Gunung Semar 3

“Apabila engkau melihat gunung ini dari kejauhan, mungkin pertanyaan akan muncul dalam benakmu.”
Lelaki muda yang berkedudukan sebagai seorang lurah dalam pasukan berkuda Majapahit itu mengangguk. “Memang tidak seperti puncak gunung atau bukit yang lain.”
Mpu Gandamanik mengembangkan bibir, kemudian ucapnya, “Sisi timur tanah pegunungan ini seperti sebuah segi empat dengan sudut tumpul. Sulit bagimu untuk mengatakan bulat karena bulat bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Punggung perbukitan ini memanjang lalu mempunyai puncak tumpul di sisi utara. Sebagian orang yang mengerti siasat perang telah menyatakan bahwa gunung yang kecil ini sangat tepat untuk menjadi benteng alam.”
“Sebagian orang…,” Bondan bergumam.
“Ya, hanya sebagian,” lanjut Mpu Gandamanik, “karena sebagian yang lain berpikir bahwa tanah pegunungan ini adalah cermin khayangan. Mereka membayangkan persinggahan para dewa, terlebih jika kabut begitu rapat menutup seluruh permukaan tanah.
“Namun demikian, sebaiknya kalian tidak mengikuti prasangka yang mungkin akan kalian dengar dari penduduk sekitar lereng. Bagian selatan yang seakan berbentuk bulat harus kalian pahami sebagai bumi bila ia berberbentuk kecil. Di kawasan itu kalian dapat melihat orang-orang bercocok tanam dengan cara yang khusus. Mereka membuat kebun dan pategalan justru pada bagian yang hampir tegak lurus. Kalian dapat membayangkan kesulitan mereka untuk menjaga keseimbangan tubuh, tetapi kalian telah melihat pemandangan itu selama kalian berada di sini.
“Lalu di sisi utara kalian dapat melihat gunduk tanah lebih tinggi. Dan kalian akan setuju bila bagian itu adalah sebuah gardu penjagaan yang disediakan alam. Itu adalah puncak gunung Semar. Satu hamparan tanah lapang akan segera dapat diawasi bila kalian menempatkan prajurit penjaga. Kegiatan di sungai Brantas juga dapat dilihat dengan baik dalam keadaan cerah. Tepat di bawah puncak Semar ada bangunan ini,” telunjuk Mpu Gandamanik mengarah sekeliling ruangan.

Dua pekan berlalu dan Gumilang yang setia menemani Bondan pun mulai mengajaknya untuk kembali melenturkan otot-otot yang mulai enggan untuk bergerak. Mpu Gandamanik merasa bahagia melihat kemajuan yang dicapai Bondan. Ia pun sudah merasa cukup untuk merawat Bondan.
“Bondan, sudah saatnya engkau pergi dari sini. Eyang sudah melihat dirimu sehat seperti semula hanya beberapa latihan lagi engkau akan seperti sedia kala,” tutur Mpu Gandamanik dengan lembut kepada anak muda yang sudah dianggap seperti cucunya sendiri.
“Eyang, sebenarnya saya masih ingin berlama-lama di sini,” ujar murid Resi Gajahyana ini dengan kepala tunduk. Ia merasa satu pengulangan kisah akan terjadi lagi dalam hidupnya. Setelah kepergian orang tua untuk selamanya dan segera menyusul seorang yang sedang duduk di dekatnya.
“Tidak,” Mpu Gandamanik mengusap kepala Bondan sambil berkata lembut. “ Bondan. Semakin engkau lama bersamaku, engkau akan menyesali keputusanmu itu.”
“Di tempat ini saya dapat merasakan ketenangan, Eyang. Untuk sejenak saya ingin menata segala hal yang sempat porak poranda,” kata Bondan lirih, “maka izinkan saya tinggal untuk satu musim tanam.” pinta Bondan dengan mencium tangan Mpu Gandamanik.
“Justru itulah aku akan merasa bersalah kepada saudaraku, Resi Gajahyana. Lihatlah dirimu sekarang, engkau berusia muda dengan pengetahuan yang hampir menyamai seorang resi dan kemampuan yang seban-ding dengan beberapa orang berilmu tinggi. Tidak! Engkau belum saatnya untuk bertempat di sini,” senyum Mpu Gandamanik benar-benar meluluhkan hati Bondan yang telah berniat kuat untuk lebih lama lagi di gunung Semar.
