Dironda 100 kali
Wedaran sebelumnya: pertempuran pada beberapa bagian di barak pasukan khusus telah usai. Sabungsari yang terbebas dari perkelahian mengambil kedudukan sebagai pengamat.
Hampir pada saat yang bersamaan dengan benturan yang terjadi di gerbang barat, pasukan Ki Demang Brumbung semakin masuk dengan kesan seakan terdesak. Gerbang barat seru dengan benrokan yang nyaris seimbang dan perlahan mulai mendekati ambang barak.
Sementara Ki Lurah Sora Sareh dan Ki Prana Aji bahu-membahu membentengi barak pada bagian utara. Beberapa orang sempat melihat ke arah timur. Di sana, sekelompok orang ternyata berhasil menerobos masuk lebih jauh. Keadaan itu justru membangkitkan keberanian yang sempat tersimpan di dalam dada mereka.
Kalau mereka dapat masuk, kami pun harus bertahan. Pikiran seperti itu agaknya tumbuh di antara mereka yang berhasil memanjat dinding utara yang dijaga Glagah Putih dan pasukannya. Namun keadaan di utara juga tidak dapat diabaikan. Hanya dua orang senapati yang sedang menghadapi sepuluh lawan. Mereka masih mampu bertahan, tetapi jumlah yang tidak seimbang membuat setiap perubahan kecil dapat menjadi berbahaya.
Sabungsari memandang seluruhnya dengan cemas. Ini semuanya adalah tekanan yang terjadi pada saat yang sama!
Sedikit jauh di belakang Sabungsari, seseorang juga melihat seluruh kerusuhan itu dengan kecemasan yang berbeda. Dia dapat bertindak bebas—sesuatu yang jelas tidak dapat dilakukan oleh Sabungsari yang terikat paugeran keprajuritan. Orang ini paham bahwa dirinya bebas memilih dan bebas pula berbuat.
Ki Garu Wesi melesat sangat deras dari samping Ki Sor Dondong.
Hanya dalam sekejap mata atau lebih sedikit, lima orang yang mengeroyok Ki Lurah Sora Sareh lebih dulu tumbang sebelum sadar ada bayangan yang membuat perubahan. Ki Garu Wesi sudah meledak di antara mereka dengan gerakan singkat tapi sangat dahsyat.
Satu orang terhuyung setelah menerima serangan pertama. Orang kedua belum sempat mengubah pijakan ketika Ki Garu Wesi sudah berpindah ke arahnya. Tiga orang lainnya berusaha mengambil jarak, tetapi tidak mendapatkan kesempatan yang cukup. Dalam beberapa saat saja, kelima orang itu telah terpental dan tumbang.
Tersisa lima orang masih berada di dinding utara tetapi keadaan telah berubah. Dua senapati pasukan khusus itu cepat menata ulang ikatan pertarungan. Hanya dua orang dan itu lebih dari cukup untuk menyapu bersih para penyusup yang masih melawan.
Ki Garu Wesi melihat sekilas pada Ki Lurah Sora Sareh, katanya pelan, “Maaf, Ki Lurah.”
Dia segera kembali ke tempatnya semula tapi Ki Sor Dondong tidak lagi di situ.
Sebenarnya, ketika melihat gerakan di timur yang semakin jauh masuk ke dalam barak, Ki Sor Dondong mengalihkan pandangan ke arah barat lalu tampak bahwa di sana benturan kembali meletus.
Sejumlah orang bergerak menjauh dari gerbang, sementara sebagian lainnya justru terdorong mendekatinya. Ki Sor Dondong mengerutkan kening. Pikirnya, dia tidak dapat menunggu lebih lama.
Dengan tubuh yang masih menyimpan luka dalam, Ki Sora Dondong tertatih-taih berjalan mendekati gerbang barat. Salah satu tangannya berpegangan pada dinding papan setiap kali harus melewati bagian yang terasa berat bagi tubuhnya. Setelah semakin dekat, tangannya meraih lengan tangga yang berada di sisi bangunan.
