Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 72 – Telah Ditetapkan sebagai Pemimpin Perguruan: Swandaru

Dua hari agaknya sudah cukup bagi Ki Astaman untuk menahan diri. Itu berarti rencana yang disusun bersama Ki Garjita mulai menemukan jalan dan bentuk. Meski baru berupa gambar kasar, tapi tatanan sudah dapat dijalankan tanpa perlu permintaan dan pemaksaan.

Pada saat matahari sudah melampaui batas tengahlangit yang cerah, Ki Astaman melihat Ki Hariman sedang duduk menghadap arah hutan yang permukaan tananya sedikit miring.

Ki Astaman menghampirinya lalu berhenti tepat di samping Ki Hariman, lantas duduk bersebelahan.

“Kyai,” ucapnya lirih.

Ki Hariman mengangkat wajah, menyahut perlahan, “Ki Astaman.” Kemudian dia sedikit menggeser duduknya. Wajahnya tidak menampakkan perasaannya agak terganggu.

Ki Astaman tidak langsung berkata-kata. Dia rupanya memberi keheningan batas waktu untuk mengapung di antara mereka.

“Sebelum kita kembali ke tempat ini, adakah Kyai mengingat atau terkenang sesuatu?” dia bertanya.

Ki Hariman menatap lurus lalu bola matanya bergerak seakan sedang menghitung batang-batang pohon yang tegak tumbuh di hadapan mereka.

Dia menggeleng pelan, katanya, “Tidak banyak.”

“Apakah kekalahan itu berarti sesuatu bagi Anda?”

Tidak perubahan pada garis wajah Ki Hariman saat menerima pertanyaan itu. Matanya menerawang lalu berkata, “Seperti yang seharusnya terjadi bahwa kemenangan dan kekalahan pasti meninggalkan kesan. Bahagia dan susah adalah dua keadaan yang mengikuti kedudukan. Kehilangan atau mendapatkan sesuatu pun dapat dikatakan sebagai akibat dari dua keadaan tersebut.”

“Ki Tunggul Pitu telah lama mati, Ki Garu Wesi tidak diketahui keberadaannya,” ucap Ki Astaman. “Tinggal Anda seorang diri sekarang dari orang-orang yang pernah mendatangi Sedayu.”

Sejenak, keadaan kembali dicekam oleh keheningan.

“Apakah Kyai mengenal Agung Sedayu?” tanya Ki Astaman lebih jauh.

Setelah menggeleng sedikit, Ki Hariman berkata, “Nama yang  didengar dan dikenal banyak orang.” Jawaban yang seakan menghindar dari dugaan yang muncul dalam benaknya.

Ki Astaman tidak mengangguk. Dia melanjutkan lagi, “Sudah  tentu Kyai tidak pernah berhubungan dengannya. Karena, bagaimanapun, saya sulit percaya bila Kyai malah mempunyai atau sempat bekerja sama dengan Sedayu. Tapi, siapa yang tahu sebenarnya?”

Dengan kening berkerut, Ki Hariman bertanya balik, “Adakah kecurigaan dari Kyai?”

Kali ini, Ki Astaman mengangguk. Jemarinya terjalin di antara dua lutut, katanya kemudian, “Meski tata gerak yang saya peragakan di depan orang-orang itu hanyalah gerak dasar, tapi Ki Hariman memperlihatkan pengetahuan yang tersembunyi. Dari situlah kecurigaan saya berasal.”

Lantas dia menggeser sedikit arah pertanyaan, “Apakah Anda ini juga murid Kyai Gringsing?”

Ki Hariman tidak langsung menjawab. Ketika Ki Astaman menyebut dua nama, Ki Tunggul Pitu dan Ki Garu Wesi, dia sudah menduga bahwa orang di sampingnya itu perlahan mengarah pada  kitab yang pernah dan sedang dibicarakan banyak orang.

Ki Hariman tidak segera menanggapi. Dia justru menunduk  sebentar seakan sedang memilih kata atau menolak untuk menjawab. “Saya belajar menggunakan cambuk dan menyadap sebagian pengetahuan darinya tapi tidak dalam kedudukan sebenarnya.”

Ki Astaman  tidak lagi bertanya untuk menekan atau mencari jawaban. Pernyataan itu sudah cukup baginya untuk kemudian disesuaikan dengan rencana semula.

