0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 79 – Kelompok Misterius di Dusun Benda

Dironda 52 kali

Wedaran sebelumnya: Kabar dari Menoreh, kemungkinan hadirnya kepentingan lain, serta nama-nama yang tidak dapat diabaikan mulai disebut sebagai ancaman. Di bagian lain, dua atau tiga orang telah bergerak pula membawa kabar barak dan Menoreh melalui jalan masing-masing. Dan ketika hari beranjak menuju malam, seseorang mulai memasang jarring pengamatan

Malam pun larut dalam kelam ketika kabut tipis tampak turun dengan enggan. Permukaan jalan hampir tidak terlihat karena cahaya oncor dan obor terhalang walau tirai alam itu terkesan tipis.

Saat Ki Demang Brumbung tuntas memberi keterangan, Pangeran Purbaya tampak mengangguk berulang. Tatap matanya sejenak mengarah ke halaman sebelum kembali kepada orang yang pernah menjadi anak buahnya itu.

“Bagaimana keadaan Ki Gede Menoreh?”

Ki Demang Brumbung menarik napas. “Ada serangan yang ditujukan pada beliau tapi Nyi Banyak Patra dan Mpu Wisanata berada di sekitar Ki Gede.”

“Aku dapat mengerti karena Nyi Pandan Wangi tentu belum dapat bergerak bebas karena luka-luka,” kata Pangeran Purbaya.

Ki Demang Brumbung mengangguk lalu menambahkan keterangan yang sekiranya perlu diketahui oleh Pangeran Purbaya, termasuk tingkat kemampuan para penyerang.

Pangeran Purbaya tidak menunjukkan perubahan pada wajahnya.

“Kalau pengawal Tanah Perdikan mengatakan seperti yang Ki Demang sampaikan, saya tidak mungkin menganggap itu serangan biasa, serangan yang disengaja oleh sekelompok perguruan atau beberapa jika mereka bekerja sama. Seperti Ki Demang katakan, mereka mengenal gelar perang dan sikap yang patuh pada pemimpin kelompok, tidak bergerak liar dan seperti sudah ada kesepakatan yang sulit diungkapan di atas gelanggang.”

“Saya kira demikian, Pangeran.“

Pangeran Purbaya mengangguk. Dia kemudian melihat ke halaman yang semakin gelap sebelum berkata, “Malam sudah terlalu larut, Ki Demang. Jika tidak keberatan, bermalamlah di sini.”

Ki Demang Brumbung belum sempat menjawab ketika Pangeran Purbaya melanjutkan, “Tetapi jika Ki Demang ingin beristirahat di barak, saya akan meminta seorang pengawal mendampingi Ki Demang ke sana.”

Ki Demang Brumbung memahami maksud perkataan itu. Seorang pengawal berarti Pangeran Purbaya telah memberinya petunjuk agar menginap pada sebuah lingkungan tertentu.

“Saya, Pangeran.”

Tidak lama kemudian Ki Demang Brumbung telah meninggalkan kediaman itu bersama seseorang yang berjalan di samping kudanya.

Dua hari setelah serangan terhadap barak pasukan khusus, kehidupan di Tanah Perdikan Menoreh telah bergerak kembali dalam iramanya sendiri.

Di pedukuhan induk, orang-orang tetap memenuhi jalan sejak pagi. Mereka pergi ke sawah, membuka tempat berdagang, atau mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda. Namun percakapan mengenai peristiwa beberapa hari terakhir masih terdengar di gardu, di halaman rumah, bahkan di antara orang-orang yang berpapasan di jalan.

Keadaan di sekitar kediaman Ki Gede Menoreh tampak lebih tenang. Pengawal Tanah Perdikan masih terlihat lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa, meskipun mereka tidak lagi menempatkan diri seperti ketika ancaman dapat datang setiap saat.

