Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 89 – Melabrak Perguruan Orang Bercambuk di Jati Anom

Sebulan berjalan tanpa peristiwa yang mencolok.

Di Kepatihan, susunan yang dijalankan bersama mulai menemukan cara kerja sendiri, meski belum sepenuhnya mantap. Agung Sedayu pun tidak lagi menetap dalam satu tempat.

Dia bergerak. Kadang berada di Tanah Perdikan, mengawasi perkembangan barak dan menjaga agar jalur yang telah dibangun tidak menyimpang. Di lain waktu, dia kembali ke kepatihan, mengikuti perubahan yang masih terus disusun di dalamnya.

Perjalanannya tidak tetap.

Namun justru karena itulah, tidak semua gerak di luar jangkauannya dapat segera terbaca.

Pandan Wangi Menentukan Sikap

Sementara Kotaraja sibuk dengan banyak orang yang menyatakan bela sungkawa di kediaman Ki Patih Mandaraka, pertemuan-pertemuan penting untuk memastikan penyelenggaraan kenegaraan tetap berlangsung tanpa hambatan.

Di Tanah Perdikan, Sukra kembali lebih cepat dari yang diperkirakan. Selang tiga hari sejak dirinya meninggalkan pedukuhan induk, dia telah berdiri di halaman rumah Ki Gede dengan kesiagaan yang tidak berkurang.

Namun Pandan Wangi tidak ingin sendirian menerima laporan.

“Kita tunggu Ki Gede karena beliau sedang di Kotaraja untuk bela sungkawa,” ucap Pandan Wangi. “Rencananya besok, beliau sudah berada di kediaman.”

Sukra mengangguk. Dia memahami bahwa keadaan seutuhnya.

“Aku akan mengundang Ki Jayaraga dan Mpu Wisanata bila pertemuan dapat diadakan besok malam atau lusa. Aku harap kau tidak keberatan membantu kami.”

“Saya, Nyi,”

Hari itu berlalu tanpa laporan.

Tiga hari berikutnya, Ki Jayaraga datang bersama Sayoga. Sedangkan Sukra masih dalam perjalanan bersama Mpu Wisanata menuju rumah Ki Gede Menoreh.

Langkahnya tegap dengan wajah yang tidak menggambarkan kelelahan, Sukra mengatur napas saat duduk di depan Ki Gede Menoreh dan Pandan Wangi.

“Bagaimana Dusun Benda?” tanya Pandan Wangi tanpa berputar-putar.

“Keadaan masih terkendali, Nyi. Orang-orang tetap menjalankan pekerjaan seperti biasa. Sawah tetap didatangi seperti biasa. Ladang dan kebun juga digarap tanpa terlihat ada masalah. Perondaan dan penjagaan para pengawal pun berjalan sebagaimana mestinya,” jawab Sukra mantap.

Ki Gede mengangguk dengan mata terpejam.

“Ada kemungkinan para bebahu belum mengatakan apa-apa pada mereka,” ucap Pandan Wangi dengan kening berkerut.

Sukra mengangguk. Katanya kemudian, “Seorang pengawal dusun mengatakan pada saya bahwa memang ada sedikit yang tidak biasa sedang terjadi di dusun mereka.”

Ki Gede menyandarkan punggung, sedangkan Pandan Wangi tetap pada sikap semula: siap mendengarkan semuanya.

“Katakan,” ujar Ki Gede sambil membuka telapak tangan.

Sukra sedikit merasa gamang. Dia cukup berhati-hati memilih kata agar tidak ada ketimpangan dalam makna ucapannya.

“Dia berkata bahwa dulu semua bebahu dusun masih menganggap Ki Lurah sebagai bagian dari Tanah Perdikan, hidup bersama dengan mereka dalam suka dan duka. Sekarang para bebahu mulai berbeda kata,” kata Sukra lalu menarik napas panjang dan hati-hati menghembuskannya.

Pandan Wangi mengangguk dengan wajah yang tidak menampakkan perubahan.

