“Kita tidak dapat menduga yang sebenarnya dipikirkan maupun yang dirasakan oleh Swandaru. Mungkin dia ingin mengungkap sikap atau pikirannya bahwa Mataram, dalam keadaan tertentu, tidak dapat dan tidak boleh mengekangnya. Mungkin di alam pemikirannya, Mataram tidak boleh semena-mena pada tanah atau wilayah yang lebih dulu mempunyai kehidupan terlebih dulu dibandingkan dengannya. Kita tahu bahwa kademangan ini sudah ada di masa Pajang. Bahkan mungkin kademangan ini jauh lebih tua usianya dibandingkan Pajang. Walau demikian, kita juga tahu bahwa Swandaru tidak dapat berbuat seperti itu karena ada kesepakatan baru atau kerelaan untuk bergabung. Dengan demikian, penggabungan itu pasti melahirkan akibat-akibat baru yang mengikat beberapa pihak. Dalam keadaan ini, pihak-pihak itu adalah Mataram dan Sangkal Putung.”
“Apakah penjelasan Kakang itu juga menyinggung Tanah Perdikan?” tanya Sekar Mirah.
“Aku dapat memahami kekhawatiranmu, Mirah,” ucap Agung Sedayu. “Walau begitu, kita dapat berharap ada keputusan cerdas yang lahir dari kebijaksanaan dari para pemimpin Mataram.”
Kata-kata Agung Sedayu memang membuat Sekar Mirah menjadi sedikit lebih tenang. Meski demikian, puri Ki Demang Sangkal Putung itu tahu bahwa pikiran-pikiran buruk akan datang membayanginya hingga segalanya menjadi terang benderang. Dia tahu keterlibatan pertama kali Swandaru pada gerakan yang menentang Mataram kemudian ada ampunan bagi kakaknya itu. Untuk pengulangan ini, meski Swandaru dapat beralasan dia dijebak Raden Atmandaru, apakah Mataram dapat menerima keterangannya? Sekar Mirah sadar bahwa bibit ketamakan ada dalam diri setiap orang, termasuk Swandaru, maka dia pun merasa harus dapat mengurangi beban pikiran atau bayangan buruk tentang nasib kakaknya, Pandan Wangi dan juga yang lain di masa mendatang. “Mungkin suatu hari segalanya dapat menjadi tidak terkendali, tapi bukankah selalu ada harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja?” ucap Sekar Mirah dalam hati demi ketenangan dirinya sendiri.
Untuk sejenak, waktu terasa mengalir begitu lambat. Kesibukan orang-orang di kediaman Ki Demang Sangkal Putung bahkan terasa berhenti bagi Sekar Mirah dan Agung Sedayu. Mereka berdua sama-sama sedang dicekam perasaan dan pikiran yang mendalam, tapi tidak terlalu mencekam.
Saat wayah pasar temawon, Agung Sedayu bangkit dari duduknya. Dia merasa cukup lama berdiam diri, maka kemudian dia berkata, “Mirah, apakah kau keberatan jika aku meninggalkan lagi kalian berdua dan juga rumah ini?”
Sekar Mirah mengangguk tapi bukan mengiyakan. Ucapnya, “Saya tidak dapat menahan Kakang dari kewajiban. Apakah Kakang ke Jagaprayan terlebih dulu atau langsung menuju Tanah Perdikan?”
Agung Sedayu menjawab dengan keterangan yang cukup melegakan. “Sejumlah pemimpin pengawal dan prajurit telah kembali ke tempat masing-masing. Termasuk di antara mereka adalah Pandan Wangi dan Pangeran Selarong. Sedangkan Sabungsari dan kakang Dharmana masih berjaga di sekitar Watu Sumping dengan alasan tertentu.”
“Bagaimana dengan cantrik-cantrik dari Jati Anom?” tanya Sekar Mirah dengan sorot mata seolah sedang cemas terhadap sesuatu.
“Bukankah mereka berada di sekitarmu?” Agung Sedayu bertanya balik dengan senyum mengembang.
Sekar Mirah tersipu. Sebenarnyalah dia memang sedikit cemas terhadap anak-anak muda dari Perguruan Orang Bercambuk. Perkelahian sengit yang terjadi di halaman belakang seperti memperlihatkan sesuatu yang lain pada Sekar Mirah. Perempuan kuat itu seolah sedang melihat Kyai Gringsing berdiri di sekitar gelanggang, lalu memberi perintah-perintah pada mereka. Dalam bayangan Sekar Mirah, para cantrik itu seakan sedang belajar secara langsung dari Kyai Gringsing. Dia pun mengungkap perasaannya itu pada Agung Sedayu.