Di tempat lain, barak pasukan khusus juga telah kembali pada kesibukannya. Kerusakan akibat pertempuran belum seluruhnya hilang, tetapi kegiatan para pengawal telah berjalan. Agung Sedayu berada di antara sejumlah persoalan yang datang hampir bersamaan setelah serangan itu.

Namun keadaan yang tampak berangsur tenang di pedukuhan induk tidak sepenuhnya menggambarkan seluruh Tanah Perdikan.

Dusun Benda.

Wilayah ini justru mengalami keadaan yang berbeda.

Pada saat serangan ke barak sangat tajam menghantam, Ki Jayaraga disertai belasan pengawal ternyata tertahan ketika penglihatannya menangkap banyak pergerakan di sisi selatan tanggul. Dengan pertimbangan singkat, Ki Jayaraga segera membawa para pengawal memintas jalan untuk menutup jalur yang mengarah ke barak pasukan khusus atau rumah Agung Sedayu.

Barisan pengawal yang dipimpin oleh Ki Jayaraga dengan dibantu seorang bebahu dusun tetap berada di tempat mereka hingga fajar menyingsing.

Sepertinya sejumlah orang yang bergerak senyap di sisi lain itu mengetahui perubahan yang dilakukan Ki Jayaraga. Pergerakan mereka berhenti. Tidak ada seorang pun yang mencoba mendekati jalur yang telah ditutup para pengawal, tetapi mereka juga tidak segera meninggalkan tempat itu.

Keadaan itu berlangsung hingga pagi tiba.

Ki Jayaraga tidak memerintahkan pengawalnya bergerak mendekat. Dia belum dapat menduga maksud sekelompok orang itu. Tapi membenturkan kekuatan sudah jelas bukan jalan yang terbaik saat itu.

Dalam waktu itu, tidak terlihat pula usaha dari arah selatan tanggul untuk bergerak maju.

Tampaknya dua pihak seperti sedang menunggu.

Ketika cahaya mulai membuka jarak pandang di sekitar tanggul, beberapa pengawal melihat pergerakan di kejauhan. Orang-orang yang sepanjang malam menahan diri itu mulai bergeser. Tidak tergesa-gesa dan tidak pula tercerai-berai. Mereka bergerak mundur sedikit demi sedikit hingga akhirnya tidak lagi terlihat dari tempat Ki Jayaraga berada.

Namun Ki Jayaraga tidak segera memerintahkan pengawalnya mengejar. Dia hanya memandang lekat ke arah orang-orang itu menghilang. Jika mereka sekadar orang-orang yang kebetulan melintas, tidak ada alasan untuk bertahan sepanjang malam setelah mengetahui jalan di hadapan mereka telah dijaga.

Dan jika mereka memang mempunyai kepentingan tertentu, langkah mundur itu belum berarti tujuan tersebut telah dilepaskan.

Namun Ki Jayaraga tidak segera memerintahkan pengawalnya mengejar. Dia hanya memandang lekat ke arah orang-orang itu menghilang. Jika mereka sekadar orang-orang yang kebetulan melintas, tidak ada alasan untuk bertahan sepanjang malam setelah mengetahui jalan di hadapan mereka telah dijaga.

Dari tempat yang berbeda, Ki Sanggabaya sempat pula melihat beberapa orang bergerak menjauh sebelum akhirnya hilang dari pandangan.

Kedatangan Ki Sanggabaya ke tempat penjagaan Ki Jayaraga itu bermula dari petunjuk seorang bebahu lain yang menjalankan tugas menjadi penghubung antara dusun tersebut dengan barak pasukan khusus.

Selang beberapa waktu digunakannya untuk memperkirakan keadaan di sekitar tanggul serta arah yang ditempuh orang-orang yang bergerak menjauh. Barulah Ki Sanggabaya menemui Ki Jayaraga.

