Pasar di pedukuhan induk dan dusun-dusun yang tersebar di segala penjuru Tanah Perdikan Menoreh kembali bising dengan bahasan yang berbeda. Timbangan masih naik-turun, kain masih dibentang dengan pengukur dari bambu dan beras masih ditakar. Yang berbeda hanya satu: dulu kematian Ki Gede, sekarang nama Swandaru ikut diperjualbelikan— liar dan berbisa.
Di antara pedagang sayur, bisik itu beredar seperti angin kotor.
“Perempuan lagi,” kata seorang lelaki setengah baya sambil mengikat karung.
“Bukan yang pertama,” sahut yang lain cepat. “Orang seperti dia memang susah diam.”
Cerita itu tumbuh tanpa kendali dengan cabang-cabang baru. Tidak hanya satu wajah dengan banyak tubuh, tapi juga banyak wajah satu tubuh. Setiap orang menambah kembangan sesuai selera. Ada yang bilang penari tayub. Ada yang menyebut perempuan dari utara. Tidak ada yang merasa perlu memastikan. Yang penting, kisahnya cocok dengan bayangan lama tentang Swandaru.
Di gardu jaga, ceritanya mengambil bentuk lain.
“Kalau cuma perempuan, itu urusan kecil,” ujar seorang pengawal sambil menepuk gagang tombak.
“Katanya bukan itu,” jawab kawannya. “Dia dijanjikan pengaruh. Bukan jabatan, tapi kuasa. Orang yang berdiri tanpa kursi, tapi didengar.”
Kata kekuasaan selalu ampuh. Tidak perlu bukti tapi cukup memungkinkan. Dari situ, iming-iming mulai dibangun: Swandaru disebut-sebut akan tetap berpengaruh meski tanpa kedudukan resmi, bergerak di balik tirai, menjadi orang penting tanpa harus terlihat.
Lalu kabar burung menemukan bentuk paling berbahaya.
“Dia sudah dekat dengan orang-orang Ki Patih,” bisik seorang pedagang kain kepada pembelinya.
“Benarkah?”
“Bukankah Ki Patih Mandaraka dan dia sudah terhubung sejak lama? Jadi memang arahnya ke sana, ke Kepatihan,” jawabnya pelan seolah nama itu bisa menggigit bila diucapkan terlalu keras.
Menyebut Ki Patih Mandaraka segera memberi bahan masak baru: tulang dan daging. Swandaru tidak lagi sekadar pergi. Dia ditarik ke dalam lingkaran, dipersiapkan demi kejayaan Mataram. Walau begitu, orang-orang yang berbincang cukup seru itu seakan mengerti bahwa tidak perlu ada kesepatan bahwa yang sebenarnya: tujuan pembicaraan itu akan ke mana?
Di gardu lain, di pedukuhan yang lain, cerita itu berubah lagi.
“Pantas saja dia menghilang,” kata seseorang.
“Bukan menghilang,” sahut yang lain. “Dia memilih sisi.”
Tidak ada yang menyebut Tanah Perdikan Menoreh atau Mataram secara langsung. Tapi semua tahu, berita anging semacam ini selalu berujung ke sana: mempertanyakan kesetiaan, bukan tindakan.
Menjelang sore, berita itu sudah tidak punya pemilik. Dia hidup bebas dengan kehendak yang tidak mandiri, tapi mampu berpindah dari mulut ke mulut, menyesuaikan bentuk dengan kebutuhan pendengarnya. Ada yang mencibir. Ada yang marah. Ada yang diam-diam lega karena punya kambing hitam baru.
Nama yang mereka bincangkan, Swandaru, telah berada jauh dari mereka semua. Dia tidak hadir di Tanah Perdikan, bahkan lama tidak terlihat di sana sejak berpekan-pekan sebelumnya.
Ringinlarik.
Sebutan sebuah daerah yang terletak di lereng utara Gunung Merapi. Belasan rumah tampak menyebar tidak merata di dusun kecil ini. Pekarangan yang luas dan kebun-kebun pisang mengisi ruang-ruang kosong yang berjarak dari setiap rumah. Tidak banyak orang berlalu lalang di jalan utama yang mengarah Gunung Kendil. Setelah melewati banyak persimpangan, seseorang dapat tiba di pedukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.
Asap tipis dari tungku dapur mengepul perlahan, bercampur dengan bau jerami dan tanah merah yang basah. Suara alu menumbuk padi, kokok ayam dan lenguh sapi membentuk paduan suara yang selaras dengan keseharian yang sederhana itu.
Ki Astaman duduk di sudut kedai yang temaram. Di hadapannya ada secangkir jahe hangat dan sepiring singkong rebus. Kedai itu hanyalah bagian depan dari rumah kayu tua dengan dinding gedheg yang sudah renggang. Suasana sangat sepi, hanya terdengar suara gesekan batang bambu yang tumbuh di seberang jalan. Orang ini sudah berada di Ringinlarik beberapa waktu sejak kegagalannya menembus pertahanan Kinasih ketika baku hantam di bagian belakang kediaman Ki Gede Menoreh.
