Bab 7 - Bara di Bukit Menoreh

Bara di Bukit Menoreh 90 -Kenangan yang Tertahan

Tidak ada kepastian dalam hidup ini selain segala sesuatu yang tidak pasti, pikir Agung Sedayu setelah mengurutkan kejadian demi kejadian. Ternyata menghadapi Raden Atmandaru terasalah kemudian bahwa mungkin seperti itulah yang dialami oleh gurunya pada masa lalu. Kyai Gringsing mengalami masa peralihan Demak ke Jipang, Jipang ke Pajang lalu Mataram. Mungkin keterlibatan Kyai Gringsing bahkan jauh lebih dalam dibandingkan dirinya yang dibatasi secara tidak langsung oleh Kepatihan. “Bagaimanapun, aku tidak dapat mengabikan keberadaan Ki Patih Mandaraka yang sudah seperti saudara atau teman dekat guru,” ucap Agung Sedayu dalam hati.

Dalam keremangan suasana jalan, Agung Sedayu sekali-kali bertegur sapa dengan para peronda atau orang-orang yang sedang berpapasan dengannya. Malam masih belum begitu larut saat pelita tampak menari-nari di dalam sebuah ruangan dari rumah Pandan Wangi.

Tiba-tiba Agung Sedayu tertegun, lalu tersenyum. Sesaat yang lalu, dia heran dan bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana Pandan Wangi sudah berada di beranda seolah-olah sedang menunggu seseorang? Kemudian teringatlah dirinya, bukankah dia memang sudah menunjukkan diri di depan para peronda? Lalu muncul pula perasaan aneh dalam hati, apakah dirinya sendiri yang sedang besar kepala? Namun demikian, sejujurnya, ada kerinduan yang membara tapi harus dapat diredam sekuat daya!

Ada sesuatu yang indah muncul dalam hatinya. Hubungan yang tidak mudah dilupakan meski masing-masing sudah terkait erat dengan bagian lain dari kehidupan. Seseorang tidak pernah mengenal orang lain hingga suatu keadaan muncul menjadi sebab, demikian pula Agung Sedayu dan Pandan Wangi. Mereka bukanlah orang yang terhubung dengan darah atau kepentingan pribadi yang disengaja. Mereka mengenal satu sama lain karena keadaan yang berkembang di Tanah Perdikan hingga turun setetes demi setetes air yang membasahi ladang hati masing-masing. Agung Sedayu pada waktu itu lebih banyak memandang wajah gurunya dibandingkan suara hati sendiri. Lagipula, siapakah dirinya hingga mempunyai keyakinan dapat bersanding dengan putri penguasa Tanah Perdikan Menoreh? Terkenang betapa dia turut terlibat pertempuran melawan kawanan Gandu Demung pada hari pernikahan Pandan Wangi dan Swandaru. Terbayang gambar-gambar bahwa mereka pernah bersama-sama terjun dalam pertempuran mendampingi mendiang Panembahan Senapati. Sekali lagi, itu adalah kenangan yang sangat mengesankan, begitu indah! Teringat keadaan itu dan segala yang terhubung, Agung Sedayu pun membesarkan hati bahwa setiap titik kehidupan memiliki alasan serta tujuan yang hanya diketahui oleh Yang Maha Sempurna.

Selangkah lagi, Agung Sedayu akan memasuki halaman rumah. Dia sadar bahwa dia harus segera menepikan kenangan yang sulit dihapuskan itu. Wajah Pandan Wangi kemudian jelas menatapnya dengan senyum yang menggambarkan suasana hatinya.

“Kakang,” sapa Pandan Wangi sambil berdiri menyambut Agung Sedayu pada  puncak tlundakan. “Selamat datang.”

Agung Sedayu mengangguk dengan senyum mengembang pula. “Wangi.”

Seorang penjaga kediaman –  yang turut mengawal Agung Sedayu sejak senapati Mataram itu masuk halaman – segera minta diri lalu kembali ke gardu jaga.

Agung Sedayu duduk di atas lincak, menghadap ke halaman di samping rumah. Sedangkan Pandan Wangi masih menghadap ke bagian depan atau jalanan.

“Akhirnya, keadaan sulit ini pun berlalu,” ucap Pandan Wangi setelah mengawali pertemuan dengan kata-kata saling bertukar kabar. Dia lalu diam barang sejenak. “Meski belum sepenuhnya dapat mengembalikan ketenangan, tapi roda kehidupan pedukuhan ini mulai dapat berjalan. Semoga segalanya dapat kembali lancar seperti semula.”

Agung Sedayu mengangguk sambil memandang wajah Pandan Wangi dari  samping. Sambil menghembus napas panjang, dia berkata, “Semoga selalu begitu. Demikianlah yang diharapkan oleh orang-orang.”

Pandan Wangi menangkap getar waspada dari sikap Agung Sedayu meski kata-katanya sama sekali tidak mengungkapkan hal itu. Dia sadar sebagian alam pikiran Agung Sedayu berada di tempat yang lain. Tempat itu adalah Tanah Perdikan Menoreh.