Ungkapan Sekar Mirah menggetarkan jantung Agung Sedayu. Senapati Mataram yang dulunya adalah anak muda penakut itu terhempas dan tersentak. Betapa dia belum menyentuh pekerjaan berat lainnya, yaitu mencari kitab gurunya. Tapi itu memang bukan pekerjaan mudah.
“Kakang,” pelan Sekar Mirah bersuara.
Agung Sedayu mengangguk sambil berusaha meredam debar jantungnya, tapi perubahan pada wajahnya tidak dapat disembunyikan dari pandangan Sekar Mirah.
“Seorang gadis yang mengaku murid Nyi Ageng Banyak Patra telah datang ke tempat ini sambil membawa pesan penting dari Kakang,” Sekar Mirah meneruskan ucapannya.
Jantung Agung Sedayu melompat-lompat. Darahnya berdesir lebih kencang tapi dia tahu arah kalimat itu.
“Aku tidak ingin mengusik perhatian Kakang dari persoalan yang membelit kademangan ini maupun Tanah Perdikan serta Mataram,” kata Sekar Mirah lirih. “Sebagai wanita dan seorang istri, aku hanya ingin bersikap hati-hati meski hal buruk juga belum tentu terjadi.”
Memang Sekar Mirah tidak serta merta mencurigai ada hubungan khusus antara suaminya dengan Kinasih atau mengatakan sesuatu yang buruk, Agung Sedayu harus berhati-hati menanggapi perasaan Sekar Mirah yang terungkap dari ucapan itu. Agung Sedayu tidak segera menjawab dan Sekar Mirah tahu bahwa suaminya bukan orang yang mudah berkata-kata.

Sejenak Agung Sedayu menimbang, apakah dia harus terbuka bahwa Kinasih adalah orang yang mengobatinya ketika terkena pengaruh asing Kyai Plered atau bagaimana? Karena di pondok itu hanya ada mereka berdua, dirinya dan Kinasih. Kenyataan terasa sulit diungkapkan tapi apakah kejujuran dapat menyelamatkan rumah tangga mereka? Sangat tidak mudah meyakinkan Sekar Mirah bahwa hubungan mereka hanya sebatas segi pengobatan.
Baiklah, rumah tangga dibina dan dibangun berdasarkan kepercayaan dan keyakinan setiap orang yang berpasangan. Nama dan kedudukan Nyi Ageng Banyak Patra mungkin ada pengaruhnya pada sebagian orang, hanya saja Sekar Mirah tidak termasuk dalam kelompok tersebut. Apalagi itu menyangkut hubungan antar lawan jenis! Apakah Sekar Mirah dapat menerima penjelasannya lalu menganggap Kinasih seperti kebanyakan gadis muda lainnya? Sulit, Kinasih tidak berparas buruk dan tubuhnya pun mempunyai garis yang penuh pesona. Apalagi jika Sekar Mirah dapat menilai bahwa kecerdasan dan kecakapan Kinasih berada di atas rata-rata, oh, Agung Sedayu merasa hidupnya segera berhenti berputar!
“Kakang,” ucap Sekar Mirah lembut sambil meraih lengan Agung Sedayu. Murid Ki Sumangkar ini paham bahwa suaminya tidak akan menjawab dengan keterangan atau alasan yang dibuat-buat. Dia yakin sepenuhnya bahwa lelaki di hadapannya itu adalah orang yang dapat dipercaya.
Agung Sedayu mengangguk karena dia memang tidak mengabaikan Sekar Mirah. Sambil menggenggam erat tangan istrinya, Agung Sedayu berkata, “Tentu kamu sudah mengetahui perkelahian yang mengancam jiwa Ki Patih Mandaraka di Slumpring.”
Sekar Mirah mengangguk dalam. “Ya, aku mendengarnya dari beberapa orang,“ katanya.
