Lanjutan Api Di Bukit Menoreh 397 – 5

Agung Sedayu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala lalu mengangkat tangan memberi isyarat untuk tenang. Kemudian ia menuruni tangga panggungan dan bergegas menuju bilik khususnya, dan seperti biasa Agung Sedayu akan menyempatkan diri untuk pulang ke rumahnya barang sejenak. Tak berapa lama kemudian sanggar terbuka itu telah menjadi sunyi karena para prajurit telah bergeser tempat ke barak masing-masing untuk sekedar melepaskan lelah dan makan siang bersama-sama kawan-kawannya. Kebahagian dan kepuasan terpancar dari raut muka mereka setelah beberapa pekan lamanya berusaha untuk menyesuaikan diri dan mengikuti rencana serta latihan-latihan yang telah disusun Ki Rangga Agung Sedayu dibantu lima orang lurah prajurit.

Ketika Agung Sedayu memasuki regol halaman rumahnya sambil menuntun kuda, Sekar Mirah bergegas menyambut suaminya ketika ia mengetahui kedatangan Agung Sedayu. Setelah bertegur sapa dan sambil berbincang ringan, kedua suami istri berjalan menuju ruang dalam. Agung Sedayu sejenak ke pakiwan untuk membersihkan kakinya.

“Apakah Ki Jayaraga tidak pulang siang ini?” bertanya Agung Sedayu.

“Sebentar lagi akan pulang, Kakang. Sukra tidak bisa mengantarkan bekal makan siang ke sawah. Tadi Ki Gede mengutus seorang pengawal untuk memanggil Sukra,” Sekar Mirah menjawab pertanyaan suaminya seraya menghidangkan wedang jahe yang hangat dengan gula kelapa.

“Oh, adakah persoalan yang penting hingga Sukra dipanggil Ki Gede?”

” Tidak, Kakang. Akan tetapi Ki Gede memang akan memberi petunjuk dan pesan kepada Sukra untuk meningkatkan kegiatan para peronda.”

“Baiklah, anak itu sudah mulai dikembangkan oleh Ki Gede secara perlahan.”

“Agaknya memang demikian. Marilah, Kakang harus segera mencoba masakan hari ini. Ki Jayaraga mendapat kiriman beberapa ekor ikan gurame dari Ki Sunu, yang kebetulan hari ini menjaring ikan di blumbang yang dibuatnya bersama Ki Jayaraga beberapa bulan lalu.”

“Apakah kita tidak menunggu Ki Jayaraga dan Ki Waskita serta Sukra?”

“Ki Jayaraga tadi berpesan untuk mempersilahkan kakang terlebih dahulu karena mungkin ia akan ketiduran di gubuk, sedangkan Ki Waskita agaknya tadi menyertai Sukra ke rumah Ki Gede,” berkata Sekar Mirah dengan wajah yang berkesan ada yang kurang mapan di hatinya.

Agung Sedayu segera merasakan perubahan itu, kemudian, ”Marilah, Mirah”.

Sebenarnyalah Agung Sedayu mengerti perasaan istrinya yang kurang berkenan jika Sukra makan siang bertiga dengan pasangan suami istri itu. Meski demikian, Agung Sedayu hanya mendiamkan sikap istrinya karena Sukra sendiri juga jarang berada di rumah.

Selepas mereka makan siang, Sekar Mirah bergegas membereskan peralatan di meja dan membawanya ke belakang. Pendengaran tajam Agung Sedayu menangkap desir langkah mendekati ruang yang di tempatinya. Lalu terdengar seseorang bersenandung tembang macapatan.

”Ki Jayaraga,” desah Agung Sedayu dalam hatinya.

Ki Jayaraga yang memasuki ruangan itu pun melihat Agung Sedayu yang sedang beristirahat.

“Angger Sedayu,” kata Ki Jayaraga sambil mengangguk hormat.

“Kiai,” balas Agung Sedayu.

Setelah saling menanyakan keadaan masing-masing, kedua orang ini pun terlibat pembicaraan lebih dalam.

“Angger, agaknya Tanah Perdikan sekarang mulai kedatangan beberapa orang yang aku kira bukan rakyat tanah ini,” berkata Ki Jayaraga mengawali perbincangan.

“Oh, apakah karena kedatangan orang-orang asing itu lalu Ki Gede memanggil Sukra ?” Agung Sedayu bertanya.

“Semua masih membutuhkan penilaian lebih ke dalam, ngger. Sudahlah, angger lebih baik bergegas ke barak agar tidak terlambat,” berkata Ki Jayaraga lalu,” nanti malam sekembalinya angger dari barak, kita bicarakan lagi bersama Ki Waskita.”

Agung Sedayu mengangguk kecil kemudian meminta diri kepada Sekar Mirah dan Ki Jayaraga. Maka sejenak kemudian dengan diiringkan Sekar Mirah sampai regol halaman, Agung Sedayu menghela kudanya menuju ke barak pasukan khusus.

