0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 101 – Kegeraman Ki Wira Sentanu dan Pandangan Lain Pandan Wangi

Dironda 86 kali

Wedaran sebelumnya: Ki Wira Sentanu datang mewakili Pangeran Purbaya membawa permintaan agar Tumenggung Agung Sedayu dicopot dari kedudukannya sebagai pemimpin pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh. Pandan Wangi yang menyaksikan pembicaraan itu mulai memahami bahwa persoalan tersebut bukan sekadar pergantian jabatan.

Dalam perjalanan kembali ke Dusun Separang, Ki Wira Sentanu bertanya-tanya dalam hatinya Apakah Pangeran Purbaya sengaja menempatkannya dalam keadaan seperti ini?

Pertanyaan itu beberapa kali muncul, lalu dia singkirkan.

Ki Wira Sentanu kemudian teringat pada suatu peristiwa beberapa waktu lalu, ketika Nyi Banyak Patra berada di sebuah ruangan bersama Sinuhun dan Pangeran Purbaya. Ada sesuatu dalam pertemuan itu yang kini terasa berbeda. Seolah-olah ada bagian dari pembicaraan yang belum selesai.

Ki Wira Sentanu menarik napas panjang lalu bertanya dalam hatinya, “Apakah mereka sudah mengetahui nama pembunuh Ki Wedoro Anom?”

Pikiran itu membuat langkahnya terasa semakin berat.

“Celaka…” gumamnya dalam hati.

Ki Wira Sentanu mulai memahami, atau setidaknya dapat menduga, bahwa perintah Pangeran Purbaya bukan semata-mata sebuah tugas. Ada maksud lain yang tersembunyi di baliknya.

Dia diminta datang ke Tanah Perdikan Menoreh. Dia diminta membawa lencana itu kepada Ki Gede. Dia bahkan harus menunggu jawaban Ki Gede sebelum kembali ke Kotaraja.

Tetapi, apa kata Ki Gede?

Semakin dipikirkan, semakin jelas baginya bahwa semua itu dapat menjadi cara untuk menjauhkannya dari Sinuhun.

Selama berada di sekitar Sinuhun, Wira Sentanu menyadari bahwa dirinya tidak mudah disentuh. Terlalu banyak mata yang mengenal kedudukannya, tetapi dia cukup sulit disentuh.

Dan di Menoreh, keadaan tentu berbeda.

Jika benar Pangeran Purbaya sedang mengarahkannya ke tempat yang lebih jauh dari lingkaran Sinuhun, maka dia mulai mengerti alasan sebenarnya. Dengan cara seperti itulah Pangeran Purbaya dapat membuatnya berada dalam jangkauan yang lebih mudah diawasi.

Bahkan mungkin bukan hanya Pangeran Purbaya, Agung Sedayu pun dapat memanfaatkan keadaan itu.

“Jadi begini caranya…” pikirnya.

Ki Wira Sentanu menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya dia merasa bahwa langkah yang sejak semula dianggap mendekati sebuah keberhasilan, kini mungkin justru telah menjadi perangkap.

Dia mendatangi atau akan diburu Agung Sedayu di dalam Tanah Perdikan Menoreh. Tanah yang sudah dianggap sebagai bagian dari Agung Sedayu sendiri.

Dia menatap jalan di hadapannya dengan segala kegeraman yang ditujukan dan tumpah kepada Pangeran Purbaya. Tetapi dia juga tahu bahwa kegusaran dirinya akan dapat dilunasi jika sebuah syarat dapat dilewati, jika sebuah gangguan dapat dilampau, dan itu adalah Agung Sedayu!

Tentu saja karena tidak mungkin Pangeran Purbaya dapat mengetahui bahwa dirinya adalah pembunuh Ki Wedoro Anom. Sekali lagi, hanya Agung Sedayu pula yang dapat mengarahkan jalan pikiran Pangeran Purbaya. Agung Sedayu, Agung Sedayu.

Sejak kepulangannya kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, Agung Sedayu hanya datang sekali untuk menemui Ki Gede Menoreh. Sejumlah persoalan telah dibahas, dan kedatangan kali ini adalah berita tentang Kinasih.

Agung Sedayu banyak mendengar tentang pertarungan Kinasih yang menghadang Ki Winih Jambe. Gadis itu telah mengambil bahaya yang seharusnya tidak perlu dipikulnya: mewakili dirinya dan mengesampingkan Ki Sanggabaya. Agung Sedayu tahu bahwa gadis itu tidak mungkin berbuat seperti itu jika tanpa ada perintah. Dan, seperti apa perintah itu diucapkan?

