Padepokan Witasem
arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak
Bab 9 Pertempuran Panarukan

Panarukan 21

Gagak Panji mengangguk dalam. Setengah berbisik ia menggerakkan bibirnya, ”Kami semua merasa lelah dengan pertentangan ini. Tetapi kami harus menjaga tanah yang kemakmurannya telah menjangkau ujung dunia.” Ia lantas membaringkan tubuh di atas hamparan pasir yang tidak berisik. Lurus wajahnya menatap bintang gemintang.Di bawah arak-arakan mendung tipis yang mengapung, terlihat banyak bukit berwarna hitam yang sebenarnya adalah kapal-kapal Blambangan yang memanjang untuk menutup jalan kapal perang Demak. Namun Gagak Panji seolah tidak peduli dengan suasana sekitarnya.

Tak lama kemudian, Semambung duduk di sampingnya kemudian mengatakan, ”Pertempuran baru sehari berlangsung dengan segala akibatnya. Pangeran, apakah menurut Anda, Blambangan akan jatuh ke tangan Demak?”

“Tidak!” jawab suara yang terdengar lembut secara tiba-tiba muncul dari belakang mereka.

Gagak Panji melejitkan tubuh dan berputar cepat bersiap menghadapi perkembangan. Begitu pula Semambung secara tiba-tiba mengenggam senjata berupa keris berlekuk tiga dengan ukuran panjang sejengkal. Namun kemudian mereka berdua menarik napas lega ketika melihat orang yang datang dengan cara mengejutkan.

“Eyang Tawang Balun!” Gagak Panji membungkuk hormat. Semambung dengan cepat memeluk dua kaki Pangeran Tawang Balun.

“Pangeran mempunyai kemampuan yang sangat tinggi dan aku mohon ampun karena telah bersikap deksura pada Pangeran,” kata Semambung.

Pangeran Tawang Balun mengangguk lalu katanya, ”Tidak mengapa, Semambung. Kau telah bersikap benar karena memang seperti itulah yang seharusnya kau lakukan untuk melindungi kawanmu.” Wajah Pangeran Tawang Balun yang telah berhias garis-garis jalan kehidupan suka dan duka. Lurus ia memandang ratusan kapal dari dua belah pihak yang berkeras mempertahankan pendapatnya melalui jalan kekerasan.

“Gagak Panji,” kata Pangeran Tawang Balun lalu berpaling pada lelaki muda yang mempunyai pengaruh kuat di sepanjang pesisir utara itu, ”kau harus meminta Hyang Menak untuk menarik prajuritnya dan sepenuhnya bertahan di sepanjang pantai. Pertempuran di atas samudera ini akan membawa kerugian yang sangat besar bagi Demak, sedangkan aku tidak ingin hal itu terjadi.”

Pangeran Tawang Balun menarik napas panjang dan berhenti sejenak. Kemudian sambungnya, ”Bagaimanapun juga dan apapun yang ditempuh oleh Raden Trenggana, itu digerakkan keinginan untuk mengembalikan kejayaan pendahulunya.”

“Tetapi beliau menolak jalan yang telah saya tawarkan sebelumnya, Eyang,” sahut Gagak Panji.

“Kau dapat menganggapnya bahwa waktu itu hatinya memang sekeras batu karang,” berkata Pangeran Tawang Balun, ”namun setelah apa yang ia alami di Panarukan, boleh jadi ia akan mengubah pendiriannya.”

“Saya serasa bermimpi apabila Raden Trenggana menarik mundur ribuan prajuritnya lalu memba-talkan rencananya menaklukkan tanah Blambangan,” Semambung angkat bicara dengan nada sedikit meninggi.

Pangeran Tawang Balun tersenyum sambil mengerling pada orang yang menjadi kepercayaan Gagak Panji, lalu ia berkata, ”Kau memang sedang bermimpi, Semambung.”

Semambung tersenyum dengan ucapan Pangeran Tawang Balun. Dalam waktu itu, pangeran Majapahit yang mengasingkan diri di lereng Raung itu kemudian meneruskan kata-katanya, ”Kau harus mampu memegang kendali pertempuran, Gagak Panji. Tetapi kau harus menimbang perasaan pamanmu agar ia tidak merasa sedang kau permainkan.”

Gagak Panji mengerutkan keningnya. Dia belum dapat menduga tujuan Pangeran Tawang Balun yang menghendaki dirinya untuk dapat berdiri di tengah dua kepentingan yang bertolak belakang, sementara Pangeran Tawang Balun memahami perasaannya yang kuat tekad untuk mempertahankan Blambangan.

“Saya tidak mengerti, Eyang,” kata Gagak Panji kemudian.

Pangeran Tawang Balun manggut-manggut lalu dengan tatap mata tajam, ia berkata, ”Sekali waktu kau harus dapat menekan Demak hingga batas pertahanan mereka, namun kau pun harus mampu menahan diri saat mereka menyerang Blambangan hingga tepi luar pantai. Ada satu hal penting yang harus kau tanam kuat pada hatimu, dan itu adalah kau harus menimbang perasaan Raden Trenggana. Tidak tertutup kemungkinan ia akan merasa seperti anak kecil yang sedang dipermainkan oleh kawan-kawannya. Gagak Panji, Raden Trenggana adalah seorang raja jadi kau harus mampu menahan diri walau apa pun yang terjadi.”

Gagak Panji mengangguk sambil menarik napas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa sering kali yang terjadi adalah raja yang mengalami kekalahan akan selalu diikuti oleh nasib yang buruk seperti pembuangan atau hukuman mati. Dan Gagak Panji sendiri merasa ragu, apakah ia dapat meyakinkan Hyang Menak untuk memberi keleluasaan pada Raden Trenggana apabila Blambangan menang dalam pertempuran besar ini? Sementara itu, penegasan Pangeran Tawang Balun seperti mengingatkan dirinya bahwa Raden Trenggana adalah satu kerabat dekatnya meskipun mereka saling berhadapan dalam pertempuran. Dan ketika terbayang bahwa tidak menutup kemungkinan dirinya akan beradu tanding dengan Raden Trenggana sendiri, maka Gagak Panji berusaha mengalihkan perhatiannya pada persoalan lain.

Related posts

Panarukan 9

kibanjarasman

Panarukan 8

kibanjarasman

Panarukan 7

kibanjarasman

Panarukan 6

kibanjarasman

Leave a Comment