“Saya tidak mengetahui lebih dari itu, Ki Rangga. Saya hanya mendengar kabar tentang kekerasan yang terjadi di Sangkal Putung,” kata seorang petani yang bercakap dengan Agung Sedayu saat akan pergi ke sawah bersama tiga temannya. Tiga orang itu pun mengangguk dan mereka tidak menambahkan keterangan lain.
Saat itu, Agung Sedayu menanyakan seandainya ada kerusuhan yang berlanjut di di luar pedukuhan induk pada dengan orang itu. Mendengar jawaban yang sepertinya cukup pantas, maka Agung Sedayu kemudian berkata, “Boleh jadi, wilayah ini terhitung aman dan terkendali. Ki Gede dan juga Ki Prastawa benar-benar luar biasa sehingga dapat mencegah kemungkinan buruk mencapai Tanah Perdikan.”
Empat petani itu lantas mengangguk-angguk. Mereka berbincang lagi tapi utnuk permasalahan ringan seperti pengairan dan cuaca yang kadang tidak bersahabat. Demikianlah Agung Sedayu sering kali berhenti lalu bicara sejenak dengan orang-orang yang dianggapnya dapat memberi keterangan yang sedang dibutuhkannya.
Matahari hampir mencapai singgasananya di pertengahan garis langit ketika Agung Sedayu tiba di depan gardu jaga barak pasukan khusus. Meski tidak menyematkan tanda-tanda keprajuritan dan kepangkatan, seorang prajurit jaga cepat menyambut kedatangannya. Dua prajurit lain mengambil jarak lalu memberi hormat. Seorang di antara mereka lantas bergegas melaporkan kedatangan pemimpin mereka pada Ki Lurah Sanggabaya, Glagah Putih dan juga sebagian pemimpn satuan kecil yang terbagi di dalam barak.
“Selamat datang kembali, Ki Rangga,” ucap prajurit tersebut dengan raut muka secerah cuaca siang itu.
Seperti menemukan kembali sesuatu yang pernah lepas dari pandangan, Agung Sedayu menyambut sapaan itu dengan kata-kata yang baik, lalu cepat menebar pandangan ke sekitar. Rasa-rasanya beban di pundak terasa ringan meski hanya untuk sejenak saja. Pulang lalu melihat keadaan Ki Gede, rumahnya kemudian wajah-wajah penuh semangat di barak ; itu seolah menjadi sumber tenaga baru yang mampu menghasilkan tenaga atau kekuatan berlimpah-limpah dalam dirinya.
Agung Sedayu menyambung kalimatnya, “Agaknya memang tidak ada yang berubah. Halaman dan lingkungan sekitar barak masih terjaga.” Dia menarik napas dalam-dalam kemudian melangkah memasuki pelataran barak pasukan khusus.
Prajurit jaga itu mengangguk lantas berjalan di belakang Agung Sedayu.
Dari dalam barak kemudian tampak berjalan beriringan beberapa orang yang mengenakan tanda keprajuritan dengan lengkap. Ki Lurah Sanggabaya, Glagah Putih, Ki Demang Brumbung dan empat lurah muda lainnya. Tak ingin ketinggalan, Sukra terlihat yang setengah berlari menyusul rombongan Ki Lurah Sanggabaya.
Saat melihat semua orang yang dikenalnya sudah berdiri di depan, Agung Sedayu agak terkejut saat tahu Ki Demang Brumbung telah menjadi anak buahnya. Mungkin Ki Patih Mandaraka merasa perlu kemudian mengirim senapati tangguh itu ke Tanah Perdikan, tapi bukankah Ki Demang Brumbung mempunyai luka-luka akibat pertempuran menjelang geger Alas Krapyak? Sambil menjawab pertanyaan itu di dalam hatinya sendiri, Agung Sedayu juga berharap luka-luka itu sembuh seluruhnya.
Pada waktu itu pula, Agung Sedayu sempat merasa bahwa dirinya cukup lama meninggalkan barak pasukan padahal belum genap empat bulan sejak benturan di Slumpring. Tapi segala sesuatu seolah berjalan demikian cepat karena ketegangan demi ketegangan yang menguras pikiran dan tenaga. Sekilas Agung Sedayu memandang ke arah Sukra lalu dia melambaikan tangan sebagai tanda agar Sukra mendekat padanya. Para pemimpin prajurit pun tanggap maka mereka cepat memberi jalan untuk pengawal Tanah Perdikan itu agar menghampiri Agung Sedayu.
Ketika Sukra berjarak dua langkah di depannya, Agung Sedayu beringsut maju lalu menepuk bahu anak muda itu sambil berkata, “Berdirilah di belakangku.”
Sukra berpindah tempat dan berdiri sejajar dengan prajurit jaga yang mengiringi Agung Sedayu sejak dari gardu depan.
Ki Rangga Agung Sedayu kemudian berkata agak lantang, “Apakah aku perlu untuk memberi kata sambutan atau Ki Lurah Sanggabaya yang seharunya melakukan itu?” Pemimpin pasukan khusus itu lantas melempar senyum pada nama yang dimaksud.
Ki Lurah Sanggabaya menggeleng, kemudian mengatakan, “Terima kasih Ki Rangga. Melihat kedatangan dan keadaan Panjenengan, saya pikir cukup satu kata yang dapat mewakili seluruh prajurit di barak ini.”
Agung Sedayu menggerakkan tangan sambil berucap, “Silakan.”
Setelah menundukkan kepala yang lntas diikuti Glagah Putih serta yang lainnya, Ki Lurah Sanggabaya berucap lirih tapi masih dapat didengar oleh Agung Sedayu, “Tansah amuji lan manembah Maha Nata. Datan wudhar dènnya angèsthi Gusti Maha Agung.”
Agung Sedayu lalu mengusap wajah usai Ki Lurah Sanggabaya mengucapkan kalimat yang sangat baik itu. Kemudian pemimpin prajurit Mataram itu berkata, “Marilah, kita semua ke dalam, berkumpul di bilik saya.”
Kemudian pada Sukra dan prajurit pengiringnya, Ki Rangga Agung Sedayu berpesan agar meminta bantuan beberapa orang untuk pertemuan lebih besar di halaman tengah. Dua lelaki muda itu lekas menarik diri lalu mengabakan pesan pemimpin mereka pada segenap prajurit lainnya.
“Agak berbeda dengan hampir seluruh gerakan yang pernah kita hadapi, para penentang yang bergabung di bawah kendali Raden Atmandaru rupanya lebh teliti dan cermat sebelum melakukan serangan atau kekacauan,” kata Agung Sedayu setelah enam bawahannya berada di dalam ruangan. Glagah Putih termasuk juga dalam jumlah itu. Lanjutnya kemudian, “ Mereka cukup sabar menunggu waktu atau membuat waktu dan keadaan hingga sesuai dengan keinginan. Aku tidak berpanjang-panjang kata tapi percobaan pembunuhan terhadap Ki Patih Mandaraka di Slumpring dan jalanan dekat Kepatihan, itu adalah dua hal yang terencana.”
Ketegangan terasa merambat di dalam ruangan itu meski cukup pelan. Ki Lurah Sanggabaya lurus menatap gambar wilayah Tanah Perdikan yang terpampang lebar di belakang Agung Sedayu. Sedangkan Glagah Putih serta lurah-lurah yang lain tekun menyimak sambil sesekali memandang wajah pemimpin pasukan khusus itu.
“Saat ini, Ki Jayaraga sudah pasti berada di luar pedukuhan induk. Aku meminta beliau melakukan sesuatu yang sebenarnya adalah tugas kita,´ucap Agung Sedayu, “hanya saja, beliau bukan orang yang dapat berpangku tangan ketika wilayah ini membutuhkan bantuan. Aku kira beliau akan menyesal seandainya diminta untuk beristirahat dan hanya mengamati semua perkembangan, maka mengamati serta mengumpulkan bahan dari dua pedukuhan dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti.” Senapati Mataram itu lantas menyebut nama dua pedukuhan yang dimaksudkannya.
Dua pedukuhan itu cukup jauh dari daerah yang diperkirakan menjadi sarang pengikut Raden Atmandaru. Meski demikian, para pemimpin prajurit Mataram itu mengerti bahwa wilayah tersebut dapat menjadi penopang yang tangguh jika Raden Atmandaru mampu memanfaatkan. Apakah atas alasan itu kemudian Ki Rangga mengutus Ki Jayaraga ke dua tempat itu? Demikian isi pikiran para prajurit pasukan khusus.
“Ki Rangga,” berkata Ki Demang Brumbung. “Saya tidak menanyakan alasan di balik Ki Jayaraga yang diutus sebagai petugas sandi. Saya juga tidak perlu memberitahu bahwa itu adalah penyimpangan karena setiap orang Mataram adalah prajurit sekaligus petugas sandi. Tapi, apakah beliau tidak keberatan dengan tugas berat itu mengingat ragawi yang mungkin sudah tidak mendukung pelaksaan tugas tersebut?”
Ki Rangga Agung Sedayu tersenyum lantas berpaling pada Glagah Putih, kemudian berkata, “Glagah Putih, kau lebih tahu keadaan gurumu dibandingkan denganku. Silahkan, kau dapat ungkap seluruhnya pada semua lurah di sini agar segalanya lebih terang.”
Glagah Putih mengangguk lalu katanya, “Guru adalah orang yang tidak mungkin meninggalkan rumah meski puncak Merapi sudah menurunkan lahar panas. Beliau akan menarik lengan baju lalu bekerja agar orang-orang lainnya dapat selamat dari bencana.”
Ki Demang Brumbung manggut-manggut kemudian terenyum pula. Sambil menatap wajah Glagah Putih, dia berkata, “Aku dapat membayangkan bagaimana seorang Ki Jayaraga dalam kesehariannya.”
Orang-orang tersenyum pula sambil menangguk-angguk.
“Baiklah, saya kira sudah tidak lagi yang perlu dibahas mengenai penunjukkan itu, Ki Rangga,” ucap Ki Demang Brumbung pada Ki Rangga Agung Sedayu.
Setelah mengatur napas dan menikmati hidangan wedang jahe di atas meja, Agung Sedayu mengatakan, “Sebab lainnya adalah aku ingin ada dua orang yang membayangi pergerakan Ki Jayaraga. Itu supaya tidak ada yang terlewat saat kita kembali berkumpul untuk mematangkan rencana. Nah, dalam waktu yang sama, aku pikir bisa segera diberangkatkan pada malam nanti adalah dua orang dalam penyamaran untuk pengintaian di Gunung Kendil.”
Ki Demang Brumbung mengajukan diri untuk menjadi salah satu dari dua orang yang dengan tugas pengintaian Gunung Kendil. Agung Sedayu pun langsung setuju lantas menawarkan Glagah Putih sebagai pasangan.
Ki Demang Brumbung menggeleng, lalu mengatakan alasannya, “Saya tidak ingin membantah keputusan Ki Rangga tapi jika nama Ki Glagah Putih masih berupa usulan, saya mengajukan Sukra sebagai pendamping. Satu-satunya alasan adalah saya tidak sungkan untuk memerintahkan dia berbuat sesuatu yang agak menyimpang jika dibandingkan Ki Glagah Putih di samping saya.”
Mungkin salah satu alasan Ki Demang Brumbung didatangkan ke Tanah Perdikan adalah Ki Patih tidak ingin ada sekatan di antara lurah prajurit. Agung Sedayu menduga hal itulah yang mendasari pemikiran Ki Patih, lalu dia berkata, “Nama Sukra masuk menjadi calon dari Ki Demang, aku kira salah satu pendorongnya adalah Ki Patih Mandaraka meski secara tidak langsung.”
Terdengar hela napas panjang dari Ki Demang Brumbung. Dia kemudian berkata, “Ki Rangga sangat mengenal Ki Patih Mandaraka.”
“Baiklah, apakah ada keberatan atau pertanyaan lain tentang Sukra?” tanya Agung Sedayu sambil memandang bergantian pada Ki Lurah Sanggabaya, Ki Lurah Wedoro Anom serta tiga lurah lainnya.
Ki Lurah Sanggabaya lantas berkata – dan agaknya mewakili pula jawaban lutah yang lain, “Jika demikian, saya kira Sukra segera dipersiapkan dengan pembekalan yang memadai untuk ukuran petugas sandi.”
Ki Rangga Agung Sedayu cepat mengangguk. “Ki Lurah Sanggabaya adalah orang tepat untuk pekerjaan itu.”
Orang-orang menarik napas lega karena memang seperti itulah yang lebih baik dilakukan. Mereka sepakat untuk satu keadaan pertama. Selanjutnya Agung Sedayu bertanya, “Adakah dua nama selanjutnya sudah hadir di sini atau kita menyaring para petugas sandi yang tersedia?”

