Setelah mengatur jalan napas, Pangeran Purbaya berkata, “Dalam keadaan sekarang, ketika hampir setiap mata tertuju padanya, maka tidak banyak yang dapat dilakukan Ki Rangga selain mengamati keadaan sa...
Sebelum Agung Sedayu menjawab, Ki Untara berpaling pada Ki Patih Mandaraka, lalu berkata, “Saya pikir Ki Gede bukan hanya menjadi seorang pemimpin di Tanah Perdikan, tapi pengayom dan sekaligus pelind...
Jarak dari Keraton ke Kepatihan tidak terlalu jauh saat Agung Sedayu menempuhnya dengan berkuda. Meski begitu, Agung Sedayu tidak langsung mengarahkan tujuan ke Kepatihan. Ada sesuatu yang agak menyit...
“Saya, Sinuhun,” pelan Agung Sedayu menjawab dengan nada rendah tapi cukup tegas. “Sinuhun, Mataram memberi kepercayaan kepada saya sebagai kepala pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh. Saya ber...
Sunan Agung memberi tanda pada Pangeran Purbaya: bila ada yang akan diucapkan oleh paman beliau tersebut. Pangeran Purbaya mengangguk lalu menjawab dengan isyarat pula agar pertemuan dilangsungkan sew...
Gerbang Keraton tampak dari kejauhan. Prajurit jaga sudah berganti saat pagi belum benar-benar pulih. Sebagian prajurit berdiri tegak menghadapkan wajah ke jalan yang memotong dan melintas di sekitar ...
Jalan setapak di tepi Kali Progo cukup baik untuk dilintas pada sore itu. Permukaan jalan tidak berlumpur tapi cukup untuk meniadakan debu. Senja membayang dengan malu-malu ketika cahaya matahari yang...
Agung Sedayu tidak langsung keluar dari kediaman Ki Gede Menoreh. DIa mengayun langkah menuju beranda belakang yang berhadapan lurus dengan punggung Gunung Kendil. Puncak perasaan yang sepertinya belu...
Siang yang tidak begitu panas ketika matahari tampak muram terhalang mendung yang mengapung di bawahnya. Barak pasukan khusus masih tampak lengang. Keadaan yang dapat dipahami sepenuhnya. Mereka panta...
Matahari sudah agak sedikit lebih tinggi daripada gejolak perasaan para pedagang di pasar-pasar ketika Agung Sedayu berbicara sedikit dengan Ki Lurah Sanggabaya di bilik kerjanya. “Bagaimana Ki ...