Sukra meneruskan, “Sebagian menganggp bahwa kerusakan yang terjadi saat pertempuran beberapa waktu yang melibatkan pasukan berkuda pasukan khusus di Kali Tinalah, Ki Jayaraga dan sebagian kecil pasukan khusus adalah tanggung jawab Ki Lurah sebagai pemimpin pasukan khusus Mataram. Termasuk, menurut bebahu itu, orang-orang yang terluka dan kehilangan simpanan pangan. Bukan lagi semata urusan bersama, apalagi tanggung jawab Ki Gede.”

Suasana tersergap keheningan.

Ki Jayaraga mengerukan kening, mencoba memahami semua alasan yang paling mungkin menjadi penggerak Ki Wedoro Anom. Sementara Mpu Wisanata bergeming dengan mata terpejam. Sekali-kali dia tampak memijat kening perlahan.

Ki Gede Menoreh menghela napas panjang, tetapi tidak segera berbicara.

Di sampingnya, Pandan Wangi masih tampak tenang. Dia berkata kemudian, “Apakah itu hanya bisik-bisik, atau sudah menjadi pembicaraan terbuka?”

Sukra memandang Ki Gede sejenak seakan meminta izin.

“Silakan,” kata Ki Gede memberi izin.

“Saya mendengarnya dari pengawal, jadi saya pikir perbedaan itu sudah menjadi percakapan umum tapi tidak terbuka dikatakan di gardu atau pasar,” jawab Sukra sedikit bergetar pada suaranya.

“Pertempuran memang selalu meninggalkan bekas,” ucap Pandan Wangi. “Tapi jika Kakang Sedayu hanya berdiam diri, maka kita akan menjadi sapi perahan bagi mereka.”

“Segala yang sudah terjadi, saya kira, tidak dapat sepenuhnya menjadi kesalahan Ki Tumenggung Agung Sedayu,” kata Ki Jayaraga sareh. “Bila kita belum mendengar atau mengetahui sikap Ki Tumenggung, itu bukan berarti beliau sengaja membiarkan karena sudah tentu beliau bukan tidak tahu perkembangan Dusun Benda.”

Pandan Wangi menunduk sebentar, saat mengangkat wajah, dia berkata, “Pengembangan barak, kita dapat melihat cukup meningkat tajam. Orang masuk dan keluar cukup cepat dengan kesibukan yang benar-benar luar biasa. Baiklah, persoalan ini tidak dapat ditanggung sendiri oleh Kakang Sedayu.”

Dia berpaling pada ayanya—seakan meminta Ki Gede membuat keputusan atau arahan yang dapat segera dijalankan tanpa menunggu kehadiran Agung Sedayu.

“Saya pikir memang kita harus mendatangi Dusun Benda,” ucap Ki Gede Menoreh. “Tapi tanpa pemberitahuan dan tanpa pengawalan.”

Pandan Wangi diam sejenak, lalu menambahkan, “Sukra dan Sayoga dapat berangkat bersama Ki Jayaraga dari kediaman Ki Tumenggung. Ayah dan saya berkuda seperti biasa.”

Ki Gede Menoreh mengangguk setuju.

Tapi Mpu Wisanata menyiratkan keberatan pada sorot matanya. Dia berkata dengan nada seakan memelas, “Apakah saya kembali bertugas menjaga rumah?”

Pertanyaan itu segera memecah ketegangan. Orang-orang tersenyum.

Dengan senyum lebar, Ki Gede berkata, “Saya yakin Mpu tidak keberatan dengan tugas khusus itu.”

Di sela-sela suasana yang mulai mencair, Pandan Wangi mengungkap sedikit yang harus dilakukan setelah masuk Dusun Benda.

Melabrak Perguruan Orang Bercambuk di  Jati Anom

Hari-hari di Gunung Kendil berubah. Latihan tidak lagi sekadar gerak. Setiap orang datang dengan mata yang berbeda—lebih tajam, lebih bersemangat.

Cambuk-cambuk berayun lebih sering. Tanah lebih sering bergetar. Bahkan udara di sekitar perkemahan seperti ikut menegang, seolah tidak pernah benar-benar kembali tenang sejak hari pertarungan itu.

Tidak ada yang mengeluh. Justru sebaliknya. Semakin berat latihan, semakin besar semangat yang tumbuh. Dan di situlah benih itu muncul. Tidak langsung terlihat. Tidak juga diucapkan di depan banyak orang.