Tetapi jika yang memerintahkan adalah Pandan Wangi, Agung Sedayu tentu saja sadar bahwa tidak pada tempatnya menyalahkan keduanya, Pandan Wangi dan Kinasih.

Sekali lagi, Kinasih hanya menjalankan perintah. Dari gurunya? Seperti apa yang dikatakan Nyi Banyak Patra padanya?

Agung Sedayu menarik napas panjang. Pikirnya, itu sudah terjadi. Meski tidak terluka parah, Kinasih tetap mendapatkan perawatan Pandan Wangi dan keadaannya semakin baik. Namun ketika pikirannya kembali kepada pertarungan itu, wajah Kinasih selalu hadir bersama bayangan Ki Winih Jambe. Sedayu dapat membayangkan betapa keras benturan yang telah terjadi.

Pada pagi yang cerah di Perbukitan Menoreh, cahaya matahari menyusup di antara pucuk-pucuk pepohonan dengan asap yang memenuhi sela-sela bambu dan pepohonan.

Orang berlalu lalang. Dari rumah pergi ke sawah, pategalan dan ladang. Dari rumah menuju ke pasar, sungai dan sejumlah tempat yang biasa mereka datangi hari demi hari. Agung Sedayu melihat semua itu dan sejumlah orang berhenti, bertukar kata dan sapa dengannya.

Hingga kemudian tampaklah kediaman Ki Gede Menoreh yang telah hidup sejak matahari belum tinggi. Beberapa orang keluar masuk membawa keperluan masing-masing. Di bagian belakang, kesibukan dapur telah dimulai, sedangkan halaman depan tampak lebih tenang. Angin pagi bergerak perlahan menyentuh dedaunan dan membawa kesejukan yang menenangkan hati.

Agung Sedayu melangkah melewati halaman menuju rumah induk, menaiki tlundakan dan memasuki rumah. Ketika sampai di ambang pringgitan, Agung Sedayu berhenti sejenak.

Ki Gede Menoreh tampak duduk seorang diri di dalam.

Dia cepat menghadapkan diri pada arah kedatangan Agung Sedayu lalu bertukar sapa barang sebentar. Obrolan demi obrolan kemudian mengalir lancar. Dari satu persoalan ke persoalan yang lain termasuk perkembangan di Dusun Benda.

Terdengar desir langkah dari arah dalam. Kinasih muncul kemudian tanpa membawa nampan kecil berisi minuman. Dia tidak berhenti ketika melihat Agung Sedayu telah duduk bersama Ki Gede.

“Ki Tumenggung,” sapanya.

Agung Sedayu mengangguk sambil memperhatikan gadis itu yang ternyata tidak terlalu menyimpan luka. Mungkin hanya tergores atau sekadar kelelahan saja.

Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh Agung Sedayu, Kinasih menyembunyikan muka meski sejak awal dia sudah menundukkan wajah. Tapi hatinya tidak dapat ingkar bahwa ada semacam perasaan yang sama, yang aneh, yang kerap muncul setiap kali berdekatan dengan Sedayu.

“Tidak ada apa-apa. Ki Tumenggung,” ucap kinasih sedikit gugup. “Saya tidak terluka parah. Hanya …yah, biasa saja.”

Sambil mengangguk, Agung Sedayu berkata, “Tidak apa, aku mengerti.”

“Akulah yang memerintahkannya untuk pergi, Kakang” kata Pandan Wangi yang datang tak lama setelah Kinasih duduk. Setelah itu, dia mengungkapkan lebih rinci di depan Agung Sedayu. Sekali-kali Ki Gede ikut membenarkan dan juga menambahi keterangan Pandan Wangi.

“Guru hanya berpesan bahwa saya harus melakukan yang terbaik, yang sepantasnya untuk Menoreh,” jawab Kinasih ketika Agung Sedayu menanyakan kata-kata Nyi Banyak Patra.

“Baiklah, saya kira semuanya telah jelas sekarang,” ucap Agung Sedayu. “Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.”

Ki Gede mengangguk lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

“Marilah, kita semua ke pendapa,” ajak Ki Gede. Dari nada suara Ki Gede, mereka dapat menangkap bahwa ada sesuatu penting untuk diketahui bersama. 

Ki Gede melangkah lebih dahulu. Agung Sedayu menyusul di belakangnya, sementara Pandan Wangi dan Kinasih berjalan beberapa langkah kemudian. Mereka keluar dari pringgitan menuju pendapa yang menghadap halaman.

Ki Gede berhenti di salah satu sisi pendapa. Agung Sedayu pun berhenti. Pandan Wangi dan Kinasih pun demikian.

Untuk sesaat mereka berdiri dalam diam. Kemudian Ki Gede mengarahkan pandangan kepada sebuah tempat di hadapan mereka.

Lencana. Lencana itu masih di sana.

Agung Sedayu memandang sebentar lalu berkata, “Ini serupa dengan milik Ki Wedoro Anom.”

Ki Gede mengangguk kemudian ucapnya, “Seseorang datang kemarin lalu menyerahkan ini kepada saya.”

Lantas diungkapkan olehnya tentang Ki Wira Sentanu yang datang seorang diri sambil meminta dirinya melakukan satu perbuatan.

“Tentu saja itu sulit dilakukan, Ngger,” kata Ki Gede kemudian. “Tapi saya tidak berpikir seperti itu. Maksud saya, saya tidak ada keinginan mengganti Angger dengan orang lain. Tidak, tidak seperti itu.”

“Ki Gede,” kata Agung Sedayu. “Saya tidak mempunyai persoalan seandainya Ki Gede memang berkenan. Tapi, sekarang, pembunuh itu berada di sini.”

Ki Gede terdiam. Pandangannya lurus menatap lencana yang terletak di hadapan mereka. Beberapa saat dia tidak mengatakan sesuatu. Ada perubahan pada garis-garis wajahnya. Sejenak dia menimbang sesuatu, lalu berkata, “Apakah Angger tahu asal lencana ini?”

Disertai anggukan kepala, Agung Sedayu menjawab, “Itu milik Pangeran Purbaya.”

Pandan Wangi dan Kinasih diam mendengarkan.

Kemudian Agung Sedayu mengatakan pertemuan dan pembicaraannya dengan Pangeran Purbaya dari waktu ke waktu.

“Tentu saja sulit bagi Pangeran Purbaya untuk mendekati Ki Wira Sentanu yang berada di bawah lindungan langsung Sinuhun,” ucap Agung Sedayu. “Dengan menyerahkan lencana itu, membawanya ke hadapan Ki Gede, kita bisa mengetahui keinginan Pangeran Purbaya. Dan lebih jauh lagi, Pangeran Purbaya memberi pesan bahwa kita dapat bergerak sebagaimana mestinya karena kita tidak berada dalam lingkungan Sinuhun.”

“Pembunuh itu berada di sini,” ulang Ki Gede lirih.

“Benar,” ucap Agung Sedayu sambil mengangguk. Sejenak dia mengulang peristiwa yang terjadi beberapa pekan silam.

“Lalu, dia ke sini?” gumam Kinasih lalu berpaling pada Pandan Wangi, tetapi perempuan itu memberi tanda agar menahan diri terlebih dulu.

Lebih mendalam dan sedikit jauh, Agung Sedayu lantas mengungkit kembali kecurigaannya selama ini pada Ki Wira Sentanu.

“Saya mengetahuinya dari benturan singkatnya dengan Glagah Putih,” lanjut Agung Sedayu. “Ki Jayaraga mengatakan bahwa tata geraknya mengingatkan pada sesuatu yang datang dari masa lalu. Saya sendiri hanya sekali melihat tata gerak, mengingatnya dan  semacam itu, pada masa hidup Kyai Gringsing.”

Ki Gede memperhatikan wajah Agung Sedayu. “Apakah Angger mengenal jalur ilmu itu?”

Agung Sedayu menggeleng perlahan lalu menjawab tanpa keraguan, “Saya tidak begitu yakin tetapi memang ada kemiripan karena mengenali beberapa bagian dari tata geraknya. Itu pun karena pernah melihatnya dahulu. Tetapi, saya tidak dapat memastikan bahwa jalur ilmu Ki Wira Sentanu sama dengan jalur ilmu Kakang Panji.”

Pandan Wangi mengangkat wajah lalu bergumam, “Kakang Panji.”

Ki Gede memandang wajah putrinya, kemudian bertanya, “Apakah engkau juga turut melihatnya pada saat itu?”

Pandan Wangi menggeleng. Katanya, “Itu pertarungan yang sulit dimengerti, Ayah.”

