Kemudian dengan suara rendah dan hampir seperti berbisik, Agung Sedayu menyusun langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Sukra.
Sukra tampak mengangguk sekali, dua kali, lalu meminta pengulangan kemudian mengangguk lagi. Tak lama setelah itu, Sukra pun minta izin mengundurkan diri.
Orang-orang terkejut. Agung Sedayu begitu cepat membuat keputusan untuk menyerang balik meski hanya gangguan? Benarkah?
Dan Agung Sedayu tidak memberi waktu bagi Ki Gede, Pandan Wangi, Kinasih maupun dua bawahannya untuk bernapas. Rencana lanjutan pun dibentangkan di depan mereka semua. Rincian siasat yang nyaris sulit dipercaya.
Ki Demang Brumbung bertukar pandang dengan Ki Sanggabaya lalu sama-sama mengangguk. Pandan Wangi dan Kinasih saling menguatkan melalui jalinan jemari mereka. Sementara Ki Gede tampaknya percaya penuh pada Agung Sedayu.
Malam belum terlalu kelam ketika Ki Sanggabaya dan Ki Demang Brumbung melangkahkan kaki menuju barak melalui jalan pintas. Kuda-kuda mereka titipkan di kediaman Ki Gede.
Pandan Wangi dan Kinasih pun turut bergerak setelah sejumlah pesan telah diterima penjaga regol untuk segera diteruskan pada pemimpin kelompok pengawal. Dua perempuan yang terpaut usia ini kembali berpasangan setelah dulu pernah bertarung bersama melawan Ki Astaman dan Ki Manikmaya. Tapi mereka tidak berhenti di sisi pategalan timur. Mereka akan maju, mempersempit ruang gerak kelompok asing itu hingga tiba di sebatang randu alas yang sangat besar.
Sedangkan Agung Sedayu masih bertahan di kediaman Ki Gede Menoreh sambil menunggu Ki Jayaraga dan Mpu Wisanata. Tiga pendekar senja itu tetap di kediaman bersama beberapa orang dari pasukan khusus yang dipimpin langsung Ki Sanggabaya.
Barak pasukan khusus akan berada di bawah kendali Ki Lurah Sora Sareh dengan pasukan berkuda. Pertukaran kedudukan di antara petinggi barak akan dilaksanakan ketika waktu telah tiba.
Kitab Kyai Gringsing Buku 2
Ancaman tidak selalu datang dengan teriakan perang. Kadang ia hadir sebagai tawaran, sebagai keraguan, atau sebagai keyakinan yang terasa paling masuk akal.
Di Sangkal Putung, Agung Sedayu harus menjaga wilayah yang retak oleh ketakutan dan perbedaan sikap. Sementara itu, Sukra dihadapkan pada jalan yang dapat mengubah hidupnya—bukan melalui kekerasan, melainkan melalui pilihan. Randulanang menjadi simpul yang menyimpan lebih banyak kemungkinan daripada yang terlihat.

Kitab Kyai Gringsing – Buku II membawa pembaca ke medan yang lebih sunyi namun jauh lebih berbahaya: medan batin manusia. Di sinilah perang ditentukan, jauh sebelum senjata diangkat.
Akankah Mataram tetap tegak berdiri ataukah akan runtuh bersama debu peperangan yang kian membara?
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang menghendaki file PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, kami akan kirimkan tautan agar tidak menyita banyak ruang di penyimpanan. Silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem di SINI
Matur nuwun
Perkemahan, sebenarnya itu bukan kata yang tepat karena orang-orang Ki Kebo Surongudan tidur atau beristirahat di sembarang tempat. Mereka beratap daun yang masih menempel pada ranting atau dahan. Sebagian tidur berselimut udara terbuka. Mereka tidak benar-benar berada di dalam tenda, tapi bernaung di bawah bentangan kain yang disampirkan pada beberapa tonggak pendek.
Udara dingin menggantung di atas pedukuhan induk. Kabut tipis merayap rendah di antara perdu dan batang-batang randu.
Dua kelompok kecil pengawal Menoreh bergerak tanpa suara. Mereka dapat menjangkau perkemahan tanpa berisik. Setiap gesek daun akan terdengar wajar dan mungkin dapat dianggap sebagai gerakan binatang berkaki empat: rusa, babi ataupun banteng.
Dua kelompok itu sudah berbagi arah—berpencaran dengan menggunakan sisa nyala api unggun yang hampir padam. Bara kecil itu memudahkan mereka mengenali letak orang-orang yang tidur atau berjaga di bawah kain-kain yang disampirkan.
Sukra merunduk rendah sambil menunjuk ke arah utara pada tiga kawannya. Sayoga pun berbuat serupa tapi dia mengarahkan perhatian ke barat.
