Di Bawah Panji Majapahit 3

Udeng Bondan beradu dengan telapak orang tua itu dan menimbulkan suara keras. Bondan merasakan denyut di pembuluh darahnya. Benturan itu memberi tahu Bondan tentang kemampuan lawan yang dihadapinya.
“Gandrik! Sebut namamu, Setan Cilik!” perintah orang tua itu pada Bondan.
“Apa urusanmu, Setan Besar?” Bondan balik bertanya sambil melanjutkan serangan dengan bertubi-tubi dan sama sekali tidak memberi kesempatan pada orang tua itu untuk membalas.
“Kurang ajar! Apakah engkau benar-benar bosan hidup?” Orang tua bertubuh besar membentak Bondan.
“Bukan aku sudah bosan hidup tetapi engkau tak akan pernah tahu bagaimana setan menghadapi kematian. Diamlah dan kita bicara dengan senjata,” desis Bondan.
“Jangan pernah menyesal dengan pertemuan ini. Sebagai bekal ke-matian, ketahuilah namaku Ki Cendhala Geni. Dan sekarang, matilah!” Rangkai kata berhamburan keluar dari bibir orang yang mengenalkan diri sebagai Ki Cendhala Geni. Tetapi ia salah tujuan jika ia bermaksud untuk menggertak Bondan.
Bondan adalah seorang lelaki muda yang belum banyak berkelana dari laga ke laga pertarungan. Bahkan kehidupannya di Pajang cukup jauh dari kegaduhan. Maka, nama itu hanyalah sebuah nama yang tidak memberi kesan khusus pada hati murid Resi Gajahyana.
Seketika ia mengakhiri perkenalannya dengan teriakan keras yang me-nyertai serangannya dengan garang.
Pada awal benturan, Bondan dengan tangkas mengimbangi serangan dengan mengerahkan kecepatan yang ia miliki. Sesekali ia membalas se-rangan lawannya yang sebenarnya datang cukup deras. Namun lambat laun Bondan meningkatkan lapisan ilmu yang ia miliki untuk memberi tekanan pada musuhnya. Pada waktu itu, Ki Cendhala Geni cukup terkejut dengan ketinggian ilmu yang melekat dalam diri musuhnya yang berusia muda.
Tak cukup dengan menghindari serangan demi serangan dari Bondan, lawannya lantas mencabut senjata berupa kapak panjang. Pertarungan kedua nya kemudian berlangsung lebih sengit dan mematikan.
Keduanya seperti mempunyai keinginan yang sama yaitu, melumpuhkan musuh lebih cepat. Tak pelak, baik Bondan maupun Ki Cendhala Geni berulang kali saling membenturkan ilmu mereka dengan keras, lebih keras dan makin keras!
Seperti dua ekor ular yang terkadang berusaha saling mematuk lalu menjauhkan kepala dari patukan lawan, maka seperti itulah yang terjadi dalam lingkar perkelahian Bondan. Mereka bertarung cukup dekat, lalu secara bersamaan mereka meloncat surut dan membuat pengamatan sesaat.
Pertarungan yang dapat menjadi gambaran ketinggian ilmu mereka yang dahsyat. Berulang-ulang ikat kepala Bondan mematuk dengan hentakan yang disertai ledakan-ledakan dahsyat. Suara dari ledakan itu sendiri tak ubahnya telah menjadi tusukan yang menusuk bagian dalam kepala lawannya. Namun Ki Cendhala Geni mempunyai daya tahan yang sangat kuat sehingga gelegar di dalam rongga telinganya tidak cukup membawa pengaruh baginya.
Tetapi kekuatan ledakan dari ujung ikat kepala Bondan dirasakan ber-beda oleh orang-orang yang berkelahi di sekitar mereka. Anak buah Ubandhana sangat terganggu dan mereka sering kali harus menutup telinga jika dentuman itu terjadi tanpa henti. Meski demikian, keseimbangan pertempuran secara umum tidak dapat dipengaruhi oleh serangan tanpa wujud dari Bondan.
Para prajurit Majapahit terdesak sangat hebat!
Kematian Ranggawesi dan penghinaan padanya serta ditambah prajurit Majapahit yang semakin susut, harus diakui telah meluruhkan sebagian ketenangan lelaki yang datang dari lereng Merapi ini. Bondan yang bertarung tanpa ketenangan utuh akhirnya harus menerima akibat buruk.
Satu tebasan menyilang tidak mampu dihindari Bondan dengan sempurna. Ki Cendhala Geni secepat kilat mengirim satu tendangan samping, cukup telak mengenai Bondan. Tetapi sebelum jatuh, Bondan sempat mencabut keris dan berjungkir balik sambil memapas kaki lawannya.
Ki Cendhala Geni tak kalah cepat, ia menarik kaki, memutar tubuh lalu menyerang dengan sabetan mendatar ke dada Bondan.