Hanya dalam percakapan pendek, di sudut-sudut gelap, ketika api unggun sudah mengecil dan suara-suara lain mulai hilang.

“Kalau ini benar jalurnya…”

“Bagaimana dengan yang di Jati Anom?”

Nama itu tidak disebut keras-keras.

Tapi cukup untuk membuat yang mendengar menoleh sedikit lebih dekat.

Perguruan di Jati Anom yang konon didirikan langsung oleh Kyai Gringsing awalnya adalah perbandingan. Lalu orang-orang yang menyadap ilmu di bawah ajaran Ki Garjita dan Ki Hariman serta Ki Astaman pun memunculkan pertanyaan.

“Kita sudah tahu kekuatan Ki Swandaru dan Ki Hariman bersenjata cambuk,” kata Ki Wiraditan. “Aku pikir sekali waktu kita harus melihat seberapa kuat Jati Anom menghadapi gempuran.”

Kalimat itu muncul suatu malam ketika beberapa orang yang pernaj menjadi anak buah Raden Atmandaru berkumpul di sisi api unggun. Saat kalimat itu diucapkan, tidak ada orang yang bertanya maupun menyanggah. Tapi mereka juga tidak langsung setuju. Yang kemudian menjadi perbedaan adalah kalimat Ki Wiraditan terus menjadi pembahasan diam-diam setiap malam.

Yang Terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Mereka tidak pernah bicarakan itu secara terbuka. Tidak di dekat Ki Astaman. Tidak pula di hadapan Swandaru. Apalagi Ki Hariman. Mereka sadar bahwa menyatakan itu sama dengan meminta pengusiran. Itu adalah hukuman yang mungkin sama dengan saat mereka harus menerima kekalahan dari laskar gabungan yang dipimpin Agung Sedayu: mereka menjadi orang terusir dari perkemahan.

Lima orang.

Itu yang akhirnya disepakati. Mereka telah memperhitungkan keberadaan barak prajurit Mataram yang dipimpin Ki Untara. Tapi mereka berbesar hati karena kedatangan itu bukan untuk membuat kerusuhan,  tapi sambang antarperguruan saja.

Sepekan berlalu.

Dan pada satu pagi yang tampak biasa, lima orang itu tidak lagi berada di antara yang berlatih. Tidak ada yang memanggil. Tidak ada yang mengumumkan. Hanya beberapa orang yang menyadari… lalu memilih diam.

Lima orang itu bukan tergolong orang-orang yang dibutuhkan atau mendapat perhatian khusus dari orang-orang berkepandaian tinggi di perkemahan.

Kali Progo, Kali Opak lalu jalanan yang menghubungkan banyak tempat pun mereka lalui dengan kesadaran bahwa mereka harus membuktikan jalur sesungguhnya ilmu orang bercambuk.

Lima orang, yang dipimpin Ki Wiraditan, itu muncul di halaman tanpa pengumuman.

Mereka turun dari kuda, kemudian melangkah memotong halaman tanpa sikap yang seharusnya dijaga oleh tata krama.

Tanpa salam dan tanpa pengenalan diri.

Beberapa orang yang berada di sekitar halaman menoleh. Wajah-wajah yang awalnya tenang berubah waspada. Satu di antara mereka maju menghadang.

Hari masih terlalu pagi untuk bertemu dengan keadaan yang memanaskan hati.

“Berhenti,” perintah cantrik tersebut. “Siapa kalian?”

Sikap yang benar-benar memperlihatkan ketiadaan rasa hormat dengan bungkam ketika ditanya. Bahkan, Ki Wiraditan maju sambil mengangkat tangan. Tatap matanya memandang berkeliling.

“Aku ingin bicara dengan Ki Widura. Panggilah dia,” ucapnya dingin dengan kepala tetap menoleh ke banyak arah.

Para cantrik Perguruan Orang Bercambuk bergerak pelan, membentuk barisan setengah lingkaran di belakang orang yang terdepan.

Ki Wiraditan memandang sejenak pergerakan cantrik di depannya. Lebih dari lima orang tapi masih kurang dari sepuluh. Semuanya jelas terpaut dengan usia meski tidak ada yang sudah mencapai tiga puluhan.

