Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 122 – Bentrokan SIngkat Pasukan Berkuda

Regu pembunuh pilihan itu tak gugup dengan serbuan kilat pasukan khusus Mataram! Bahkan mereka menunjukkan ketenangan serta kematangan sebagai petarung yang teruji dalam berbagai medan sulit. Mesin pembunuh ini tidak cepat terdesak oleh keadaan yang sangat kacau, mereka justru bergerak dengan efisiensi tinggi, menggunakan batang-batang pohon sebagai pelindung sekaligus tumpuan untuk melontarkan serangan balasan yang mematikan. Mereka bertarung dalam ruang yang sempit dengan ketenangan yang luar biasa, mengubah setiap rintangan alam menjadi tekanan yang mematikan.

Pertarungan seru tapi berlangsung dalam keheningan. Tidak ada pekik perang atau umpatan kasar. Mereka semua, baik kelompok pembunuh maupun pasukan khusus, sepertinya berada pada tingkat kemampuan yang seimbang. Pertempuran berlangsung dalam kematangan dan ketenangan yang menghanyutkan!

Dalam kemelut yang tidak beraturan itu, pepohonan dan tanaman perdu menjadi saksi bisu ketika dua pihak saling menguji ketahanan dan kecerdikan. Kelompok pembunuh ini tidak sedikit pun memperlihatkan kerapuhan; setiap gerakan mereka terukur, menanggapi setiap ancaman dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh petarung yang kenyang dengan pengalaman tempur. Dari segi pasukan khusus, tata gerak mereka sama sekali tidak mengesankan banyak kekurangan. Sesekali terjadi benturan antar pribadi tapi begitu cepat seseorang menghilang lalu muncul di bagian lain.

Sisi utara kini benar-benar telah berubah menjadi kancah pertempuran yang membingungkan! Tidak ada kejelasan antara kawan dan lawan. Mereka hanya dapat mengenali tanda dari nada suara yang berbeda. Mungkin dapat dikatakan bahwa setiap orang saling memburu di balik bayang-bayang batang pohon yang membisu.

Laga Dingin di Depan Dusun Benda

Ki Lurah Sora Sareh tiba ketika jejak itu telah dingin. Malam mungkin sudah melewati bagian pertengahan. Setelah menempuh lorong panjang di samping bulak pendek, satuan berkuda dari barak pasukan khusus Menoreh berhenti di tepi jalur sempit yang membelah rimbun hutan kecil yang mengitari pategalan kecil di utara Dusun Benda. Ki Lurah Sora Sareh lantas menurunkan telapak tangan ke tanah yang masih menyimpan bekas tapak kuda. Tidak banyak, tidak jelas, tapi cukup untuk memastikan satu hal yang membuat rahangnya mengeras.

“Mereka lewat di sini,” gumamnya. Dia memandang sekitar lalu mengarah pada pasukan khusus yang menyertainya. “Mereka sekarang menuju Dusun Benda. Mungkin hampir masuk wilayah dusun,” ucapnya sedikit kecewa. Para prajurit dari pasukan khusus masih berdiri tenang. Mereka tidak bertanya karena sudah menduga sasaran utama telah melalui jalur tersebut.

Terlambat, pikir Ki Lurah Sora Sareh menyimpulkan keadaan. Dia mengangkat tangan, memberi isyarat agar pasukannya menyebar. Menurut perkiraan Agung Sedayu dan berdasarkan keadaan medan, jalur sempit itu memungkinkan pasukan berkuda untuk menyerbu Dusun Benda tanpa terpantau peronda. Maka pasukan Ki Lurah Sora Sareh akan menunggu yang terjadi berikutnya di depan mata, tepat di jalur itu.

Malam memang selalu membawa rahasia yang enggan dikabarkan.

Dua obor dinyalakan lantas ditempatkan di samping kiri dan kanan jalur tersebut.

Prajurit Mataram yang datang dari barak pasukan khusus itu menunggu agak lama hingga terdengar derap kuda dari balik rimbun hutan. Mereka sigap melompat ke atas kuda masing-masing lalu siaga penuh menghadap perintah Ki Lurah Sora Sareh.

Satu atau lima, tapi sekelompok penunggang kuda  – mungkin tak lebih dari dua puluh orang – muncul dari balik kabut dengan susunan yang kacau. Sikap dan raut wajah mereka memperlihatkan ketenangan bercampur gelisah.

Dari balik baris pepohonan,  Ki Lurah Sora Sareh keluar menghadang rombongan berkuda itu.

Tapi sepertinya memang tidak akan ada ruang untuk bicara,

Penunggang yang berada paling depan terus merangsek maju!

“Sekarang!” seru Ki Lurah Sora Sareh.

Benturan pecah.

Pertarungan terjadi tanpa aba-aba panjang. Tanpa pembicaraan dan saling mengenalkan diri. Ki Lurah Sora Sareh mudah menduga ; jika mereka adalah rombongan pedagang, tentu akan turun lalu bertukar kata dengannya. Jika tidak seperti itu, siapa lagi? Pasukan Ki Lurah Sora Sareh bergerak rapat, saling menutup, tanpa gentar meski yang dihadapi pasti menyulitkan. Sekelompok orang bersenjata dan kuda-kuda yang bertenaga hebat adalahpaduan yang mematikan, tapi gelar perang yang rumit segera menghadang di bawah aba-aba Ki Lurah Sora Sareh. Setiap langkah mereka terukur, mengalirkan kedudukan pasukan terus menerus berubah menjaga keseimbangan pertarungan. Pergerakan pasukan khusus Menoreh tersebut benar-benar tenang seperti aliran sungai di pedalaman.

Ki Jambuwok, orang yang dipilih Raden Atmandaru sebagai penyanggah Ki Ramapati, ternyata gagal membuat kejutan! Ki Jambuwok tak cukup cakap memimpin barisannya untuk membongkar kepungan anak buah Ki Lurah Sora Sareh.

Mendasarkan pada keyakinan orang per orang yang berada di bawah kendalinya, Ki Jambuwok melompat turun lalu menyerang Ki Sora Sareh- yang diperintahkan khusus oleh Agung Sedayu sebagai jangkar sekaligus perusak pada jalur yang paling mungkin dilalui pasukan berkuda yang dikirim Raden Atmandaru.

Mungkin semrawut atau berantakan. Mungkin kisruh atau kekacauan. Atau mungkin semuanya itu gagal benturan yang sangat keras itu!

Namun ketenangan Ki Lurah Sora Sareh dapat menuntunnya membaca arah benturan. Dia tidak keberatan mengikuti kemauan Ki Jambuwok. Lurah Mataram tersebut gesit melompat turun dari kuda lalu menyambut serangan lawan dengan pertahanan yang kokoh.

Beberapa lingkaran perkelahian sudah terbentuk. Pasukan khusus Mataram membagi diri menjadi beberapa kelompok untuk memisahkan para penunggang kuda yang sangat kacau dalam perkelahian itu. Anak buah Ki Sora Sareh tampak sangat terampil memainkan gelar saat menjauhkan lawan satu per satu. Maka, dengan cara itu, kekuatan pasukan Ki Jambuwok tidak lagi mempunyai arti.

Kuda Ki Jambuwok yang tidak terkendali segera diambil alih oleh salah seorang anak buah Ki Sora Sareh. Prajurit itu sangat tangkas mengendalikan dua ekor kuda sambil tetap menyambar lawan yang telah terkurung satu demi satu seperti pemburu memungut mangsa yang terjebak. Seekor kuda lain yang sebelumnya ditunggangi Ki Lurah Sora Sareh juga telah berganti pengendali.

Awal mula ketegangan pertempuran meningkat sangat cepat, tapi dua ekor kuda yang dikendalikan pasukan khusus, dengan cara hebat, mampu menurunkan tekanan.  Mereka mendesak lawan. Beberapa tumbang. Sebagian terluka.

Namun itu belum usai.

Di atas permukaan tanah yang tidak rata, Ki Jambuwok memperlihatkan kekuatan sesungguhnya. Raden Atmandaru tidak salah dengan menjadikannya sebagai kekuatan penopang, tapi perang selalu dapat memilih jalan untuk berkembang dengan caranya sendiri.

Di sebelah utara Dusun Benda, ketinggian ilmu Ki Jambuwok mendapatkan ujian yang sangat berarti. Orang ini datang ke Tanah Perdikan dengan kepentingan dan tujuan yang berbeda dengan Raden Atmandaru. Maka menemui keadaan yang sedikit rumit itu pun seperti sedang memberinya tantangan baru. Gelanggang perkelahian Ki Jambuwok pun cepat beralih menjadi pertarungan yang tidak seimbang. Tapi dia tidak keberatan. Baginya, berada di tengah kepungan penunggang kuda yang tangguh seolah menjadi penawar dahaga. Dia sudah membuat kesimpulan bahwa kekalahannya bukanlah kekalahan Raden Atmandaru. Kemenangannya pun tidak akan dapat menjadi milik pemimpin pemberontakan itu.

Nyatalah kemudian dalam penilaian Ki Lurah Sora Sareh. Setiap geliat Ki Jambuwok adalah maut bagi anak buahnya. Putaran tongkat baja yang mirip dengan milik Sekar Mirah itu hampir selalu dapat menjatuhkan korban. Dua ekor kuda telah tumbang. Sebagian pasukannya terpental. Namun begitu, mereka gigih berjuang.

Tidak ada benda yang tidak mempunyai batasan. Ki Jambuwok pun kehabisan tenaga menghadapi belasan kuda-kuda perang yang dipimpin secara ketat oleh senapati pilihan. Luka-luka mengalirkan darah. Tusukan demi tusukan diterimanya dengan terpaksa. Tubuhnya tergilas remuk di bawah derap kaki banyak kuda.

“Berhenti!” perintah Ki Lurah Sora Sareh pada anak buahnya dengan tatap mata menatap tajam Ki Jambuwok. “Aku tidak mungkin membiarkanmu dicincang sampai habis.”

“Berikan tongkat ini pada Sekar Mirah,” ucap lirih Ki Jambuwok kemudian terkulai.

Ki Sora Sareh menerima uluran tongkat itu tatap mata bertanya, tapi dia akan memenuhi permintaan terakhir lawan yang tak pernah tahu namanya itu.

Setelah memerintahkan anak buahnya merawat yang terluka dan menghormati yang tiada, baik kawan maupun lawan, Ki Lurah Sora Sareh memandang jalur menuju Dusun Benda. Sedang terjadi apakah di sana? Semoga segalanya tetap baik-baik saja, harapnya.

“Apakah kita bergerak ke sana, Ki Lurah?” tanya seorang prajurit pada Ki Sora Sareh.

Ki Lurah Sora Sareh menggeleng lalu memandang wajah anak buahnya itu. “Aku tahu kau mencemaskan barak pasukan khusus yang tepat berada di jalur yang menghubungkan Dusun Benda dan pedukuhan induk. Tapi Ki Rangga memerintahkan kita tetap berada di sini dengan segala perkembangan yang terjadi di Dusun Benda serta pedukuhan induk.” Kemudian lurah prajurit ini memelankan suaranya, “Baik atau buruk, kita tetap di sini.”

Ki Sora Sareh memberi isyarat bergeser tempat. Tawanan dibawa. Jalur kembali sunyi, seolah tak pernah menjadi saksi bahwa satu celah telah terbuka—dan satu kesalahan telah dibayar sebagian.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 81 – Ketegasan Sekar Mirah

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 119 – Batas Tipis Takdir Glagah Putih

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 54 – Agung Sedayu Memimpin Satuan Tempur Pemukul

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.