“Terima kasih atas pembicaraan ini,” berkata Ki Astaman kemudian, “tapi segala sesuatu masih tetap berlangsung dan berputar karena kita tidak diam di sini untuk selamanya.”

Ki Astaman belum benar-benar menjauh ketika dia berhenti lalu berucap lagi, “Saya tidak ingin ada gangguan pada Swandaru. Saya kita Kyai cukup bijak dengan tidak menyebut kitab atau Kyai Gringsing di dekatnya. Dulu kita berkumpul di sini dengan Raden Atmandaru sebagai pusat pusaran. Hari ini dan selanjutnya, karena kita sudah berkumpul lagi di tempat yang sama, maka besar kemungkinan pusat kehidupan dan arahnya akan berubah.”

Ki Hariman tidak menyahut, hanya tatap matanya saja yang lekat memandang Ki Hariman.

“Swandaru adalah pusat perlindungan terbaik bagi kita selama keinginan bersembunyi itu masih ada. Kita sama tahu bahwa belakangan ini sudah sangat terang bahwa nyaris tidak ada tempat aman untuk menghindar dari kejaran Mataram,” kata Ki Astaman. “Selain itu, terkait keberadaan kitab, saya dapat memberi jaminan bahwa tidak akan ada orang dari dalam yang bakal menyinggung kitab Kyai Gringsing. Kyai dapat terus berlatih dengan tenang”

Terdengar hela napas panjang dari Ki Hariman, disusul kemudian dia berkata, “Itulah kenyataan yang tidak dapat diingkari. Orang-orang seperti kita tidak dapat hidup sendiri dan berdiri tanpa ikatan.”

Ki Astaman menggerakkan tangan, lalu berjalan ke arah lain.

Perguruan yang dipikirkannya tidak perlu menunggu persetujuan Swandaru atau kesepakatan dengan orang-orang yang dianggapnya mumpuni secara kanuragan dan kerjasama.

Perguruan tidak perlu dinyatakan ada dan juga tidak perlu pengakuan dari pihak lain.

“Saya harap Kyai tidak keberatan jika Swandaru berada di puncak perguruan,” kata Ki Astaman.

“Perguruan?” Ki Hariman bertanya memastikan. “Perkemahan ini, akan berubah menjadi perguruan?”

“Jika ada jalan lain, silakan,” sahut Ki Astaman. “Tapi saya tidak dapat menemunkan bentuk terbaik selain perguruan. Untuk permukiman seperti dusun, Kyai sudah apsti keberatan karena Ki Gede pasti ada di tengah jalan untuk memuwujudkan itu.”

Setelah mempertimbangkan kedudukan Swandaru sebagai menantu Ki Gede, Ki Hariman lantas berkata datar, “Saya pikir itu yang terbaik untuk saat ini. Ki Gede pasti pula memperhitungkan keberadaan menantunya sebelum melarang kemunculan perguruan. Perguruan pun sepertinya juga bentuk yang cukup aman sebagai rumah meski tidak benar-benar nyaman.”

“Kita butuh perlindungan,” kata Ki Astaman. “Keberadaan perguruan dapat diperhitungkan lebih cermat oleh Ki Gede bila ada sumbangsih yang sangat baik bagi Tanah Perdikan.”

Ki Hariman menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat wajahnya. “Yah, dan pemimpin perguruan itu harus Swandaru. Orang sudah mengenal dan pasti dapat menerima karena dialah murid Kyai Gringsing.”

Ki Astaman tidak ragu untuk menegaskan, “Jati Anom dapat disingkirkan dari sini.”

“Ya.” Ki Hariman mengangguk singkat.

Ki Astaman menatapnya sejenak, memastikan setiap kata tadi bukanlah ucapan yang percuma dan sia-sia.

“Saya akan bicara dengan Swandaru dalam waktu dekat,” katanya  lebih pelan. “Dan ketika saat itu datang… saya berharap Kyai tidak memperlihatkan keberatan karena perasaan sebagai murid yang tidak bertemu langsung.”

Di samping permukiman, Ki Hariman duduk tanpa bergerak kemudian menatap punggung Ki Astaman yang perlahan-lahan menjauh.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 64 – Keberanian Ki Hariman Menampakkan Diri di Depan Swandaru

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 26 – Menjelang Laga Pamungkas Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 48 – Pintu Istana yang Tertutup

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.