Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 98 – Keraton Mulai Membahas Pengganti Agung Sedayu?

Angin pagi berhembus sejuk ketika matahari menebarkan panas yang dapat membangunkan peronda yang ketiduran di gardu jaga.

Pembicaraan kemudian beralih ke langkah-langkah yang mungkin dapat ditempuh—siasat, waktu untuk bergerak dan jalur yang akan digunakan.

“Kita tidak mungkin dapat menyusun siasat yang lebih baik daripada Ki Tumenggung, tapi setidaknya ada pelajaran untuk mereka di Kendil,” kata Pandan Wangi.

Ki Lurah Sora Sareh membenarkan, katanya, “Saya pun tidak mungkin mendahului Ki Rangga Sanggabaya atau Ki Demang Brumbung dalam penyusunan rencana ini. Saya akan teruskan pembahasan ini pada beliau berdua.”

Pemikiran tiga orang tersebut pun mereda ketika hampir semua siasat sudah dituangkan ke permukaan. Kesimpulan akhir yang disetujui Ki Gede dibawa oleh Ki Lurah Sora Sareh ke barak untuk dibahas lebih mendalam.

Ki Gede Menoreh dan Pandan Wangi mengiringi Ki Lurah Sora Sareh yang melangkah mantap keluar dari halaman. Dua pengawal pedukuhan menyertai kepergiannya atas permintaan Ki Gede.

Semesta Kitab Kyai Gringsing

Dunia persilatan tanah Jawa tidak akan dapat lepas dari nama besar Api di Bukit Menoreh. Sebagai bentuk penghormatan dan upaya mengenalkan kembali kisah ini kepada generasi baru, kami menghadirkan adaptasi khusus yang lebih ringkas dengan tetap menjaga esensi aslinya.

Kami menyebutnya Buku 5 Hari Bising di Bukit Menoreh, sebuah proyek yang mengadopsi kisah-kisah ikonik dari Api di Bukit Menoreh karya SH Mintardja dan menghasilkan:

Buku 1 & 2 (Kitab Kyai Gringsing): Awal mula semesta kitab Kyai Gringsing digulirkan

Buku 3 (Geger Alas Krapyak):  Diambil dari Bab 6 dengan judul yang sama.

Buku 4 (Bara di Bukit Menoreh) adalah isi Bab 7.

Buku 5 (Hari Bising di Bukit Menoreh) yang menjadi penghubung menuju Bab 9 – Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Program Donasi Pembaca

Kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dengan donasi sebesar Rp 75.000, Anda akan mendapatkan akses penuh ke seluruh seri (Buku 1 hingga Buku 5 – pdf). Kontribusi Anda akan sangat berarti untuk pengembangan kelanjutan kisah..

Detail Donasi:

BCA 822 0522 297

BRI 31350 102162 4530

Roni Dwi Risdianto

Konfirmasi WA 081357609831 

Naskah pdf kami kirimkan melalui WA

Matur Nuwun

Dalam waktu yang kurang lebih sama jika dihitung dari perondaan pertama, beranda samping Keraton tampak lengang ketika Pangeran Purbaya duduk di bagian tengah. Di sebelah kanan agak ke belakang, tampak Ki Panji Suralaga dan dua prajurit yang berpangkat tinggi—Ki Panji Danutirta dan Ki Tumenggung Adiyasa.

Ki Wira Sentanu berada di balik pintu bangsal pelayan dengan perhatian penuh terpusat pada percakapan di beranda. Jarak sedikit jauh tapi kemampuannya menyerap bunyi dan pendengaran yang sangat tajam akan memungkinkan baginya mengikuti seluruh percakapan. Saat itu, Ki Wira Sentanu seperti bayangan yang terpisah dari benda nyata.

Suasana masih datar ketika Pangeran Purbaya berkata, “Kalian menyampaikan bahwa keadaan di lereng Kendil telah berubah.”

Ki Suralaga menundukkan kepala hormat, lalu menjawab dengan suara yang tertata, “Banyak orang mengatakan seperti itu, Pangeran. Pedagang dan juga para peronda bertugas di gardu-gardu sekitar Kali Progo. Mereka bertukar cakap mengenai sekumpulan orang yang berdiam di sana.”

“Apakah kalian berpikir aku tidak mengetahui atau ada sesuatu yang ingin katakan?”

“Ampun, Pangeran, bukan seperti itu maksud kami bertiga,” ucap Ki Tumenggung Adiyasa dengan tubuh membungkuk penuh. “Hanya kekhawatiran seandainya terjadi pengulangan karena orang-orang itu berada tepat di bekas perkemahan Raden Atmandaru.”