“Anak Muda, seringkali perpisahan menjadi hal yang dapat menunda sebuah kebahagiaan. Atau bahkan sebuah perpisahan seringkali menjadi awal kebahagiaan,” kata Mpu Gandamanik seraya mengangsurkan keris Mpu Ngablak pada pemilik aslinya, Bondan..
“Itu benar, Eyang. Tetapi hanya untuk saat ini saya merasa kita tidak akan bertemu lagi,” desah Bondan dalam hatinya. “Aku yang telah merasakan sentuh jemarimu di masa lalu, kini ingin mengulang kembali masa itu dengan suasana yang berbeda. Setelah sekian lama, Eyang. Begitu lama.”
Belasan tahun yang lalu, di usia yang masih sangat muda itu, Bondan belum dapat memahami arti penting dari sebuah perpisahan. Kali ini ia merasakan kehampaan dalam hidupnya untuk kedua kali. Perjalanannya meninggalkan Pajang dan waktu yang akan tiba sesaat lagi, meninggalkan gunung Semar.
Untuk sejumlah waktu ia tenggelam dalam kenangan. “Aku pun akan meninggalkan kotaraja dan memulai kehidupan baru karena ia telah menantiku. Pertemuan dan perisahan adalah kelengkapan yang utuh,” kembali Bondan berdesah tanpa suara. Sekilas bayang wajah terpampang jelas di bawah kelopak matanya, “Bagaimana keadaannya? Kepada siapa aku bertanya?”
Mpu Gandamanik menghela napas lembut. Ia berkata, “Tempat ini adalah sebuah awal bagimu, jika engkau tidak sanggup melihatnya sebagai penanda. Engkau dapat mengira bahwa tempat ini adalah tanah kelahiran seorang lelaki bernama Bondan, meski itu tidak dapat menampik kenyataan bahwa engkau adalah cucu Resi Gajahyana.
“Dari tempat ini, engkau dapat melihat segala sesuatu dengan cara pandang yang baru tanpa mengabaikan dasar-dasar yang telah ada. Kakekmu telah membekali dirimu dengan pengetahuan yang luar biasa, pengajaran yang dahsyat dan sebangsal ilmu kanuragan yang hebat. Maka tidak akan ada yang mampu menggeser semua itu dari hatimu.
“Aku adalah penerus kata-kata Resi Gajahyana. Ia pernah mengatakan ini kepadamu, ‘ketika engkau meninggalkan regol halaman lalu meniti jalan untuk mencari, sebenarnya itu adalah tujuan akhir dari perjalanan.’ Beranjaklah untuk ayunan langkah yang sudah semestinya telah menjadi kewajibanmu untuk menempuhnya. Gunung Semar akan menjadi pengingat bagimu ketika engkau telah beranjak lebih tinggi. Segala yang terlihat jelas oleh mata wadag sebenarnya menyimpan kepalsuan. Sebaliknya, kadang kala yang dianggap palsu atau tidak nyata justru menyimpan yang sejati,” Mpu Gandamanik memungkasi kalimatnya seraya mengikatkan udeng me- lingkari kepala Bondan.
Gumilang segera bangkit berdiri, ia tidak ingin Bodnan semakin tenggelam dalam laut keengganan. Kedua tangan Gumilan terulur mengajak Bondan untuk meninggalkan Mpu Gandamanik. Sekalipun dalam hati Gumilang ingin mengajak serta tabib yang rendah hati ini ke Trowulan tetapi ia tahu bahwa Mpu Gandamanik akan menolak ajakannya.
Tak lama kemudian, Bondan serta Gumilang mohon pamit untuk kembali ke Trowulan kepada Mpu Gandamanik.
“Eyang, semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.” Bondan menundukkan kepala.
“Tataplah ke depan, Ngger. Aku tahu engkau akan mengalami penempaan luar biasa,” sahut Mpu Gandamanik kemudian.
Keduanya memberi penghormatan terakhir. Bondan tidak melepas kedua lutut Mpu Gandamnik dengan segera.
Dalam diam, ia bercakap sendiri, “Bilakah masa itu tiba mendatangimu, ke mana aku harus mencarimu, Tuan Guru? Resi Gajahyana dan engkau adalah mentari dan rembulan bagiku. Ketika tenggelam mentari, bulan akan hadir sebagai pengganti. Lalu jika keduanya pergi?”
Bondan memutar tubuh dan menyusul di belakang Gumilang. Keduanya dengan tangkas melompat ke atas punggung kuda lalu memacu perlahan menuju ibu kota kerajaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *