Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 88 – Langkah Sunyi Menuju Jagaprayan

Daun-daun dan rerumputan bergetar seiring dengan perasaan Sekar Mirah. Perempuan tangguh ini sadar semakin lama dia menahan Agung Sedayu dengan pembicaraan terkait Kinasih, dia tidak akan sanggup menjaga keseimbangan. Pancaran jiwani Agung Sedayu pasti semakin kuat mendekapnya dalam pesona. Sekar Mirah paham bahwa dia tidak dapat membenci Agung Sedayu. Murid Ki Sumangkar ini sudah melewati masa sulit ketika menjadi saksi perang tanding di Pancuran Watu Item. Seandainya Agung Sedayu tidak menahan diri, bukankah Swandaru pasti tewas pada saat itu? Peristiwa itu pula yang salah satu sebab kepercayaannya pada Agung Sedayu semakin dalam. Lalu, pantaskah dirinya membiarkan rasa cinta berkembang menjadi tanpa arah lalu muncul keinginan untuk menahan Agung Sedayu selamanya di Sangkal Putung, sedangkan dia tahu hal itu tidak akan dapat dilakukannya.

“Apakah seperti itu juga perasaan murid Nyi Banyak Patra pada kakang Sedayu,” Sekar Mirah bertanya dalam hati pada dirinya sendiri.

Pada waktu itu, Agung Sedayu mengekang lompatan-lompatan pikirannya yang mulai mendesak untuk segera pergi ke Jagaprayan dan tempat lain. Dia tidak akan meninggalkan rumah kecuali Sekar Mirah mengatakan terlebih dulu.

Matahari makin bergeser ke arah barat. Punggung Merapi belum tampak gelap walau matahari berangsur-angsur berguling. Asap tipis di puncak Merapi pelan berhamburan ketika angin datang menyembur tanpa tekanan.

Sekar Mirah masih lekat memandang wajah Agung Sedayu. Tidak begitu menarik tapi pancaran pesonanya memang luar biasa, pikir Sekar Mirah. Dia bersungguh-sungguh dengan pendapatnya itu. Sejenak kemudian, Sekar Mirah pun tiba pada persimpangan untuk segera membuat keputusan. Dia tahu bahwa Agung Sedayu tidak akan meminta izin keluar dari pembicaraan walau mereka berada di tempat itu semalaman, kecuali ada hal-hal yang membahayakan. Sekar Mirah tahu karena suaminya sangat menghargai dirinya.

“Beberapa orang tentu mengharap kehadiran Kakang pada saat ini. Persoalan yang berkembang di sekitar mereka juga membutuhkan perhatian Kakang,” ucap Sekar Mirah kemudian.

“Aku belum depat meninggalkan kalian berdua sebelum benar-benar merasa lega,” kata Agung Sedayu.

Sekar Mirah bangkit, berjalan pelan menghampiri Agung Sedayu, meraih lengan lalu erat memeluk suaminya. “Pergilah, temui mereka, selesaikan setiap hal dengan sepenuh ketenangan. Kami tetap menunggu masa bahagia selanjutnya.”

Kehidupan di hutan-hutan yang terhampar di lereng Merapi seolah menawarkan rasa damai dan tenang. Ada kesulitan dan kesengsaraan di sana tapi semuanya mengalir serasi dalam paduan hijau tanaman dan gemericik aliran sunga. Setiap kekacauan tiba-tiba lebur dengan kelembutan angin dan udara yang sejuk. Betapa pun kemrungsungnya hati Sekar Mirah, kesederhanaan Agung Sedayu tetaplah menjadi lereng yang menenangkannya.

Agung Sedayu menatap lekat wajah istrinya dengan satu tekad bahwa dia akan kembali pada mereka, selamanya.

Sejurus kemudian, Agung Sedayu berjalan kaki menuju Pedukuhan Jagaprayan  bersama seorang pengawal. Dalam perjalanan itu, Agung Sedayu menempuh jalur yang melintasi tempat Swandaru menjadi tahanan rumah. Ada beberapa hal yang dirasa perlu untuk dilakukan selain mengamati bagian dalam dan lingkungan sekitar.

Ketika tiba di depan rumah itu, Agung Sedayu tidak segera masuk tapi bicara terlebih dulu dengan seorang penjaga di sana. Rumah tahanan itu tidak seperti tempat yang memang sengaja dibuat untuk menahan seseorang atau sejumlah orang. Bangunan itu tampak sewajarnya seperti rumah biasa. Yang membedakan dari rumah-rumah tetangga hanyalah satu atau dua orang pengawal yang bergiliran jaga untuk waktu tertentu. Mereka datang pedukuhan-pedukuhan yang berada di bawah naungan Kademangan Sangkal Putung. Dharmana yang mengatur segalanya di bawah pengarahan Pandan Wangi dan Pangeran Purbaya.

