Dilihat 68 kali
Pasukan Ki Tumenggung Nagapati akhirnya tiba di luar batas Pajang setelah meninggalkan kotaraja dalam keadaan kalah, letih, namun belum kehilangan harga diri. Mereka adalah orang-orang yang tetap setia pada Lembu Sora dan Gajah Biru—dua panglima yang dihukum mati tanpa pembelaan. Di tengah bekal yang menipis dan masa depan yang kabur, Ki Nagapati memilih menahan langkah, membuka perkemahan, lalu mengambil keputusan berani: menghadap Bhre Pajang untuk mencari jalan yang belum tentu berujung keselamatan. Namun kedatangan rombongan besar itu segera mengguncang istana Pajang.

Rahayu
Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli salah satu atau seluruh karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis. Kontribusi untuk versi cetakan:
Bara di Borobudur, 225 hal, hard cover, 130 rb (tidak termasuk ongkos kirim)
Di balik dinding-dinding istana, para petinggi mulai membaca kemungkinan yang paling gelap—apakah Ki Nagapati datang sebagai pengungsi, atau sedang merintis jalan menuju pemberontakan? Kecurigaan, perhitungan politik, dan bayang-bayang pengaruh Majapahit perlahan mengubah pertemuan yang tampaknya biasa menjadi permainan yang penuh risiko.
Sementara itu, di tempat lain, Resi Gajahyana menyimpan rahasia yang jauh lebih besar. Dua orang asing dari negeri seberang ternyata membawa jejak konflik yang membentang hingga istana Kaisar Ning Tsung. Kisah pengkhianatan, perebutan pengaruh, dan pelarian tokoh-tokoh berbahaya perlahan terhubung dengan keadaan di Pajang—seolah pertanda bahwa badai yang datang bukan hanya milik satu kerajaan.