Pertemuan mereka tidak berlangsung lama. Ki Jayaraga menyampaikan keadaan yang berlangsung sejak malam sebelumnya, sementara Ki Sanggabaya memberikan beberapa keterangan yang sekiranya dapat melengkapi perkiraan mereka. Keduanya sempat bertukar pikiran mengenai sejumlah kemungkinan, meskipun belum ada cukup alasan untuk memastikan maksud orang-orang asing tersebut.

“Ki Rangga,” kata Ki Jayaraga. “Saya menitip pesan untuk Ki Tumenggung bahwa saya tetap bertahan di sini untuk beberapa waktu. Sukra atau Sayoga dapat bergantian datang sesuai keadaan.”

“Saya, Kyai,” sahut tegas Ki Sanggabaya sambil mengangguk.

Tidak lama kemudian dia meninggalkan Dusun Benda untuk kembali ke barak pasukan khusus, sedangkan Ki Jayaraga tetap bertahan di Dusun Benda sampai ada perubahan atau ketentuan lain dari Agung Sedayu atau Ki Gede Menoreh.

Menjelang senja, di sebelah utara dusun itu, seorang laki-laki berdiri cukup lama di bawah kerimbunan pohon. Pakaiannya kusam seperti orang yang telah menempuh perjalanan jauh. Dari tempatnya berdiri, sebagian jalan yang memasuki Dusun Benda dapat terlihat di antara batang-batang pepohonan.

Dia tidak memasuki dusun.

Beberapa kali orang lewat di jalan itu. Laki-laki tersebut hanya memperhatikan mereka sebelum akhirnya berbalik dan menghilang ke balik pepohonan.

Saat malam baru saja mengendap di dusun yang mempunyai jalur ke Gunung Kunir, lelaki yang sama telah berada lebih jauh dari tempat semula.

Dia berjalan sambil menuntun seekor kuda. Langkahnya tidak tergesa meskipun cahaya semakin berkurang di antara pepohonan. Sesekali dia menundukkan kepala ketika melewati ranting yang menjulur rendah, lalu meneruskan perjalanan tanpa terlihat ragu menentukan arah. Agaknya lelaki itu telah mengenal wilayah Dusun Benda dengan cukup baik.

Sebuah jalan setapak membawanya sedikit naik ke atas tanggul. Dari sana dia berjalan pelan beberapa puluh langkah sebelum kembali turun pada bagian yang lebih landai. Kuda di belakangnya menurut saja ketika kendali ditarik pendek agar tidak terlalu jauh tertinggal.

Tak lama kemudian, dia sampai di sebuah simpang tiga kecil lalu mengambil jalan yang berbelok menjauhi dusun. Jalan itu semakin sempit dan akhirnya membawanya ke sebuah hutan kecil. Dia berhenti, mengikat kuda lalu berdiri diam seperti sedang menunggu atau akan melakukan sesuatu.

Tidak banyak yang dia lakukan selain bermalam di tempat yang bukan sulit dijangkau tetapi sunyi dari lalu lalang orang. Lingkungan itu berada di sebelah barat Dusun Benda, tidak persis di samping hutan kecil tetapi masih berdekatan dengan tanah terbuka yang memanjang di sisi tanggul. Tempat itu sebenarnya bukan tempat yang tepat untuk dijadikan sebagai titik pengamatan. Namun demikian, sebagian jalan yang menghubungkan Dusun Benda dengan jalur menuju Gunung Kunir masih dapat terlihat.

  • Gardu jaga selalu dituntut bersiaga. Jika Kayu Merang menempatkan semacam gardu atau mempunyai penghubung, tentu berita tentang kematian pengikutnya yang mengenaskan akan sampai padanya sebelum tengah malam. Bulan Telanjang 18.
  • Kenyataan yang sulit atau kadang sulit diterima adalah kesiagaan dan persiapan sudah sangat baik, tapi Pedukuhan Janti yang berada di Kademangan Sangkal Putung pun dikabarkan telah jatuh ke tangan pemberontak. Raden Atmandaru masih menepuk dada atas keberhasilannya itu di Kiai Plered 27.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.