Agung Sedayu menarik napas panjang, lalu kembali menatap lencana yang tergeletak sambil berkata, “Apa pun itu, siapa pun itu, lencana ini adalah petunjuk yang menyatakan pembunuhan itu pernah terjadi.”

Ki Gede bergeser tempat, lalu berkata, “Pada saat pembunuhan itu terjadi, Ki Wedoro Anom adalah bawahan Ki Tumenggung.”

“Kami masih sama-sama berpangkat rangga, Ki Gede.”

KI Gede tersenyum sebentar lalu mengangguk. “Rangga yang berbawahan seorang rangga pula.”

“Kakang, terlepas dari seorang rangga yang menjadi atasan atau bawahan, tapi Ki Wedoro Anom adalah orang yang sedang bekerja untuk barak. Dia adalah bagian dari pasukan khusus meski sikap dan sepak terjangnya tidak mencerminkan itu,” ucap Pandan Wangi.

“Dapat dimengerti,” sahut Agung Sedayu. “Untuk itulah, saya…ehm..kita akan menjemputnya.”

Ki Gede menarik napas panjang. Dia dapat mengerti jalan pikiran Agung Sedayu. Sejenak dia memandang Agung Sedayu lalu berkata, “Kalau begitu, Angger dapat melakukan yang seharusnya.”

Agung Sedayu memandang Ki Gede dengan saksama. Ada keteguhan dalam sorot mata lelaki tua itu. Bukan sekadar persetujuan, bukan sekadar dukungan tetapi kesediaan untuk menerima akibat secara bersama-sama.

“Ki Gede, pangestu,” ucap Agung Sedayu sambil sedikit membungkukkan badan.

Kepada Pandan Wangi dan Kinasih, dia tidak meninggalkan pesan. Hanya sebuah kata untuk tetap berhati-hati. Setelah itu, senapati Mataram tersebut undur diri.

“Tidak seperti biasanya Angger Sedayu berlalu tanpa pesan,” kata Ki Gede. “Tetapi mungkin beliau anggap ini adalah urusannya, sepenuhnya.”

Pandan Wangi tidak berkata sedikit saja. Pikirannya memang membenarkan pendapat ayahnya. Jika Agung Sedayu tidak meninggalkan pesan untuk sebuah siasat atau hal yang lain, itu berarti dia sudah menutup pintu bagi orang lain untuk terlibat.

“Mbokayu harap engkau tidak perlu mengkhawatirkan persoalan itu,” ujar Pandan Wangi pada Kinasih.

Kinasih hanya memandang punggung Agung Sedayu dengan tatap mata yang hanya dapat dimengerti Pandan Wangi, lalu memandang sebentar pada Ki Gede Menoreh—yang juga meninggalkan pendapa.

“Saya hanya tidak mengerti, tapi saya tahu bahwa saya harus mengerti dan menerima keadaan ini,” ucap pelan Kinasih.

Seutas senyum dari Pandan Wangi pun tampak, kemudian dia berkata, “Aku tahu, aku tahu.”

Mereka kemudian kembali memandang lencana itu. Benda kecil tersebut masih terletak di tempat yang sama, tetapi kini terasa berbeda. Mereka tahu Agung Sedayu tidak membawanya dan tidak pula ada keinginan untuk menyusulkannya. Mereka berdua tahu di dalam benak Agung Sedayu ada ruang yang terpisah tetapi tidak perlu ada pergerakan untuk menyatukan atau mencarinya.

  • Kita akan bersua lagi setelah Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh. Bila ada sumur di ladang, jangan serahkan itu pada tetangga karena penggunaan bisa tidak sesuai dengan harapan Anda. Jadi, tetap manfaatkan dan jangan lupa berbagi.
  • Hal itu sejalan dengan yang dikatakan Ki Sentot Tohjaya saat berhadap-hadapan dengan Ken Banawa di Pertempuran Hari Kedua 9. Waktu itu, Ki Sentot berkata, “Aku tidak dapat menentang apa yang telah menjadi suara hatiku.”
  • Demikian pula mereka yang sedang membaca di Hari Bising 74. Ditulis: Masih dalam kurun dua minggu yang sama dengan kesibukan Agung Sedayu merancang pengembangan barak pasukan khusus, Ki Astaman benar-benar menemui Swandaru. Mereka sama-sama tidak mengingkari kata hati, baik Ki Astaman maupun Ki Sentot Tohjaya.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.