Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 62

Gerimis datang setelah ledakan hebat mendentum dari gelanggang perkelahian Ki Patih Mandaraka. Guntur tiba ketika air pertama terserap oleh permukaan tanah. Seolah tersadar dari kekagumannya pada Nyi Ageng Banyak Patra yang belum menunjukkan kepayahan, Ki Manikmaya sejenak melihat pada Ki Panji Secamerti. Lalu, dengan segenap yang ada dalam dirinya, Ki Manikmaya menghimpun kekuatan. Ia akan memanfaatkan akibat yang timbul dari titik-titik hujan yang rintik yang seperti enggan membasahi medan pertempuran mereka.

Bumi pun menderum seperti gemuruh kawah Candradimuka di lereng Gunung Lawu. Kerikil dan bebatuan kecil terlihat bergetar, bergeser, bahkan sebagian terlonjak dari tempatnya. Sepasang lengan Ki Manikmaya bergerak lambat tetapi pusaran angin terasa begitu hebat. Hawa tenaga inti Ki Manikmaya seolah sedang menggerus dan memukul-mukul permukaan tanah sebelum benar-benar terlontar sangat hebat. Sedangkan, dalam waktu itu, Ki Panji Secamerti berusaha mengimbangi kekuatan pasangannya yang meningkat tajam. Butir-butir air hujan lengket pada panjang batang Kiai Cumpat Semangka. Tidak ada setetes pun yang bergulir lalu jatuh ke permukaan jalan, seperti ada perekat atau perangkap air pada batang keris Ki Panji Secamerti. Sebelah lutut Ki Panji merendah dan terus merendah hingga hampir menyentuh tanah. Ki Panji siap menerjang Nyi Banyak Patra yang tengah melakukan tata gerak yang sama dengan Ki Manikmaya.

Ini mengagumkan! Bagaimana tata gerak yang sama dapat menimbulkan perubahan yang berbeda?

Bertumpu pada pergelangan kakinya, Nyi Ageng Banyak Patra memancarkan udara yang sangat panas! Rintik air menguap sejengkal sebelum mengenai kain maupun kulit guru Kinasih. Pusaran tenaga  cadangannya menyedot air hujan di sekitar garis-garis yang terbentuk dari pergeseran kuda-kuda dari tata gerak Nyi Banyak Patra. Pada waktu itu, tubuh putri Ki Ageng Pemanahan seolah sedang berada perlindungan dinding air yang semakin tebal. Dengan nada dingin, datar dan mengerikan, Nyi Banyak Patra berdesis, “Majulah kalian berdua.”

Setapak demi setapak Nyi Banyak Patra bergerak maju. Mendatangi dua petarung yang menjadi andalan kubu Raden Atmandaru dengan tebaran sikap mengancam.

Daya jangkau hawa tenaga cadangan Nyi Banyak Patra terasa begitu tajam dan sanggup mengaduk-aduk ketenangan lawan yang sedang mengendap. Itu yang dialami oleh Ki Panji Secamerti. Mendadak, ia menjadi gentar dengan pamor kekuatan perempuan yang berusia jauh di atasnya. Ki Panji Secamerti merasakan bahwa di dalam dadanya tiba-tiba muncul dorongan yang menghentak agar ia segera menggebrak, supaya ia mendahului Nyi Banyak Patra sehingga dapat memberi ruang bagi Ki Manikmaya menghunjamkan serangan-serangan yang ganas.

“Kalian sudah berkumpul dan berdiri berhadapan denganku. Apa yang kalian tunggu?” Nyi Ageng Banyak benar-benar tak menunjukkan kelemahan seorang perempuan yang berada di ambang senja. Dari balik putaran air yang berbentuk kubah, saudara Panembahan Senapati telah berubah menjadi ancaman. Dari balik kelembutan sinar mata dan garis-garis wajahnya, ia telah berubah menjadi pemungut maut yang bergerak dalam kedamaian. Namun, benarkah begitu?

Ki Panji Secamerti berkedudukan lebih dekat dibandingkan KI Manikmaya. Mereka sebelah menyebelah dan seperti siap untuk saling melindungi satu sama lain. Dalam waktu itu, Ki Panji sedang bergumul dengan keadaan hatinya sendiri. Meski, dari sisi yang lain, ia juga sedang menunggu gebrakan atau perintah dari Ki Manikmaya. Dalam pertarungan hebat itu, Ki Panji tahu diri dan cara bersikap. Mustahil baginya mendahului Ki Manikmaya yang menjadi lawan pertama Nyi Ageng Banyak Patra. Sepasang senjatanya telah bergetar dan dipenuhi segenap kekuatan yang tersalur dari bawah pusar Ki Panji Secamerti. Kiai Cumpat Semangka bermandi cahaya suram. Kadang memerah seperti bara namun tidak membuat batangnya mengering.

Menyaksikan kehebatan Ki Panji yang sedang menggeleparkan kekuatan pada sepanjang kerisnya, Ki Lurah Plaosan bergumam, “Bagaimana permukaannya tetap basah sedangkan keris seolah sedang dalam tempaan pande besi? Sejenis dedemitkah Ki Panji Secamerti?” Ia mengukur kekuatannya sendiri, sepercik syukur terlantun bersama senandung hujan pada malam yang sangat menggiriskan itu.

Nyi Ageng Banyak Patra cukup tenang dan cepat ketika menggeser kaki, mengubah gerak dasar tata gerak. Ia mendahului lawan-lawannya. Ia menggebrak dengan terjangan yang tidak wajar! Sebelah lengannya menghantam miring pada Ki Manikmaya, selontaran benda-benda berkilau melesat secepat kilat pada bekas saudara seperguruannya! Rupanya air hujan telah membeku ketika terlambari kemampuan sangat hebat dari Nyi Banyak Patra. Bersamaan dengan labrakan maut itu, ia menyerang Ki Panji Secamerti dengan tendangan dari bawah ke atas, walaupun dilepaskannya dari jarak jauh, tetapi ketika tendangan itu berkelebat, tiba-tiba seolah berubah menjadi sinar pedang yang menyambar yang akan membelah dada Ki Panji Secamerti.

Pekik nyaring terlontar nyaris bersamaan dari mulut dua orang lawan Nyi Ageng Banyak Patra!

Ki Manikmaya cepat menghentak tenaga, lalu semua benda-benda pada yang bergetar di dekatnya segera berhamburan, menyongsong butiran-butiran air beku, bertabrakan di udara dan ledakan-ledakan kecil pun terdengar. Suara ledakan begitu halus dan masih terus menerus berdentum hingga tidak ada lagi benda-benda kecil tersisa di udara. Sepasang tumitnya bergeser sejengkal surut. Nyata baginya sekarang mengenai lapis kekuatan yang dimiliki keturunan Ki Ageng Sela itu.

Sementara Ki Panji Secamerti melompat surut sambil membuang pedang ke samping, lalu menyambut serangan pertama dengan putaran keris yang meninggalkan bias warna merah. Suara benturan benda logam pun terdengar sangat nyaring. Ia terpana! Bagaimana tenaga cadangan dapat seolah-olah berubah menjadi batang besi sungguhan? Sekejap kemudian ia dapat menguasai diri dengan mengingat bahwa perempuan di depannya adalah keturunan Ki Ageng Sela, sesepuh pinilih yang termasyur kehebatannya. Ki Panji tidak ingin memberi kesempatan bagi musuhnya untuk menghimpun kekuatan yang mengerikan. Ia harus menyerang dan menyerang dengan gerakan-gerakan cepat dan sangat kuat. Ia harus melakukan itu agar Ki Manikmaya dapat melihat celah kelemahan Nyi Ageng Banyak Patra. Maka Ki Panji Secamerti menggerakkan Kiai Cumpat Semangka dengan putaran cepat, gerakan-gerakan yang menusuk, dan sambaran yang dilandasi tenaga cadangan yang sanggup menjebol pertahanan lawan tunggalnya.

Namun kematangan sikap guru Kinasih dan ketenangannya yang sangat kuat mengendap tidak bergolak dengan kegarangan Ki Panji Secamerti. Nyi Banyak Patra sudah memperhitungkan banyak kemungkinan dari serangan balasan lawan. Ia melanjutkan serangan setelah menghindar atau menangkis hujaman Kiai Cumpat Semangka. Setiap gerakan bertahan Nyi Banyak Patra adalah permulaan dari serangan yang mematikan lawan. Sementara itu, Ki Manikmaya berlarian, mengitari dua orang yang sedang berbaku tanding dengan sepasang kaki yang seolah-olah tidak sedang menjejak tanah. Begitu cepat maka tubuhnya terlihat seperti terbang! Hanya terlihat genangan-genangan air yang terbelah ketika tersapu angin dari gerak sepasang kakinya.

Lemparkan seorang, lalu pusatkan pandangan pada seberang! Demikian aba-aba yang sering diucapkan Nyi Ageng Banyak Patra ketika melatih Kinasih di pondokan. Dan dengan itu pula, ia memutuskan untuk menghentikan Ki Panji Secamerti. Sungguh, kedudukan tidak menunjukkan pengaruh pada pertempuran itu. Dan kemampuan atau senjata penunjang pun tidak sanggup menjadi penyeimbang. Yang kemudian terjadi adalah sepasang kaki Nyi Ageng Banyak Patra rancak menari-nari, berloncatan seperti anak-anak yang riang bermain air. Walau terlihat remeh dan tidak sungguh-sungguh, cipratan tanah basah dan lumpur adalah senjata rahasia yang merobek pakaian dan kulit Ki Panji! Dalam beberapa kejap mata – tanpa dapat dijangkau oleh Ki Manikmaya karena gerakan Nyi Banyak Patra pun mampu membahayakannya – sekibas tangan mengapung di udara, melontarkan tenaga cadangan, menggedor dada Ki Panji, lalu senapati Raden Atmandaru itu terjengkang, tak bergerak lagi. Mati.

“Tidakkah engkau lelah berlari?” Seringai tak wajar mencuat dari Nyi Ageng Banyak Patra yang mulai memutar tubuh, mengikuti pergerakan Ki Manikmaya yang seperti tidak terpengaruh dengan jatuhnya Ki Panji Secamerti.

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 70

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Leave a Comment