“Seperti itulah keseharian Ki Swandaru selama di tempat ini, Ki Rangga,” ucap penjaga itu ketika menjawab pertanyaan Agung Sedayu.

Benar, Agung Sedayu tidak melihat adanya tiang-tiang atau benda-benda yang sewajarnya terdapat pada sanggar terbuka. “Swandaru tidak berlatih selama berada di tempat ini,” ucap Agung Sedayu dalam hati. Lalu dia bergeser ke bagian dalam seorang diri. Setiap ruangan dijelajahinya dengan hati-hati disertai pandangan yang cukup jeli. Apakah Swandaru meninggalkan sesuatu yang terhubung dengan pikiran atau perasaannya? Dalam waktu itu, Agung Sedayu sepintas mengenang keadaan dirinya di dalam sebuah gua di Jati Anom. Tidak sama, pikirnya. Memang tidak sama karena Agung Sedayu mengasingkan diri dengan tujuan khusus hingga melihat gambar kanuragan jalur ilmu Ki Sadewa.

Tepat di bagian belakang rumah, Agung Sedayu berdiam diri seolah sedang berada di persimpangan. Tidak ada sesuatu yang aneh di rumah ini, pikirnya. Murid utama Kyai Gringsing itu kemudian mengingatkan dirinya pada masa lalu bahwa Swandaru adalah anak muda yang suka menantang bahaya dengan alasan-alasan tertentu. “Mungkinkah dia berusaha menggabungkan diri kembali ke barisan Raden Atmandaru?” tanya Agung Sedayu pada dirinya sendiri lalu dia menggeleng. Mustahil itu dilakukannya setelah menghabisi banyak pengikut Raden Atmandaru di Watu Sumping dan juga banjar pedukuhan.

Sejenak Agung Sedayu bermuram hati seakan dapat melihat wajah masa depan Swandaru yang suram. Itu hal yang buruk bagi Sekar Mirah dan putrinya. Menurut Agung Sedayu, keluarganya tak patut ikut menanggung derita akibat perbuatan Swandaru. “Perjalanan masih panjang dan pasti ada bagian jalan yang kelam,” katanya dalam hati. Maka dia menarik napas dalam-dalam menjauhkan pikiran menyalahkan keputusan Swandaru seandainya dia benar meninggalkan Mataram. Ke mana dia pergi? Agung Sedayu terus mengulan pertanyaan itu dalam pikirannya sambil berjalan keluar rumah dari pintu belakang. Sejenak dia menengadahkan mata ke awan tipis yang menggantung di sekeliling puncak Merapi. Apa yang dapat aku perbuat untuk menyelamatkannya? Agung Sedayu bertanya lagi di dalam ruang pikiran. Untuk sesaat dia bimbang  ; mana yang lebih utama, kitab Kyai Gringsing atau Swandaru?

Tentu saja dua pilihan itu tidak dapat dijawab dengan sembarangan. Keduanya terhubung erat dengan Kyai Gringsing Masing-masing mempunyai arti yang sangat penting bagi Agung Sedayu.

Setelah meninggalkan pesan pada penjaga bahwa hari berikutnya mereka sudah dibebaskan dari tugas jaga. Rumah akan diserahkan kembali pada pemiliknya dan juga tali asih sebagai penghargaan atas kesediaannya itu. Selanjutnya Agung Sedayu akan menyampaikan keputusannya pada Pangeran Selarong dan menyerahkan sepenuhnya pada para pemimpin di kotaraja.

Perjalanan Agung Sedayu dan pengiringnya berlanjut ke Pedukuhan Jagaprayan. Lagi-lagi, Agung Sedayu tidak mengambil jalan yang biasa dilalui orang. Pemimpin pasukan khusus itu memilih jalur yang membawa mereka lebih mendekati Watu Sumping. Beberapa ratus langkah kemudian, mereka tiba di ssisi luar tanah lapang yang sempat menjadi gelanggang perang.

Pengamatan singkat pun dilakukan Agung Sedayu dari tempatnya berdiri. Bekas-bekas pertempuran masih ada. Sejumlah orang tampak sedang berjaga-jaga. Mungkin itu adalah perintah Pangeran Selarong atau Sabungsari, Agung Sedayu berpikir seperti itu. Pada arah selatan Watu Sumping adalah lembah yang selalu basah yang sulit dilewati orang-orang berkemampuan biasa, maka penjagaan terlihat longgar di bagian sana. Agung Sedayu mengangguk-angguk ketika tidak melihat Pangeran Selarong atau Sabungsari di sekitar Watu Sumping.

“Marilah, kita ke Jagaprayan sekarang,” ajak Agung Sedayu kepada pengiringnya ketika puncak Merapi sudah menampakkan warna kemerahan.