“Aku terluka, meski bukan luka yang merobek kulit cukup dalam tapi sebab luka itu adalah Kyai Plered,” lanjut Agung Sedayu. Kemudian dia mengisahkan dengan tenang dan kata-kata yang benar-benar terjaga. Tentu saja dia tidak bercerita betapa Kinasih melempar ilmu yang dapat mengeluarkan kabut yang melindunginya dari terkaman Ki Sekar Tawang dan kawan-kawan. Agung Sedayu paham bahwa menyinggung ketinggian ilmu Kinasih sama dengan melukai perasaan Sekar Mirah. Agung Sedayu memilih untuk membiarkan sampai Sekar Mirah melihat sendiri atau mengetahuinya dari orang lain. Meski tidak seluruh peristiwa tapi itu dirasa sudah cukup oleh Agung Sedayu.
Sekar Mirah dapat menangkap getar bimbang yang mengalun pada nada suara Agung Sedayu. Mereka hidup bersama tidak dalam jangka waktu singkat tapi sudah belasan atau mendekati puluhan tahun, maka sesuatu yang tidak wajar pun dapat segera dirasakan. “Setelah pengobatan itu selesai, apakah gadis itu mengikuti Kakang atas keinginannya sendiri atau dari sebuah permintaan? Walau begitu, saya tidak ingin berprasangka buruk pada Kakang atau setiap hubungan di sekitar Kakang.”
“Mirah, aku mengerti pertanyaan itu adalah suatu kewajaran. Kecurigaan pun sebenarnya juga dibutuhkan dalam sebuah hubungan Kecurigaan adalah sesuatu yang dapat dianggap sebagai pilar penting untuk menjaga kepercayaan satu sama lain,” ucap Agung Sedayu. Dalam diri Agung Sedayu telah muncul dua kubu yang bertentangan, sebenarnya. Tapi, tentu dan sudah pasti senapati Mataram ini tidak ingin membuat Sekar Mirah kecewa karena hadirnya seorang gadis dalam kehidupannya.
Awan putih tipis mengapung pelan di atas langit Sangkal Putung, sementara sinar matahari terasa hangat hingga mampu menjangkau setiap bagian hati yang mendingin.
Sekar Mirah tahu bahwa Kinasih menyimpan perasaan khusus terhadap suaminya, tapi dia tidak merasakan getaran yang sama dari Agung Sedayu. Gadis itu dapat mengorbankan segalanya demi meraih hati Agung Sedayu, pikir Sekar Mirah. Tapi dia pun sadar bahwa ada kehormatan dan harga diri yang tinggi dalam diri Kinasih. “Persoalan seperti ini sudah tentu tidak akan dapat dihindarinya sepanjang waktu. Gelombang hidup dengan segala yang berada di dalamnya pasti menghampiri setiap orang sebagai ujian. Hanya saja, untukku, permasalahan itu datang mendatangiku pada hari ini. Aku tidak boleh menganggap dirinya sebagai penghalang atau pukulan yang merusak karena tidak ada satu orang pun yang tahu masa depannya sendiri,” ucap Sekar Mirah dalam hati sambil memandang putrinya.
“Aku tidak sedang membela diri atau mencari pembenaran dengan alasan masuk akal yang dapat kau terima, Mirah,” berkata Agung Sedayu.
Sekar Mirah mengangguk lemah. Dia sudah menduga suaminya akan berkata seperti itu. “Kakang, saya dapat mulai memahami tugas-tugas prajurit yang sudah barang tentu membutuhkan pula bantuan orang lain. Entah sebagai penghubung, teman perjalanan, atau peran-peran yang mungkin tidak terjangkau olehku. Sejauh pemahamanku pada Kakang, bukankah tak pernah sekali saja Kakang berada berada dalam pergaulan lingkungan tayub atau keramaian sejenis? Itu sudah cukup bagiku, Kakang.”
Kali ini, Agung Sedayu menghela napas. Bagaimana dia dapat berbohong pada perempuan yang Kyai Gringsing pun menaruh harapan padanya? Pernikahannya disaksikan oleh Kyai Gringsing itu artinya mengecewakan Sekar Mirah sama dengan menyakiti gurunya. Dengan segala akibat yang lahir dari pernikahannya, Agung Sedayu harus tetap tegar menghadapi segalanya. Bukankah dahulu Sekar Mirah sempat mengabaikan dirinya pada awal babat alas untuk padepokan di Jati Anom? Gadis yang lahir dan tumbuh di keluarga mapan, lalu menikah dengan pemuda yang belum jelas penghidupan dan pendiriannya? Agung Sedayu merasa bersyukur bahwa waktu ternyata tetap memberi ruang bagi Sekar Mirah untuk menjalani hidup secara wajar dan berkembang.