Namun Bondan dengan tubuh masih melayang mampu melecutkan udeng ke pergelangan tangan Ki Cendhala Geni. Oleh karenanya, orang tua itu segera membelokkan arah kapak ke tanah untuk menghindari kibasan udeng Bondan yang sanggup mematahkan pergelangan tangannya.
Keduanya terdorong surut. Lalu tegak berdiri dengan tubuh sedikit merunduk.
Sebuah benda menggelinding pelan di dekat Bondan. Semakin meluap darahnya ketika melihat wujud benda yang berada di dekat kakinya.
Kepala Ki Lurah Guritna!
”Pergilah ke neraka!” Tanpa melihat kedudukan orang yang melemparkan kepala lurah prajurit, Bondan telah memperkirakan letaknya, ia menerjang dengan keris menebas datar.
Ubandhana terkejut dengan serangan yang tiba-tiba ini. Segera ditolak-nya dengan mengayunkan tombak. Gagal menembus pertahanan Ubandhana, Bondan mengurung dengan sabetan keris dan lecutan udeng yang berkali-kali menimbulkan suara ledakan.
Ubandhana merasakan kedahsyatan tenaga inti Bondan yang dialirkan ke ikat kepalanya, aliran tenaga inti menimbulkan pengaruh besar dari suara ledakan yang tak begitu keras tetapi sangat menusuk gendang telinga.
Bagai badai halilintar, serangan demi serangan Bondan menghujani Ubandhana tanpa jeda sedikitpun. Panjangnya tombak tidak memberi keuntungan bagi Ubandhana. Sabetan udeng mampu membelit ujung tombak, kaki kiri Bondan melayang memburu wajah Ubandhana. Ia terpaksa melepas tombaknya agar bisa sedikit jauh dari sapuan kaki Bondan namun dari bawah keris Bondan yang bebas itu bersiap menembus bagian bawah ketiak Ubandhana.
Tiba-tiba satu bayangan melesat sangat cepat dan menyerang Bondan dengan ayunan kapak panjang miliknya. Bondan membatalkan kerisnya yang mengarah ke Ubandhana demi menghadang kapak yang berdesing hebat. Keris Bondan tepat menahan serangan kapak panjang dari bayangan itu. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ubandhana untuk meraih lagi tombaknya dan berancang-ancang menusuk sisi kanan Bondan. Bondan yang mendengar desis suara tombak segera berguling membuang tubuhnya menjauhi kedua lawannya.

“Ki Cendhala Geni, nyawa anak ini menjadi milikku!” seru Ubandhana sambil memutar tombak sangat cepat dan tampak seperti perisai cahaya yang memburu kepala Bondan. Sekejap kemudian kedua orang muda ini terlibat dalam pertarungan yang sangat cepat. Tanpa terasa sudah berlang-sung berpuluh-puluh jurus dan keduanya bertarung seimbang.
“Bagus!” Bondan menggeram penuh amarah saat dikepung oleh Ki Cendhala Geni dan Ubandhana. Bondan memutar keris, senjata ini mulai berayun lalu menggaung dan menusuk bertubi-tubi.
Ubandhana tak kalah garang, ia meladeni dengan tombak yang bergerak cepat menutupi seluruh sisi tubuhnya.
Dalam waktu itu, senjata Ubandhana seperti mengeluarkan gulungan sinar karena terpa cahaya dari kobaran api. Sesekali dentang senjata beradu dan ketika Ubandhana memutar tubuhnya untuk menambah kekuatan hantaman, Bondan kadang bergerak lebih lambat. Sengaja ia menerima serangan tombak Ubandhana kemudian menambah tenaga agar tombak lawannya berubah arah. Seketika itu dengan cepat Bondan segera melakukan tusukan ke ulu hati dan bagian bawah leher lawannya. Ubandhana segera melompat ke belakang dan kecepatan tusukan Bondan masih mengenai kulit lehernya.
Bondan terus mengurung musuhnya yang mulai kesulitan mengimbangi kecepatan Kyai Ngablak, nama keris Bondan. Keris Bondan meliuk, melenggak-lenggok seperti menari, namun di balik itu, pamor haus darah tercium dari suara yang keluar karena begitu cepat murid Resi Gajahyana ini memainkan keris.
Serangan Bondan akan segera berakhir di pusar Ubandhana, tetapi Bondan kembali mendengar desing kapak dari arah kirinya. Ia harus menarik kerisnya lantas membuang diri ke samping untuk menghindari serangan kapak yang sangat cepat.
“Dua lawan satu! Tetapi aku adalah Bondan. Putra Merapi yang lahir dari gelegak kawah!” desis Bondan dengan mata tajam menusuk dada Ki Cendhala Geni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *