Dalam kesempatan yang sangat sempit itu, Ki Demang Brumbung merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya. Ada denyut halus di persendian, ada panas yang merambat dari dada ke lengan. Dia sadar bahwa sepenuhnya dia tergantung pada kecepatan Sukra atau keadaan lain yang tidak terpikirkannya. Yang pasti adalah waktu tidak berpihak padanya. Dia bukan Agung Sedayu yang bisa menjelajah perbukitan Menoreh dalam waktu singkat. Dia bukan Pandan Wangi yang tenaga cadangannya selalu mendahului sepasang pedangnya. Dia adalah orang Pegunungan Sewu yang setia belajar pada alam yang saat harus berdiri tegak, dan saat untuk bertahan. Lebih-lebih kesadarannya menggugah bahwa benturan itu tidak dapat dilepaskan dari pertimbangannya yang keliru.
“Belum,” desisnya dalam hati. “Sebaiknya Sukra tidak datang pada saat ini.”
Ki Sambak Kaliangkrik kembali menyerang, kali ini dengan rangkaian gerak yang lebih rapat. Tongkatnya menyambar dari kiri, kanan, dan bawah, memaksa Ki Demang Brumbung memutar tubuh, berjumpalitan di udara demi mengurangi tekanan lawan. Keris berlekuk lima beradu berkali-kali, menciptakan getaran yang merambat hingga ke tulang lengan.
Beberapa kali, Ki Demang Brumbung nyaris terlambat menutup celah. Dia menebusnya lepasan tenaga cadangan sehingga membuat udara berdesing keras. Rambut dan pakaian dari dua orang itu mengalir liar.
“Dia benar-benar berniat mati di sini,” gumam salah seorang anak buah Ki Sambak.
Ki Sambak Kaliangkrik menyipitkan mata. Muncul pertanyaan yang meragukan dalam dirinya, orang ini, mengapa berubah menjadi lebih lemah?
Ada kebenaran pada jalan pikiran Ki Sambak Kaliangkrik. Tata gerak Ki Demang Brumbung makin mudah ditebak arahnya. Lawannya itu tetap kuat Manahan gempuran atau membalas serangan, tapi kecepatan? Apakah musuhnya tersebut sedang berlindung di bawah ketiak keberuntungan?
Keyakinan Ki Sambak Kaliangkrik membuncah hebat. “Baiklah,” pikirnya, “hanya menunggu waktu saja.”
Namun pada saat itulah, sebuah siulan panjang yang terputus dua kali memecah udara malam.
Nada siulan yang khas.
Ki Sambak Kaliangkrik terkejut. Anak-anak buahnya saling berpandangan. Mereka mengenalinya. Itu adalah siulan pengawal Tanah Perdikan.
Belum sempat mereka bergerak, bayangan melesat dari balik semak. Seorang pemuda bertubuh ramping mendarat ringan di atas tanah, membawa tombak pendek di punggungnya. Wajahnya keras, matanya menyala penuh tekad.
“Sukra,” gumam Ki Demang Brumbung, hampir tak terdengar.
Pemuda itu tidak langsung menyerang. Dia berdiri setapak di samping Ki Demang Brumbung. “Apakah aku masih punya kesempatan, Ki Demang?”
Sukra maju selangkah dengan dada tegak tapi bukan tantangan. Katanya, “Aku pun dapat melihat perkelahian lalu bertepuk tangan.”
Ucapan itu membuat beberapa anak buah Ki Sambak tersinggung tapi mereka sadar tidak boleh lepas kendali.
Ki Sambak Kaliangkrik tertawa pendek. “Satu lagi datang untuk mati?”
Sukra menoleh, sorot matanya dingin. “Tidak. Aku datang untuk mengulang perkelahian. Kamu ingat?” Tanpa melihat Ki Demang Brumbung, Sukra melesat. Tata geraknya sudah jauh berbeda! Sentuhan Ki Patih Mandaraka dan Nyi Banyak Patra segera mencuat melapisi dirinya. Pematangan wawasan dari Agung Sedayu turut memberi warna yang mengejutkan pengikut Raden Atmandaru di sekitar gelanggang. Sukra seakan bergerak secepat serangga yang melompat dari satu titik ke titik lain. Tombak pendeknya berputar, menyasar kaki dan bahu lawan! Dia langsung mengikat lebih dari dua orang dalam satu pertarungan!
Kehadiran Sukra mengubah irama gelanggang.
