Padepokan Witasem
Bab 5 Tiga Orang

Tiga Orang 2

“Lalu, apa arti dari usaha kita selama ini? Melatih mereka seperti melatih prajurit, persiapan-persiapan gelar perang? Kemudian tiba-tiba Ki Nagapati mengubah tujuan kita semula?” Mpu Lenggana mengerutkan alisnya.

Mendengar pertanyaan dari kawannya, Ki Nagapati bangkit lalu berkata, ”Sejak awal aku katakan pada kalian bahwa tujuan kita adalah sebuah pengampunan dari Sri Jayanegara. Kita bersiap untuk gerakan besar ini bukan untuk menggantikan penguasa yang sekarang, tetapi pemulihan nama baik dan hak-hak bagi keluarga kakang Lembu Sora dan Gajah Biru. Kalian bisa lihat keluarga mereka. Hanya karena kebaikan Mpu Nambi yang akhirnya tanah palungguh itu dapat dipertahankan.”

“Jadi maksud Anda adalah, kegiatan kita selama ini dan apa yang ditanam selama belasan tahun tidak berhubungan dengan apa yang aku dengar di ujung timur?” bertanya seorang yang duduk di ujung meja. Ia menutupi tubuhnya dengan lembaran kain berwarna jingga. Rambut panjangnya telah bercampur dengan warna putih.

“Tidak ada hubungannya, Ki Sanca. Mereka mempunyai tujuan yang berbeda dengan tujuan kita. Tapi aku membuka pintu bagi mereka yang akan bergabung dengan mereka di ujung timur.

“Dan mungkin jika memang sudah tiba waktunya, kita akan berhadapan sebagai lawan. Mereka yang berada di ujung timur tidak akan pernah memperbaiki kerajaan ini, mereka justru akan membawa petaka. Dan aku sudah siapkan diri bila peperangan itu terjadi,” berkata Ki Nagapati dengan kilat mata yang menyambar jantung setiap orang yang berada di bilik itu.

“Saya tetap sarankan, Ki Nagapati harus berbuat seolah akan menduduki kotaraja,” sahut Ki Sanca dengan cepat.

“Aku pikirkan itu,” Ki Nagapati berkata pendek.

Mpu Tandri tajam menatap wajah Ki Sanca dari samping. Sebuah pikiran melayang lalu memasuki ruang benaknya. Mpu Tandri ingin mencari jawaban.

“Ki Sanca, kita sama mengetahui jika Ki Nagapati tidak mempunyai pilihan untuk meraih satu kata, pengampunan. Maksudku, Ki Nagapati telah menutup pintu kekerasan untuk upayanya itu,” kata Mpu Tandri kemudian, “melihat dan menyimak segala yang Ki Sanca katakan, akhirnya aku ingin bertanya padamu.” Sorot mata Mpu Tandri tiba-tiba berubah menjadi sebatang pedang yang siap menyayat wajah Ki Sanca.

“Apakah aku tengah berada di salah satu sudut perang tanding?” geram Ki Sanca. Ia beranjak bangkit lalu, “Sekelompok pasukan besar tengah bersiap di pantai timur. Kalian semua telah mengetahui Ki Sentot Tohjaya sedang menyiapkan satu serangan seperti air bah, tetapi tidak seorang pun yang mengatakan itu pada raja atau patihnya. Kalian memilih diam lalu memasuki sebuah celah di antara tebing yang longsor.

“Lantas sekarang kalian mengacungkan telunjuk tepat di depan wajahku kemudian berkata ‘engkau ambil bagian dalam gerakan itu, Ki Sanca.’ Pemikiran sesat! Aku tidak meninggalkan kotaraja selangkah atau sejengkal, kalian masih dapat melihatku berada di sekitar barak pasukan pemanah.”

Related posts

Tiga Orang 3

kibanjarasman

Tiga Orang 1

kibanjarasman

Leave a Comment