Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Buki Menoreh 84 – Antara Kakak dan Adik Seperguruan

Agung Sedayu tidak berencana untuk menemui Swandaru lalu membicarakan segala yang diperbuat adik seperguruannya itu. Begitu pula Swandaru yang menuruti kehendak hatinya untuk pergi meninggalkan Sangkal Putung melalui jalur melingkar.Bahkan dia sengaja menempuh jalan itu demi menghindari pertemuan dengan Agung Sedayu. Meski sebenarnya dia pun dapat melewati Jati Anom jika merasa ingin pergi dari Sangkal Putung, tapi, ketika lintasan pikiran menuntunnya ke arah Tanah Perdikan, Swandaru tak kuasa menolak.

Keadaan di sekitar Agung Sedayu memang sunyi, bahkan terlalu sunyi karena sedikit sekali terdengar erangan binatang malam. Dari tempatnya ketika mengambil waktu untuk istirahat di samping parit kecil yang membelah hutan, pendengaran Agung Sedayu dapat mendengar langkah kaki kuda.

“Seekor kuda dan penunggangnya?” tanya Agung Sedayu dalam hati sambil merapatkan alis. Jarak masih cukup jauh tapi ketajaman pendengaran senapati Mataram cukup jelas menangkap bunyi yang ditimbulkan oleh tapak kuda. Dia tahu bahwa tempatnya akan dilalui oleh penunggang yang menjalankan kuda lambat-lambat. Agung Sedayu segera beralih ke tempat yang dianggapnya lebih cocok untuk mengamati walau tanpa maksud untuk mengintai.

Penunggang kuda itu sudah mencapai tebing yang tak terlalu tinggi, lalu masuk jalanan yang diapit barisan pohon yang berjajar tidak rapi. Sedikit jarak lagi maka dia akan tiba di sekitar tempat yang berada bawah mata Agung Sedayu.

Seketika penunggang kuda itu berhenti. Dadanya sedikit berdebar. Ada keanehan yang tidak biasa, pikirnya. Sejenak dia memusatkan nalar budi agar dapat benar-benar mengenali keanehan yang pasti bukan disebabkan oleh demit atau siluman. Ini dapat dikatakan adalah daya pancar yang keluar dari seseorang berilmu sangat tinggi, menurutnya.

Walau langit benderang tanpa awan yang menggantung, tapi kabut ternyata cukup tebal membatasi pandangan di dalam hutan.

Terkaan penunggang kuda itu ada benarnya karena memang Agung Sedayu berada di sekitarnya – mungkin berjarak kurang dari dua puluh lima langkah. Penunggang kuda itu adalah Swandaru yang akhirnya mendapatkan waktu untuk memencilkan diri dari segalah keriuhan yang mendekap kademangan. Sehingga dia dapat merasakan pancaran ilmu yang sengaja dilepas oleh Agung Sedayu. Apakah Swandaru akan memutuskan untuk berhenti lalu mencari sumber keanehan itu?

Agung Sedayu hanya mengerutkan kening ketika mengenali bahwa penunggang kuda itu adalah Swandaru. Untuk apa dia berkuda membelah hutan pada malam hari ketika kademangan masih bergolak meski mulai mereda? Sesaat dia tertahan dengan pertanyaan itu. Ada alasan yang kuat yang dapat memaksa Swandaru haru melakukan perjalanan yang tidak biasa ini, pikir Agung Sedayu. Tapi dengan pertemuan itu, walau belum bertatap muka, Agung Sedayu dapat meraba keadaan di Sangkal Putung. Setidaknya keamanan dan keselamatan orang-orang sudah mendapatkan yang semestinya. Sekar Mirah dan putrinya pun dalam keadaan yang menenangkan hati. Apakah mungkin Swandaru membiarkan adiknya dalam bahaya?

Swandaru telah melewati tempat Agung Sedayu dan sepertinya tidak ada keinginan untuk mencari tahu.

“Swandaru,” panggil Agung Sedayu dengan nada biasa. Dia tidak mempunyai pendapat yang lebih kuat untuk membiatkan adik seperguruannya itu berlalu tanpa kata-kata. Dalam segala keadaan, Swandaru adalah kepercayaan dan tanggung jawab dari Kyai Gringsing padanya meski tidak diucapkan dengan kata-kata, pikir Agung Sedayu. Maka dia melompat keluar lalu menyebut nama itu dari belakang punggung Swandaru.