“Baguslah,” katanya. “Nyali kalian, untuk sementara ini, harus mendapatkan pengakuan.” Dia menoleh ke belakang, memberi tanda pada empat orang kawannya.

Orang yang berada di depan barisan cantrik perguruan melompat panjang, menerjang Ki Wiraditan dengan kecepatan selincah burung sikatan. Sepasang lengannya berayun, menghujani lawannya dengan kepungan pukulan.

“Bagus!” seru Ki Wiraditan yang cepat menutup pertahanan lalu membalas serangan dengan tata gerak yang nyaris serupa.

Terdengar seruan tertahan di barisan Perguruan Orang Becambuk tapi mereka tidak dapat saling bertanya dan menjawab, agaknya. Yah, empat orang dari Gunung Kendil berkelebat menyerang barisan setengah lingkaran yang ternyata sudah bersiap dalam kedudukan masing-masing.

Perkelahian pun pecah.

Meski semua orang masih bertangan kosong, tapi serangan tidak dapat dipandang sebelah mata. Setiap orang cepat mengikat seseorang menjadi lawan walaupun jumlah mereka tak berimbang.

Delapan cantrik Perguruan Orang Bercambuk melawan lima orang dari Gunung Kendil.

Betapa kaget para cantrik itu menyadari bahwa tata gerak mereka hampir serupa!

“Apakah kalian mencuri ilmu dari perguruan kami?” seru seorang cantrik yang sepertinya berusia paling muda di antara orang-orang yang sedang berkelahi di halaman samping perguruan.

Ki Wiraditan tertawa, lalu menyahut, “Justru kalian yang tidak pantas menyandang nama Perguruan Orang Bercambuk.”

Para cantrik Ki Widura memilih untuk tidak menjawab sekalipun benak mereka muncul pertanyaan besar: siapakah orang-orang ini sebenarnya? Dari mana mereka menguasai kemampuan yang hampir sama dengan Perguruan Orang Bercambuk?

Namun, memang, pertanyaan para cantrik itu tidak membutuhkan jawaban karena lawan-lawan mereka terus menghujani dengan serangan-serangan yang mengalir seperti air bah yang datang dari sisi curam Merapi. Sekali-kali, cantrik-cantrik itu terkejut saat tata gerak lawan mereka berubah. Bukan lagi berdasarkan kembangan jalur ilmu Perguruan Orang Bercambuk tapi gerakan yang benar-benar asing—gerakan yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berpengalaman dalam pertarungan.

Jumlah yang tidak seimbang masih belum menjadi keunggulan cantri Perguruan Orang Bercambuk hingga saat itu.

Sejak mereka meninggalkan permukiman di lereng Gunung Kendil, Ki Wiraditan dan kawan-kawannya tidak berniat untuk berkelahi sampai napas terakhir. Mereka hanya ingin mengumbar kebanggaan sekaligus menyatakan keberadaan perguruan kepada kelompok yang dianggap tidak sah mewarisi jalur ilmu Perguruan Orang Bercambuk.

Di lereng Kendil terdapat kitab Kyai Gringsing dan seseorang yang mendapatkan pengajaran langsung dari Kyai Gringsing sendiri, yaitu Swandaru. Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa perguruan di Menoreh adalah penerus yang sah?

Itulah pikiran mereka dan itu pula pendapat yang sudah mengakar pada hati setiap murid di lereng Gunung Kendil.

Oleh sebab itu, tanpa mengulur waktu lebih lama, Ki Wiraditan segera meloloskan senjatanya: cambuk yang berujung belati. Hampir serentak, empat orang lain dari lereng Kendil juga meloloskan senjata mereka sendiri: cambuk dengan ujung yang berlainan satu sama lain.

Lagi-lagi, kejutan menampar cantrik Perguruan Orang Bercambuk! Tata gerak yang sama, perkembangan yang dapat diduga pula lalu beberapa hal lain muncul pula di hadapan mereka. Seolah-olah para cantrik itu sedang berkelahi dengan bayangan mereka sendiri!

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 87 – Mataram Berduka

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 53 – Pertemuan Agung Sedayu dengan Kyai Bagaswara

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 54 – Ki Wedoro Anom Menusuk dalam Lipatan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.