Kedatangan Ki Gede dan Pandan Wangi di Dusun Benda
Pagi itu datang lebih cepat dari biasanya di Dusun Benda. Kabut masih tipis menggantung di atas pematang. Beberapa orang telah turun ke sawah, bekerja tanpa banyak bicara. Segalanya tampak berjalan seperti hari-hari sebelumnya—tenang, teratur, tanpa tanda yang mencolok.
Dari arah jalan utama, tiga orang berkuda memasuki dusun tanpa menarik perhatian berlebihan. Sesaat sebelum melewati regol dusun seorang penunggang kuda berbelok ke selatan. Sedikit jauh di belakang mereka, dua anak muda melangkah tenang sambil sesekali menatap persawahan berterasering, dengan pematang yang berkelok-kelok dan bertumpuk seperti undakan-undakan.
Ki Gede Menoreh dan Pandan Wangi terus melaju perlahan sambil menyapa orang yang berpapasan dengan mereka. Setelah menempuh sekitar empat puluh atau lima puluh langkah, mereka berbelok menuju rumah bekel dusun.
Entah kebetulan atau memang para pemuka dusun mempunyai panggraita yang tajam, di beranda rumah itu tampak bekel dusun sedang bercengkerama bersama jagabaya serta dua orang lainnya—barangkali mereka mengadakan pertemuan para bebahu.
Percakapan mereka terputus ketika melihat dua orang berkuda itu mendekat.
Bekel dusun segera bangkit. “Ki Gede… Nyi Pandan Wangi…”
Ki Gede turun dari kuda dengan gerak wajar. “Selamat pagi.”
Pandan Wangi menyusul turun. Dengan senyum disertai anggukan kepala, dia menyapa setiap orang di sana.
“Ini cukup mengejutkan,” ucap Ki Bekel cepat. “Mengapa Ki Gede tidak memberitahu kami sebelumnya?”
Ki Gede tersenyum lalu berkata, “Itu pasti merepotkan Ki Bekel karena pasti ada persiapan ini dan itu, sedangkan kami berdua hanya, yah, anggaplah sedang berjalan-jalan saja.”
Keempat orang itu saling bertukar pandang singkat.
“Mari, marilah, silakan Ki Gede sekalian masuk ke dalam,” kata Ki Bekel, bergeser selangkah ke samping dengan tubuh sedikit merunduk dan tangan terjulur—membuka jalan bagi dua tamunya.
Di pringgitan, bekel dusun serta jagabaya duduk sewajarnya—tidak ada perubahan pada sikap mereka. Demikian juga dua bebahu yang menyertai Ki Gede dari belakang.
Setelah dipersilakan masuk dan duduk, Ki Gede pun menyeruput wedang jahe yang disuguhkan sendiri oleh istri Ki Bekel Dusun Benda.
“Bagaimana keadaan orang-orang dan Dusun Benda sendiri?” tanyanya kemudian.
Ki Bekel menarik napas sejenak, lalu menjawab dengan nada tenang, mengucap syukur kepada Yang Maha Welas Asih bahwa segala sesuatu berada dalam keadaan baik. Dia pun menjelaskan bahwa orang-orang dusun menjalani hari-hari mereka tanpa gangguan berarti.
Jagabaya dan dua bebahu lainnya mengangguk pelan, dalam dan mantap—menguatkan penjelasan yang disampaikan Ki Bekel.
Sementara itu, Pandan Wangi diam-diam memandangi satu per satu wajah mereka—bekel dusun, jagabaya, hingga kedua bebahu lainnya.
Ki Gede mengangguk pelan.
Pandan Wangi turut mengangguk tapi wajahnya menampakkan sesuatu yang dipikirkan cukup mendalam.
Dia berkata tenang, ”Saya mendengar dari beberapa orang yang datang dari arah Ringinlarik, yang melintasi jalur Kendil… bahwa ada sekelompok orang yang tampaknya berdiam di sana.”
Pandan Wangi berhenti sejenak, lanjutnya kemudian, “Mungkin bebahu sekalian juga sudah mendengar kabar itu. Saya harap seandainya benar, dusun ini tetap dalam keadaan baik-baik saja.”
Suasana menjadi hening sesaat.
“Saya sedikit khawatir dengan perkembangan itu,” ucap Ki Gede. “Kabar itu menjadi terpikir beberapa hari belakangan ini. Jalur dari Kendil ke Dusun Benda masih menjadi yang terbaik jika dilewati empat atau lima ekor kuda berjajar.”
“Meski tak begitu baik tapi jalur itu memang cukup lebar, Ki Gede,” timpal seorang bebahu.
“Bentrokan yang pernah terjadi masih jelas membayang dalam pikiran,” kata Ki Gede dengan tatap mata menerawang jauh.
Dia menarik napas sebentar, lanjutnya, “Bagaimana keadaan rumah dan ladang yang rusak karena peristiwa itu? Marilah, bebahu sekalian bisa antar saya untuk melihat dan juga mengunjungi sejumlah keluarga yang menjadi korban. Pasti ada yang dapat saya perbuat untuk mereka.”
Bekel dusun tampak sumringah dengan ajakan Ki Gede. Dia segera bangkit dari duduk, katanya, “Mari, Ki Gede. Mari, saya yakin mereka pasti sama terkejutnya dengan kami semua karena kedatangan yang tiba-tiba ini. Selain itu, bertemu Ki Gede sepertinya sudah menjadi penawar yang luar biasa buat mereka dan kami semua.”
Tanpa banyak kata lagi, rombongan kecil itu mengarahkan langkah dari rumah ke rumah, dari keluarga ke keluarga yang tersentuh langsung dengan bentrokan yang telah berlalu.
Jagabaya dan dua bebahu mengikuti di belakang dengan jarak yang cukup tanpa mengabaikan sikap hormat.
Dalam perjalanan mengitari dusun, sekali-kali Ki Gede memberi perintah pada pengawal atau bebahu yang mengiringi untuk merencanakan suatu pekerjaan. Pandan Wangi juga terlibat percakapan dengan sejumlah perempuan: menanyakan keadaan dan kebutuhan yang dapat dijangkau oleh Tanah Perdikan.
Salah satu bebahu, Ki Patra, melangkah dengan raut wajah yang agak berbeda. Seperti ada rasa yang janggal dan tiba-tiba muncul dalam hatinya. Pandangannya memutari setiap keadaan. Rumah dan pagar yang rusak memang sudah diperbaiki, tapi Ki Gede menghendaki agar lebih baik. Tanaman yang tercerabut dari pekarangan juga tidak luput dari perhatian pemimpin Tanah Perdikan Menoreh tersebut.
Ki Gede tidak seperti yang didengarnya dari seseorang yang kerap menemuinya selama ini, pikir Ki Patra. Lalu, dari mana orang itu membuat kesimpulan atau penilaian? Perasaan tidak nyaman merayap pelan di dalam dadanya seperti rasa bersalah yang membayangi setiap jejak langkahnya.
Rombongan terus bergerak ke menyisir dusun lalu kembali ke rumah bekel dusun setelah tinjauan dan perintah perbaikan dinilai cukup.
Beberapa saat sebelumnya, sebelum Ki Gede sekalian melewati regol dusun, Sayoga dan Sukra saling berpandangan sejenak, lalu meninggalkan jalan utama yang mengarah ke dusun. Mereka mengambil jalur yang lebih sempit, menyusuri tepi ladang dan kebun, menuju sisi barat Gunung Kendil.
Mereka mendapatkan tugas khusus dari Pandan Wangi untuk mengamati kegiatan di bekas perkemahan Raden Atmandaru. Namun begitu, meski sedang menjalankan kegiatan penting, mereka berdua adalah anak muda yang gemar dengan pengetahuan. Maka sepanjang perjalanan itu, Sukra dan Sayoga kerap terlihat melakukan gerakan-gerakan yang bersumber dari jalur ilmu Kyai Bagaswara.
Sayoga berjalan sedikit lebih depan. Langkahnya beberapa kali berhenti, merenung sejenak lalu kakinya bergeser setengah lingkaran, sepasang tangannya bergerak-gerak kemudian berhenti lagi. Wajahnya menegang karena kesungguhan untuk menguasai wawasan barunya dengan sangat baik.
Dia sedang berusaha mengikat simpul-simpul gerak yang tidak mudah dipertemukan. Jalur tata gerak Ki Wijil secara langsung dipadukan oleh Kyai Bagaswara agar mempunyai lebih banyak kembangan. Beberapa kali gerakannya terhenti karena memang agak sulit dilakukan ketika perhatian juga terbagi dengan tugas dari Pandan Wangi. Tapi Sayoga tidak menyerah.
Dia mengulang dari awal, lebih cermat dan tetap bertenaga. Ada semangat yang menyala, ada kegembiraan yang membuncah dari sorot matanya.
Di belakangnya, Sukra tidak mau tertinggal. Tubuhnya melompat ke depan, lalu menyamping, kemudian berputar dengan hentakan kaki yang kuat, seperti seseorang yang sedang menerjang gelombang besar. Kedua tangannya bergerak lebar, memecah udara, seolah-olah benar-benar menghadapi ombak yang datang bertubi-tubi.
Sesekali dia tertawa tertahan ketika terpeleset atau ketika tidak seimbang. Semangatnya juga tak kalah dengan Sayoga. Setiap kali terjatuh, setiap kali pula dia bangkit untuk mengulang dengan kecepatan dan tenaga yang sama. Napasnya mulai memburu tapi tata geraknya menjadi lebih teratur. Seakan setiap gelombang telah menemukanjalan untuk menghantam karang.
Di antara ladang dan kebun yang sepi hingga hutan kecil di samping lereng barat, dua anak muda itu bergerak dengan cara yang berbeda. Mendayagunakan kemampuan dan menguji batas kedalaman diri masing-masing.
Tanpa aba-aba, mereka tiba-tiba menghentikan latihan ketika sebatang pohon gayam raksasa tampak di ujung lorong hutan.
Sayoga memberi isyarat, Sukra mengangguk. Selanjutnya, dengan kemampuan menyerap bunyi-bunyian, mereka bergerak mendekat. Lereng barat sudah tidak jauh lagi dari tempat mereka, maka itu menjadi tanda bahwa ada kemungkinan orang-orang perkemahan ada di sekitar mereka.
Sukra bergeser ke depan—mempelajari bagian depan dan sejauh jangkauan pandangan, sementara Sayoga mengamati dua sisi dan belakang.
Mereka mengenal lingkungan itu dengan baik—dan terus berjalan dengan tubuh sedikit merunduk. Mereka tidak perlu lagi berbicara, Mereka sudah paham arah dan tempat pengamatan terbaik.
Sebuah gundukan tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya tampak tidak jauh di depan. Permukaannya ditumbuhi semak liar dan akar-akar pohon yang mencuat, cukup rapat untuk menutup pandangan dari bawah. Sayoga lebih dahulu meraih akar yang menjulur, menarik tubuhnya naik dengan gerakan ringan.
Sukra menyusul, menempatkan kaki pada titik yang sama tanpa menimbulkan suara berarti. Dalam beberapa saat, keduanya telah berada di puncak gundukan itu.
Mereka merapatkan tubuh pada tanah, sementara mata mereka mulai menelusuri ruang di hadapan. Dari tempat itu, hampir seluruh bagian perkemahan dapat dipantau.
Hari masih panjang dan mereka sadar bahwa tidak semua kegiatan di bawah sana akan dapat diawasi. Tapi itu lebih dari cukup.
Kepulangan Ki Wedoro Anom di Dusun Benda
Beberapa hari setelah kedatangan Ki Gede dan Pandan Wangi, Ki Wedoro Anom kembali menjejakkan kaki di Dusun Benda.
Seperti biasa, dia tidak datang dengan sikap mencolok. Kudanya ditambatkan di halaman belakang rumahnya yang berada di jalur lintas Dusun Benda dan barak pasukan khusus. Setelah itu, dia berjalan menyusuri jalan dusun dengan langkah ringan, menyapa orang-orang yang ditemuinya dengan senyum yang telah dikenal.
Beberapa orang menyambutnya hingga Ki Wedoro Anom berhenti di bawah pohon rindang di tepi pematang, tempat beberapa orang beristirahat.
“Saya baru kembali dari Kotaraja,” katanya, membuka percakapan dengan nada yang tenang.
Seperti biasa, beberapa wajah segera terangkat. Ada yang tampak ingin mendengar lebih jauh.
“Suasananya…” dia berhenti sejenak, “tidak seperti hari-hari biasa. Banyak orang berkumpul. Para pejabat, para prajurit… dan tentu saja, Sinuhun hadir pada upacara penting itu.”
Beberapa orang mengangguk.
Ki Wedoro Anom melanjutkan, perlahan, seakan mengajak mereka larut ke dalam suasana yang diceritakan. Dia menyebut dirinya berada cukup dekat dengan lingkar upacara, melihat langsung penghormatan diberikan untuk terakhir kali pada Ki Patih Mandaraka. Termsuk sikap orang-orang yang berada di sekitar Sinuhun.
Biasanya, pada bagian-bagian seperti itu, para pendengarnya akan berubah sikap. Terngaga, berseru takjub dan sebagainya termasuk pertanyaan yang kadang hampir bersamaan.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Mereka tetap mengangguk-angguk sambil tersenyum tapi sorot mata mereka tidak berada di tempat itu.
“Lalu… bagaimana suasana di sana?” tanya seseorang dengan nada yang nyaris datar. Tidak ada gairah yang memancar dari iramanya.
Ki Wedoro Anom memandangnya sejenak. Kemudian dia meneruskan ceritanya—tentang keteraturan upacara, tentang orang-orang yang berada di lingkar dalam, tentang tidak semua orang dapat mendekat. Kata-katanya tetap tersusun rapi, mengalir seperti biasa.
Hanya saja, dia melakukan itu dengan perhatian yang sudah terbagi. Memang mereka mendengar, menanggapi tapi sepertinya ada yang dipaksakan, pikirnya.
“Ah, tapi tentu saja… Kepergian Ki Patih Mandaraka menjadi penutup kenangan bagi kita. Beliau meninggalkan jejak penting dalam kehidupan di Dusun Benda ini,” katanya ringan, seakan menutup cerita.
Beberapa orang mengangguk lalu seseorang bergumam, “Benar. Ki Patih memang jarang menemui kami dan bicara dengan kami. Kesibukan beliau jauh lebih berat dan besar dibandingkan kami yang sudah dibatasi luas petak sawah dan ladang.”
“Baiklah, saya kira waktu sudah cukup,” ucap Ki Wedoro Anom lalu bangkit dari duduknya. Dia mengatakan satu atau dua pesan pada orang-orang lalu meninggalkan kelompok kecil itu dengan pertanyaan yang baru muncul dalam benaknya.
