Padepokan Witasem
Cerita Wayang

Petruk Menagih Janji 1

Waktu itu, di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa sedang memimpin pertemuan yang dihadiri Raden Samba Wisnubrata, Arya Setyaki, dan Patih Udawa. Sejumlah persoalan mendapat perhatian sungguh-sungguh dari para pemimpin. Tiba-tiba Prabu Baladewa dari Kerajaan Mandura datang memasuki ruang pertemuan. Melihat kehadiran Prabu Baladewa yang mendadak masuk, Prabu Kresna dan yang lain pun terperanjat, tetapi mereka cepat menimbang keadaan lalu bergantian menyampaikan salam penghormatan kepadanya.

Prabu Baladewa berkata, “Aku datang untuk melamar atas kepentingan Raden Lesmana Mandrakumara, putra Prabu Duryudana di Kerajaan Hastina. Adalah anak perempuan darimu, wahai Kresna Wasudewa, yang diinginkan oleh Raden Lesmana.”

Patih Udawa tersenyum masam. Lelaki ini mengerti tentang riwayat mengenai Prabu Baladewa dan hubungannya dengan perempuan. “Iso ambyar, Jum!” keluhnya dalam hati.

Sebenarnya ada banyak kemungkinan yang dapat dijadikan alasan agar mengerti tindakan Prabu Baladaewa itu. Bisa saja beliau ingin memperbaiki hubungan dengan Kerajaan Hastina saat Prabu Baladewa menikahkan Raden Wisata dengan Dewi Nilawati. Bahkan, Raden Wisata harus berkelahi melawan bala Kurawa yang ingin merebut Payung Garuda Nglayang.

Dan juga persaingan yang lain, masih dengan pihak Hastina. Bedanya,  Raden Partajumena berhasil meraih hati Dewi Kusumadewati. Sedangkan, kala itu  yang menjadi pesaing adalah Sanghyang Druna yang melamar untuk Raden Lesmana.

Dugaan Patih Udawa ternyata benar. Prabu Baladewa dan Prabu Duryudana sama-sama ingin memperbaiki hubungan. Maka, Prabu Baladewa bersedia mencarikan jodoh untuk Raden Lesmana Mandrakumara. Karena ia tidak mempunyai anak perempuan, maka Raden Lesmana hendak dinikahkan dengan keponakannya saja.

Usai mendengar Prabu Baladewa mengutarakan niatnya, rabu Kresna lantas berkata. “Kakang, hanya Dewi Prantawati yang belum menikah untuk saat ini.”

Prabu Baladewa menyahut, “Boleh saja. Tentu Raden Lesmana tidak keberatan bila menikah dengan Dewi Prantawati. Baiklah, kapan berita penerimaan ini resmi dilayangkan ke Hastina?”

Prabu Kresna belum memberi jawaban dengan segera. Ia merasa, sebaiknya persoalan ini dirundingkan terlebih dulu dengan Patih Udawa. Meski sebenarnya Kresna tidak berniat menjodohkan Dewi Prantawati, tetapi desakan maha hebat dari Baladewa membuatnya tidak berkutik. Prabu Kresna tidak enak hati karena pernah menjodohkan dara itu dengan seseorang di masa lalu.

“Aku ngelu,” kesah Prabu Kresna dalam hatinya.

Kemudian Kresna berkata, “Baiklah, Kakang. Saya pikir tidak ada keberatan dari pihak kami tentang lamaran ini.”

Prabu Baladewa lantas mengambil tempat duduk di ruangan itu.

Ketika matahari sedikit menurun ke barat, Petruk memasuki istana dengan membawa segala macam hasil bumi dan palawija.

Di balairung, Prabu Kresna bertanya, “Hey, ada apakah ini? Begitu banyak kau bawa bahan-bahan makanan. Ke mana para Pandawa dan bagaimana keadaan mereka semua?” Kresna sedikit khawatir. Pikirnya, apakah mereka tengah menerima gempuran dari kerajaan-kerajaan yang memusuhinya atau ada masalah sangat berat?

“Tidak, Prabu,” jawab Petruk kalem, “beliau semua baik-baik. Saya tinggalkan mereka dalam keadaan tenteram sentausa.”

“Lalu?”

“Lalu keperluan saya datang ke tempat Jenengan adalah menanyakan sebuah janji.” Petruk kemudian mengenang peristiwa dua puluh lima tahun yang lalu, saat Dewi Sumbadra belum melahirkan Raden Abimanyu.

Kresna menyimak penuh perhatian.

“Pada waktu itu, terjadi kekacauan di Amarta. Adalah Prabu Pandupragolamanik yang terlalu digdaya sehingga para Pandawa kalang kabut menghadapinya. Barisan prajurit porak poranda. Musim panen pun menjadi mundur. Bahkan, saya ingat saat itu nyaris terjadikelangkaan pangan.” Petruk bertutur dengan wajah menghadap bawah.

Kisahnya berlanjut. “Lalu Panjenengan meminta saya untuk mengatasi keadaan. Kita sama-sama tahu bahwa di banyak tempat, rakyat sedang menanti bantuan. Tak cukup dengan itu, para senapati pilihan pun seolah menjadi prajurit yang baru keluar dari kawah latihan. Awalnya saya menolak permintaan Panjenengan. Selain kurang nyaman untuk dilaksanakan, saya pun masih melihat Prabu Yudhistira yang masih keras mencari jalan keluar. Tetapi Panjenengan terus mendesak. Panjenengan bilang, hanya saya yang sanggup menghalau Prabu Pandupragolamanik. Meski tidak percaya diri, tetapi bukankah saya akhirnya maju bertarung dengannya?”

Prabu Kresna mengangguk. “Ya, aku ingat. Dan, kemudian engkau meminta anak ayam cemani?”

“Benar, Kanda Prabu. Saya berpikir sederhana. Bahwa tidak mungkin saya meminta banyak harta benda maupun tanah. Semua itu terlalu mewah bagi saya.”

Kemudian bayangan Dewi Prantawati yang masih kecil saat itu pun melintas di ruang pikiran Prabu Kresna. “Aku menjanjikan Dewi Prantawati sebagai istrimu, waktu itu.”

Kisah Petruk berlanjut, “Saya maju ke medan perang. Lalu terbukalah jati diri sebenarnya dari Prabu Pandupragolamanik.”

“Ya, ternyata dia adalah Nala Gareng. Saudaramu sendiri.”

Petruk mengangguk. “Mungkin Gareng sakit hati karena dituduh telah merusak Jala Sutra Tampang Kencana milik Begawan Abiyasa. Ruwetnya, yang menuduh adalah Raden Arjuna. Panjenengan Prabu tentu dapat mengerti tentang itu.”

Prabu Kresna mengangguk.

Semenjak kekalahan Nala Gareng yang menyamar sebagai Prabu Pandupragolamanik, Dewi Prantawati tumbuh menjadi perempuan dewasa. Di samping dirinya, Prabu Kresna pun mendapatkan anak-anak perempuan lagi, antara lain Dewi Sitisundari yang dinikahkan dengan Raden Abimanyu, serta Dewi Titisari yang dinikahkan dengan Bambang Irawan.

“Mungkin dia memang sengaja untuk tidak menilkah. Bagaimanapun, itu berati Dewi Prantawati adalah perempuan yang setia pada janji.” Pikir Petruk yang menduga keterlambatan itu karena Dewi Prantawati telah dijodohkan dengannya.

Related posts

Petruk Nagih Janji 4

kibanjarasman

Petruk Menagih Janji 3

kibanjarasman

Petruk Menagih Janji 2

kibanjarasman

Leave a Comment