Disebutnya nama Raden Atmandaru membuat wajah Pangeran  Purbaya sedikit berubah tapi tidak lama. Pandangannya bergerak, memandang satu per satu tiga orang berpangkat tinggi di depannya. “Itu akan menjadi tudingan yang tidak main-main jika kalian mengatakan ada benih pemberontakan.”

“Tidak, Pangeran,” sahut Ki Adiyasa. “Salah satu dari kami, Ki  Panji Danutirta, sempat melihat dan keberanian kami datang melaporkan pada Pangeran.”

“Bagaimana itu?”

Ki Panji Danutirta kemudian menjelaskan bahwa dirinya pernah turut mengantarkan serombongan prajurit yang terpilih untuk ditempa menjadi pasukan khusus. Pada waktu yang luang, dia sempatkan diri berkeliling untuk membuktikan kebenaran kabar yang disebar oleh pedagang dan prajurit sekitar penjagaan Kali Progo.

Pangeran Purbaya membenahi duduknya. Dia berkata tenang, “Kita sudah mengerti bahwa itu adalah tugas pasukan khusus. Lagipula, Ki Gede Menoreh pun tidak akan tinggal diam.”

“Menurut keterangan dari orang sekitar, mereka sudah mendiami tempat itu lebih dari dua bulan,” Ki Panji Danutirta menambahkan keterangan.

“Aku tahu,” kata Pangeran Purbaya. “Dua bulan adalah jawaban tapi kemungkinan mereka mendiami lereng Kendil sudah lebih dari itu. Bisa tiga atau empat bulan. Yang kalian persoalkan adalah jika pasukan khusus sudah memberi teguran dan Tanah Perdikan sudah bergerak, mengapa mereka masih berada di sana? Benar begitu?”

“Ampun, Pangeran,” sahut Ki Suralaga.

“Nah, apakah itu berarti anak buah Ki Tumenggung Agung Sedayu cukup lemah menjalankan tugas?”

Tiga petinggi prajurit itu kemudian bertukar pandang singkat.

“Saya tidak berpikiran ke arah tersebut, Pangeran,” jawab Ki Tumenggung Adiyasa. “Pergerakan atau tindakan pasukan khusus belum mengubah keadaan. Tapi saya tidak menilai mereka gagal karena yang berhak mengukur itu adalah Sinuhun dan Pangeran saja.”

“Mereka tidak gagal dan sudah berada di jalur yang benar,” desis Pangeran Purbaya. “Pemimpin mereka sedang berada di dekat kita, di Kepatihan.”

Udara di beranda menjadi sedikit terasa lebih tegang. Tiga orang di depan Pangeran Purbaya tiba-tiba merasa jantung mereka berdetak ebih kencang. Masing-masing menduga dalam pikiran, apakah memang kalimat itu akan diucapkan oleh Pangeran Purbaya atau justru bertanya pada mereka?

“Keadaan itu,” sambung Pangeran Purbaya, “apakah karena pemimpin mereka abai dengan keadaan di Tanah Perdikan?”

Pertanyaan Pangeran Purbaya terdengar seperti dentum petir yang menyambar di angkasa. Sangat keras tapi tidak menimbulkan gema.

“Apakah Ki Tumenggung Agung Sedayu terlalu sibuk dengan pengembangan barak lalu tidak melihat perkembangan Tanah Perdikan? Bagaimana kalian mengatakan itu?”

Tampak Ki Panji Suralaga menunduk sedikit lebih dalam, sedangkan Ki Panji Danutirta dan Ki Tumenggung Adiyasa masih dalam sikap semula. Tampaknya mereka membutuhkan waktu untuk menenangkan gejolak pikiran dan perasaan karena ucapan Pangeran Purbaya yang mengejutkan.

DI ruangan lain, Ki Wira Sentanu pun menggigit bibirnya dengan raut wajah sedikit cemas. Bagaimana jika Pangeran Purbaya menolah usulan untuk menggantikan Agung Sedayu sebagai pemimpin pasukan khusus?

Sementara itu di beranda, orang-orang sedikit menahan napas.

Ki Suralaga menjadi orang pertama yang berkata pada Pangeran Selarong, “Berkaca dari pengalaman dan juga berdasarkan paugean, seharusnya orang-orang di lereng Kendil itu sudah terusir. Seharusnya mereka tidak merepotkan lagi. Tapi itu adalah  pertimbangan saya sendiri, Pangeran.”

“Lanjutkan,” perintah Pangeran Purbaya.

