Padepokan Witasem
Bab 5 Berhitung

Berhitung 7

Ki Gurasan menghentak kemampuan hingga lapisan pun-cak untuk membongkar pertahanan Kang Tanur. Ia melakukan itu ketika melihat bayangan menyambar ganas setiap lingkaran. Tetapi Ki Gurasan masih membutuhkan waktu sedikit lama karena setiap celah pertahanan Kang Tanur ternyata dapat ditutup oleh gerak Pangeran Benawa.
“Gandrik!” umpat Ki Gurasan dalam hatinya, ”aku tidak peduli lagi apakah bocah ini akan mati atau hidup!”
Demikian tekad Ki Gurasan ketika melipatgandakan serangannya seperti angin ribut. Bahaya pun mengepung dua musuhnya seperti topan yang membadai dari segala penjuru.
Benturan demi benturan yang dialami Pangeran Benawa setiap kali ia menangkis serangan Ki Gurasan membuatnya kewalahan. Seringkali ia merasa bagian dalam lengan dan kakinya tergetar hebat, bahkan sesekali rasa panas menjalari hingga rongga dadanya. Penglihatan Pangeran Benawa lambat laun mulai terganggu, meski demikian ia masih mampu mengikuti gerak pertahanan Kang Tanur. Namun begitu, ia tetap berani membenturkan kekuatannya untuk menjaga Kang Tanur dari serangan ganas Ki Gurasan.

Kang Tanur mulai gelisah dengan keadaan Pangeran Benawa, kini kegelisahan itu semakin menusuk hatinya saat Pangeran Benawa terguling roboh. Sebenarnyalah kemampuan Pangeran Benawa berada di luar jangkauan nalar bila dibandingkan dengan ukuran tubuh dan usianya yang belia, tetapi kekuatan yang tersimpan dalam hatinya telah membuatnya kembali bangkit berdiri setelah kehilangan kesimbangan. Serangan Ki Gurasan yang berpusar ganas masih mampu ditahannya bersama-sama Kang Tanur.

Sedangkan di enam lingkaran yang lainnya, kawan-kawan Ki Gurasan agaknya mulai menguasai keadaan. Meski para cantrik tetap menggeliat melakukan perlawanan, namun kehadiran orang yang berambut panjang berwarna putih keperakan itu membuat gelar mereka menjadi berantakan. Dengan demikian ketika seorang demi seorang dari kawanan Ki Gurasan menyerang, maka selalu saja ada cantrik yang terguling roboh. Tetapi mereka adalah cantrik Ki Buyut Mimbasara, seorang tokoh sepuh yang sangat disegani di seluruh tlatah Demak sehingga mereka tetap berusaha bertahan setiap kali badai serangan datang menerjang.

Ketika ia melihat kawanan Ki Gurasan telah berada di atas angin, pada saat itulah orang yang telah membuat gelar para cantrik berantakan meloncat mendekati Pangeran Benawa. Namun tanpa disangka-sangka, Kang Tanur telah mengurai cambuk lalu melecutkannya dengan lambaran tenaga inti tepat menyambar kaki orang itu saat akan menjejak tanah. Tetapi orang itu mengejutkan Kang Tanur, betapa ia membiarkan kakinya terlilit oleh cambuk. Lalu dengan ringan ia menggoyangkan kaki dan tiba-tiba Kang Tanur terpental surut lalu bergulingan roboh.

Ketahanan Kang Tanur dalam menerima serangan memang benar-benar luar biasa, ia telah tegak berdiri namun cambuknya tergeletak beberapa langkah darinya.

Dalam remang malam yang membungkus halaman tengah, Kang Tanur merasa serba sedikit seperti mengenali orang yang tegak berdiri berhadapan dengan Pangeran Benawa. Namun kecemasan datang menyengat hatinya dengan cepat. Semacam rasa putus asa pun sempat bergelayut dalam perasaannya betapa Pangeran Benawa telah dikelilingi oleh dua orang yang berkemampuan sangat tinggi. Tetapi Kang Tanur agaknya masih berusaha untuk mengulur waktu agar mempunyai kesempatan untuk bergeser lebih dekat dengan Pangeran Benawa.

“Kiai Rontek!” lantang Kang Tanur berkata.

“Lebih baik kau perintahkan mereka untuk menyerah, Tanur,” kata Kiai Rontek dengan kerlingan yang ditujukan pada cantrik padepokan. Ia berpaling pada Kang Tanur lalu katanya, ”Ketahuilah, kau tidak akan dapat mempertahankan padepokan ini lebih lama. Lagipula kau tentu tidak mengira bahwa aku berani datang kemari dan mengambil milik Adipati Pajang yang paling berharga.”

Kang Tanur tidak segera berkata-kata, ia melangkah maju. ”Dengan ilmu yang kau miliki, aku dapat katakan bahwa kau dapat lakukan apa saja terhadap padepokan ini. Mungkin kami tidak akan mampu menahan kalian semua, tetapi menculik Pa-ngeran Benawa adalah satu-satunya kesalahan yang tidak akan terampuni.”

Kiai Rontek terbahak keras. Setelah ia menarik napas panjang, kemudian ia berkata, ”Aku tidak membutuhkan pengampunan.” Lalu dengan setengah berbisik, ia melanjutkan ucapannya, ”Justru aku ingin berkata padamu bahwa menjadikan Mas Karebet sebagai Adipati akan menjadi dosa tak termaafkan bagi orang-orang Demak.”

Related posts

Leave a Comment