Padepokan Witasem
Bab 1 Menuju Kotaraja

Menuju Kotaraja 4

Sampar mencoba mengejar namun kini ia telah menyadari bahwa anak muda yang dikejarnya bukan pemuda biasa. Prana Sampar yang bernafsu untuk membunuh Bondan pun tiba-tiba disergap keraguan.Meski begitu, ia mempunyai pikiran buruk apabila Bondan menjadi sumber berita tentang tersiarnya kabar pembunuhan Wiratama.

Tidak mudah mengalahkannya tetapi ia harus dihentikan dengan segala cara! Tekad Prana Sampar menggumpal di hatinya.

Ia tidak membatalkan niat, tangannya berkelebat cepat melontarkan beberapa paku besi yang kemudian meluncur deras di belakang punggung Bondan. Tetapi murid Resi Gajahyana ini hampir menghilang dari pandangan mata. Dalam waktu singkat, pemuda ini telah menjauh dari tatap mata pemburunya sekalipun Sampar telah mengerahkan tenaganya untuk mengejar Bondan.

Kehilangan buruan menjadi sebab bagi Sampar untuk merasa semakin gusar di penghujung hari. Berulang-ulang ia menendang kerikil dan ranting yang melintang di jalan. Ia memutuskan untuk mengasingkan diri di satu tempat yang jauh dari jangkauan prajurit Majapahit.

***

Serabut merah menggelayut di langit senja Trowulan. Beberapa rumah mulai memperlihatkan gemerlap pelita kecil. Malu-malu debu jalanan menyapa setiap derap langkah yang melintasinya. Bondan Lelana mengayun langkah kaki ke rumah salah satu kerabatnya, Nyi Retna Ayu Indrawati, perempuan tangguh yang menjadi kepercayaan Mpu Nambi  Wanita yang berusia lebih daru setengah baya ini juga merupakan kakak dari ayah Bondan.

Dalam ayun langkahnya, Bondan merasa bersalah karena peristiwa siang tadi di tepi Sungai Brantas.  Ia berpikir bahwa jika ia tadi bergerak lebih cepat untuk melerai perkelahian maka tentu saja korban akan dapat dihindari.

Sebenarnya ia berada dalam kebimbangan antara benar dan salah. Namun ia membenarkan keputusannya untuk tidak mencampuri urusan orang-orang yang tidak dikenalnya.

Salah satu pertimbangannya untuk tidak turut dalam perkelahian adalah pakaian yang dikenakan oleh Wiratama. Saat pertarungan terjadi, Wiratama tengah mengenakan pakaian berlambang khusus. Sebuah lambang yang menjadi tanda  bahwa ia adalah prajurit yang sedang melaksanakan tugas. Maka setiap bantuan yang diberikan Bondan pada saat perkelahian berlangsung dapat saja menjadikan prajurit itu terhina. Dan jika ia tidak membantu pun mungkin perasaan itu akan selamanya ada.

“Ah sudahlah, kejadian telah berlalu dan tak ada yang bisa aku lakukan untuk menghidupkan mayat tadi. Dan aku juga tidak tahu sama sekali dalam urusan apakah akhirnya prajurit itu terbunuh,” gumam Bondan dalam hatinya dengan penyesalan. Sekalipun masih merasa sulit mengenyahkan ingatan tentang perkelahian siang tadi, Bondan yakin bahwa ia akan melewati kesulitan ini.

Satu-satunya penyesalan yang masih membekas cukup dalam di hati Bondan adalah ia tidak dapat merawat jasad Wiratama. Seorang prajurit tidak pantas ditinggalkan begitu saja di sebuah tanah lapang, pikir Bondan. Apalagi jika ia sedang menjalankan tanggung jawabnya.

“Oh, tidak! Aku berharap bayangan itu cepat beralih pergi dari mataku!” Bondan mendesah gusar dengan kepala terkepal dan pelan memukul kepalanya.

Gerbang utama kotaraja telah ia lalui. Malam itu Bondan memperhatikan bahwa ada sesuatu yang aneh di ibukota Majapahit. Setiap mata menaruh curiga kepadanya, satu bentuk pandangan mata yang tak pernah ia jumpai ketika melewatkan masa kecilnya di ibukota kerajaan untuk beberapa waktu. Bondan mendapati satu keanehan bahwa banyak sekali penjaga yang melakukan ronda pada awal malam. Para prajurit peronda berkeliling menyusur jalanan ibu kota dalam tenggang yang cukup rapat. Persenjataan lengkap terlihat melekat erat di sekujur tubuh mereka.

Sambil berusaha menarik sebuah kesimpulan, Bondan berjalan lebih cepat. Ia berhenti di depan sebuah rumah berhalaman luas yang dipenuhi jajar  beberapa tonggak kayu berujung pelita dari minyak jarak. Setelah melewati regol halaman dan melintasi lapangan rumput yang berada di bagian depan, Bondan menaiki anak tangga.

Tenang ia mengetuk pintu, sesaat kemudian terdengar langkah kaki bergegas membuka pintu.

“Siapa?” terdengar suara seorang lelaki dari dalam ruangan.

”Aku Bondan,” jawab Bondan dalam kehangatan. Lelaki muda seusia Bondan yang membuka pintu itu sedikit terkejut.

”Ah, akhirnya kau menginjakkan kaki kembali ke rumah ini,” Tersenyum lebar lelaki muda ketika melihat paras yang tak asing baginya. Dua orang bersaudara  ini lantas berpelukan penuh kerinduan setelah sekian lama terpisah karena Bondan harus mengikuti orang tuanya ke Pajang.

Related posts

Leave a Comment