“Saya, Ki Rangga,” sahut pengawal itu.

Ayunan kaki mereka berdua akan melewati hutan kecil dan bulak panjang yang di belakangnya terdapat selapis hutan tipis.

Agung Sedayu menebar pandangan. Kehidupan sudah berjalan semestinya di sepanjang perjalanan menuju tempat Pandan Wangi. Mereka berpapasan dengan petani dan pedagang serta sejumlah orang yang menunaikan kebutuhan harian. Sekali waktu, mereka melihat beberapa orang memasuki hutan untuk berburu. Agung Sedayu tersenyum dan cukup lega dengan pemandangan yang berlangsung dengan penuh semangat itu.

Sebuah lorong panjang diapit persawahan yang menguning menjadi jalan masuk menuju Pedukuhan Jagaprayan. Tapi itu bukan jalan utama ke pedukuhan. Agung Sedayu sedang tidak ingin menjadi perhatian apabila dia masuk dari jalur utama. Pada waktu itu, di ujung jalan tampak semburat jingga sinar matahari menjelang senja. Agung Sedayu dan pengiringnya rela untuk berhenti sejenak demi menikmati pemandangan yang sedemikian syahdu dan damai.

Sejauh mata memandang maka tidak tampak penjagaan sama sekali. Apakah Pandan Wangi sengaja meniadakan penjagaan atau sekedar mengendurkannya?

“Suasana yang sangat jauh dari keadaan sebelumnya,” ucap Agung Sedayu dalam hati. “Pemeriksaan dan penjagaan yang sangat ketat seolah-olah tidak pernah terjadi di pedukuhan ini.” Meski demikian, Agung Sedayu meyakini bahwa Pandan Wangi tetap siaga dengan cara yang telah disesuaikan dengan keadaan. Sebentar waktu pun berlalu ketika Agung Sedayu mengajak pengiringnya berjalan menuju Pandan Wangi berada.

Mereka berlambat-lambat saat mengayun langkah.

“Melihat pemandangan sekitar sini, apa yang kau pikirkan?,” tanya Agung Sedayu.

“Tidak ada, Ki Rangga. Bahkan hanya ada kekaguman saja pada Nyi Pandan Wangi, Ki Bekel dan seluruh orang Pedukuhan Jagaprayan,” jawab pengawal itu.

“Oh, begitukah? Mengapa justru kekaguman? Bukan hal lain seperti damai aatu ketenangan?”

Pengawal dari pedukuhan induk itu tersenyum. “Selama beberapa waktu, pedukuhan ini dicekam oleh keputusan hukuman mati dari Nyi Pandan Wangi. Lalu mereka bersiap untuk sebuah peperangan, sedangkan letak pedukuhan ini cukup jauh dari pedukuhan induk maupun Jati Anom. Saya bayangkan, seandainya pasukan lawan tiba-tiba menyerbu pedukuhan ini, apakah bala bantuan akan cepat datang? Jadi, saya pikir ya, sudah tentu Nyi Pandan Wangi dan bebahu pedukuhan lain telah merencanakan dengan masak.”

Agung Sedayu mengangguk. Pikirnya, pengawal ini mengutarakan pertanyaan yang benar. Bagaimana bila ada lawan yang bersembunyi di sekitar Jagaprayan lalu menyerang dengan sangat cepat? Baik Jati Anom maupun pedukuhan induk masih membutuhkan waktu lebih dari setengah hari mulai persiapan sampai mereka tiba di gelanggang perang. Senapati Mataram itu lantas manggut-manggut kemudian berkata, “Aku pikir Jagaprayan akan bertahan sekuat-kuatnya. Mereka sedang dipimpin oleh seseorang yang luar biasa untuk saat ini.”

“Benar, Ki Rangga. Ki Rangga benar dengan mengatakan apa adanya,” sahut pengiring tersebut.

“Tapi keadaan di sekitar kita seharusnya tidak setenang ini,” kata Agung Sedayu perlahan. Dia mempunyai pertimbangan tersendiri namun tidak perlu diungkapkan ke Pandan Wangi. Penjagaan pastilah menarik perhatian lawan atau akan menjadi pembicaraan orang-orang dari hari ke hari selama beberapa waktu. Jika Raden Atmandaru menempatkan petugas sandi baru di pedukuhan, itu jelas kekalahan awal Pandan Wangi. Menempatkan seluruh penjaga dalam susunan benteng pendem tentulah menjadi hal yang menyenangkan sebagai bahan tukar pikiran.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 69 – Pertarungan Maut : Amuk Swandaru

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 43 – Ketegasan Pandan Wangi Menggetarkan Pangeran Selarong

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 44 – Rasa Kagum Pangeran Selarong pada Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.