Terdengar dari kedalaman hutan, kokok ayam jantan nyaring tmemecah malam untuk kedua kali.
Dua regu pengawal Menoreh itu bergerak secepat kilat. Menyerang ke beberapa arah, memukul dan menjatuhkan sasaran terdekat.
Sejumlah pengikut Ki Kebo Surongudan berteriak lalu mengejar.
Tetapi para pengawal Menoreh begitu cepat melenyapkan diri di antara rimbun tanaman, barisan pohon dan ceruk-ceruk yang hanya dikenali oleh mereka.
“Kita diserang,” lapor seseorang pada Ki Kebo Surongudan.
“Aku tahu,” ucap orang itu sambil mengangguk.
“Mengapa kita tidak mengejar mereka?” seseorang beramput panjang bertanya
Ki Kebo Surongudan menggeleng.
“Ini serangan yang benar-benar cermat. Pendengaranku tidak menipu karena aku memang mendengar beberapa langkah kaki mendekat. Aku kira itu adalah banteng atau babi karena cukup berat dan tidak mencurigakan. Dan kita semua tertipu. Mereka sama sekali tidak memperlihatkan rasa gentar meski belum mengetahui jati diri lawan.”
Dia memandangi orang-orang yang mengelilinginya, lalu berkata lagi, “Aku belum cukup berhitung untuk menentukan sasaran tapi mereka sudah menghilang. Mengejar mereka akan sama artinya dengan kita menyerahkan diri tanpa perlawanan.”
“Lalu, apakah itu berarti Kyai akan menunda serangan ke Agung Sedayu?”
“Tidak,” jawab Ki Kebo Surongudan. “Sedayu pasti sudah mendapatkan laporan dari orang-orangnya. Penjagaan di sekitarnya pasti ditingkatkan. Tapi satu hal, dia tidak akan mengira menyerangnya justru pada siang hari.”
“Mungkin kita sebaiknya berpindah tempat,” kata seseorang yang berpakaian dengan warna agak terang yang mendapat julukan Mliwis Logrok meski namanya cukup baik, Ki Sanumerta. “Tempat ini sudah tidak aman lagi.”
“Apakah engkau yakin mereka benar-benar pergi setelah serangan tadi? Perhatikan, aku kira mereka tadi tidak berniat. Mereka hanya menganggu seolah juga ingin mengatakan bahwa kiat tetap berada dalam jangkauan pengamanan,” ucap Ki Kebo Surongudan.
“Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang? Dengan pendapat Kyai seperti itu, bergerak atau menetap itu sama-sama berbahaya,” Ki Sanumerta berkata lagi.
Perkemahan itu tidak lagi bisa tidur tenang.
Sejenak kemudian, bayangan gelap tampak berkelebat dari arah kebun pisang. Bukan satu, tapi beberapa.
Dari jurusan yang lain, terlihat jgua bayangan berpindah tempat. Tidak hanya dua, tapi mungkin lima atau enam orang.
“Tahan,” desis Ki Kebo Surongudan. “Mereka sengaja menyatakan kehadiran. Itu hanya pancingan agar kita masuk dalam jebakan.”
“Bila tidak?”
“Bila bukan pancingan, itu berarti harus ada penyesuaian rencana,” sahut Ki Kebo Surongudan kemudian berdiam diri. Berpikir keras dengan pandangan mata bergantian memandang tempat-tempat bayangan itu muncul lalu tenggelam.
Pergerakan bayangan itu tidak lama—hanya sebentar saja kemudian benar-benar menghilang.
Tidak ada lagi gangguan yang mengusik perkemahan pada sisa malam hingga menjelang fajar. Tidak ada serangan kecil maupun bayangan yang bergerak membayangi dari kejauhan.
Segala sesuatu tampanya kembali menjadi wajar.
Tapi kelompok Ki Kebo Surongudan tidak dapat kembali jenak atau tenang. Pikiran mereka terusik, apakah Sedayu akan datang menyerang mendahului rencana mereka? Atau Ki Kebo Surongudan sudah mematangkan rencana yang disesuaikan?
Dari kaki langit timur tampak semburat merah yang masih malu-malu. Gelap belum benar-benar pergi dari pedukuhan induk ketika orang-orang Ki Kebo Suronggudan mematangkan persiapan.
Bumi bergetar seperti gempa melanda perbukitan Menoreh. Suara gemuruh samar terdengar dari arah pedukuhan. Mula-mula pelan lalu semakin jelas. Derap kuda.
Serempak beberapa orang berpaling.
Barisan berkuda bergerak cepat menembus kabut pagi. Tombak-tombak pendek mereka berkilat terkena cahaya fajar. Di belakang mereka, sekelompok pengawal berkuda berderap teratur.
