Padepokan Witasem
Pekan Prosa Prosa Liris

Cahayaku Tak Benderang

Assalamualaikum, Nabiku.

Sejujurnya, aku ciut nyali. Jariku tergetar dan hatiku bergemuruh layaknya serombongan awan hitam yang bergulung. Aku takut. Maafkan lancangku.

Namaku Rembulan. Jangan bayangkan aku laksana dia yang setia bersinar di pekat malam. Meski cahayanya tak benderang, namun ia adalah sinar dan keindahan. Sedangkan aku?

Namun aku tak ada pilihan lain selain memaksakan ingin. Sebab engkau adalah sang penolongku kelak di kala tak ada seorangpun yang mau menoleh kepadaku. Pun itu adalah anak-anak maupun suamiku.

Aku, yang mengaku sebagai pengikutmu, merunduk menghadapkan wajah yang penuh uli dan debu. Memohon agar termasuk pada golongan yang beruntung berdiri di barisanmu. Bukan persoalanĀ  jika kelak sekadar berada di larik belakang.

Aku menyadari sepenuhnya, segala hitamnya catatan dan tumpukan dosa yang melesak memenuhi ruang langit yang dengan sengaja telah aku cipta puluhan tahun lamanya. Ataupun karena kebodohanku semata yang enggan berubah arah mendekat kepada petunjukmu. Wahai Raqib dan Atid, apakah engkau bosan dengan laku perbuatanku?

Azan berkumandang, namun salatku masih nanti-nanti. Duduk bersimpuh, lalu begitu mudah menguap dan terkantuk padahal baru selembar ayat suci yang terbaca. Sedekah pada bilangan terkecil yang menyempil di ujung dompet. Basah lisan sholawat kepadamu sangat mudah terhitung oleh jemari. Kakiku rasa menyeret Himalaya untuk melangkah pada kajian ilmu tempat para malaikat membentangkan sayap-sayapnya.

Surga Firdaus telah terbuka, namun engkau yang diriwayatkan sebagai yang paling kerepotan kelak di hari akhir sebab cintamu kepada umat. Rela berkali-kali meletakkan dahi sejajar dengan kaki, berlinang air mata memohonkan ampun pada Allah atas gelapnya sikap para pengikutmu. Engkau, yang bahkan tak kenal apalagi pernah bertatap pandang.

Engkau, Yang Terbaik.

Wahai, yang kelak paling dirindukan. Bahkan debu jalanan itu mensucikan. Tetapi aku, yang ditakdirkan sebagai makhluk paling mulia, nyata-nyata tak seelok gelar yang tersemat. Karena aku, penuh daki dan lumpur … berharap air telaga terulur darimu. Sungguh, aku mengais harap akan syafa’atmu.

 

#oleh : Wulan Rembulan

Related posts

1 comment

Cahayaku Tak Benderang – Wilwatiktanews 31/10/2020 at 14:52

[…] #oleh : Wulan Rembulan […]

Reply

Leave a Comment