Dari tempat itu pandangannya menjadi lebih luas. Pertempuran berlangsung ketat di sekitar gerbang. Dia melihat ke arah timur sekali lagi. Kemudian kembali menatap barat.
Dua keributan.
Dua arah.
Dan keduanya mulai bergerak mendekati bagian dalam barak.
Suara Ki Sor Dondong terdengar keras. Menyerukan sesuatu pada Prastawa. Meski kurang mengenal karena sedikit sekali perjumpaan, Ki Sor Dondong tahu bahwa laki-laki itu adalah pemimpin para pengawal yang berjaga di gerbang barat.
Kepala keamanan Tanah Perdikan Menoreh yang berada tidak jauh dari sana segera menoleh kemudian bergerak mendekat.
Ki Sor Dondong menunjuk ke arah gerbang sambil mengatakan kata-kata tertentu dengan suara yang dipaksakan. Sejenak kemudian, dia menarik napas, menahan rasa nyeri yang kembali terasa di bagian tubuhnya.
Prastawa mengangguk tapi penuh keraguan. Apakah ucapan itu berujung jebakan yang menghancurkan atau bagaimana? Namun keraguan Prastawa seperti mendapatkan jawaban ketika salah satu pasukan khusus cepat mendorongnya agar mengubah gelar sesuai kata-kata Ki Sor Dondong.
“Cepatlah, Ki,” ucap pasukan khusus itu ketika dia melibatkan diri dalam pertarungan gerbang barat sekali lagi. “Ki Tumenggung percaya padanya, kami percaya padanya. Lakukanlah, kami mengikuti Anda,”
Sedikit ragu tapi keadaan memaksa Prastawa membuat keputusan dengan cepat. Maka perintah pun digaungkan. Susunan gelar pun berubah.
Ki Sor Dondong masih menatap gerbang barat.
Kecemasannya bukan lagi semata-mata karena benturan yang berlangsung di sana. Yang membuatnya gelisah adalah perubahan arah pertempuran. Timur telah ditembus. Barat kembali meletus. Jika keduanya terus mengalir ke dalam, maka barak yang sejak awal menjadi tempat bertahan akan berubah menjadi gelanggang yang tidak lagi mudah dikendalikan.
Ki Sor Dondong menggenggam lengan tangga lebih erat lalu berkata lagi lebih lantang kepada Prastawa. Mantan panglima tempur Raden Atmandaru itu tidak sedang bertarung, tetapi dari tempatnya berdiri, naluri dan kecerdasannya masih bekerja dengan baik.
Pasukan khusus mendorong lagi, Prastawa pun menggemakan perintah lagi. Sedikit demi sedikit, keseimbangan gerbang barat pun dapat dikendalikan oleh pengawal Menoreh.
Kelompok baru yang tiba-tiba menyerang barak pasukan khusus itu sebenarnya bermula dari pergerakan beberapa pengawal Dusun Pringtali. Di bawah perintah Ki Tumenggung Agung Sedayu, Ki Demang Brumbung menemui bebahu dusun lalu mengurai sedikit rencana keamanan.
Lewat pertengahan malam, ketika sebagian besar perkemahan telah diliputi kesunyian, beberapa bayangan bergerak melewati sisi perkemahan orang-orang dari Perguruan Ki Winih Jambe.
Gerak mereka tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak seperti orang yang sedang berjalan tanpa tujuan. Beberapa pengawal Dusun Pringtali bergerak dalam kelompok-kelompok kecil, menjaga jarak satu dengan yang lain. Mereka berusaha menghindari perhatian, sebab tugas mereka emban bukanlah menuju pertempuran, tapi berjaga dari kemungkinan buruk yang dapat terjadi setelah kerap terjadi benturan langsung antarperguruan beberapa saat sebelum perang tanding Pancuran Watu Item.
Namun gerakan itu tidak luput dari pengawasan orang-orang Ki Winih Jambe yang sedang berjaga di sekitar perkemahan.
Sima Baya, yang berkemampuan lebih baik dari seluruh pengikut Ki Winih Jambe, dapat mengetahui beberapa sosok melintas di kejauhan, yang muncul dan menghilang di balik pepohonan dan semak-semak.
Beberapa saat dia hanya memperhatikan. “Apakah mereka orang-orang dusun?” gumamnya. Sejenak kemudian, dia pun yakin setelah mengenali sebagian yang membawa senjata lalu menduga tujuan atau jalur mereka itu.
Sima Baya kemudian berjalan cepat menuju tempat Ki Winih Jambe beristirahat.
“Kyai,” katanya pelan.
Ki Winih Jambe yang belum benar-benar terlelap membuka mata. Dia mengangkat kepala dan memandang Sima Baya.
“Saya melihat beberapa pengawal Pringtali bergerak ke arah pedukuhan induk.”
Ki Winih Jambe segera duduk. “Sekarang?”
Sima Baya mengangguk. “Lewat tengah malam begini, mereka bergerak dalam kelompok kecil.”
Ki Winih Jambe terdiam dengan pandangan menyapu kegelapan yang terbentang di luar perkemahan.
“Apa kau yakin mereka pengawal Pringtali?”
“Saya mengenal beberapa di antaranya.”
“Dan mereka menuju pedukuhan induk?”
“Ya.”
Ki Winih Jambe mengusap wajahnya perlahan. Ada sesuatu yang berubah dalam sorot matanya.
Selama beberapa waktu terakhir, suasana di sekitar pedukuhan induk memang tidak pernah benar-benar tenang. Benturan di beberapa tempat telah membuat orang-orang berjaga dalam keadaan yang terus menegang. Dan pergerakan pengawal dalam jumlah tertentu setelah lewat tengah malam bukanlah sesuatu yang dapat diabaikan.
Sima Baya kemudian berkata, “Sepertinya ada sesuatu yang besar akan terjadi di pedukuhan induk.”
Ki Winih Jambe memandang lekat. “Menurutmu?”
“Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi kalau keadaan benar-benar aman, mereka tidak akan bergerak seperti itu.”
Sima Baya menunggu barang sejenak sebelum berkata, “Bagaimana kalau saya ke sana?”
Ki Winih Jambe menatapnya lebih tajam. “Ke pedukuhan induk?”
“Saya bawa beberapa orang. Tidak banyak. Kami hanya melihat-lihat keadaan.”
“Kalau memang sedang terjadi sesuatu?”
“Kami tidak akan mencari perkara. Kami hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Ki Winih Jambe berpikir sejenak. Dia paham maksud Sima Baya. Mereka tidak mempunyai kepentingan untuk ikut campur dalam benturan yang sedang berlangsung. Tetapi jika sesuatu yang lebih besar memang sedang bergerak menuju pedukuhan induk, mereka juga dapat menimbang, apakah ada kepentingan yang menguntungkan atau lebih baik berpura-pura tidak terjadi sesuatu?
Akhirnya Ki Winih Jambe mengangguk. “Pergilah. Lakukan yang perlu dilakukan tapi membidik Agung Sedayu bukanlah saat yang tepat untuk sekarang.”
Sima Baya mengangguk lantas keluar, memilih beberapa orang. Maka mereka pun bergerak tanpa perlengkapan yang dapat menghambat langkah. Tak lama kemudian, kelompok kecil itu sudah jauh meninggalkan perkemahan.
- Ki Winih Jambe, sang penerus Ki Mahoni, sebenarnya agak ragu-ragu tapi melihat kesungguhan Sima Baya, maka Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh pun makin seru lagi rumit.
- Sedangkan di lain waktu, Swandaru memandang ke belakang serta bagian samping kiri dan kanan. Mengapa mereka tidak diperintahkan menyerbu? Pikirnya, bukankah kita sekarang berada di Geger Alas Krapyak 33?
- Sudah barang tentu, pertanyaan seperti itu mempunyai jawaban yang berbeda dengan ini: lalu mengapa para rangga dan tumenggung tidak menghukum mereka yang membangkang? Tentu kita tidak mempunyai jawaban selain membaca Sabuk Inten 3 agar dapat mengerti pemikiran Sultan Trenggana.