Dan semakin mendekat. Baris-baris penunggang kuda yang datang dari timur tampak sehitam jelaga meluncur deras langsung ke tengah-tengah perkemahan.
“Sial!” umpat Ki Kebo Surongudan sambil memandang arah datangnya belasan atau mungkin puluhan kuda yang dipimpin Ki Lurah Sora Sareh.
Putaran tombak Ki Lurah Sora Sareh melempar beberapa orang yang terlambat menghindar. Ki Kebo Surongudan segera bergerak, secepat bayangan seakan terbang melewati kepala pengikutnya, sebatang ranting terangkat, mengayun deras pada bagian atas Ki Lurah Sora Sareh.
Udara mengeluarkan dentuman.
Ki Kebo Surongudan melentingkan tubuh, surut menjauh dengan perasaan terhenyak. Betapa kuat tangkisan tadi dan tidak mungkin dapat dilakukan oleh penunggang kuda itu, pikirnya.
Seorang lelaki berdiri tegak dengan pandangan tenang lurus menatap langsung pada Ki Kebo Surongudan, katanya, “Ki Sanak mencari Agung Sedayu? Dia tepat di depanmu sekarang.”
Baru saat itulah Ki Kebo Surongudan dan pengikutnya menyadari: mereka sejak awal ditempatkan bukan untuk dibiarkan pergi tapi ditahan sebelum dihancurkan.
Kesadaran datang terlambat!
Tapi pengikut Ki Kebo Surongudan adalah orang-orang perguruan kanuragan yang menguasai tata cara bertempur perorangan dengan lambaran ilmu yang sangat kuat. Maka hanya sebentar saja, hanya sesaat sebelum mata mengerjap, mereka sigap menyambut serangan.
Namun lawan yang sekarang mereka hadapi bukan sekumpulan penunggang kuda yang bergerak menurut keberanian masing-masing.
Pasukan berkuda itu adalah bagian pasukan khusus Mataram, lalu dipadukan dengan pengawal Menoreh yang tangkas dan cekatan berada di atas punggung kuda. Mereka adalah satu tubuh yang digerakkan dengan satu perintah yang dari Ki Lurah Sora Sareh: maju, membelah, lalu menutup kembali seperti mulut panjang ular raksasa saat menelan mangsa.
Kuda-kuda mereka mencongklang memecah kabut pagi.
Pada setiap lintasan terasa ada intai maut yang datang berulang-ulang dari arah berbeda.
Orang-orang Ki Kebo Surongudan yang terbiasa menghadapi lawan seorang demi seorang mulai kehilangan pegangan. Ilmu mereka memang tinggi, pukulan mereka sanggup merobohkan batang pohon muda, dan loncatan mereka sering kali berada di luar jangkauan nalar orang kebanyakan. Tetapi putaran tombak dan gelar perang dari pasukan khusus itu tidak memberi kesempatan bagi mereka untuk menyelesaikan satu gerakan penuh.
Baru saja seseorang melenting hendak menghantam penunggang kuda di depannya, tombak lain telah menyambar dari samping. Ketika dia berbalik menghindar, dua penunggang lain telah menutup jalan mundurnya.
Prajurit berkuda Mataram ini tidak bertempur untuk mencari kemenangan tapi menjaga hidup kawannya yang terancam maut. Oleh sebab itu, kelebihan ilmu orang-orang Ki Kebo Surongudan seperti tidak bermanfaat. Kemampuan mereka segera layu sebelum sempat berkembang menjadi serangan yang utuh.
Beberapa pengikut Ki Kebo Surongudan menggeram marah. Mereka merasa seperti sedang bertarung melawan jaring bergerak yang tidak henti berubah bentuk.
Satu orang tumbang, dua orang roboh. Sebagian tersentuh luka bahkan delapan orang berkemampuan lebih tinggi pun seolah tak berdaya dalam perkelahian sengit itu.
Di tengah perkemahan, Agung Sedayu dan Ki Kebo Surongudan masih berdiri tenang, terpisah jarak beberapa langkah. Sikap dua orang itu seperti terpisah dari pertukaran maut yang terjadi di sekeliling mereka.
Ki Kebo Surongudan menggeram tapi dia sadar bahwa harus dapat menahan amarah yang meledak-ledak dalam hatinya. Gangguan sebelumnya dan serangan fajar ini sudah jelas berada dalam kendali penuh Agung Sedayu, batinnya.
Dalam pikiran orang ini ada kesadaran: pantas jika Raden Atmandaru yang terkenal sangat cerdas dalam siasat keprajuritan atau perang akhirnya takluk di tangan Sedayu.
