Padepokan Witasem
Meraih Jatimu dalam badai, Danur, novel baru, prosa liris
Bab 2 Wajah Kabut

Wajah Kabut – 6

“Sabar dan teruslah memohon pada Dewa agar berjodoh dengan pujaan hatimu, Putri,” hiburku sambil memijit kakinya.

            Aku memang tinggal bersama dengan putri di keputren. Sehari-hari tidur beralas tikar pandan di samping peraduan demi menjaga keselamatannya. Tidak terasa lagi kerasnya lantai pada tubuhku. Karena bagiku, mendapat kepercayaannya adalah sebuah kehormatan. Setiap hari dia tidak keberatan aku berbagi ruang dan makan hidangan yang sama dengannya. Srikandi memang mulia.

            Jika para kesatria Pandawa memiliki Punakawan dan kesatria Kurawa memiliki Togog Tejamantri sebagai sahabatnya. Maka para putri di keputren memiliki aku dan Cangik simbokku sebagai sahabatnya. Suatu wujud dari menjaga keseimbangan alam. Ada siang dan malam. Ada terang dan gelap. Ada laki-laki dan perempuan.

“Jadi tanggung jawab empu terhenti sejak keris diberikan kepada pemiliknya nggih, Pak?”

“Betul, Nduk. Pasti kamu pernah mendengar cerita tentang keris ciptaan Empu Gandring yang memakan korban hingga tujuh turunan. Itu salah satu contohnya.”

“Nggih, Pak.”

Baca : Namaku Senggani "Sapa Temen Kang Bakal Tinemu 6"

            Walau aku dan simbokku seorang rewang, simbok adalah wanita yang berkulit bersih, luruh sabar, dan berbadan langsing karena menganut laku hidup prihatin. Dia membatasi diri dari kesenangan dunia dan sangat setia pada bendaranya. Simbokku bukanlah seorang perempuan kurus tua renta dengan raut muka buruk seperti yang kamu sangka.

            Bertolak belakang denganku. Karena usiaku masih muda, aku masih suka mengumbar hasrat duniawi. Aku belum sudi bersusah payah mengurangi dhahar dan nendra. Buat apa hidup dibikin sengsara. Segala rupa makanan aku santap tidak ada pantangan. Akibatnya badanku menjadi melar karena timbunan lemak.

Lalu siapa ayahku?

Sekali lagi aku beritahu.

Aku bukanlah anak yang dihasilkan dari sebuah persetubuhan. Aku tidak dilahirkan melalui kemaluan Cangik simbokku.

Aku adalah anak asuhnya atau muridnya dalam kehidupan.

            Aku mewarisi kearifan simbokku. Meski aku hanya rewang tapi aku pandai menempatkan diri. Aku juga tidak segan mengembangkan diri, seperti ikut sarasehan. Simbok mendidik agar aku memiliki budi pekerti luhur, sabar dalam mendengar, pintar untuk menyaring, dan teguh menyimpan rahasia.

            Srikandi juga tidak membatasi kebebasanku. Aku sangat menikmati menjadi diri sendiri, menjadi diriku apa adanya. Saat aku bercerita tentang kemuliaan bendaraku, itu memang murni lahir dari kedekatan yang aku rasakan. Aku mendapat kepercayaan luar biasa yang berhubungan dengan penataan rumah, harta, kekayaan, dan rahasianya.

            Selain serius dan apa adanya, aku juga periang dan suka melucu. Putri sering terpingkal-pingkal melihat aku megal-megol saat membersihkan keputren atau melayaninya sambil mendendangkan lagu-lagu campursari.

Related posts

Wajah Kabut 5

Wajah Kabut 4

Wajah Kabut 3

Yekti Sulistyorini

Wajah Kabut 2

Leave a Comment