Pendengarannya telinganya menangkap desir langkah kaki yang mendekat, disusul suara dua orang bercakap lirih. Beberapa saat kemudian, mereka duduk di balik sekat bambu tepat di sampingnya.
“Saya tidak pernah menyangka bahwa pada akhir perjuangannya, Raden Atmandaru justru kalah dari Agung Sedayu di medan yang dipilihnya sendiri.,” ucap seseorang dengan suara agak berat.
“Tidak ada saksi mata untuk pertarungan itu,” kata temannya. “Kabar datang juga tidak dari orang yang dikenal. Saya adalah orang asing yang mendengar berita dari orang asing pula.”
“Tapi, Ki Swandaru,” ucap orang pertama, “banyak orang menyaksikan Raden Atmandaru dikuburkan di perkemahan yang didirikannya sendiri.”
Swandaru? Nama itu membuat wajah Ki Astaman mengenang sesaat.
Tidak ada nada keras atau lantang, Ki Garjita berkata dengan nada datar khas seorang kawan lama yang sedang bicara lepas. berunding. Tapi jarak mereka hanya terpisah sekat bambu yang tipis, maka setiap helaan napas dan tekanan kata didengar dengan jelas oleh Ki Astaman.
Swandaru menghela napas. “Menyebut nama itu seperti membuka luka yang masih basah. Nama itu, Raden Atmandaru, bukankah dia adalah orang yang menyuruhmu untuk menghabisi keluargaku?”
“Saya mengakui itu,” kata Ki Garjita. “Sekarang dan sejak hari-hari yang berlalu, saya sudah menyediakan diri untuk Anda, Ki. Saya tidak bermaksud melarikan diri atau melepas tanggung jawab. Yah, benar, kekacauan di rumah Andan itu perbuatan saya. Saya mohon maaf.”
Swandaru tidak segera memberi tanggapan. Tangannya mengepal liat. Urat lengannya mengeras dan tampak menonjol. Napasnya keluar satu demi satu seolah sedang menimbang, apakah amarah itu pantas dilepaskan atau cukup dibiarkan hingga mendingin?
“Perbuatanmu di Sangkal Putung bukan sekadar menuyulut kekacauan,” ucap Swandaru dengan nada tertahan. “Rumah itu. Ayah dan ibuku. Adik dan keponakanku. Mereka adalah darah dagingku. Malam itu, kesetiaan yang menjadi dasar keputusanmu seperti api yang menyala lebih cepat daripada panah yang kami lepaskan.”

Dia berhenti, mengatur napas. “Seandainya pengawal kademangan tidak sigap mengamankan orang tua saya, apakah Ki Sanak masih yakin dapat hidup hingga siang nanti? Untunglah, orang itu, pemimpinmu mati.”
Setelah melontarkan kata bernada tajam, Swandaru terlempar pada bayangan kekuatan Agung Sedayu. Dia juga mendengar dari percakapan orang-orang yang singgah di Pedukuhan Majasanga. Sebagian percakapan itu menyinggung laga tanding Raden Atmandaru berada di sabuk Gunung Kendil di lereng utara. Swandaru tidak persis mengetahui tapi dia banyak mendengar keterangan tentang daerah yang tak teraba itu.
Di depannya, Ki Garjita menundukkan kepala. Bayang wajahnya tenggelam dalam temaram, hanya garis rahangnya yang terlihat tegas dengan sorot mata yang penuh bayangan. Sejenak kemudian, dia mengangkat wajah sedikit lalu berkata iba. “Ki Swandaru dapat menganggap saya, saat ini, sedang meminta pengampunan. Kekacauan berdarah pada malam itu adalah kebenaran, bukan kabar burung karena sayalah orangnya.”
Swandaru tersenyum pahit lalu menggeleng perlahan. “Kebenaran?”
Nada suaranya tetap datar, tapi ada keinginan untuk menerkam. “Setiap kali melihatmu, aku ingin membunuhmu.” Suara Swandaru terdengar jauh lebih meyakinkan dibandingkan saat perjumpaan pertamanya dengan Ki Garjita. Murid kedua Kyai Gringsing itu memang lebih banyak menghanyutkan diri dalam latihan-latihan keras di segala medan. Tanah lapang dan bergelombang, sungai seta lumpur sawah seakan-akan disediakan terbuka untuk dirinya kembali berlatih.
Angin menyusup lewat celah gedheg, menggetarkan sekat bambu.
Ki Astaman, di sudut kedai, merasakan ketegangan itu seolah sedang berhadapan dengan Swandaru sendiri.
Ki Garjita menarik napas panjang. “Jika Anda ingin menghukumku mati, saya tidak akan mengelak atau berlari.”
