Padepokan Witasem
Meraih Hatimu dalam Badai, Danur, novel baru, prosa liris
Bab 2 Wajah Kabut

Wajah Kabut 7

            “Bocah kurang unggah-ungguh, mulutnya seperti bendungan jebol!” Burung nuri geregetan dengan tingkahku.

Daun kering bergemerisik, berbisik pada burung nuri tanda setuju.

            Wara Srikandi bendaraku sangat terampil dalam ilmu memanah. Dia juga cerdas dan berpendapat bahwa politik bukan hanya urusan petinggi. Semua kawula termasuk hamba sahaya berhak ikut menentukan merah hijaunya negeri. Berkat dia, aku memiliki wawasan yang luas, baik dalam bidang sosial politik, seni budaya, serta hal-hal yang bersifat di luar batas kewajaran.

            Aku mengidolakan Dewi Saraswati, simbol Dewi Pengetahuan. Aku senang karena diizinkan membaca di perpustakaan keputren. Aku menjadi tahu tentang perkembangan ilmu dan melek dunia penulisan. Aku, gambaran dari kaum rendahan yang bisa berkembang karena ada kemauan dan mendapat kesempatan. Meskipun derajatku rendah tapi aku tidak rendah diri dan bisa mengikuti perkembangan zaman.

            Aku, Gendhuk Limbuk adalah simbol keseharian yang bisa mewujud pada setiap orang. Betapa setiap lakon adalah Limbuk kehidupan, lengkap dengan permasalahan. Menjadi tugasmu untuk tetap menjaga kepercayaan dalam kesederhanaan, kesetiaan, bertutur dan bertindak apa adanya sesuai kemampuan. Menata masyarakat agung yang terkecil dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, lalu negara. Kamu akan dihargai asal rendah hati dan pintar membawa diri.

Semangatku, semangat Gendhuk Limbuk bermuara pada Murih Raharjaning Nagari![1]

Aku terpaku menatap kalimat “tetap menjaga kepercayaan dalam kesederhanaan, kesetiaan, bertutur dan bertindak apa adanya sesuai kemampuan.”

Aku bertekad  akan melakukan seperti yang telah aku tuliskan di atas kertas itu.

***

            Suatu hari sekolah dipulangkan lebih awal karena bapak dan ibu guru hendak menghadiri peringatan hari ulang tahun PGRI di gedung Balaikota Salatiga. Hari masih terlalu pagi dan aku belum ingin pulang. Sia-sia  saja  aku  terjaga mendahului mentari kalau aku cepat-cepat kembali.

Aku berharap saat itu Ratri belum meninggalkan kelas, maka aku bergegas menuju ke ruangannya. Benar saja, dia sedang memasukkan buku-buku ke dalam tas sekolah dan bersiap untuk pulang. Aku     akan       mengikutinya,      putusku     tanpa     pikir   panjang.
“Nekad kamu, Danur!” Jantungku berdentam.

[1] Demi kejayaan bangsa

Wedaran Terkait

Wajah Kabut 8

kibanjarasman

Wajah Kabut 5

Wajah Kabut 4

Wajah Kabut 3

Yekti Sulistyorini

Wajah Kabut 2

Wajah Kabut 1

Yekti Sulistyorini

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.