Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 90 – Tantangan Untuk Perguruan Orang Bercambuk

Namun kejutan itu tidak berlangsung lama.

Cambuk-cambuk itu melengking di udara, memecah ketegangan yang sebelumnya masih terikat dalam tangan kosong. Ujung cambuk Ki Wiraditan yang berkilat seperti lidah api kecil menyambar, memaksa seorang cantrik meloncat mundur lalu sigap dengan penataan ulang persiapan yang sangat baik.

Udara di halaman samping perguruan pun penuh dengan ledakan—cambuk beradu cambuk. Mereka saling mencari celah, saling menguji ketepatan dan keberanian.

Di sisi kiri, dua orang dari Kendil terkurung oleh tiga cantrik.

Salah seorang cantrik berputar cepat, cambuknya melingkar rendah, menyapu kaki. Lawannya meloncat, tapi pada saat yang sama cambuk kedua telah menyambar sendal pancing dari arah berlawanan, mengarah ke lambung.

Orang dari Kendil itu memutar tubuh di udara—gerakan yang terlalu berani—lalu menjatuhkan diri dengan satu lutut menyentuh tanah. Membalas serangan dengan cara yang aneh! Setelah memukul tanah, cambuknya dikibaskan hingga serupa dengan gerak ular merayap, dia menahan serangan yang datang hampir bersamaan. Cambuknya menggelepar seperti  ular kecil itu lantas dilecutkan menyasar pergelangan tangan lawan.

Yang Terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Seketika, perkelahian itu menjadi rapat, nyaris tanpa jarak.

Di sisi lain, Ki Wiraditan berhadapan dengan seorang cantrik yang lebih tua. Gerak mereka hampir sama—bukan sekadar serupa, tetapi seperti benda yang berkelahi dengan bayangan sendiri pada kecepatan dan kekuatan yang sama.

Setiap sabetan dibalas tebasan dengan sudut yang sama. Setiap gerak tipu pun dijawab dengan cara yang juga dikenal.

Suatu ketika cambuk Ki Wiraditan tiba-tiba berubah arah—mengikuti jalur ilmu lain yang disadapnya dari Ki Garjita, menyilang tajam dari bawah, nyaris merobek pangkal paha.

Cantrik itu terkejut karena perubahan yang tidak berada dalam rangkaian tata gerak yang diajarkan Ki Widura. Tapi dia tampaknya sudah cukup matang dengan tata gerak dasar. Maka satu lompatan tangkas ke samping, diikuti putaran tubuh lalu berupaya mendaratkan tumitnya ke arah dahi Ki Wiraditan.

Kedudukan kembali terjaga.

Sementara itu, di bagian lain halaman, perkelahian yang tak kalah sengit pun juga berlangsung dengan sangat ketat.

Seorang cantrik muda menyerang tanpa henti. Cambuknya memecah udara berulang kali, cepat dengan kesan ngawur tapi sesungguhnya itu dalam satu rangkaian yang terlatih.

Lawan dari Kendil tidak banyak menghindar. Dia mengerutkan kening sambil menyumpahi musuhnya sambil sesekali membalas dengan satu sabetan pendek untuk menahan gempuran cantrik muda itu.

Di seluruh halaman, perkelahian tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Lima melawan delapan.

Cukup aneh memang.

Pengalaman dan latihan ilmu baru orang-orang dari Kendil melawan ketekunan cantrik Orang Bercambuk pada satu jalur ilmu,  tapi keseimbangan masih terjaga.

Sebenarnyalah pertempuran kecil itu tidak ditentukan oleh jumlah maupun pengalaman, tapi pemahaman terhadap gerak yang sama dan kematangan jiwani yang dibentuk berdasarkan pergaulan.

Ki Widura muncul kemudian sambil menatap langsung mengarah  pada lima orang asing itu.

Ki Wiraditan tiba-tiba melompat surut. Satu gerakan kecil darinya tapi cukup untuk memutus seluruh perkelahian di sekitarnya. Tangannya cepat melilitkan cambuknya pada pinggang. Katanya kemudian, “Cukup!”

Suara itu tidak keras tapi ditujukan pada semua orang yang berkelahi di halaman.

Empat orang dari Gunung Kendil segera menangkap isyarat itu.

Hampir serentak mereka meloncat mundur, memutus ikatan pertarungan, kemudian melilitkan cambuk di pinggang atau hanya sekedar menjadi lingkaran dalam genggaman.

Para cantrik Perguruan Orang Bercambuk memandang heran atas perubahan itu. Tapi mereka tetap siaga dengan napas teratur dan semangat yang siap menyambar jika diperlukan.

Ki Wiraditan memandang mereka satu per satu, lalu berakhir pada wajah tenang Ki Widura. Dengan nada ringandia berkata, “Aku kira… sudah cukup latihan hari ini.”

Beberapa cantrik mengerutkan kening. Latihan?

Ki Wiraditan tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk menyela.

“Aku melihat,” lanjutnya sambil menuding pada arah Ki Widura.  “Kalian tidak sepenuhnya bodoh. Kalian masih memiliki dasar yang dapat dibentuk.”

Dia berhenti sejenak, menebar pandangan, lalu berkata lagi, “Tapi jika kalian ingin mencapai tataran yang lebih tinggi, maka ada satu langkah awal yang harus kalian tempuh. Langkah itu adalah kalian harus tinggalkan tempat ini.”

Beberapa cantrik bertatap mata bergantian dengan raut wajah heran. Pikiran mereka sebenarnya tergelitik dan hampir-hampir saja terucap, “Apakah Ki Sanak kesurupan demit penunggu Gunung Merapi?”

Tapi isyarat tangan Ki Widura dapat menahan semuanya.

“Berpindahlah ke Gunung Kendil,” sambung Ki Wiraditan dengan lantang tenang. “Di sana, kalian akan menemukan jalur yang sebenarnya. Aku sendiri dan kawan-kawanku ini akan menjadi teman latih kalian.”

Sinar matahari terasa mulai menggatalkan kulit kepala sama dengan isi kepala para cantrik yang sebagian mulai malas meladeni orang itu.

“Jika kalian enggan, kalian masih punya pilihan lain,” kata Ki Wiraditan dengan nada percaya diri. “Kalian tetap dapat pergi ke sawah dan ladang tapi tutup perguruan ini agar tidak terbengkalai.”

Beberapa wajah langsung berubah.

“Serahkan nama Perguruan Orang Bercambuk kepada kami—di lereng Kendil,” tegas Ki Wiraditan tanpa ragu. “Kalian masih dapat kembali bertani. Hidup seperti orang kebanyakan karena itu memang lebih pantas daripada mempertahankan nama yang tidak kalian pahami.”

Beberapa cantrik tidak dapat menahan diri.

Ketika Ki Wiraditan dan keempat orang dari Kendil mulai berbalik, bersiap meninggalkan halaman, dua-tiga orang melangkah cepat ke depan, cambuk mereka kembali terangkat.

“Berhenti!” perintah cantrik tertua.

“Tidak bisa semudah itu!” seru salah seorang, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan sejak tadi.

“Tahan.”

Suara yang terdengar tenang tapi sanggup membuat orang-orang menunda rencana.

Ki Widura telah melangkah maju. “Biarkan mereka pergi. Kitamemiliki cara sendiri untuk menyelesaikan persoalan ini.”

Tidak ada lagi yang melangkah maju. Tidak ada yang membantah.

Sementara itu, orang-orang dari Gunung Kendil benar-benar meninggalkan halaman tanpa menoleh lagi. Langkah mereka ringan tanpa beban. Hanya satu keyakinan yang tegak terpancang dan gambar yang terpampang dengan garis yang sangat kuat: Perguruan Orang Bercambuk akan berkibar dari lereng Gunung Kendil.

Sore menyapa perguruan dengan cara yang tenang. Beberapa prajurit Mataram tampak melangkah meninggalkan halaman. Mereka datang untuk memeriksa keadaan yang terjadi keributan sebelumnya— menurut seorang pedagang yang lewat saat benturan terjadi.

Para cantrik utama berkumpul dalam lingkaran duduk yang tidak rapat. Ki Widura berada di depan mereka sambil menatap arah kepergian prajurit Mataram yang kembali ke barak Jati Anom.

 “Yang terjadi hari ini,” katanya, tenang, “bukan sekadar perkelahian atau sikap yang kurang ajar. Lebih dari itu.”

Seorang cantrik yang sejak tadi gelisah berkata, “Mereka menghina perguruan, Guru. Apakah kita akan membiarkannya?”

Ki Widura memandangnya sejenak lalu menggeleng. “Kita tidak dapat membiarkan, tentu saja. Yang kita butuhkan terlebih dulu adalah pikiran dan perasaan yang mengendap tenang. Kita tidak hanya akan berbenturan dengan kemampuan atau kekuatan yang, mungkin kita sangka, bersumber dari mendiang Kyai Gringsing.”                                                                                                                                                                                                         

Ingatan ayah Glagah Putih itu lantas melayang ke beberapa waktu sebelumnya ketika seseorang datang—memintanya mundur dari kedudukan sekarang sambil mengangkat kitab Kyai Gringsing. Pelan-pelan dia menarik napas panjang untuk menahan perubahan pada garis-garis wajahnya.

“Tetapi mereka menantang kita secara terbuka!” sahut yang lain, tidak mampu menahan diri.

Ki Widura mengangguk kecil. “Ya. Kita hanya dapat mendengarnya tanpa dapat memberi tanggapan atau jawaban. Kita tidak perlu melakukan segalanya dengan tergesa.”

Beberapa cantrik saling berpandangan.

“Keputusan tegas,” Ki Widura meneruskan, “tidak dapat saya buat seorang diri.’

Dia berhenti sejenak, katanya lagi, “Ada Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Ki Swandaru. Beliau berdua adalah murid yang secara langsung menyadap ilmu dari Kyai Gringsing. Dalam jangka waktu yang sangat lama, hubungan itu bukan lagi sekadar antara guru dan murid. Termasuk perguruan yang kita banggakan dan kita cintai bersama ini.”

Seperti ada batas tak terlihat kemudian perasaan hormat itu muncul lalu mengingatkan bahwa persoalan ini tidak dapat berdiri sendiri.

“Bila penilaian dan pengamatan kita sebatas pada bentrokan tadi di halaman, kita tidak pernah tahu sumber mereka mempelajari ilmu Perguruan Orang Bercambuk,” lanjut Ki Widura.

Beberapa cantrik muda menggigit bibir. Hampir-hampir mereka tidak dapat menahan ledakan perasaan.

Seorang dari mereka kemudian bertanya, “Apakah kita menunggu salah satu dari beliau berdua datang ke perguruan atau kita yang mengabarkan?”

Ki Widura menggeleng perlahan lalu memandang kejauhan.

“Ki Swandaru, beliau tidak diketahui keberadaannya untuk saat ini. Kita tidak perlu menengok ke belakang karena saya anggap setiap orang sudah paham permasalahannya.”

Para cantrik terdiam.

Mereka kemudian sadar bahwa menemui Agung Sedayu pun juga tidak mudah karena kesibukan yang sudah dipahami bersama. Tapi, berapa lama mereka harus berdiam diri?

Ini akan menjadi peristiwa memalukan, pikir sebagian dari mereka.

“Kita tidak diam tapi juga tidak akan mengabarkan pada beliau berdua, terutama Ki Tumenggung Agung Sedayu,” ucap Ki Widura.

Para cantrik mengerutkan kening lalu bertukar pandang. Benarkah hanya diam?

Ki Widura menebar senyum lalu berkata, “Bukankah prajurit dari barak Jati Anom telah datang ke tempat ini? Mereka sudah bertanya dan yakinlah kejadian tadi akan dapat sampai pada pendengaran Ki Tumenggung Sedayu.”

Tiba-tiba wajah mereka berubah cerah. Ya, benar, dari prajurit tadi maka kabar bentrokan pun dapat masuk ruang kerja Ki Tumenggung Agung Sedayu.

Sejenak kemudian, melihat perubahan suasana, Ki Widura pun meminta setiap cantrik kembali pada kegiatan harian dan kewajiban masing-masing.

Pertemuan berakhir dengan perasaan lega dengan keputusan yang yang sudah dapat dibayangkan oleh semua orang.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 20 – Agung Sedayu dan Raden Atmandaru: Saling Mengintai di Dalam Kabut

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 59 – Pengintaian Terus Berlanjut Sampai di Kali Progo

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 86 – Perondaan Pertama Pasukan Khusus

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.