Sabuk Inten 10

“Apakah kita akan menyergap mereka di Sambi Sari atau di tempat lain, Ki Sedayu?” bertanya Kidang Tlangkas.
Ki Sedayu Tawang menatapnya tajam. Lalu ia bertanya balik, “Apakah Pangeran Parikesit tidak membicarakan itu padamu, Ngger?”
Kidang Tlangkas menggeleng, lalu mempercepat laju kuda saat melihat gerumbul bambu yang tumbuh di kedua sisi jalanan menuju Sambi Sari. Ki Sedayu Tawang mengerti maksud Kidang Tlangkas yang berburu waktu untuk mencapai rerimbun bambu. Ia turut menghentak lambung kuda, keduanya berpacu untuk mencapai rerimbun bambu terlebih dahulu. Namun tiba-tiba saja Kidang Tlangkas mengubah haluan kuda, ia melompat beserta kudanya ke sebuah pategalan kering dan berhenti di bawah pohon randu. Ki Sedayu Tawang, yang tidak mengerti perubahan rencana itu, meski terkejut tetapi ia cepat mengikuti Kidang Tlangkas.
Kidang Tlangkas memberi tanda pada Ki Sedayu Tawang untuk bersikap tenang, kemudian ia melompat turun dari kuda lalu berjalan mendekati Ki Sedayu Tawang.
“Saya melihat satu-dua bayangan berkelebat di antara rerimbun bambu, Kiai. Saya rasa tidak mungkin kita akan membiarkan untuk disergap. Apalagi dalam suasan remang seperti sekarang ini,” pelan berkata Kidang Tlangkas sambil mendongakkan kepala melihat langit yang mulai dirambati gelap.
“Kau sangat teliti, Ngger. Baiklah, lalu apa rencanamu berikutnya?”
“Kita berada dalam jarak yang lumayan jauh dari mereka, dan apabila mereka mempunyai kemampuan maka kita tidak dapat menghindar dari sebuah benturan yang terkadang aku tunggu-tunggu, Kiai,” jawab Kidang Tlangkas dengan wajah sungguh-sungguh.
“Tetapi aku tidak dapat membiarkanmu mendekati mereka dalam keremangan semacam ini. Lagipula kita belum mengetahui siapa mereka, lalu bagaimana kau membayangkan suatu perkelahian?” tanya pelan Ki Sedayu Tawang.
Kidang Tlangkas membuang wajah pada arah lain. Sungguh ia juga tidak mengerti alasan untuk berkelahi dengan dua pergerakan yang tertangkap olehnya. “Saya tidak tahu, hanya saja itu akan terjadi. Malam ini mungkin akan sangat gelap, dan sebenarnya cukup membuat saya curiga dengan pergerakan keduanya di balik semak-semak. Kalau mereka bertujuan baik, mengapa menyamarkan keberadaan?” Setelah sedikit tarikan napas panjang, Kidang Tlangkas melanjutkan, “Apakah Anda punya maksud menyergap mereka dalam gelap sebentar lagi?”
“Tidak, Ngger. Aku akan membiarkan malam ini berlalu dengan biasa saja. Namun lebih baik jika engkau mengistirahatkan tubuh. Mungkin Sambi Sari memiliki sesuatu yang kita belum tahu lalu kita butuh tenaga untuk itu. Pastinya ada orang lain yang mungkin bertujuan sama dengan kita.”
Kidang Tlangkas manggut-manggut dan agaknya ia setuju dengan gagasan Ki Sedayu Tawang. Lantas ia berkata, ”Jika begitu, kita akan berdiam diri saja dan mendekam kelaparan?”
“Apakah kita akan mengundang kedua bayangan itu untuk makan malam bersama kita, Ngger?” kata Ki Sedayu Tawang dengan senyum mengembang tipis.
Kidang Tlangkas tersenyum kecut mendengarnya. Lalu ia memutar tubuh dan mengawasi rerimbun bambu yang berada sekitar selontaran anak panah darinya. Sambil berjongkok ia meraba pinggangnya yang terdapat sekantung kulit berisi air minum. Bagaimanapun juga Kidang Tlangkas adalah anak muda yang berkembang dalam tuntunan Pangeran Parikesit, kemudian ia menapak jalan sebagai prajurit Pajang. Oleh karena itu ia telah melatih dirinya untuk menghadapi keadaan keadaan yang jauh dari makanan dan sumber minuman,
“Tenangkan dirimu, Ngger. Dalam waktu yang singkat seperti tadi, aku masih menyempatkan diri membawa bekal sekedarnya untuk mencegah bunyi-bunyi yang mungkin saja dapat menganggu tugas pengamatan ini,” senyum Ki Sedayu Tawang dan menyodorkan sekepal nasi gureh yang terbungkus dalam daun pisang. Tanpa berkata dan berpikir panjang, Kidang Tlangkas segera menerimanya lalu makan dengan lahap.

“Agaknya mereka menunggu gelap, Ki Tumenggung,” kata Ki Gambas Ayut dengan pandang mata menatap ke pategalan tempat Ki Sedayu Tawang dan Kidang Tlangkas menghentikan kuda.
“Mungkin saja mereka tidak ingin bergabung dengan kita di sini,” berkata Ki Suradilaga sambil mengikat kudanya. ”Saya kira kita tidak dapat mencurigai mereka dengan melakukan perbuatan yang tidak kita harapkan terjadi.”
“Saya juga beranggapan seperti itu, Ki Tumenggung. Namun berita telah tersebar tentang beberapa orang yang sebenarnya juga mengawasi Pajang. Mungkin mereka termasuk dalam kelompok orang-orang itu,” Ki Rangga berkata-kata sambil melepas kantong kulit berisi air minum yang diikatnya pada pelana kuda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *