Padepokan Witasem
Bab 3 Di Bawah Panji Majapahit

Di Bawah Panji Majapahit 5

Seketika ia mengakhiri perkenalannya dengan  teriakan keras yang menyertai serangannya dengan garang.

Pada awal benturan, Bondan dengan tangkas mengimbangi serangan dengan mengerahkan kecepatan yang ia miliki. Sesekali ia membalas serangan lawannya yang sebenarnya datang cukup deras. Namun lambat laun Bondan meningkatkan lapisan ilmu yang ia miliki untuk memberi tekanan pada musuhnya. Pada waktu itu, Ki Cendhala Geni cukup terkejut dengan ketinggian ilmu yang melekat dalam diri musuhnya yang berusia muda.

Tak cukup dengan menghindari serangan demi serangan dari Bondan, lawannya lantas mencabut senjata berupa kapak panjang. Pertarungan kedua nya kemudian berlangsung lebih sengit dan mematikan.

Keduanya seperti mempunyai keinginan yang sama yaitu, melumpuhkan musuh lebih cepat. Tak pelak, baik Bondan  maupun Ki Cendhala Geni berulang kali saling membenturkan ilmu mereka dengan keras, lebih keras dan makin keras!

Seperti dua ekor ular yang terkadang berusaha saling mematuk lalu menjauhkan kepala dari patukan lawan, maka seperti itulah yang terjadi dalam lingkar perkelahian Bondan. Mereka bertarung cukup dekat, lalu secara bersamaan mereka meloncat surut dan membuat pengamatan sesaat.

Pertarungan yang dapat menjadi gambaran ketinggian ilmu mereka yang dahsyat. Berulang-ulang ikat kepala Bondan mematuk dengan hentakan yang disertai ledakan-ledakan dahsyat. Suara dari ledakan itu sendiri tak ubahnya telah menjadi tusukan yang menusuk bagian dalam kepala lawannya. Namun Ki Cendhala Geni mempunyai daya tahan yang sangat kuat sehingga gelegar di dalam rongga telinganya tidak cukup membawa pengaruh baginya.

Tetapi kekuatan ledakan dari ujung ikat kepala Bondan dirasakan berbeda oleh orang-orang yang berkelahi di sekitar mereka. Anak buah Ubandhana sangat terganggu dan mereka sering kali harus menutup telinga jika dentuman itu terjadi tanpa henti. Meski demikian, keseimbangan pertempuran secara umum tidak dapat dipengaruhi oleh serangan tanpa wujud dari Bondan.

Para prajurit Majapahit terdesak sangat hebat!

Kematian Ranggawesi dan penghinaan padanya serta ditambah prajurit Majapahit yang semakin susut, harus diakui telah meluruhkan sebagian ketenangan lelaki yang datang dari lereng Merapi ini. Bondan yang bertarung tanpa ketenangan utuh akhirnya harus menerima akibat buruk.

Satu tebasan menyilang tidak mampu dihindari Bondan dengan sempurna. Ki Cendhala Geni secepat kilat mengirim satu tendangan samping, cukup telak mengenai Bondan. Tetapi sebelum jatuh, Bondan sempat  mencabut keris dan berjungkir balik sambil memapas kaki lawannya.

Ki Cendhala Geni tak kalah cepat, ia menarik kaki, memutar tubuh lalu menyerang dengan sabetan mendatar ke dada Bondan.

Namun Bondan dengan tubuh masih melayang mampu melecutkan udeng ke pergelangan tangan Ki Cendhala Geni. Oleh karenanya, orang tua itu segera membelokkan arah kapak ke tanah untuk menghindari kibasan udeng Bondan yang sanggup mematahkan pergelangan tangannya.

Keduanya terdorong surut. Lalu tegak berdiri dengan tubuh sedikit merunduk.

Sebuah benda menggelinding pelan di dekat Bondan. Semakin meluap darahnya ketika melihat wujud benda yang berada di dekat kakinya.

Kepala Ki Lurah Guritna!

”Pergilah ke neraka!” Tanpa melihat kedudukan orang yang melemparkan kepala lurah prajurit, Bondan telah memperkirakan letaknya, ia menerjang dengan keris menebas datar.

Ubandhana terkejut dengan serangan yang tiba-tiba ini. Segera ditolaknya dengan mengayunkan tombak. Gagal menembus pertahanan Ubandhana, Bondan mengurung dengan sabetan keris dan lecutan udeng yang berkali-kali menimbulkan suara ledakan.

Ubandhana merasakan kedahsyatan tenaga inti Bondan yang dialirkan ke ikat kepalanya, aliran tenaga inti menimbulkan pengaruh besar dari suara ledakan yang tak begitu keras tetapi sangat menusuk gendang telinga.

Bagaikan badai halilintar, serangan demi serangan Bondan menghujani Ubandhana tanpa jeda sedikitpun. Panjangnya tombak tidak memberi keuntungan bagi Ubandhana. Sabetan udeng mampu membelit ujung tombak, kaki kiri Bondan melayang memburu wajah Ubandhana. Ia terpaksa melepas tombaknya agar bisa sedikit jauh dari sapuan kaki Bondan namun dari bawah keris Bondan yang bebas itu bersiap menembus bagian bawah ketiak Ubandhana.

Tiba-tiba satu bayangan melesat sangat cepat dan menyerang Bondan dengan ayunan kapak panjang miliknya. Bondan membatalkan kerisnya yang mengarah ke Ubandhana demi menghadang kapak yang berdesing hebat. Keris Bondan tepat menahan serangan kapak panjang dari bayangan itu. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ubandhana untuk meraih lagi tombaknya dan berancang-ancang menusuk sisi kanan Bondan. Bondan yang mendengar desis suara tombak segera berguling membuang tubuhnya menjauhi kedua lawannya.

Related posts

Di Bawah Panji Majapahit 9

kibanjarasman

Di Bawah Panji Majapahit 8

kibanjarasman

Di Bawah Panji Majapahit 7

kibanjarasman

Di Bawah Panji Majapahit 6

kibanjarasman

Leave a Comment