Pada benturan-benturan berikutnya, kawanan penyerang Sekar Mirah mulai dapat mengembalikan keseimbangan. Benarlah yang diduga oleh Kyai Bagaswara bahwa sebagian kemampuan penyusup itu ada yang setara dengan pasukan khusus Mataram. Lima lelaki yang mengeroyok Sekar Mirah ternyata juga saling menguatkan satu sama lain dengan kerja sama yang sangat baik. Ketika seorang dari mereka tampak tertekan, maka dua orang lain datang membantu melepaskannya dari tekanan Sekar Mirah. Tapi sejauh itu, mereka terlihat belum dapat menyerang Sekar Mirah secara bersamaan. Bayi yang berada dalam gendongan Sekar Mirah pun sama sekali tidak mengesankan sedang menjadi beban murid Ki Sumangkar itu. Sekar Mirah tampak seperti burung hantu yang tanpa kesulitan menyambar-nyambar mangsa pada malam yang sangat gelap. Seolah-olah dia terlalu terlalu lincah dan gesit setiap kali menyerang maupun bertahan.
Namun demikian, sadar bahwa dirinya tidak dapat bertahan lebih lama jika bertarung pada tingkat yang semestinya, Sekar Mirah pun mengubah tata geraknya seketika. Sungguh tidak mudah mempertahankan keseimbangan saat lawan mulai mampu ikut mengendalikan irama pertarungan, tapi Sekar Mirah harus melakukan sesuatu demi keselamatan diri dan juga bayinya.
Tiba-tiba Sekar Mirah berhenti menyerang. Dia mematung di tengah lingkaran lalu menimang-nimang putrinya seolah-olah tidak orang di sekelilingnya.
Lima orang yang menjadi lawannya pun tercekat dan bingung dengan perubahan mendadak itu. Apakah wanita itu mendadak menjadi gila karena tekanan? Mereka bertanya tapi sadar bahwa wanita sangar itu tidak akan mudah hancur dengan serangan mereka. Sejenak kemudian, salah seorang dari mereka memberi aba-aba agar bergerak memutari Sekar Mirah. Maka perlahan-lahan mereka menggeser langkah dengan Sekar Mirah sebagai pusat lingkaran.
Sekar Mirah tidak sepenuhnya berdiam diri dan membeku. Sebenarnyalah dia sedang mengukur waktu yang dibutuhkan pengawal mencapai sudut belakang halaman dengan dirinya. Ketika senjata salah satu penyusup mengarah pada bagian atas tubuhnya, Sekar Mirah sama sekali tidak berusaha menangkis seperti yang dilakukan sebelumnya. Sekar Mirah menghindar dengan menggeser kaki memutar. Gerak kaki Sekar Mirah benar-benar mengagumkan! Sekalipun telapak kakinya masih menempel tanah tapi pergeseran langkah menjadi sesuatu yang membingungkan para pengeroyoknya.
Dalam usahanya untuk mengamankan diri dan juga putrinya, Sekar Mirah belum menampakkan kesan bahwa dia akan membalas serangan. Meski begitu, lima pengeroyoknya cukup berhati-hati dan tidak lagi menganggap ringan setiap gerakan perempuan itu.
Saat mendapatkan waktu yang tepat, Sekar Mirah tiba-tiba menyerang seorang musuh yang berjarak sekitar tiga atau empat langkah darinya. Itu sesuatu yang janggal karena seharusnya dia menyerang lawan di samping kanan yang berjarak kurang dari dua langkah saja! Setelah lelaki itu dapat menangkis serangan kilatnya, Sekar Mirah cepat beralih ke musuh yang lain. Seakan-akan sedang terbang karena kakinya nyaris tidak terlihat bersentuhan dengan permukaan tanah, Sekar Mirah menyambar lambung lawan.
Kejutan kembali terjadi!
Ternyata Sekar Mirah tidak menuntaskan serangannya. Dia justru mengubah arah menuju bagian tanah yang memiliki banyak lubang. Sekar Mirah tiba-tiba berhenti lagi, menunggu kedatangan lima lawannya dengan sikap yang sangat merendahkan harga diri laki-laki!

Namun demikian. belum ada satu orang pun dari para pengeroyok Sekar Mirah yang terpancing. Mereka sepertinya sedang menyadari sesuatu yang tersembunyi dari pergerakan terakhir perempuan yang dijadikan mangsa. Dua orang betapa sepanjang lengan mereka terasa panas dan pedih akibat benturan senjata dengan Sekar Mirah. Apakah tenaga cadangan perempuan itu sudah sedemikian tinggi? Oleh karenanya, dua orang itu memberi tanda agar mereka lebih waspada terhadap buruan mereka.
“Apakah kalian adalah lima orang dari sekumpulan pengecut? Yang hanya berani berkelahi keroyokan saja? Tapi aku tidak mempersoalkan itu. Kalian datang berlima atau satu demi satu bergiliran, itu semua sama saja,” seru Sekar Mirah lalu senyum yang berkesan meremehkan pun berkembang di bibirnya.
Lima lawan Sekar Mirah saling berpandangan. Amarah mereka sebenarnya sudah menyala, tapi untuk menghadapi Sekar Mirah? Tetap saja harus butuh pertimbangan lebih, menurut mereka.
Saat pandangannya bertumbuk pada batang pohon kering yang dibiarkan tergeletak sebagai bagian dari hiasan halaman, Sekar Mirah berjalan tenang lalu duduk di atasnya. Lagi-lagi pandangan menghina terpancar kuat dari murid Ki Sumangkar itu.
“Bangs*t!” umpat kasar salah satu lawan Sekar Mirah. Dia berlari dengan langkah pendek, menerkam Sekar Mirah dengan senjata terayun kuat. Sekar Mirah menghindar tapi laki-laki itu terus memburunya.
Sekar Mirah mulai bekerja untuk menyelesaikan rencana dengan menggeser langkah mendekati sebuah lubang. Sebuah serangan balasan seolah akan dilepaskannya dari sebelah kanan lambung lawan, laki-laki itu terpancing. Lalu dengan mudah, Sekar Mirah mengubah sasaran,menghantam dari bagian depan. Orang itu menghindar lagi, tapi Sekar Mirah cepat memburunya dengan perubahan tata gerak yang luar biasa hebat. Lawan Sekar Mirah masih dapat menjauh tapi murid Ki Sumangkar itu menutup serangan dengan tebasan tongkat yang sudah tidak mungkin dapat dihindari lagi! Orang itu terpaksa menyilangkan pedang di depan dada, menerima serangan yang dilambari tenaga raksasa. Dia terjengkang lalu jatuh tepat ke dalam lubang!
Sekar Mirah cepat memutar tubuh, menghadap empat orang yang tersisa lalu bertanya, “Ada lagi?”
Tanpa menunggu aba-aba atau ajakan dari sesama kawan, empat orang itu melabrak Sekar Mirah bersama-sama. Mereka mengepung Sekar Mirah dari empat penjuru. Ketika Sekar Mirah menghindar dari satu sisi serangan, maka tiga orang lain cepat memburunya.
Pertarungan meningkat tegang dan berkembang lebih sengit. Pertarungan yang tidak seimbang dari segi jumlah itu kemudian menarik perhatian Bunija yang sudah menguasai keadaan sepenuhnya. Bunija cukup percaya diri ketika membagi kelompoknya agar sebagian mendekati lingkar perkelahian Sekar Mirah. Dia tahu Sekar Mirah tidak membutuhkan bantuan tapi Bunija punya alasan yang dapat menguatkan keputusannya.
Apabila uluran tangan Bunija terjadi dalam keadaan wajar, tentu Sekar Mirah akan merasa tersinggung. Tapi keadaan memang tidak wajar, bagaimana Bunija dan pengawal lainnya dapat membiarkan Sekar Mirah dikeroyok lima orang padahal dia baru saja melewati masa sulit yang nyawanya jadi taruhan? Maka Sekar Mirah pun tidak melarang satuan Bunija datang membantu, dan juga tak perlu merasa cemas karena mereka pasti sudah mempunyai perhitungan. Satuan Bunija juga tidak dapat dipandang enteng karena di dalamnya terdapat cantrik Perguruan Orang Bercambuk, serta sejumlah kecil prajurit muda Mataram atas perintah Pangeran Selarong.
Delapan orang yang seluruhnya adalah cantrik Perguruan Orang Bercambuk segera masuk dalam gelanggang perkelahian Sekar Mirah menyerbu empat pengeroyok. Mereka cekatan membagi diri dan tugas tanpa pilih-pilih lawan. Anak-anak muda itu sadar bahwa tugas mereka sesungguhnya adalah sebagai pengalih perhatian dan juga pelapis pertahanan Sekar Mirah. Oleh sebab itu, Bunija memecah kelompoknya menjadi dua.
Tampaknya Ki Widura, yang menjadi pengganti Kyai Gringsing, belum dapat meninggalkan dasar-dasar keprajuritan. Bisa jadi, ada waktu luang bagi Ki Widura untuk mengajarkan sebagian kecil dasar keprajuritan pada cantrik-cantrik Perguruan Orang Bercambuk. Oleh sebab itu, delapan anak muda itu begitu cepat menyesuaikan diri dengan perintah-perintah Bunija.
Babak baru pun tiba.
Kesulitan demi kesulitan pada akhirnya menghadang tujuan Ki Garjita dan kawan-kawan. Ledakan cambuk silih berganti merusak perhatian setiap orang yang menjadi musuh Sekar Mirah. Delapan anak muda itu berkelahi dengan kegarangan yang tak kalah hebat dengan harimau yang mempertahankan wilayah.

