Di Bawah Panji Majapahit 2

“Ki Lurah, bukankah kita sedang menunggu Ki Banawa?” tanya Ranggawesi kemudian.
“Aku kira beliau akan tiba pada saatnya. Ada kemunginan Ki Banawa tidak berhenti di Wedoroanom tapi segera kemari,” jawab Ki Guritna yang telah meloloskan senjatanya.
”Baiklah, Ki Lurah. Hanya saja firasatku buruk tentang hal ini. Lebih baik prajurit tetap berdekatan jika melalui jalan setapak ini,” bisik Ranggawesi.
”Aku maklumi itu. Tetapi kita tak punya pilihan lain. Ketiga jalan masuk sama-sama mudahnya untuk dihabisi. Baiklah, jika begitu tempatkan orang sebagai penghubung. Dengan demikian jika satu kelompok dari kita diserang maka penghubung akan membantu dan memberi tahu yang lain.”
”Baiklah. Setidaknya kita sedikit aman dengan siasat ini,” ucap Ranggawesi yang segera membagi prajurit dan memimpin sebagian dari mereka menuju pohon beringin kembar. Ki Guritna memerintahkan prajurit yang dipimpinnya untuk berjalan lebih cepat karena mengambil jalan memutar. Bondan segera mengikuti kelompok yang mengikuti jalan setapak dengan melompat seperti seekor tupai di antara dahan pepohonan tanpa suara.
Ranggawesi yang tiba lebih dahulu masih mengamati suasana yang lengang. Api unggun terlihat di beberapa sudut perkampungan dan hanya beberapa orang yang duduk melingkarinya. Ranggawesi melihat kerlap-kerlip dari kejauhan yang merupakan pertanda bahwa pemimpinnya telah tiba di sisi yang lain.
Pada saat itu Ki Lurah menggerak-gerakkan lempengan emas kecil yang terselip pada pinggangnya. Lempengan ini memantulkan cahaya yang ditimbulkan oleh nyala api kecil. Mereka pun bergerak maju mendekati perkampungan itu setelah melihat tanda yang dikirimkan pemimpinnya.
Binatang malam enggan berbisik-bisik ketika para prajurit mengendap maju mendekati sarang penyamun. Senandung malam yang biasa dilantunkan kawanan jangkrik pun seolah tergulung dalam dekapan malam.

Tiba-tiba terdengar suara kentongan yang dipukul dengan beruntun. Lalu mendadak muncul sejumlah orang dari belakang mereka. Para prajurit yang dikejutkan oleh suara kentongan bernada titir itu tiba-tiba telah berada dalam kepungan para penyamun. Kata-kata kasar dengan cepat memenuhi udara malam. Senjata berkelebat dan tampak berkilau muram oleh pantul sinar lemah rembulan.
Perkelahian yang tidak mempunyai keteraturan akan terjadi. Setiap orang tidak dapat memilih lawan, tempat dan waktu untuk bertarung. Gelap meliputi prajurit Majapahit dalam segalanya.
Sudah kepalang tanggung bagi Ki Guritna untuk membuka gelar perang dalam menghadapi gerombolan penyamun yang dengan cepat menyerang mereka. Satu-satunya jalan baginya adalah memecah perhatian mereka dengan membakar perkampungan sekelompok orang yang sering menganggu keamanan para penduduk padukuhan.
“Jangan terburu membalas serangan mereka! Bakar apa saja yang bisa kalian bakar. Renggutlah napas mereka yang terakhir. Kita bertempur dalam api!” perintah Ki Guritna yang berada ditengah barisan. Para prajuritnya bergegas menjalankan perintahnya. Panah api yang telah disiapkan sebelumnya serentak berhamburan melesat mencapai rumah-rumah kayu para penyamun yang beratap jerami.
Seluruh gubuk atau rumah berdinding kayu dan beratapkan jerami dari yang berukuran kecil yang puncak atapnya setinggi tiga kali orang dewasa dengan cepat terbakar. Pasukan Ki Lurah Guritna segera bertempur dengan gagah berani dalam kepungan api yang tingginya seperti bukit kecil. Puluhan senjata pun berkelebat di antara api yang berusaha menjilati mereka.

Untuk tetap menjaga kemampuan dan menunjang kekuatan yang akan membayangi kekuasaan Sri Jayanegara maka para pengikut Ki Cendhala Geni menyiapkan banyak rencana. Menguasai keamanan Sumur Welut adalah satu jalan, sedangkan tujuan akhir mereka adalah merebut tahta Sri Jayanegara. Keteguhan dan keyakinan itu semakin kuat setiap harinya. Bahwa Sri Jayanegara tidak berhak menjadi raja adalah anggapan yang terus menerus didengungkan oleh para pemimpin kelompok mereka, dan menurut sekelompok orang ini seharusnya yang menjadi penguasa Majapahit adalah keturunan Jayakatwang. Demikianlah pengertian yang mereka langgengkan dari waktu ke waktu.
Kawanan yang dipimpin oleh seseorang yang bernama Ubandhana ini sebenarnya cukup lama melakukan kejahatan di pedukuhan sekitar wilayah Sumur Welut. Tetapi sejak kematian Mantri Rukmasara maka persediaan mereka menjadi semakin sedikit. Mpu Nambi dengan sigap dan pemikiran matang secara pasti mampu mengurangi ruang gerak gerombolan Ubandhana. Walau Pang Randu memberi kebebasan hukuman bagi mereka namun mereka tidak lagi leluasa sebagaimana sebelumnya. Kedekatan kelompoknya dengan Pang Randu tidak mengubah kegeraman Ubandhana. Pada kesempatan yang berbeda, di depan Pang Randu, ia pernah mengatakan bahwa Sumur Welut akan menjadi ladang api. Walau pun ia berucap seperti itu, Pang Randu paham bahwa Ubandhana hanya bagian kecil dari kawanan tikus tanah.

Ubandhana yang sudah mengetahui pergerakan pasukan kecil itu memang mempersiapkan rencana khusus untuk menyambut mereka. Ia memerintahkan anggotanya untuk bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun atau di dahan-dahan pohon. Namun ia terkejut karena sebelumnya mengira bahwa Ki Guritna akan menghadapi para penyamun yang ada di belakang mereka, tetapi ternyata perwira ini tetap memerintahkan maju dan meninggalkan penyamun yang menyergap mereka dari arah belakang.
Kejutan berikutnya yang diterima Ubandhana adalah perintah membakar perkampungan yang telah dibangun untuk dijadikan sarang.
“Benar-benar prajurit gila! Bukannya berbalik badan berhadapan dengan anak buahku tapi justru meluruk maju dan membakar semuanya!” geram Ubandhana penuh amarah.
“Aku lipat gandakan bagian kalian! Habisi lalu keringkan darah para prajurit itu!” perintah Ubandhana sambil memutar-mutarkan tombak. Sorak sorai anak buah Ubandhana membahana memecahkan malam yang sunyi. Tombak yang berputar sangat cepat itu segera menghantam prajurit yang berada di dekatnya. Gulungan sinar yang berasal dari tombak begitu mengerikan dan menggetarkan setiap mata yang melihatnya.
Ki Guritna dilibat kemarahan luar biasa. Ia gusar dengan kebocoran rencananya. Sedikit orang yang ia ajak bicara termasuk Ranggawesi, namun ia tidak yakin jika Ranggawesi menjadi orang yang menusuknya dari belakang.
“Siapakah orang dari prajuritku yang membeberkan penyergapan ini?” Ia mengamuk dan memutarkan gada dengan seluruh kekuatan. Gada Ki Guritna menghantam setiap penyamun laksana beliung menerbangkan daun kering.
Berkelebat satu sosok di antara kobaran api mendekati Ki Guritna. Lurah prajurit kini menghadapi lawan yang sangat tangguh. Ubandhana dengan ganas mengayunkan tombak yang ujungnya melengkung seperti bulan sabit ke arah Ki Guritna. Dalam beberapa gebrakan, gada Ki Guritna terkurung tombak Ubandhana. Beberapa kali kulit Ki Guritna tersayat gerigi tajam ujung tombak Ubandhana.

Dalam waktu yang tidak lama, prajurit-prajurit ini mulai kewalahan menghadapi serangan para penyamun. Jumlah yang kalah banyak dan mereka pun belum bergabung satu sama lain makin membuat mereka terdesak oleh serangan penyamun yang ganas dan liar. Para penyamun seperti burung pemakan bangkai yang mencabik mangsanya. Mereka mengeroyok setiap prajurit dengan keji dan menghunjamkan senjatanya sekalipun lawannya sudah mati tak berdaya.
Bondan terlihat sibuk memberi pertolongan bagi para prajurit yang terluka. Tubuhnya lincah melesat kesana kemari menggotong prajurit yang mengalami luka-luka ke tepi perkampungan. Suatu ketika ia berusaha mendekati Ranggawesi yang kewalahan membendung serangan para penyamun.
Tubuh Ranggawesi bermandikan darah karena sabetan golok dan pedang kawanan Ubandhana. Saat itu Bondan membuka jalan darah dengan mengambil pedang prajurit yang sudah roboh tak bernyawa. Pedang yang digenggamnya seperti kilat yang menyambar tiap penyamun yang menghalanginya. Pedang yang terhunus itu seperti serigala yang ingin menghisap darah setiap penyamun yang mengepungnya. Beberapa orang dari kawanan penyamun yang berada di antara Bondan dan Ranggawesi pun satu persatu roboh oleh tebasan pedang Bondan.
Ranggawesi yang telah terhuyung dan bersimbah darah tampak kesulitan menghindari sebatang tombak yang meluncur deras ke arahnya. Tombak itu tepat menghunjam dada Ranggawesi. Bondan yang sedang bertarung di belakangnya pun segera menoleh karena teriakan terakhir Ranggawesi.
Seorang yang lanjut usia namun masih gagah telah berdiri angkuh menginjak kepala Ranggawesi. Dada Bondan bergemuruh karena amarah. Sebuah penghinaan besar telah dilakukan di depannya, betapa dengan bengis dan biadab seseorang telah menginjak kepala seorang pemimpin prajurit yang telah tewas. Pedang pun dilontarkan ke arah orang tua itu dan Bondan melesat cepat di belakang pedang sambil melepas ikat kepala. Kaki orang tua yang berada di atas kepala Ranggawesi pun terpaksa berputar untuk menangkis lemparan pedang dari Bondan. Tangan kiri orang tua itu menyambut serangan Bondan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *