Di Bawah Panji Majapahit 5

Tetapi, dalam waktu itu, ia juga dapat mengamati keadaan yang sudah tidak menguntungkan karena bantuan dari kotaraja telah menebar bau kematian. Tiba-tiba Ki Cendhala Geni cepat melayang ringan mendekati sebuah gubuk dengan kobar api yang seperti bukit terbakar.
Ken Banawa tidak menduga jika lawannya bergerak menjauhinya, ia berpikir bahwa musuhnya itu tengah berusaha untuk kabur. Namun pada saat itu ia menolak pemikiran seperti itu. Seorang berilmu tinggi seperti yang dikatakan oleh banyak orang, sudah tentu tidak mungkin melarikan diri dari pertempuran, batin Ken Banawa.
Maka Ken Banawa dengan segala pemikiran yang timbul dalam benaknya tetap bersikap wajar. Ia tetap berupaya menjaga serangan, Ken Banawa menyusun langkah kaki sesuai perkembangan gerak musuhnya.
Namun Ki Cendhala Geni cerdik memanfaatkan api dan bara yang berserakan sebagai tameng baginya. Ia memutar kapak, maka muncul angin yang kemudian didorongnya dengan tenaga inti menuju Ken Banawa. Maka secepat lontaran anak panah, serpihan bara api melesat terbang berlomba-lomba mencapai Ken Banawa.
Tentu saja lontaran bara yang panas itu merepotkan senapati Majapahit yang kemudian, untuk beberapa saat lamanya, bertahan keras di bawah hujan api. Ia menggerakkan pedang hingga mampu menutup seluruh bagian tubuhnya. Gulungan pedang yang sangat rapat telah menjadi benteng Ken Banawa kini terlihat seperti sebuah bola cahaya kuning kemerahan karena pantulan api.
Namun pada saat yang sama, Ki Cendhala Geni memanfaatkan kesempatan untuk menyisih dari laga dan segera menghilang di balik api yang menjilat-jilat tak tentu arah.
“Sulit dipercaya!” Ken Banawa menahan gemas ketika lawannya melepaskan diri dari perkelahian
“Kita akan bertemu lagi, Tuan Senapati!” terdengar tawa Ki Cendhala Geni dari balik lidah api.

Pada lingkar perkelahian yang lain.
Ubandhana melihat lawannya berkali-kali melirik ke sisi yang berbeda. Pemuda yang telah diangkat menjadi segerombolan penjahat ini segera paham jika Gumilang tidak berkelahi sepenuh hati.
“Ia cemas melihat anak itu!” pikir Ubandhana.
Perubahan ia lakukan, Ubandhana menarik seorang prajurit dan dilem-parkan ke arah musuhnya. Gumilang cepat menghentikan serangan dan menangkap tubuh prajurit yang melayang deras ke arahnya.
“Sekarang!” Kesempatan ini dimanfaatkan Ubandhana untuk melompati kobaran api dan menghilang di kegelapan hutan sebelah selatan Sumur Welut.
Melihat lawannya kabur, Gumilang tidak melakukan pengejaran atau memberi perintah prajuritnya untuk membayangi. Ia menghampiri Bondan yang terlentang lemas. Gumilang segera mengangkat tubuh Bondan keluar dari arena pertempuran dan merawat sekedarnya. Kemudian dengan bantuan seorang prajurit maka tubuh Bondan sudah berada di atas kuda. Sejenak kemudian dua ekor kuda segera menghilang dalam gelapnya malam.

Ki Cendhala Geni dan Ubandhana telah meninggalkan gelanggang, keputusan itu menyebabkan anak buah mereka bertarung seperti kerasukan setan. Gerombolan yang tersisa ini sudah meyakini akan dijemput maut bila mereka menyerah kepada Majapahit. Tampak jelas dari wajah-wajah penyamun ini yang lebih memilih mati dalam perkelahian daripada menyerahkan diri.
Menyerah atau bunuh diri itu sama saja!
Pada akhirnya hanya kematian yang membedakan tempat! Seperti itu yang muncul dari dasar hati mereka.
Maka sisa gerombolan yang kini sudah tak bertuan lagi menjadi semakin kejam dan ganas, mereka membabatkan senjata ke arah prajurit Majapahit tanpa perhitungan dan tata gerak yang memadai. Oleh karena itu tidak membutuhkan waktu lama bagi laskar Majapahit untuk melumpuhkan gerombolan kalap ini.

Singkat Ken Banawa memberi perintah pada anak buahnya untuk me-rawat jasad-jasad yang membujur lintang di tengah hutan. Ia akan meninggalkan prajuritnya untuk menyusul Bondan dan Gumilang. Sementara penyelesaian bagi para penyamun yang tersisa di Kademangan Sumur Welut dituntaskan oleh Ra Caksana.
“Apakah Tuan telah mengetahui tujuan akhir mereka?” bertanya Ra Caksana.
“Hutan ini begitu dekat dengan Gunung Semar. Gumilang akan mem-bawa saudaranya ke sana,” sahut Ken Banawa beriringan jalan dengan wakilnya menuju tempat kuda.
“Mpu Gandamanik,” pelan Ra Caksana berucap.
Ken Banawa mengangguk, sekejap kemudian ia telah berada di atas punggung kuda. Ra Caksana melepas kepergian pemimpinnya dengan sebuah tatap mata penuh arti dan menyiratkan kekaguman amat mendalam. Satu pelajaran penting telah diserapnya pada malam yang dipenuhi bau kematian dan darah yang menggenang.
Seorang lelaki muda meninggalkan guratan yang dalam di hati Ra Caksana. “Siapakah dia yang bertarung hingga ajal nyaris menjemputnya? Aku belum menyamainya karena ia berkelahi untuk orang-orang yang tidak dikenalnya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *