Padepokan Witasem
Bab 5 Tiga Orang

Tiga Orang 3

“Kami tidak menghalangi seorang pun untuk memberi laporan pada para pemimpin tinggi,” tegas Mpu Tandri dengan nada tinggi. “Kami tengah menunggumu bergerak, Ki Sanca. Semua orang tahu mengenai hubungamu dengan Ki Sentot Tohjaya. Anda tidak perlu menyangkal hal itu! Bahkan aku berpikiran buruk dengan desakanmu pada Ki Nagapati agar mengepung kotaraja. Aku bukan orang yang tidak mampu berpikir panjang tetapi aku harus katakan bahwa pikiran buruk dan pendek itu ada. Para prajuritku banyak memberiku masukan perihal persiapan yang Anda lakukan.”

Mpu Tandri mendekati lawan nya bicara. “Aku tahu  itu bukan latihan perang biasa,” desis Mpu Tandri di dekat telinga Ki Sanca.

“Pengamatan yang jeli telah dilakukan anak buahmu meski aku dapat membuktikan bahwa semua laporan mereka adalah kesalahan besar. Aku adalah Ki Sanca, bicara tentang kesetiaan maka tidak seorang pun dapat meragukanku. Semua akan terjawab apabila pasukan Ki Sentot telah mencapai bibir kotaraja. Itu akan terjadi dalam waktu sangat dekat. Selamat tinggal!” Ki Sanca melangkah keluar dari balik seraya mebanting pintu dengan keras.

Tidak seucap kata yang keluar dari tenggorokan Ki Nagapati, ia hanya memandang dan menilai semua ucapan orang-orang di sekitarnya. Lalu ia berkata pada Mpu Tandri, “Aku tidak akan pernah meninggalkan kotaraja atau mengepungnya. Aku dan pasukanku akan berada di sini sampai batas kesabaran yang kami miliki.”

“Anda bebas melakukannya, Tuan Panglima,” kata Mpu Tandri penuh hormat.

Selang beberapa waktu kemudian tingallah Ki Nagapati yang termenung seorang diri di dalam bilik. “Jika Sri Jayanegara kembali menolak permintaanku, ke mana aku akan mencari pertolongan agar ia mau membuka diri?” gumam Ki Nagapati perlahan.

Memang sebenarnya Ki Nagapati telah bertahun-tahun menggunakan waktunya untuk mengumpulkan kekuatan. Selain kedudukannya sendiri sebagai pemimpin pasukan berkuda, ia juga seorang putra dari demang di sebelah utara kotaraja. Maka pengaruh Ki Nagapati pun begitu kuat mengakar di dalam jiwa banyak orang yang hidup di sekitar kotaraja. Ia telah dikenal sebagai pengikut setia Lembu Sora dan Gajah Biru yang cakap dan penuh wibawa, maka rasa segan pun terbit di hati banyak orang, termasuk Mpu Nambi dan Patih Arya Tadah.

Ki Nagapati, pada banyak kesempatan, selalu berusaha membersihkan nama Lembu Sora dan Gajah Biru. Bagi Ki Nagapati, sosok Lembu Sora adalah seorang guru dan seperti keluarganya sendiri. Lembu Sora banyak mengajarinya tentang ketinggian martabat seorang panglima dan sering mengajaknya berbicara tentang kecintaan pada negerinya.

Sedangkan Gajah Biru bagi Ki Nagapati adalah orang yang besar jasanya bagi perkembangan bidang keprajuritan dengan menyusun latihan-latihan untuk prajurit yang disiapkan menjadi pasukan khusus. Dan secara keseluruhan kedua orang itu mempunyai peran sangat penting bagi berdirinya suatu negeri yang sangat ia banggakan. Majapahit.

Oleh karena itu, pada suatu ketika, ia pernah berkata di halaman barak pasukan berkuda, ”Jika orang-orang dari timur itu akan merebut kotaraja, maka aku dan kalian akan menjadi benteng pertama yang akan membenamkan mereka ke dalam lautan api!” Gemuruh suara ratusan prajuritnya menyambut kata-kata yang diucapkannya saat mereka mengakhiri satu latihan gelar perang.

Tidak sulit bagi Ki Nagapati jika ia ingin menduduki kotaraja lalu memaksa Sri Jayanegara untuk tunduk pada keinginannya. Tetapi Ki Nagapati adalah orang yang teguh. Ia tetap menempatkan Sri Jayanegara pada kedudukan yang tinggi meski menggeser rajanya ke tempat rendah itu dapat dilakukan Ki Nagapati dengan mudah.

Pertanyaan dari kawannya yang berambut putih keperakan masih terngiang di telinganya.

“Untuk apa aku menyusun kekuatan sedemikian besar?” ia bertanya pada hatinya sendiri. Ki Nagapati menarik napas panjang lalu beranjak keluar dari biliknya dan meninggalkan barak prajurit. Ia telah menentukan keputusan. Ia mempunyai sikap dan pendirian yang kuat. Dan kini ia akan berjalan menuju tempat yang telah ia yakini sebagai kebenaran.

Related posts

Leave a Comment