Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 48 – Pintu Istana yang Tertutup

Pagi belum sepenuhnya menampakkan diri ketika orang-orang di Kepatihan memulai hari dengan berbagai kesibukan. Kabut tipis masih tampak melayang di atas atap bangunan ketika suara sapu lidi terdengar beradu dengan permukaan halaman yang lembap.

Di ujung lorong timur, seorang pelayan tampak berjalan memadamkan lampu minyak terakhir yang menyala. Berpaling ke seberang taman, maka terlihat seorang perempuan senja membawa beberapa ikat sayuran menuju dapur.

Agung Sedayu sedang duduk di serambi belakang bangunan induk sambil mengamati semua kegiatan yang berlangsung di sekitarnya. Minuman hangat terlihat pula sudah menemaninya pada pagi itu. Tak lama kemudian, Ki Untara berjalan menuju serambi, lalu duduk bersebelahan dengan Agung Sedayu.

“Apakah kau akan ikut serta ke Keraton pagi ini?” tanya Ki Untara.

Agung Sedayu mengangguk. “Sebaiknya begitu. Saya akan ke Sangkal Putung lalu Jati Anom hari ini. Lebih baik saya menunggu Kakang di Keraton jadi kita dapat berangkat bersama.”

Ki Untara mengangguk sedikit. “Kepatihan seperti rumah kedua untukmu, tapi kau justru memilih Keraton untuk melewatkan waktu.” Kalimat Ki Untara meski mengandung pertanyaan tapi dia tahu tidak perlu ada penjelasan. Tumenggung Mataram tersebut paham Agung Sedayu menunggu di Keraton tentu bukan untuk bersenang-senang, tapi adiknya itu mempunyai tujuan tertentu yang tidak diungkapkan padanya.

“Apakah Ki Patih juga akan menghadap Sinuhun, Kakang?” tanya Agung Sedayu.

Ki Untara menggeleng lalu berkata, “Aku tidak mendengarkan beliau mengatakan rencana hari ini.”

Ki Untara berhenti sejenak, memandang Agung Sedayu kemudian bertanya, “Apakah kamu sudah siap?”

Agung Sedayu mengangguk. Mereka berdua beranjak bangkit, melangkah tegak dan mantap menuju tempat Ki Patih Mandaraka biasa memanfaatkan waktu pada hari.

 

Ki Untara dan Agung Sedayu memasuki ruang tempat Ki Patih Mandaraka biasa menerima laporan pagi. Ki Patih tampak tenang seperti biasa.

Dua bersaudara itu memberi hormat.

“Kami mohon diri menghadap ke Keraton pagi ini,” kata Ki Untara lebih dulu.

Ki Patih mengangguk pelan. “Apakah kemudian kalian meninggalkan kotaraja?”

Agung Sedayu mengangguk, katanya, “Saya sudah terlalu lama tidak menengok keadaan di Sangkal Putung dan Jati Anom.”

“Setelah itu? Angger singgah di Kepatihan terlebih dulu atau langsung ke Tanah Perdikan?” Ki Patih Mandaraka lanjut bertanya.

Agung Sedayu menoleh kakaknya sebentar, lalu menjawab, ”Ada tawanan perang di barak pasukan. Apalagi Nyi Banyak Patra juga masih di sana, sebaiknya saya harus sedikit lebih bergegas.”

“Ya ya, aku tahu, aku tahu,” sahut Ki Patih dengan senyum mengembang. “Baik.  Kerjakan dengan tenang. Jangan terburu-buru oleh pikiranmu sendiri.”

Ki Untara menambahkan, “Kami berangkat sekarang.”

“Berangkatlah,” kata Ki Patih Mandaraka.

Kakak beradik keturunan Ki Sadewa tersebut memberi hormat sekali lagi, lalu keluar berdampingan dari ruang itu. Mereka memilih untuk berjalan kaki sementara dua prajurit melangkah di belakang mereka sambil menuntun kuda.

Pintu Istana yang Tertutup

Udara pagi di kotaraja belum sepenuhnya panas. Mendung masih menggantung menutup rapat sinar matahari agar tidak langsung merambat perlahan di atas atap-atap pendapa dan bangunan batu yang kokoh. Permukaan jalan masih basah oleh sisa gerimis semalam yang panjang.

Ki Untara dan Agung Sedayu berjalan berdampingan tanpa banyak kata. Langkah mereka tidak terkesan buru-buru. Dua prajurit di belakang menjaga jarak yang pantas sambil menuntun kuda yang sesekali mendengus pelan.

Di kejauhan, alun-alun terbentang luas. Rumputnya masih menyimpan embun. Beberapa orang melintas dengan langkah tergesa, sementara pedagang kecil mulai membuka tikar dagangan di tepi sisi yang diizinkan. Suara burung bercampur dengan denting samar logam beradu yang datang dari pengrajin dusun sebelah utara.

Orang-orang berpapasan, memberi hormat dari jauh. Sebagian melambaikan tangan tapi ada pula yang yang sekadar menoleh lalu kembali pada urusannya. Kotaraja selalu sibuk.