“Apakah Kakang berencana menyusul pasukan Ki Garu Wesi?” bertanya Pandan Wangi.

Agung Sedayu mengangguk, jawabnya,“Bagaimana menurutmu?”

Pandan Wangi mengernyitkan dahi. Setelah mengatur napas, putri Ki Gede Menoreh itu kemudian berkata,”Maksud saya, apakah Kakang bergerak malam ini atau ada pertimbangan lain sebelum mengejar mereka?”

“Ya,” kata Agung Sedayu. “Dengan alasan itu pula, aku datang ke sini untuk bertanya padamu.”

“Apakah saya juga akan bergeser ke Tanah Perdikan?” tanya Pandan Wangi dengan senyum mengembang. Senyum Pandan Wangi juga memiliki arti lain yang sulit diketahui orang. Dalam waktu itu, Pandan Wangi sudah mengira bahwa Agung Sedayu pasti akan menanyakan rencananya terkait pergerakan Ki Garu Wesi yang bergerak menuju tanah kelahirannya. Meski demikian, dia dan Agung  Sedayu pun tidak dapat berpindah tempat secara mendadak dengan segala alasan. Perempuan tangguh, yang dipercaya sebagai pemangku keamanan Pedukuhan Jagaprayan, itu sadar bahwa harus ada peralihan tanggung jawab sebelum kepergiannya ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Sepertinya kita harus bertemu dengan Pangeran Selarong untuk membicarakan beberapa hal penting,” kata Pandan Wangi kemudian.

Agung Sedayu mengangguk, lalu ucapnya, “Termasuk menjelaskan pula pada beliau tentang keputusanmu yang sempat mengguncang Mataram.”

Pandan Wangi menggerak-gerakkan kepala. Sebenarnya dia bukan bersikap enggan berhadapan dengan Pangeran Selarong, tapi dia juga tidak mengerti sebab keberatan yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Pandan Wangi menyandarkan punggung pada dinding bambu sambil memejamkan mata.

“Apakah kau mempunyai keberatan?” tanya Agung Sedayu dengan iringan tatap mata tajam. Tetapi tiba-tiba terbit muncul kekaguman saat memandang Pandan Wangi. Itu bukan pesona rembulan, pikir Agung Sedayu lalu cepat mengalihkan pandangannya ke punggung hitam Merapi di kejauhan.

“Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan pada Kakang,” kata Pandan Wangi.  “Sebenarnya permasalahan itu cukup sederhana. Saya ingin mengetahui sekaligus memisahkan antara mata-mata lawan dengan orang pedukuhan yang mendua. Saya mencurigai beberapa lelaki  sedang berdiri di atas dua sisi, tapi juga bertanya pada diri sendiri ; bukankah hal yang wajar jika seseorang menginginkan keamanan bagi keluarga atau harta bendanya? Artinya, setiap orang pasti menginginkan keamanan dan juga keselamatan terhadap semua yang dimiliki. Pilihan sulit pun muncul kemudian.”

Dalam waktu itu, Pandan Wangi seolah menemukan kembali ruang yang memberinya rasa aman dan tenang. Mendadak, dia membenamkan wajah sambil bertanya dalam hati, “Apakah aku sedang membicarakan diriku di depan Kakang Sedayu?”

Nada suara Agung Sedayu kemudian merambat pelan di keheningan malam.

“Dengan sejumlah batasan, sebagian orang dapat menerima alasan itu. Tapi ketika keputusan itu mengikat banyak orang dari segala lapisan, maka perbantahan pun terjadi,” kata Agung Sedayu.

“Seperti itukah yang terjadi di kotaraja?” Sebenarnya Pandan Wangi sudah memperkirakan akibat dari keputusan hukuman mati yang diucapkannya beberapa waktu lalu, tapi pertanyaan itu seperti sedang mencari ketegasan terhadap sesuatu yang masih samar menurut pandangannya.

“Perlukah aku menyembunyikan segala sesuatu darimu?”

“Kakang dapat menilai sendiri,” ucap Pandan Wangi setelah melakukan satu tarikan napas panjang.

Itu bukan ucapan ketus seseorang tapi pertanyaan itu memang tidak perlu diucapkan olehnya. Agung Sedayu dapat mengukur tingkat bahaya sebuah permasalahan berdasarkan kemampuan nalar orang yang bicara dengannya. Tapi, menurutnya, Pandan Wangi menempati kedudukan yang berbeda. Dia adalah putri seseorang yang mempunyai pengaruh luas di Mataram meski bukan pemimpin. Pemikiran Ki Gede Menoreh dapat menjangkau dan mempengaruhi pula tlatah Mangir, bekas wilayah Pajang sampai pesisir utara. Itu sudah menjadi kenyataan yang mustahil dibantah. Maka Agung Sedayu merasa harus berhati-hati dengan setiap yang akan dikatakan di depan Pandan Wangi.

Antara Kepatihan dan Kraton telah muncul tanda bahwa di masa depan Mataram akan tiba di persimpangan. Bisa jadi, persimpangan itu tidak begitu tajam tapi jika abai  dengan kelemahan sendiri maka masa suram pasti menggayut di atas langit Mataram. Apakah penting atau sedemikian perlu seandainya tanda-tanda itu diungkapkan pada Pandan Wangi? Seperti yang diucapkan oleh putri Ki Gede Menoreh itu bahwa Agung Sedayu berada dalam kedudukan yang tepat untuk membuat penilaian.

Agung Sedayu sedang menimbang pemikirannya sendiri. Sambil mengulur waktu agar nalarnya bekerja lebih keras, kemudian dia berkata, “Alasan yang digunakan oleh Raden Atmandaru untuk mengobarkan api peperrangan ini memang tepat untuk sementara waktu. Beberapa orang memang tidak puas dengan penunjukkan mendiang Raden Mas Jolang sebagai raja, tapi mereka bisa apa? Ya, mereka menarik diri lalu menunggu waktu yang tepat untuk melepaskan serangan.”

“Dan mereka benar-benar seperti sudah memperhitungkan segalanya,” sambung Pandan Wangi.

Agung Sedayu mengangguk. “Alas Krapyak menjadi bagian kelam perjalanan Mataram. Barangkali sejumlah orang akan mengaburkan sebab-sebab wafat  beliau.” Suara Agung Sedayu seperti sedang menyimpan kecemasan yang cukup dalam.

Pandan Wangi yang sudah mengenal sangat baik kepribadian Agung Sedayu pun dapat merasakan kecemasan yang tidak terungkap itu. Gonjang ganjing di ruang pertemuan agung beberapa waktu sebelum pelantikan Raden Mas Rangsang pun sudah diketahuinya, tapi bagaimana dengan kebenaran dari persoalan itu? Pandan Wangi hanya mengangkat bahu ketika memikirkannya sendiri. Permasalahan itu, menurutnya, sudah terlalu jauh untuk dijangkau dirinya yang berada di pinggiran kotaraja.

“Setidaknya untuk saat ini, kita sudah berjalan di atas jalan yang benar,” ucap Pandan Wangi. “Kita sudah bergerak menjauh dari masa lalu.“ Tiba-tiba dia terdiam. Kalimatnya pun terdengar seperti sedang digantung di kaki langit. Mengatakan masa lalu di dekat Agung Sedayu serasa dirinya sedang memutar balik pedati yang sedang dijalaninya bersama Swandaru. Ya, tidak perlu ada penyesalan, tekad Pandan Wangi kemudian.

“Benar,” kata Agung Sedayu meskipun sadar bahwa Pandan Wangi sedang menggantungkan ucapan. Tapi senapati Mataram itu merasa mereka harus tetap bergerak demi Mataram. Urusan lain dapat dibicarakan setelah pergerakan Raden Atmandaru diselesaikan. “Pasti ada orang yang lebih sedih dari kita tapi orang itu sudah bergerak sangat jauh,” lanjut Agung Sedayu tanpa menerangkan orang yang dimaksud dalam ucapannya. Mereka berdua sepertinya sudah sepakat bahwa orang itu adalah segenap keluarga Panembahan Hanykrawati.

> Tidak semua perjalanan harus disaksikan banyak orang.

> Sebagian cukup dipahami oleh mereka yang memilih bertahan hingga akhir.

> Komunitas donatur WAG KKG disediakan bagi pembaca yang ingin mengikuti kisah ini lebih dekat, dengan akses kisah terbaru dan PDF lengkap, melalui pergantian pengawal minimal **Rp25.000 per bulan**.

> Pasar induk pedukuhan:

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530

atas nama Roni Dwi Risdianto.

Bukti penjagaan bisa dikirimkan melalui Gardu Jaga WA 081357609831 – Matur nuwun

Raden Mas Rangsang, Pangeran Selarong  dan Pangeran Purbaya sudah berancang-ancang dan mempersiapkan diri untuk sebuah rencana besar. Ki Patih Mandaraka dan orang-orang di sekitarnya pun tampak menggeliat demi membenahi akibat buruk yang disebabkan Raden Atmandaru. Lalu, mereka berdua tenggelam dalam kubangan masa lalu?

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepala lalu bertanya, “Apakah ada tugas lain untuk saya selain menunggu pertemuan dengan Pangeran Selarong?”

“Selalu ada untukmu, Wangi,” jawab Agung Sedayu. “Yang pasti adalah kau harus segera tiba secepat mungkin di rumah Ki Gede Menoreh. Aku kira Ki Gede pun membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk mengobati kerinduan.”

Pandan Wangi membuang muka dengan memandang jurusan lain. Dia tidak ingin Agung Sedayu mengetahui perubahan pada air mukanya. Yah, Pandan Wangi mungkin ingin berdua saja dengan ayahnya sambil membicarakan masa depannya  bersama Swandaru.

Kisah Terkait

Bara di Bukit Menoreh 77 – Burung Hantu yang Bernama Sekar Mirah!

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 15 – Kesiagaan Sukra Menghadang Penunggang Kuda

kibanjarasman

Bara di Bukit Menoreh 50 – Benih Keraguan Pandan Wangi pada Swandaru

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.