“Keputusan Ki Rangga Sanggabaya dan Ki Demang Brumbung, atau salah satu dari mereka pasti terikat pada pemimpin sesungguhnya,” lanjut Ki Suralaga. Kali ini dia terkesan agak berhati-hati memilih kata. Darahnya berdesir cepat karena yang dibicarakan adalah orang yang mempunyai wibawa dan pengaruh yang cukup mengerikan di Mataram.

Panggraita Pangeran Purbaya mengatakan ada sesuatu yang tidak terlihat dan tidak terduga. Namun begitu, paman dari Sunan Agung itu tidak menampakkan perubahan pada raut wajahnya.

“Jika lereng Kendil menjadi sunyi kembali, itu berarti memperlihatkan ketegasan Ki Tumenggung Agung Sedayu. Jika tidak berubah, begitulah kira-kira keputusan beliau,” ucap datar Pangeran Purbaya dengan nada yang meragukan: antara bertanya untuk memastikan atau justru memancing keluar keinginan yang masih ditahan?

Ki Adiyasa berkata lirih, “Setidaknya yang kami pahami adalah keadaan menuntut ketegasan yang lebih cepat dan kuat.”

“Dan dua hal itu, cepat dan kuat, tidak berada dalam diri Agung Sedayu,” tegas Pangeran Purbaya dengan tambahan sedikit: suaranya agak keras. Seakan sedang mengungkap kekecewaannya pada tumenggung baru itu.

Di bangsal pelayan, Ki Wira Sentanu mendengus pendek tapi tiba-tiba sadar lalu segera menahan napas.

“Baiklah,” ucap Pangeran Purbaya sambil beranjak bangkit. “Aku akan bicarakan ini lebih mendalam bersama Sinuhun. Kalian dapat meninggalkan tempat ini.”

Sejenak, tidak ada yang bersuara.

“Mohon untuk tidak ditanggapi bahwa kami menghendaki penataan secara tergesa. Bagaimanapun, Mataram belum sepenuhnya pulih dari duka, Pangeran,” kata Ki Suralaga.

Pangeran Purbaya mengangguk. “Aku tahu.”

Sepeninggal tiga bawahannya itu, Pangeran Purbaya bergeser ke halaman belakang. Membisikkan sebuah pesan pada seorang pelayan agar mengawasi bangsal pelayan.

Meski pelayan itu merasa janggal, tapi dia tetap melakukan perintah tanpa keberatan.

Sejenak kemudian, sambil memandangi kolam, Pangeran Purbaya merangkai seluruh laporan yang diterimanya. Dari Ki Wedoro Anom, seorang prajurit sandi yang ditugaskan khusus di Tanah Perdikan, berita-berita yang terucap dari percakapan prajurit seluruhnya meruncing pada tiga keadaan: ada permukiman di bekas perkemahan Raden Atmandaru, latihan kanuragan dan perondaan pasukan khusus.

Dia juga menarik kemungkinan yang menghubungkan dua benturan Jati Anom dengan keberadaan orang-orang lereng Kendil.

Tidak ada nama yang disebut sebagai pemimpin atau penggerak di lereng Kendil. Padahal ada kelompok yang berlatih kanuragan sehingga dapat disebut pula sebagai perguruan atau padepokan.

“Cukup aneh,” desahnya dalam hati. Meski mempunyai persamaan senjata dan pernyataan lantang di depan Ki Widura, tapi Pangeran Purbaya masih berhati-hati jika mengaitkan itu dengan orang tertentu.

Selang beberapa waktu, seorang pelayan membisikkan sesuatu pada Pangeran Purbaya yang menanggapinya dengan anggukan kepala. Pelayan pun pergi setelah dianggap cukup oleh Pangeran Purbaya.

“Penataan ulang,” ucap Pangeran Purbaya dalam hati ketika menduga rencana yang tidak terang dikatakan oleh Ki Suralaga dan dua kawannya. Penataan yang berarti mengganti Agung Sedayu tapi dia sadar bahwa itu sama sulitnya dengan memilih pengganti Ki Patih Mandaraka.

Setelah memperhatikan waktu, Pangeran Purbaya memanggil seorang prajurit. Isi perintahnya tegas: mengundang Nyi Banyak Patra ke Keraton.

“Saya, Pangeran,” sahut prajurit itu kemudian berderap menuju Kepatihan.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 12 – Kabut dan Desis Kali Tinalah

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 36 – Kabar Para Tahanan dan Jejak Samar

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 82 – Jaringan Sunyi Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.