Agung Sedayu sempat menatap sekilas ke arah pohon beringin kembar yang berdiri kokoh di tengah alun-alun. Ada kenangan melintas dalam benaknya. Ada wilayah yang mempunyai suasana yang mirip: barisan beringin. Dia menarik napas pelan, lalu kembali menyamakan langkah dengan kakaknya.

Tak ada percakapan panjang. Hanya satu-dua kalimat pendek yang terucap seperlunya.

“Pagi yang menyenangkan,” gumam Agung Sedayu hampir tak terdengar.

Ki Untara menjawab tanpa menoleh, “Bakul-bakul yang membuat kangen suasana.”

Tak lama kemudian mereka mendekati gardu jaga keraton. Dua pengawal berdiri tegak di sisi gerbang, tombak terpegang lurus. Kilap logamnya memantulkan cahaya pagi.

Dua bersaudara itu berhenti sejenak.

Para penjaga memberi hormat dalam-dalam.

“Ki Tumenggung. Ki Rangga,” salah seorang berkata dengan nada tertahan.

Kali ini, Agung Sedayu datang dengan pakaian lengkap maka sapaan itu akhirnya membuatnya tersenyum setelah sebelumnya tersendat.

“Kami menghadap,” ujar Ki Untara singkat.

Seorang pengawal masuk lebih dulu untuk menyampaikan kabar. Tak lama kemudian dia kembali dan memberi isyarat agar mereka masuk.

Mereka melewati lorong batu yang teduh. Suara langkah menggema pelan di antara dinding-dinding tinggi yang menyimpan usia dan rahasia. Bau kayu tua dan asap kemenyan samar tapi terasa di udara.

Di halaman dalam, suasana lebih tenang. Para prajurit bergerak teratur, sebagian berlatih dengan senjata kayu, sebagian berdiri berjajar menunggu perintah.

Seorang prajurit datang mendekat dan membungkuk hormat.

“Ki Tumenggung, Ki Rangga, mohon mengikuti saya.”

Mereka diarahkan ke beranda samping yang biasa dipakai untuk menunggu sebelum dipanggil menghadap.

Beranda itu teduh dan cukup dingin saat angin pagi berembus perlahan. Sinar matahari hanya menyentuh ujung lantai kayu. Beberapa kursi rendah telah disiapkan.

Ki Untara berhenti sejenak sebelum duduk. Agung Sedayu berdiri di sampingnya, menatap halaman dalam yang luas.

“Baru kemarin, aku di sini,” ucap Agung Sedayu dengan tawa kecil tapi perlahan. “Sekarang kembali di sini.”

Ki Untara mengangguk, katanya, “Demikianlah kehidupan. Berputar dan kadang seolah menjauh padahal berjalan di tempat.”

 

Pintu ruang pertemuan dibuka dari dalam, seorang prajurit menghampiri Ki Untara dan Agung Sedayu. Dia membisikkan sesuatu pada mereka berdua yang tampak mendengarkan dengan seksama, lalu mengangguk bersamaan.

Tak lama kemudian, Pangeran Purbaya berjalan melintasi beranda. Langkahnya pasti dan seperti ditimbang pada setiap jaraknya. Ki Untara menyusul kemudian di belakang putra Panembahan Senapati tersebut.

Di beranda samping, Agung Sedayu duduk sendirian.

Kejutan datang ketika Ki Patih Mandaraka terlihat berjalan dari jalur kemunculan Pangeran Purbaya. Sesepuh Mataram itu berhenti, mengangguk sebentar oada Agung Sedayu lalu mengarahkan langkah menuju ruang pertemuan.

Di beranda samping, Agung Sedayu berdiri, sedikit membungkuk pada arah Ki Patih lalu kembali duduk sendirian.

Dia memandang punggung Ki Patih Mandaraka sambil sedikit merenung.

“Ki Patih tidak mengatakan bahwa beliau juga dipanggil menghadap Sinuhun,” ucap Agung Sedayu dalam hati. “Apakah dipanggil secara khusus dari jalur lain?Ah, sudahlah.”.

 

Agung Sedayu cukup lama duduk sendirian di beranda samping sampai terdengar desir langkah ringan dari utara. Dia menoleh, Pangeran Selarong datang dengan langkah cepat tapi tidak terkesan tergesa-gesa. Hanya langkah kaki yang cepat yang tidak memburu waktu.

“Ki Rangga,” ucap Pangeran Selarong lebih dulu sebelum Agung Sedayu berdiri.

Agung Sedayu membalas sapaan dengan sikap yang cukup santun. “Pangeran. Senang bertemu dengan Pangeran dalam keadaan sehat hari ini. Mudah-mudahan seperti itu seterusnya.”

Pangeran Selarong meraih lengan Agung Sedayu lalu mengajaknya duduk berdampingan. Sejenak kemudian, mereka terlibat pembicaraan yang agak berat: Watu Sumping dan sedikit kendala saat Sabungsari akan kembali ke Jati Anom.

“Tapi kendala itu bukan disebabkan oleh sisa orang Raden Atmandaru,” kata Pangeran Selarong. “Hanya segerombolan orang yang mencoba menjaring ikan di kolam yang keruh.”

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 22 – Dia Menantang Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 18 – Agung Sedayu – Raden Atmandaru: Nyaris Tanpa Jarak

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 4 – Kepercayaan yang Retak di Perbukitan Menoreh

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.