Padepokan Witasem
Bab 2 Wajah Kabut

Wajah Kabut 5

Aku merogoh tas punggung, mengambil secarik kertas yang siap dibaca.

            Semburat matahari telah condong ke barat, penanda sarasehan tentang budi pekerti harus diakhiri. Jarum jam dinding terasa cepat berlari hingga mata cicak menjadi juling karena mengikuti. Sangat menarik dan banyak manfaat aku petik. Tidak rugi aku melewatkan tidur siang meski harus duduk lesehan tanpa sandaran. Pegal, aku meregangkan badan.

            Kertas-kertas makalah sarasehan yang bertebaran aku masukkan ke dalam tas batik usang berpola parang rusak. Parang rusak bermakna tidak mudah menyerah dan tidak berhenti bergerak. Persis seperti aku yang tidak henti belajar, selalu haus akan ilmu kehidupan.

            Sebelum bangkit aku merapikan diri. Mengambil sisir jimat dari dalam tas. Menyisir rambut dan menabur bedak agar pipi tembamku tidak mengkilap. Memoles gincu berwarna darah akan membuat wajahku merekah.

            Merah kuning hijau seperti lampu bangjo di perempatan, aku baurkan pada kelopak mata. Tidak masalah. Itu salah satu caraku untuk mengungkapkan kesenangan.

            “Babu tapi berdandan seperti pelacur!”

            “Mengapa seorang babu ikut diundang sarasehan?”

            Terngiang omelan dua perempuan seronok di sebelahku. Suaranya cukup nyaring memecah keheningan bagai kaca pecah terlanda bola nyasar. Bola matanya melirik penuh dengki serta bibir mencibir merendahkan. Tidak apa, aku sudah terbiasa.

Sombong sekali mereka. Ingin aku berbisik di telinganya yang melar keberatan logam mulia.

            “Memang aku kaum rendahan, tapi budi pekertiku lebih baik dari kalian!”

            Bergegas aku berjalan ke pelataran sambil mendendangkan lagu dangdut Mirasantika. Suara merduku merobek gendang telinga tikus lapar yang sibuk mengais makanan. Kasihan.

Aku terhenyak sangat teringat pesan simbok.

            “Ati-ati ojo banter-banter anggone numpak pit, Ndhuk!”[1]

            “Sendiko, Mbok,[2]jawabku pelan.

            Namaku Limbuk. Namun simbok dan bendaraku lebih suka memanggilku Gendhuk Limbuk. Ketika zaman semakin maju, orang tua menyematkan nama yang elok untuk anaknya seperti, Endah, Herlina, Dahlina, Ameyda, Ardhianti, Silvia, dan Frida. Namun, simbokku masih saja mempertahankan sikap kuno. Aku diberi sebuah nama sederhana Limbuk. Bila tak cermat akan terdengar seperti tlembuk. Duh, tlembuk. Kamu tahu apa artinya tlembuk?

Aku beritahu,

Tlembuk adalah pelacur!

Tlembuk, Limbuk.

Mirip.

Sedang aku, Limbuk.

            Aku adalah seorang rewang, emban, atau dayang. Seorang rewang bukan babu seperti perkiraanmu. Di Jawa, tempat asalku, rewang adalah orang yang setia membantu atau penolong bagi sang bendara. Bendaraku adalah Wara Srikandi putri Prabu Drupada dari Kerajaan Cempalaradya.

            Aku memiliki kepekaan untuk memahami kegundahan dan memberi atur saran bagi masalah yang dihadapi bendaraku. Seperti saat ini, Srikandi mengalami kebingungan atas lamaran Prabu Jungkungmardeya. Sang putri bimbang, dia takut menolak karena apabila lelaki itu marah dia mengancam akan menyerang kerajaan Cempalaradya.

            “Aku tidak mau menjadi istri Jungkungmardeya karena hatiku telah dimiliki Arjuna.” Dia duduk di tepi peraduan, terisak membayangkan tambatan hatinya.

[1] Hati-hati jangan telalu cepat naik sepedanya, Nak!

[2] Siap, Bu

Related posts

Wajah Kabut 4

Wajah Kabut 3

Yekti Sulistyorini

Wajah Kabut 2

Wajah Kabut 1

Yekti Sulistyorini

Leave a Comment