan rencana mereka. Seandainya putra Ki Widura itu dapat mendengar jejak langkah Pandan Wangi lalu mengejarnya, itu bukan masalah jika tidak ada prajurit yang tahu. Tapi jika pergerakan Glagah Putih diketahui prajurit meski tingkat bawah, maka seisi barak akan bersiaga. Berita akan meluas keesokan harinya lalu didengar Raden Atmandaru. Siapa yang dapat menjamin pasukan khusus bersih dari mata-mata? Agung Sedayu tentu tidak ingin pasukannya menjadi sibuk karena urusan yang tidak perlu!

arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak

Penaklukan Panarukan, Buku Pertama dari serial Pangeran Benawa, bergerak di antara strategi, ketegangan batin, dan akibat yang tidak selalu bisa dipilih. Tidak semua tokohnya yakin, tidak semua perintah terasa benar, namun roda sejarah tetap berputar tanpa menunggu keraguan manusia. — – Tersedia versi PDF.

Maka keberadaan Sukra pun dapat diketahui Agung Sedayu yang sudah berada di dalam barak. Senapati Mataram itu tersenyum dan juga merasa lega. Jika Sukra sudah bertemu dengan Glagah Putih, maka Ki Lurah Sanggabaya pun segera dapat meraba kemungkinan-kemungkinan yang akan masuk dalam rencananya, pikir Agung Sedayu. Setelah merasa cukup dengan segala yang dilihat dan juga didengarnya di dalam barak pasukan khusus, Agung Sedayu melesat keluar lalu menjumpai Pandan Wangi di tempat yang telah disepakati.

Selanjutnya mereka menjelajah hingga mencakup dua pedukuhan yang mengapit pedukuhan induk. Agung Sedayu dan Pandan Wangi mendatangi pula tempat-tempat penyimpanan perbekalan, menyisir aliran sungai, ngarai dan pekarangan-pekarangan yang terpencil. Tidakkah mereka merasa lelah karena kemampuan puncak yang terus menerus dikerahkan?

Saat kokok ayam hutan lamat-lamat terdengar untuk pertama kali, Agung Sedayu dan Pandan Wangi berjalan beriringan pada jalan setapak di sebelah selatan sebuah pategalan yang membatasi permukiman dengan hutan kecil. Setibanya di depan kedai yang terletak pada ujung jalan setapak itu, Agung Sedayu mengajak Pandan Wangi untuk berteduh di bawah sosoran jerami. Saat itu mereka sudah masuk jarak kurang seribu langkah dari rumah Ki Gede Menoreh.

Meski terus bergerak dengan cara luar biasa, pakaian mereka tidak terhindar dari sapuan gerimis. Suasana tidak begitu pekat karena cahaya oncor dari seberang jalan dapat menjangkau beranda kedai. Diterangi pencahayaan yang muram itu, Agung Sedayu seolah disadarkan akan keadaan Pandan Wangi. Pakaian biasa membuat lekuk tubuh perempuan tangguh itu tampak jelas saat keadaan cukup terang. Pandan Wangi adalah perempuan yang pandai merawat diri walaupun ketat berlatih kanuragan, maka pergunjingan dapat melanda pedukuhan induk. Betapa pada saat hujan turun malam hari, dua orang dewasa berjalan berdampingan dengan pakaian basah. Apa kata orang jika garis-garis tubuh Pandan Wangi tampak mencolok?

Dengan kesadaran penuh, Agung Sedayu menapak ilmu kebal tingkat puncak. Udara mendadak menjadi panas! Uap air segera membumbung dan itu dapat dirasakan oleh Pandan Wangi.

Ketika akan bertanya mengenai keadaan yang tiba-tiba berubah, Agung Sedayu cepat memberi tanda agar Pandan Wangi menutup mulut. Lalu Agung Sedayu mengarahkan telunjuk pada telinganya sendiri. Mengertilah Pandan Wangi kemudian bahwa terdengar napas yang sangat halus dari balik dinding kedai.

Sambil membiarkan udara panas bekerja di sekitar mereka, Agung Sedayu dan Pandan Wangi bertatap mata dengan perasaan yang sama ; aneh!

Sepengetahuan mereka berdua, pemilik kedai adalah orang yang tidak mengerti olah kanuragan. Orang itu pun bukan penduduk dari pedukuhan induk. Dia membuka kedai pada pagi hari lalu menutupnya saat menjelang senja. Dia juga tidak bermalam kecuali saat tertentu semisal atas permintaan Ki Gede atau ada semacam perayaan di pedukuhan induk. Maka desah napas itu, siapakah? Agung Sedayu bergeming dan meminta Pandan Wangi bersikap sama sepert dirinya. Diam dan mendengarkan saja. Ternyata ada tiga desah napas yang berbeda!

Agung Sedayu lantas menggerakkan tangan – mengajak Pandan Wangi meninggalkan kedai lalu bergerak ke rumah Ki Gede Menoreh. Pandan Wangi menyambutnya dengan anggukan kepala.

Sesaat kemudian, mereka berdua mengayun kaki disertai kemampuan menyerap bunyi yang sangat hebat. Suasana remang memang masih belum sepenuhnya menyapa wilayah Tanah Perdikan. Tapi Agung Sedayu sudah merasa cukup dengan keadaan kain yang mereka kenakan. Setidaknya garis tubuh Pandan Wangi tidak tampak mencolok mata, pikir senapati Mataram itu. Kulitnya memang tidak seterang Sekar Mirah, tapi ada sisi yang selalu mendapatkan tempat dalam hati Agung Sedayu.

“Lalu, siapakah mereka?” tanya Pandan Wangi dengan nada lirih setelah mereka berdua berada dalam jarak yang cukup dari kedai.

“Kita sama-sama tidak dapat membuat dugaan,” ucap Agung Sedayu, “nanti kita dapat mencari keterangan dari para pengawal. Tapi, memang, benar-benar aneh.” Seolah ingin memastikan tidak ada orang yang membuntuti mereka, Agung Sedayu berpaling ke belakang.

Pandan Wangi mengikuti sikap Agung Sedayu dengan menoleh pula ke belakang. Kemudian dia tersenyum, lalu ucapnya, “Terima kasih, Kakang.”

Agung Sedayu mengerutkan kening, lalu bertanya, “Untuk apa?”

Sambil menunjukkan kain yang tak begitu basah, Pandan Wangi berkata, “Ini meski pada mulanya saya terkejut.”

Batin Agung Sedayu mengatakan bahwa dia sedang menempuh perjalanan singkat yang sulit dilupakan. Satu tarikan napas panjang tapi begitu lembut keluar dari pernapasan Agung Sedayu. Namun begitu, kesiagaan senapati Mataram itu belum kendur. Maka dia berkata kemudian, “Apakah kita tetap berada pada jalur ini atau bergeser? Kita berada pada waktu yang sulit untuk bertemu dengan orang. Jika kita tiba-tiba terlihat berada di dekat regol, tentu orang akan mengira kita tidak datang dari Sangkal Putung.”

Kata-kata Agung Sedayu dipandang benar oleh Pandan Wangi, tapi dia tidak segera menyatakan setuju. Perempuan yang disegani di Tanah Perdikan itu malah berkata, “Perpindahan jalur pun tetap akan mengundang pertanyaan orang.”

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 102 – Tansah Amuji Maha Nata

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 20 – Kemesraan, Janganlah Kau Cepat Berlalu

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 81 – Ketegasan Sekar Mirah

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.