“Jadi, semua ini sudah berada dalam jangkauan pengamatannya meski dia tidak berada di barak kemarin siang,” ucap Ki Kebo Surongudan dalam hati.
Orang-orang Ki Kebo Surongudan segera menyadari bahwa ancaman pasukan berkuda itu bukan hanya pada tombak dan kecepatan kuda mereka.
Di antara beberapa penunggang—pada barisan pengawal Menoreh—tampak rantai panjang berwarna gelap yang ujung-ujungnya terikat pada gelang besi. Mula-mula benda itu tampak seperti tali penghubung biasa. Namun ketika dua penunggang kuda bergerak saling bersilang, rantai itu mendadak hidup seperti ular baja.
Ketika dua pengikut Ki Kebo Surongudan menerjang salah satu penunggang kuda, pada saat itulah penunggang sebelah kiri melempar ujung rantai melintas rendah.
Penunggang di sebelah kanan menangkapnya dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat.
Rantai itu menegang.
Dua orang itu tersangkut tepat pada lutut dan pinggangnya. Mereka kehilangan keseimbangan ketika kedua kuda mencongklang ke arah berlawanan. Belum sempat dia membebaskan diri, ujung rantai telah dilempar kembali.
Berputar lalu ditangkap lagi oleh penunggang pertama. Gerakan itu terjadi demikian cepat sehingga rantai panjang itu seolah membentuk jaring yang berpindah-pindah tempat.
Dari kejauhan tampak sederhana.
Tetapi sesungguhnya di dalam putaran itu tersembunyi ancaman sangar: maut atau tulang yang patah.
Orang-orang perguruan kanuragan yang terbiasa menghadapi benturan langsung mendadak dipaksa menghadapi cara bertempur yang sama sekali berbeda. Lawan mereka tidak berusaha mengadu tenaga. Mereka menyudutkan. Menjebak. Menjatuhkan.
Dan ketika seorang lawan roboh, putaran tombak pasukan khusus atau sapuan rantai pengawal Menoreh segera menyambar untuk memisahkan dia dari kawan-kawannya.
Beberapa orang pengikut Ki Kebo Surongudan mulai kehilangan ruang gerak. Setiap loncatan yang biasanya menjadi kelebihan mereka justru membuka kesempatan bagi rantai-rantai itu untuk membelit kaki atau pinggang.
Sedangkan kuda-kuda itu terus mencongklang dalam putaran yang teratur, seolah sedang menganyam gelanggang pertempuran. Sedikit demi sedikit lawan mereka terkurung dalam gelar yang dapat menghancurkan setiap perlawanan.
“Tahan serangan!” perintah Ki Lurah Sora Sareh pada pasukan khusus dan pengawal Menoreh. Seketika gelar perang mereka pun berubah bentuk. Tak lama setelah itu, muncul dua puluh atau tiga puluh orang dari balik semak-semak menggabungkan diri dalam barisan prajurit berkuda. Sukra dan Sayoga tampak pula di antara orang-orang yang baru datang itu. Agaknya mereka tidak berada cukup jauh.
Apakah itu perintah Sedayu agar mereka bersiap sebagai pelapis jika pasukan berkuda gagal menunaikan tugas? Entahlah, tidak ada seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan itu dengan tepat.
“Apakah Ki Sanak tidak berpikir untuk menyerahkan diri?” tanya Agung Sedayu saat mengetahui laskar gabungan sudah menguasai keadaan.
“Sebaliknya, kami bahkan sudah siap mati untuk hari ini,” kata Ki Kebo Surongudan.
“Sayangnya, Ki Sanak dan kawan-kawan bergerak lebih lambat dari kematian itu sendiri,” sahut Agung Sedayu. “Seharusnya Ki Sanak menyerang saya lebih cepat sehingga harapan untuk bertemu kematian bisa terjadi lebih cepat.”
“Agung Sedayu, sombong sekali,” geram Ki Kebo Surongudan.
Agung Sedayu menggeleng, katanya, “Saya tidak sombong tapi Ki Sanak menilai kami terlalu rendah.”
“Baiklah, sekarang, katakan apa maumu!”
Kening Sedayu berkerut. “Mengapa Ki Sanak yang bertanya pada saya? Saya adalah peronda, petugas keamanan dan juga pengawal dusun. Jadi, apa mau saya? Seharusnya saya yang bertanya itu. Ki Sanak, sekarang berkehendak apa? Tetap menyerang atau kami seret keluar dari Tanah Perdikan?”
Ki Lurah Sora Sareh, Sayoga dan Sukra saling bertukar pandang. Mereka melihat Agung Sedayu tidak bersikap seperti wajarnya. Pemimpin mereka itu seolah sedang memainkan watak sedang menjadi orang yang berbeda.