Ki Sambak Kaliangkrik menyebut nama sebuah gelar perang. Dia tidak ingin ada kesalahan meski seujung kuku hitam.
Waktu yang sangat singkat itu sedikit memulihkan keadaan Ki Demang Brumbung. Dia melabrak maju dengan gaya serang yang sedikit berbeda – lebih terukur dengan sifat mengunci ruang gerak. Itu benar-benar mengacaukan Ki Sambak Kaliangrik yang terlebih dulu mengangaap terjadi pengulangan.
Sebentar kemudian, dua anggota pasukan khusus tiba di gelanggang. Kekacauan semakin menghebat! Meski hanya dua orang tapi mereka pernah berlatih langsung di bawah pengawasan Agung Sedayu! Maka pertempuran pun terasa seperti berlangsung di bawah hujan tombak bagi anak buah Ki Sambak Kaliangkrik.
Angin yang terdorong dari lontaran tenaga cadangan berhamburan liar. Tapi mereka semua adalah orang-orang terlatih dari kelompok masing-masing, maka sejauh itu belum ada ketimpangan neraca pertempuran.
Ki Sambak Kaliangkrik menggeram. Dia tahu akan ada kerugian jika tetap bertempur di situ. Dua orang datang dengan pakaian yang tersemat tanda keprajuritan, itu artinya kemungkinan ada kelompok lebih besar di sekitar mereka. Ki Sambak menimbang kemungkinan bahwa pasukannya dapat terjebak lalu habis!
Tanpa ragu, Ki Sambak Kaliangkrik melompat mundur, melepaskan ikatan pertempuran dari anak buahnya lalu membuka jalan. Begitu cepat perubahan terjadi! Tiba-tiba mereka menghilang di balik kegelapan.
Sukra hendak mengejar, tetapi Ki Demang Brumbung mengangkat tangan. “Tidak perlu,” katanya pelan namun tegas. “Biarkan mereka pergi.”
Sukra menahan langkah, napasnya memburu. “Selalu begitu!” geram Sukra sambil membanting kaki.
Malam kembali menyelimuti medan yang porak-poranda.
Di beberapa tempat, malam menyimpan banyak berita yang tidak diketahui Ki Demang Brumbung dan Sukra. Bersama dua pasukan khusus, mereka mengarahkan langkah ke sekitar embung.
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
4 Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Malam Berlapis Di Tanah Perdikan
Pandan Wangi langsung menghujani pendatang gelap itu dengan serangan yang sangat ketat dan tajam. Tak perlu lagi bicara tentang keberanian atau rasa gentar, Pandan Wangi sudah melupakan itu semua.
“Ternyata tak terlalu mengecewakan,” ucap Ki Manikmaya dalam hati. Meski sempat kesulitan membendung gebrakan demi gebrakan Pandan Wangi, Ki Manikmaya dapat pula mengurangi tekanan lawannya yang bertarung dengan penuh perhitungan.
Pandan Wangi terus meningkatkan tataran ilmunya melalui sepasang pedang yang membuatnya seperti seekor elang yang sedang mengepak-ngepakkan sayap. Angin yang keluar dari sambaran pedangnya membuat kening Ki Manikmaya berkerut karena terasa begitu tajam hingga nyaris merobek ujung kainnya.
Dalam penglihatan Ki Manikmaya, Pandan Wangi seakan telah berubah menjadi siluman burung hantu dengan kepak sayap yang menebar maut jauh melebihi orang-orang di perguruannya sendiri. Setiap kepakan pedang rangkap Pandan Wangi bukan lagi sekadar sekedar serangan yang mematikan, melainkan benteng pertahanan yang menyimpan bahaya dengan banyaknya senjata rahasia.
Kini terbukalah mata Ki Manikmaya bahwa Tanah Perdikan Menoreh memang seperti yang dikatakan banyak orang ; tampak tenang di permukaan dengan kehidupan yang damai dan cenderung terkesan lemah, tapi menyimpan pusaran tenaga yang sanggup menghancurkan sebongkah batu sebesar kerbau!
“Luar biasa. Aku sulit membandingkan kemampuan perempuan ini dengan Nyi Banyak Patra. Apakah mereka seimbang atau bagaimana?” batin Ki Manikmaya bertanya-tanya sambil mengingat perempuan senja yang menghalaunya dari Kepatihan.
Demikian pula dengan Pandan Wangi yang kemudian memuji ketangguhan lawannya. “Dia tidak bersenjata dan sejauh ini masih mampu menjaga keseimbangan,” ucap Pandan Wangi dalam hatinya. Maka putri Ki Gede Menoreh itu pun semakin waspada dengan kemungkinan kejutan-kejutan yang dapat terjadi kemudian.
Gelanggang pertarungan mereka bergeser sedikit demi sedikit ke arah kediaman Ki Gede Menoreh. Mereka tidak lagi berkelahi di tanah yang sedikit lapang dengan pepohonan rindang sebagai pembatas, tapi di tanah berlumpur. Tentu saja pergeseran tersebut mendatangkan kesulitan tersendiri bagi dua orang berilmu tinggi itu. Lumpur dan air serta kedalaman permukaannya mungkin akan mengurangi kelincahan masing-masing. Yah, alam tidak pernah memilih kawan atau lawan.
Ki Manikmaya melompat surut tiga langkah kemudian lincah berloncatan menyamping ke kiri dan kanan. Dia sedang mengulur waktu saat tidak melihat adanya keributan atau api yang membakar rumah Ki Gede Menoreh.
Perubahan yang dilakukan Ki Manikmaya membuat Pandan Wangi menebak-nebak. Walau sebenarnya tidak ingin mengurangi tekanan, tapi terpaksalah dia harus membuat jarak dari musuhnya. “Sepertinya kau sedang menunggu sesuatu terjadi di rumahku. Aku dapat melihat bahwa kau ini sedang gelisah atau menunggu sesuatu tapi tak juga terjadi sesuai harapanmu,” kata lantang Pandan Wangi.
“Oh, rupanya engkau inilah yang bernama Pandan Wangi,” sahut Ki Manikmaya.
“Oh, seperti itulah yang terjadi,” ucap Pandan Wangi.
Untuk sejenak, mereka menghentikan perkelahian.
“Apa maksudmu?”
“Kau tidak memperlihatan ketenangan dan sepertinya mulai enggan bertarung denganku. Ki Sanak, tidak ada lagi jalan untuk berbalik arah!” Pandan Wangi menutup ucapannya dengan serangan yang masih terjaga kedahsyatannya. Putri Ki Gede Menoreh ini hampir mencapai puncak kewajaran. Dengan gerakan yang lincah namun penuh wibawa, gulungan pedang Pandan Wangi terus mendesak Ki Manikmaya. Sekali-kali tampak mengurung laki-laki tua yang pernah membantu Ki Panji Secamerti dalam upaya pembunuhan Ki Patih Mandaraka itu. Pandan Wangi tidak memberi kesempatan lawan untuk mundur atau mengulur waktu lagi. Lesatan tubuh Pandan Wangi tampak seringan kapas dengan serangan yang seberat gunung. Dalam satu arus serangan beruntun, pedang rangkapnya mematuk-matuk mengincar jantung Ki Manikmaya.
Udara di sekitar mereka bergetar menyaksikan tarian maut Pandan Wangi yang mengiris hati.
Penjagaan di sisi hutan yang berada di belakang kediaman Ki Gede Menoreh ternyata tidak terjangkau oleh siasat penasehat Raden Atmandaru. Ki Manikmaya akhirnya sadar bahwa dia tidak dapat berharap pada mulusnya rencana Raden Atmandaru. Barangkali Ki Sambak Kaliangkrik gagal menembus pedukuhan induk karena suatu sebab atau ada orang hebat yang berada di dalam rumah Ki Gede Menoreh. Siapa tahu? Ki Astaman sudah jelas bertemu dengan lawan yang sepadan Dia sendiri juga terhalang oleh Pandan Wangi. Dia juga dapat menduga bahwa Raden Atmandaru pasti menyusulkan kelompok lain di belakangnya.
Tidak ada pilihan selain bertarung habis-habisan atau tiba-tiba ada jalan keluar yang terbuka lebar!
Sepasang lengan dan kaki Ki Manikmaya pun berubah menjadi ujian sesungguhnya bagi Pandan Wangi. Meski bertangan kosong, lengan dan kepalan Ki Manikmaya menyimpan ketajaman yang tak kalah dengan pedang rangkap Pandan Wangi. Bahkan pada waktu itu, Ki Manikmaya sekali-kali dapat membalik serangan! Pukulan dan tendangannya meliuk-liuk di sela-sela pertahanan lawan.
Tenaga cadangan yang terungkap perlahan-lahan menanjak menuju puncak!
Lumpur dan sisa-sisa jerami beterbangan, terhempas oleh kekuatan dari hamburan liar tenaga cadangan yang tak mencapai sasaran.