Swandaru pelan menahan laju kuda tapi dia tidak segera berbalik. “Kakang Agung Sedayu,” katanya dalam hati. Sulit ternyata melarikan diri dari pengamatan murid utama Perguruan Orang Bercambuk itu, keluh Swandaru dalam hati. Kehendak kadang-kadang tidak sejalan dengan kenyataan tapi itulah garis kehidupan yang selalu menyimpan banyak rahasia.

“Aku tidak ingin bertanya arah kepergianmu atau alasan yang menjadi sebabnya,” kata Agung Sedayu ketika Swandaru tak membalikkan tubuh untuk berhadapan dengannya. Murid tertua Kyai Gringsing ini sepertinya sudah menduga bahwa ada sesuatu yang sangat besar sehingga Swandaru seolah enggan beradu wajah dengannya.

“Kakang tidak perlu membuat dugaan atau menyusun alasan agar aku membatalkan perjalanan ini,” sahut Swandaru tapi dengan sikap yang tetap.

Mereka berdua adalah dua orang yang sama-sama kuat memegang pendapat. Agung Sedayu jika dia bergeser lalu berdiri di depan Swandaru itu sama artinya mengundang perbantahan atau perkelahian yang tidak perlu. “Tidak perlu mengulang pertempuran seperti di Pancuran Watu Item,” ucapnya dalam hati. Yah, itu adalah ajang pembuktian yang tidak penting tapi Swandaru nyaris membuat sedih banyak orang.

Begitu pula Swandaru yang paham bahwa jika dia membalikkan tubuh lalu memandang wajah Agung Sedayu, maka kakak seperguruannya itu akan berusaha keras menahan kepergiannya. Seandainya itu terjadi maka terbuka kemungkinan  akan ada benturan yang cukup keras, menurut Swandaru. Maka dia pun sudah merasa cukup dengan menghadapkan diri ke samping saja.

Mendengar ucapan Swandaru, Agung Sedayu mengangguk, lalu berkata, “Ada persoalan penting yang perlu kita tangani bersama.”

“Bukankah pemberontak itu sudah diusir dari Sangkal Putung?”

Agung Sedayu menggeleng, kemudian berkata,”Kitab guru.” Senapati Mataram ini berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu meneruskan, “Belum ada pembicaraan di antara kita mengenai kitab itu. Tidak pula dengan Ki Widura sebagai pemimpin Perguruan Orang Bercambuk untuk saat ini.”

“Apa saja yang digunakan sebagai bahan pemikiran, maka segalanya akan menempatkan diriku sebagai orang yang seharusnya bertanggung jawab,” ucap Swandaru tanpa memandang wajah kakak seperguruannya. “Aku adalah orang yang mumpuni dari banyak segi, demikian juga sekelilingku. Kitab itu hilang ketika disimpan di dalam rumahku, di kademangan yang aku pimpin.”

Ucapan Swandaru dapat dikatakan sedang menempatkan diri sebagai orang yang bersalah, tapi Agung Sedayu tidak menganggap seperti itu.

Dalam pikiran Agung Sedayu, Swandaru justru memberikan penilaian atas dirinya sebagai yang dituakan di perguruan Kyai Gringsing. Setiap kekeliruan atau kesalahan yang diperbuat oleh murid Kyai Gringsing atau cantrik Perguruan Orang Bercambuk, maka itu berarti seseorang harus berani mengakui kesalahannya. Kitab itu berada di Sangkal Putung karena memang tiba giliran Swandaru untuk mendalami, tapi tidak berarti Agung Sedayu dapat berlepas tangan dengan tidak turut mengawasi meski dari kejauhan. Bukankah dia adalah pemimpin pasukan yang pasti mempunyai telik sandi atau seseorang yang dapat ditugaskan secara khusus?

“Kau dapat mengatakan apa saja, termasuk jika ingin mengatakan bahwa paman Widura adalah orang yang paling bertanggung jawab. Aku pun tidak akan berpikir buruk apabila kau melihat ada yang salah pada diriku. Hanya saja, kita belum  sekalipun menyusun rencana atau bicara sesuatu terkait kitab guru. Paman Widura juga belum mengetahui peristiwa itu,” kata Agung Sedayu mengulang penegasan.

