Padepokan Witasem
Bab 5 Berhitung

Berhitung 5

Walau demikian, tetap saja para cantrik memandang Ki Gurasan dengan heran. Sepertinya ia tidak mengenal wajah Pangeran Benawa, pikir para cantrik. Tetapi mereka diam dan tidak melakukan gerakan yang membahayakan Pangeran Benawa. Mereka dalam keadaan bersiap sepenuhnya dengan tongkat erat tergenggam, sebagian cantrik telah mengurai cambuk ma-sing-masing.

Ketegangan merambat pelan dalam dada setiap orang yang saling berhadapan di halaman tengah padepokan.

“Lekas! Habisi semua orang lalu kita cari anak lelaki itu!” perintah Ki Gurasan.

“Baiklah,” Kang Tanur menyahut, ”kalian tidak diundang untuk datang di padepokan ini. Tentu kami akan lakukan apa yang harus kami lakukan. Setiap orang dari kalian, aku pastikan, akan menyesali kebodohannya dengan mendatangi tempat ini. Dan kematian kami adalah kebanggaan bagi orang-orang di belakang kami.”

“Ki Gurasan! Kita tidak mempunyai waktu untuk bercakap dengan sekumpulan cantrik bodoh ini!” teriak salah seorang dari kawanan Ki Gurasan.

Lalu ,tanpa disangka-sangka, salah seorang dari mereka cepat menerjang barisan cantrik yang mengepung mereka. Malam yang belum begitu pekat dan kabut yang menyelimut tipis seperti tidak menjadi hambatan bagi kawanan Ki Gurasan.

Serentak!

Mereka kemudian menyerang barisan cantrik yang telah bersiaga untuk menerima serangan mereka. Dengan cekatan para cantrik menyusun tatanan yang teratur. Beberapa orang dari mereka berkelahi bersama-sama menghadapi seorang dari kawanan Ki Gurasan, sementara Kang Tanur dan Pangeran Benawa masih tegak mematung di tempatnya.

Suara cambuk yang meledak-ledak memecah keheningan malam. Dengung tongkat kayu para cantrik pun membahana lalu berputar-putar mengurung lawan-lawannya. Dalam waktu singkat, para cantrik Ki Buyut memberi kejutan yang menggetarkan jantung untuk berdentang lebih keras menghantam rongga dada. Betapa susunan gerak itu mengalir sedemikian rapi dan kokoh, setiap ada dua atau seorang cantrik berpindah lingkaran maka kedudukan mereka cepat digantikan oleh temannya.

Yang kemudian terjadi adalah setiap orang dari kawanan Ki Gurasan seperti tidak mempunyai jalan keluar dari tekanan. Namun mereka adalah orang-orang yang telah mempunyai perjalanan panjang dalam perkelahian. “Ki Gurasan!” teriak salah seorang dari kawanan, ”apakah terpikir olehmu bahwa anak kecil yang berada di hadapanmu itu adalah Pangeran Benawa?”

Ki Gurasan terhenyak, darahnya seperti berhenti mengalir. Ia tidak mempunyai dugaan bahwa anak lelaki yang tegak berdiri dengan tenang di bawah hidungnya adalah Pangeran Benawa. Ia mendesis kemudian, ”Betapa buta mataku! Kau adalah anak Jaka Tingkir!”

Kang Tanur melirik Pangeran Benawa yang tidak berkata-kata. Sementara perkelahian yang melibat enam lingkaran menjadi semakin sengit.

“Sebaiknya kau perintahkan kawan-kawanmu untuk berhenti melawan, Ki Sanak!” nada suara Kang Tanur sedikit berubah. Ia membulatkan tekad untuk menjaga pewaris tahta Kadipaten Pajang. Dalam waktu itu Pangeran Benawa tidak memperlihatkan rasa gentar ataupun gelisah menghadapi suasana yang telah lepas kendali. Ketenangan masih kuat memancar dari raut mukanya yang bening.

“Paman Tanur,” berkata Pangeran Benawa kemudian,”saya ingin mereka ditangkap dalam keadaan hidup. Saya ingin tunjukkan pada ayah bahwa Ki Buyut tidak pernah mengajariku tentang kekerasan.”

Kang Tanur berpaling lalu mengangguk.

“Jaga jarak kalian!” perintah Kang Tanur saat ia melihat para cantrik masih berusaha menjaga tekanan. Lalu ia berpaling pada Ki Gurasan, katanya, ”Kau adalah orang yang penting apabila aku membiarkanmu hidup.”

Sorot mata buas Ki Gurasan lekat menatap Pangeran Benawa yang telah menata diri. Ia seolah tidak mendengar ucapan Kang Tanur. Benaknya hanya berisi jalan pikirna untuk melarikan Pangeran Benawa secepatnya. Membayang hadiah yang sepadan apabila ia mampu membawa Pangeran Benawa ke hadapan gurunya, Begawan Sindhumaya.

Sepintas di jalan pikiran Ki Gurasan, ia mengakui bahwa landasan ilmu Pangeran Benawa akan mampu menopang perkembangan yang dicapainya  kelak. Tetapi Ki Gurasan cepat mengalihkan rasa kagumnya, ia memusatkan perhatian  sungguh-sungguh untuk menculik Pangeran Benawa.

Kang Tanur kembali memperhatikan enam lingkaran perkelahian, sejenak kemudian ia mengangguk-angguk. Agaknya enam orang kawan Ki Gurasan dapat diimbangi oleh susunan gerak para cantrik yang teratur rapi dan penuh kejutan. Betapa susunan itu mempunyai dasar yang kokoh dan sulit ditembus oleh kawan-kawan Ki Gurasan, sedangkan kemampuan setiap orang dari kawanan itu sebenarnya jauh lebih tinggi dari satu demi satu cantrik padepokan.

Related posts

Leave a Comment