Padepokan Witasem
Bab 4 Gunung Semar

Gunung Semar 4

“Namun demikian, sebaiknya kalian tidak mengikuti prasangka yang mungkin akan kalian dengar dari penduduk sekitar lereng. Bagian selatan yang seakan berbentuk bulat harus kalian pahami sebagai bumi bila ia berberbentuk kecil. Di kawasan itu kalian dapat melihat orang-orang bercocok tanam dengan cara yang khusus. Mereka membuat kebun dan pategalan justru pada bagian yang hampir tegak lurus. Kalian dapat membayangkan kesulitan mereka untuk menjaga keseimbangan tubuh, tetapi kalian telah melihat pemandangan itu selama kalian berada di sini.

“Lalu di sisi utara kalian dapat melihat gunduk tanah lebih tinggi. Dan kalian akan setuju bila bagian itu adalah sebuah gardu penjagaan yang disediakan alam. Itu adalah puncak gunung Semar. Satu hamparan tanah lapang akan segera dapat diawasi bila kalian menempatkan prajurit penjaga. Kegiatan di sungai Brantas juga dapat dilihat dengan baik dalam keadaan cerah. Tepat di bawah puncak Semar ada bangunan ini,” telunjuk Mpu Gandamanik mengarah sekeliling ruangan.

 

Dua pekan berlalu dan Gumilang yang setia menemani Bondan pun mulai mengajaknya untuk kembali melenturkan otot-otot yang mulai enggan untuk bergerak. Mpu Gandamanik  merasa bahagia melihat kemajuan yang dicapai Bondan. Ia  pun sudah merasa cukup untuk merawat Bondan.

“Bondan, sudah saatnya engkau pergi dari sini. Eyang sudah melihat dirimu sehat seperti semula hanya beberapa latihan lagi engkau akan seperti sedia kala,” tutur Mpu Gandamanik dengan lembut kepada anak muda yang sudah dianggap seperti cucunya sendiri.

“Eyang, sebenarnya saya masih ingin berlama-lama di sini,” ujar murid Resi Gajahyana ini dengan kepala tunduk. Ia merasa satu pengulangan kisah akan terjadi lagi dalam hidupnya. Setelah kepergian orang tua untuk selamanya dan segera menyusul seorang yang sedang duduk di dekatnya.

“Tidak,” Mpu Gandamanik mengusap kepala Bondan sambil berkata lembut. “ Bondan. Semakin engkau lama bersamaku, engkau akan menyesali keputusanmu itu.”

“Di tempat ini saya dapat merasakan ketenangan, Eyang. Untuk sejenak saya ingin menata segala hal yang sempat porak poranda,” kata Bondan lirih, “maka izinkan saya tinggal untuk satu musim tanam.” pinta Bondan dengan mencium tangan Mpu Gandamanik.

“Justru itulah aku akan merasa bersalah kepada saudaraku, Resi Gajahyana. Lihatlah dirimu sekarang, engkau berusia muda dengan pengetahuan yang hampir menyamai seorang resi dan kemampuan yang seban-ding dengan beberapa orang berilmu tinggi. Tidak! Engkau belum saatnya untuk bertempat di sini,” senyum Mpu Gandamanik benar-benar meluluhkan hati Bondan yang telah berniat kuat untuk lebih lama lagi di gunung Semar.

“Anak Muda, seringkali perpisahan menjadi hal yang dapat menunda sebuah kebahagiaan. Atau bahkan sebuah perpisahan seringkali menjadi awal kebahagiaan,” kata Mpu Gandamanik seraya mengangsurkan keris Mpu Ngablak pada pemilik aslinya, Bondan..

“Itu benar, Eyang. Tetapi hanya untuk saat ini saya merasa kita tidak akan bertemu lagi,” desah Bondan dalam hatinya. “Aku yang telah merasakan sentuh jemarimu di masa lalu, kini ingin mengulang kembali masa itu dengan suasana yang berbeda. Setelah sekian lama, Eyang. Begitu lama.”

Belasan tahun yang lalu, di usia yang masih sangat muda itu, Bondan belum dapat memahami arti penting dari sebuah perpisahan. Kali ini ia merasakan kehampaan dalam hidupnya untuk kedua kali. Perjalanannya meninggalkan Pajang dan waktu yang akan tiba sesaat lagi, meninggalkan gunung Semar.

Untuk sejumlah waktu ia tenggelam dalam kenangan. “Aku pun akan meninggalkan kotaraja dan memulai kehidupan baru karena ia telah menantiku. Pertemuan dan perisahan adalah kelengkapan yang utuh,” kembali Bondan berdesah tanpa suara. Sekilas bayang wajah terpampang jelas di bawah kelopak matanya, “Bagaimana keadaannya? Kepada siapa aku bertanya?”

Related posts

Leave a Comment