Padepokan Witasem
Bab 5 Berhitung

Berhitung 6

Terkadang susunan itu berbentuk bangun datar bersegi enam, lalu tiba-tiba berubah menjadi segi empat saat salah satu dari cantrik itu bergeser ke lingkaran yang lain. Ki Buyut Mimbasara atau Kebo Kenanga  telah menciptakan satu susunan untuk pengepungan yang benar-benar hebat. Tak jarang, Ki Buyut melibatkan Pangeran Benawa dalam sebuah latihan gelar bersama dengan cantrik yang lain. Maka dari itu, Pangeran Benawa dapat melebur kemampuannya dalam suatu gelar dengan gerak yang rumit.

Dalam waktu itu, umpatan kasar keluar dari mulut kawanan Ki Gurasan. Mereka tidak mengira bahwa tata gelar itu sangat kokoh meskipun salah seorang cantrik dapat disentuhnya dengan senjata, namun serangan mereka dapat dibendung oleh cantrik yang lain. Oleh karenanya, setiap kali kawanan Ki Gurasan menapak setingkat lebih tinggi maka para cantrik padepokan selalu dapat mengimbangi olah gerak lawan-lawannya.

“Susunan gelar yang luar biasa,” desis orang yang mengawasi pertempuran di halaman tengah dari sebuah atap bangunan. Ia duduk bersila dan cermat memperhatikan perkembangan dari setiap lingkaran. Ia mendesis kemudian, ”Gurasan sungguh-sungguh bodoh! “ Ia mengangkat wajah menatap langit, sejenak kemudian ia memutuskan akan menangani keadaan di padepokan.

Dalam waktu itu, Ki Gurasan tiba-tiba menyerang Kang Tanur dengan garang. Namun Kang Tanur sempat menghindar dan meloncat surut. Lalu sekejap kemudian mereka terlibat dalam satu perkelahian yang seru. Pangeran Benawa sedikit menjauh dalam keadaan siaga, agaknya ia sedang menguatkan keyakinan bahwa ia akan benar-benar melibatkan diri dalam perkelahian Kang Tanur dengan Ki Gurasan. Setelah merasa cukup untuk mengatur pernapasannya, Pangeran Benawa memutar tongkatnya dan menggebrak Ki Gurasan dalam satu terjangan yang dahsyat.

Mata Ki Gurasan terbelalak kaget. Ia tidak menyangka bahwa anak kecil yang sempat ia remehkan ternyata mampu membuat lengannya bergetar hebat. Itu terjadi ketika kekuatan Pangeran Benawa mengalir penuh kala mengayunkan tongkat mematuk leher Ki Gurasan. Walau dapat ditangkis lawannya dengan lengan, namun kesan kuat menggores dada musuhnya. Namun Ki Gurasan tidak dapat terkejut lebih lama karena serangan Kang Tanur telah datang membadai. Kini Ki Gurasan merasa kesulitan, ia mulai terganggu dengan kecepatan gerak Pangeran Benawa yang sangat lincah bermain tongkat.

Ki Gurasan meskipun hanya menghadapi dua orang lawan, namun kekuatan Kang Tanur dan kelincahan Pangeran Benawa telah membuang waktunya. Sementara itu, ia harus secepatnya pergi meninggalkan padepokan serta membawa Pangeran Benawa sebelum kedatangan Ki Buyut Mimbasara. Ki Gurasan berlomba dengan waktu!

Sedangkan di lingkaran-lingkaran perkelahian yang lain, kawan-kawan Ki Gurasan agaknya telah menemukan keseimbangan. Mereka perlahan-lahan mampu melucuti senjata-senjata cantrik yang sebenarnya memang  berada jauh di bawah. Tongkat dan cambuk cantrik padepokan seperti terhisap oleh kekuatan yang tak berwujud dari lawannya. Senjata mereka berhamburan ke segala arah. yang menghadapinya. Maka para cantrik Ki Buyut kini berkelahi dengan bermacam-macam benda saja yang dapat mereka raih sebagai senjata. Mereka adalah orang-orang yang menempatkan keselamatan Pangeran Benawa di atas keselamatan sendiri, maka, meski terdesak, para cantrik tetap bertempur dengan garang. Dalam hati, mereka berharap agar Ki Buyut datang lebih cepat sehingga kawanan penyusup itu dapat segea diringkus dalam keadaan hidup.

Tetapi pada saat itu, satu bayangan berkelebat cepat menembus malam yang pekat. Ibarat seekor burung hantu yang berburu mangsanya dalam gelap, bayangan ini berloncatan mengacaukan susunan gelar cantri padepokan. Kekuatannya yang dahsyat segera membuat susunan itu porak poranda seperti daun kering yang terhempas oleh beliung.

Kang Tanur pun kemudian menjadi gelisah melihat keadaan yang tidak menguntungkan saudara seperguruannya. Oleh karena itu, ia menarik lengan Pangeran Benawa untuk bertempur lebih dekat dengannya. Pangeran Benawa yang tanggap dengan keadaan lantas mengikuti perubahan gerak Kang Tanur. Mereka saling beradu punggung. Perubahan itu membuat Ki Gurasan semakin kesulitan untuk mendekati Pangeran Benawa. Tubuh kecil Jaka Wening selalu terlindung dalam jangkauan pertahanan Kang Tanur yang kokoh.

Related posts

Leave a Comment