Sebenarnyalah ketika matahari mulai menanjak tinggi, seorang pengawal pedukuhan induk telah meminta Sukra ke rumah Ki Gede.

“Marilah Sukra, duduklah,” berkata Ki Gede yang sudah berada di pendapa ketika terlihat olehnya beberapa orang memasuki regol halaman. Sukra membungkuk hormat lalu mengambil tempat duduk berhadapan dengan Ki Gede.

Kemudian,” Oh Ki Waskita agaknya tidak menyertai Ki Jayaraga ke sawah?” bertanya Ki Gede.

Sambil tersenyum, Ki Waskita menjawab,” agaknya Ki Jayaraga sedang ingin menikmati semilir angin di gubuknya tanpa ada gangguan orang lain.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam kemudian menatap Sukra yang menundukkan kepala, kemudian,” Sukra, sebenarnya aku mendapatkan laporan bahwa pedukuhan induk telah kedatangan beberapa orang asing. Beberapa pengawal dan peronda mengatakan jika mereka telah melihat sekelompok orang dengan ciri-ciri yang menunjukkan bahwa mereka bukan berasal dari tanah perdikan ini.”

Setelah terdiam sejenak, Ki Gede melanjutkan,” Nah karena itulah aku memanggilmu kemari agar nantinya kau dapat berbicara dengan kelompok pengawal yang lain, terutama Prastawa. Agar nantinya engkau dapat mulai membantu Prastawa dalam menjalankan tugas-tugasnya.”

Ki Waskita dapat menangkap maksud Ki Gede Menoreh yang agaknya mulai memberi wewenang kepada Sukra dengan perlahan mendorong anak itu untuk tampil sebagai salah satu pemimpin pengawal. Kemudian Ki Gede memberikan pesan-pesan untuk disampaikan ke Prastawa dan bagi perkembangan jiwani Sukra sendiri.

“Setelah itu, kau dapat menanti tugas-tugas dari Prastawa. Baiklah, kau dapat segera menjalankan tugas ini secepatnya.”

“Baik, Ki Gede,” berkata Sukra kemudian mengangguk hormat juga kepada Ki Waskita lalu ia meminta diri bersama seorang pengawal yang tadi memanggilnya.

Maka sejenak kemudian mereka berdua berpapasan dengan seseorang yang cukup tua ketika keluar dari regol halaman.

” Permisi, Ngger. Apakah betul ini rumah Ki Gede Menoreh?” tanya orang tua itu sambil membungkuk hormat.

Kedua anak muda itu kemudian berhenti dan membalas hormat kepada orang tua itu, lalu, ”Betul, Ki Sanak. Apakah Anda ingin bertemu dengan Ki Gede?” berkata Sukra.

“Benar, Ngger,” orang tua itu menjawab.

Dengan kening berkerut, Sukra bertanya,” Siapakah Anda dan dari mana berasal?”

“Orang biasa memanggilku dengan sebutan Ki Bagaswara. Aku berasal dari padepokan Tegal Payung ,anak muda. Siapakah nama Angger berdua?” orang tua itu menjawab dengan senyum. Ia bergumam dalam hatinya, ”Agaknya Tanah Perdikan Menoreh mulai bersikap hati-hati terhadap orang asing. Apakah para pengikut Pangeran Ranapati sudah mulai menyusup ke tanah ini?”

“Namaku Puguh dan ia adalah Sukra, Kiai,” berkata teman Sukra dengan memberi isyarat ibu jari menunjuk Sukra. Sukra membungkuk hormat.

“Marilah Kiai. Saya antarkan Anda bertemu Ki Gede,” berkata Sukra sambil mempersilahkan orang tua itu memasuki regol halaman rumah Ki Gede.

Ki Gede Menoreh dan Ki Waskita rupanya masih berada di pendapa untuk berbincang tentang banyak persoalan. Agaknya kedatangan Sukra bertiga telah diketahui mereka berdua. Ki Gede memandang Ki Waskita dengan kening berkerut. Ki Waskita hanya menggelengkan kepala ketika menatap wajah Ki Gede yang berkerut.

Kawan Sukra lebih dahulu menaiki tangga, lalu berkata, ”Ki Gede, ada seseorang menyebut dirinya Ki Bagaswara dari padepokan Tegal Payung yang berkeinginan menemui Ki Gede.”

2 thoughts on “Lanjutan Api Di Bukit Menoreh 397 – 5

  1. When I initially commented I clicked the “Notify me when new comments are added” checkbox and now each time a comment is added
    I get three emails with the same comment. Is there any way you can remove people from that service?
    Cheers! Maglia PSG 2019 2020 SabinaLor MarlysIll CooperBab ConcettaA
    Dortmund Tröja Luke TaniaVall LaunaShaf

  2. Please let me know if you’re looking for a article writer for your site.
    You have some really good posts and I believe I would be a good asset.
    If you ever want to take some of the load off, I’d really
    like to write some content for your blog in exchange for a link back to mine.
    Please send me an e-mail if interested. Regards!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *