Padepokan Witasem
Bab 11 Bulak Banteng

Bulak Banteng 3

Sedangkan malam itu di padukuhan Bulak Banteng tengah berlangunsg perbincangan di pendapa yang berada di sebelah lapangan yang cukup besar. Tampak beberapa orang mengerutkan dahi dan berbagai gerakan yang menunjukkan mereka sedang berpikir keras.

“Apakah kekuatan yang ada di padukuhan ini sudah cukup untuk mengimbangi sebuah kademangan, Ki Sentot?” tanya seseorang kepada orang berjenggot tipis yang duduk di sampingnya.

“Sekalipun Bulak Banteng hanya padukuhan, tetapi luas wilayah dan kemampuan bertempur penghuninya sudah cukup mengimbangi pasukan yang dipimpin oleh rangga. Bukankah Ki Jagabaya sendiri yang melatih mereka?”

Yang ditanya menjawab dengan anggukan kepala.

Ki Sentot meneruskan, “Tetapi yang menjadi lawan kita adalah Majapahit, bukan satu kademangan yang tidak jelas. Maka keraguan atas kemampuan sendiri akan berbalik menjadi senjata yang dapat membunuh kita semua.”

“Iya, benar kata Ki Sentot. Sebaiknya memang Ki Jagabaya tidak meragukan kemampuan padukuhan ini,” kata seorang yang menggunakan jubah putih dan bertongkat di ujung ruangan.

“Ki Gede Pulasari. Sebenarnya bukan meragukan kemampuan tetapi Ki Jayanti pernah mengatakan, bahwa kekuatan kita belum dapat dikatakan tangguh karena belum mendapat ujian sesungguhnya,” kata Ki Jagabaya.

“Lantas apa yang harus kita lakukan? Bukankah latihan bertempur dalam gelar perang dan olah kanuragan sudah kita lakukan tiap hari?” kata Ki Sentot sambil menebar pandangan ke setiap orang yang hadir di pendapa.

“Aku kira para prajurit kita akan mengalami kejenuhan, Ki Sentot. Mereka hanya kita perintahkan untuk menunggu dalam batas waktu yang kita sendiri belum tahu kapan akan berakhir,” Ki Jayanti mengatakan itu dengan menatap tajam kepada Ki Sentot.

“Ki Jayanti, segala sesuatu harus kita pertimbangkan dengan penuh perhitungan. Tujuan yang akan kita gapai adalah tujuan yang besar. Bukan sekedar menumpuk kekayaan atau meraih kedudukan namun lebih dari itu,” Ki Sentot meneruskan, ”untuk itulah aku mengundang para sanak kadang untuk bersatu demi tujuan itu.”

“Ki Jayanti, mungkin Ki Sentot ingin meraih tujuan itu secara sempurna maka waktu yang panjang itu dibutuhkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya,” Ki Gede Pulasari menggeser duduknya kemudian meneruskan, ”jadi, seharusnya kita dapat mengerti alasan Ki Sentot menduduki Kademangan Sumur Welut terlebih dahulu, bukan begitu Kiai?”

Dengan mengusap-usap dagunya dan mengangguk kecil, Ki Sentot berkata, ”Benar begitu, Ki Gede. Kademangan Sumur Welut akan menjadi lumbung karena selanjutnya, dalam waktu yang cepat, kita akan bergerak menuju Wringin Anom.”

Senyum Ki Gede Pulasari mengembang. Ia berdiri kemudian berkata, ”Ternyata sudah jelas bagiku sekarang. Kademangan Sumur Welut adalah lumbung pakan bagi kuda yang akan kita bawa dari Kademangan Wringin Anom.” Kebingungan beberapa orang pun akhirnya terjawab. Seketika mereka berseru lega setelah mendengar kesimpulan yang dikatakan oleh Ki Gede Pulasari.

Kemudian Ki Sentot berdiri dan melangkah perlahan sambil meminta mereka untuk tenang kembali. Ia mengitari ruangan sambil menjelaskan,     ”Sumur Welut menjadi sasaran pertama itu bukan tanpa alasan yang kuat. Menduduki Sumur Welut berarti dapat menjadikan Gunung Bajul sebagai benteng pertahanan. Memang benar jika orang berkata Sumur Welut bukanlah tanah yang subur, tetapi bagiku tempat itu dapat menjadi lumbung dan tempat menempa persenjataan yang kuat. Selain itu, padukuhan Karangan sendiri mempunyai persediaan rumput dan dengan sendirinya akan dapat dikembangkan sebagai kandang kuda yang sangat besar.”

“Ditambah lagi,” Ki Sentot meneruskan, ”jarak yang cukup jauh dari sungai dapat menghambat prajurit Majapahit datang menyerang jika kita sudah menduduki Sumur Welut. Perbukitan kecil yang berada di sebelah barat sungai akan menjadi penghalang kecepatan pasukan Majapahit untuk mendekati kita.”

Related posts

Leave a Comment