Padepokan Witasem
Langit Hitam majapahit, silat Bondan, Padepokan Witasem, Gajah Mada, Majapahit
Bab 4 Gunung Semar

Gunung Semar 5

Mpu Gandamanik menghela napas lembut. Ia berkata, “Tempat ini adalah sebuah awal bagimu, jika engkau tidak sanggup melihatnya sebagai penanda. Engkau dapat mengira bahwa tempat ini adalah tanah kelahiran  seorang lelaki bernama Bondan, meski itu tidak dapat menampik kenyataan bahwa engkau adalah cucu Resi Gajahyana.

“Dari tempat ini, engkau dapat melihat segala sesuatu dengan cara pandang yang baru tanpa mengabaikan dasar-dasar yang telah ada. Kakekmu telah membekali dirimu dengan pengetahuan yang luar biasa, pengajaran yang dahsyat dan sebangsal ilmu kanuragan yang hebat. Maka tidak akan ada yang mampu menggeser semua itu dari hatimu.

“Aku adalah penerus kata-kata Resi Gajahyana. Ia pernah mengatakan ini kepadamu, ‘ketika engkau meninggalkan regol halaman lalu meniti jalan untuk mencari, sebenarnya itu adalah tujuan akhir dari perjalanan.’ Beranjaklah untuk ayunan langkah yang sudah semestinya telah menjadi kewajibanmu untuk menempuhnya. Gunung Semar akan menjadi pengingat bagimu ketika engkau telah beranjak lebih tinggi. Segala yang terlihat jelas oleh mata wadag sebenarnya menyimpan kepalsuan. Sebaliknya, kadang kala yang dianggap palsu atau tidak nyata justru menyimpan yang sejati,” Mpu Gandamanik memungkasi kalimatnya seraya mengikatkan udeng me- lingkari kepala Bondan.

Gumilang segera bangkit berdiri, ia tidak ingin Bodnan semakin tenggelam dalam laut keengganan. Kedua tangan Gumilan terulur mengajak Bondan untuk meninggalkan Mpu Gandamanik. Sekalipun dalam hati Gumilang ingin mengajak serta tabib yang rendah hati ini ke Trowulan tetapi ia tahu bahwa Mpu Gandamanik akan menolak ajakannya.

loading...

Tak lama kemudian, Bondan serta Gumilang mohon pamit untuk kembali ke Trowulan kepada Mpu Gandamanik.

“Eyang, semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.” Bondan menundukkan kepala.

“Tataplah ke depan, Ngger. Aku tahu engkau akan mengalami penempaan luar biasa,” sahut Mpu Gandamanik kemudian.

Keduanya memberi penghormatan terakhir. Bondan tidak melepas kedua lutut Mpu Gandamanik dengan segera.

Dalam diam, ia bercakap sendiri, “Bilakah masa itu tiba mendatangimu, ke mana aku harus mencarimu, Tuan Guru? Resi Gajahyana dan engkau adalah mentari dan rembulan bagiku. Ketika tenggelam mentari, bulan akan hadir sebagai pengganti. Lalu jika keduanya pergi?”

Bondan memutar tubuh lalu menyusul di belakang Gumilang. Keduanya dengan tangkas melompat ke atas punggung kuda lalu memacu perlahan menuju ibu kota kerajaan.

###

Matahari untuk sesaat telah melewati garis tengah perjalanannya ketika Bondan dan Gumilang tiba di kotaraja. Bola cahaya itu menyibak malam dengan kelembutan sinar berwarna keemasan. Terangnya merambat lembut di setiap benda yang disentuh. Embun tak lagi malu untuk bergulir lembut. Menetes dari ujung daun dan dahan, perlahan dan penuh kehati-hatian. Kemilau bulir embun seperti berlian yang menawan setiap mata yang memandang.

Tidak banyak yang dilakukan oleh Bondan sejak kedatangannya kembali di rumah Nyi Retno. Walau begitu, ia terlibat pembicaraan sungguh-sungguh sehari setelah kepulangannya dari tempat Mpu Gandamanik.

“Inilah yang aku khawatirkan terjadi padamu, Bondan,” suara Nyi retno menghempas kesunyian senja.

Bondan merunduk. Ia tidak ingin membantah bibinya atau membenarkan perbuatannya.

Wedaran Terkait

Gunung Semar 6

kibanjarasman

Gunung Semar 4

kibanjarasman

Gunung Semar 3

kibanjarasman

Gunung Semar 2

kibanjarasman

Gunung Semar 1

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.