“Tidak perlu terburu-buru,” ucap Swandaru. “Kita masih mempunyai banyak waktu. Raden Atmandaru pun sudah berada di tempat yang diinginkan banyak orang. Tanah Perdikan, adakah keraguan dari Kraton atau Kepatihan mengenai wilayah itu?” Swandaru menggeleng kemudian melanjutkan ucapan, “Seandainya pencuri itu berada di sana, Kakang pasti bertemu dengannya. Hingga waktu itu tiba menjumpai kita, aku pikir tidak ada gunanya bicara lebih panjang lagi di tempat ini. Pada keadaan ini, sekarang dan esok hari, Ki Widura pun pasti mengetahui. Hanya saja, aku pikir lebih baik bukan dari ucapanku. Bisa orang lain atau bahkan dari orang-orang yang berada di dalam keprajuritan.”

Agung Sedayu sadar bahwa percakapan di dalam hutan itu mampu mengoyak ketenangannya, maka dia harus dapat menahan diri dari kata-kata tajam Swandaru.

“Cepat atau lambat, hilangnya kitab guru akan menjadi peristiwa yang diketahui banyak orang, lalu mereka akan berusaha turut mencari dan mendalami jika berhasil mendapatkannya,” kata Swandaru lagi.

“Apakah ada sesuatu yang menahanmu untuk mencari kitab guru?” tanya Agung Sedayu.

Swandaru menggeleng, meski sebenarnya dia ingin menjawab dengan mengungkapkan perasaannya secara gambling. Tapi di depan Agung Sedayu, Swandaru seolah-olah merasa sedang berhadapan dengan Kyai Gringsing. Maka perasaan yang bergolak dan pikiran-pikiran buruk pun sering kali tiba-tiba lenyap.

Agung Sedayu merenungi arti gelengan kepala Swandaru, kemudian berkata, “Aku tetap berpikir baik dengan jawaban itu. Memang tidak ada yang menghalangi atau mengubah pendirianmu, tapi seandainya ada sudah barang tentu kau dapat merahasiakannya dariku. Aku yakin kau sudah banyak mengenali jati diri dan mendapatkan pembelajaran.”

“Kakang tentu sudah paham dan sudah tentu pula mempunyai pendekatan lain dalam mencari kitab guru,” ucap Swandaru. Dia kemudian menarik napas panjang sambil menatap satu jurusan tertentu dengan pandangan yang cukup jauh. Swandaru tidak ingin menanggapi ucapan kakak seperguruannya itu, kemudian dia berkata, “Malam hampir mencapai penghabisan. Kakang tentu ada urusan yang jauh lebih penting untuk diselesaikan. Mungkin Kakang tidak dapat bertemu denganku lagi. Entahlah, aku tidak dapat memberi kepastian waktu seandainya ada perjumpaan lagi. Yang pasti, malam ini tidak menjadi akhir dari segalanya.”

Usai mengucapkan salam perpisahan dan beberapa untai kata penuh harapan aar mereka berdua tetap mendapatkan naungan dari Yang Maha Perkasa, Swandaru menyentak lambung kuda. Dia berlalu dari tempat pertemuan yang tidak disengaja itu sambil membawa serta pikiran dan perasaan yang tak terucap kata.

Salam Padepokan

Bagi pembaca yang bersedia bergabung dalam komunitas donatur, tersedia fasilitas sebagai berikut:

  1. Mendapatkan kisah terbaru sebelum dibagikan ke publik.
  2. Mendapatkan file PDF lengkap setelah seluruh kisah selesai disusun.

Partisipasi dilakukan melalui iuran atau donasi minimal Rp25.000 per bulan sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan penulisan.

Banjar pedukuhan:

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530

atas nama Roni Dwi Risdianto.

Bukti penjagaan bisa dikirimkan melalui pengawal pedukuhan WA 081357609831

Hormat Padepokan

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 103 – Permohonan untuk Memecah Belah?

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 69 – Pertarungan Maut : Amuk Swandaru

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 46 – Pandan Wangi adalah Ancaman Nyata

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.