Dironda 41 kali
Wedaran sebelumnya: gerombolan asing dari perguruan yang berlainan datang pula menyerang barak pasukan khusus. Itu terjadi ketika pategalan selatan masih riuh dengan pertempuran yang melibatkan cantri Perguruan Orang Bercambuk Jati Anom.
Kedatangan Sukra dan Sayoga sepertinya justru seperti sedang menyiram di atas kobaran api yang sedang menyala. Perlawanan orang-orang asing kian ulet dan liat. Mereka bertahan dengan sangat gigih.
Dalam benturan di pategalan selatan, Sayoga dan Sukra tampaknya sudah sepakat meski tidak terucap bahwa pertempuran harus segera diakhiri. Maka dua anak muda kepercayaan Agung Sedayu ini pun serta-merta menghentak kemampuan dan bertarung dengan sangat garang.
Sayoga kemudian meneriakkan sepatah dua patah kata yang ditujukan pada Kinasih yang tampak seperti sedang bermain-main saja.
Gayung bersambut.
Murid Nyi Banyak Patra itu seperti menjadi alasan bagi pengikut Ki Jabon Seta agar tidak lagi dinaungi keberuntungan.
Seketika Kinasih bergerak dengan kecepatan yang tidak terukur. Dia menyelinap di antara orang-orang yang sedang bertempur. Tidak mudah bagi lawan untuk mengikuti arahnya bergerak atau menebak kemunculannya.
Tiba-tiba saja sebatang ranting telah tergenggam di tangan Kinasih. Benda tumpul itu berayun ke sana kemari dengan gerakan yang sekilas tampak tidak beraturan. Namun setiap kali ayunan itu lewat, terdengar seruan tertahan dari beberapa orang yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan atau terpaksa melangkah mundur.
Kinasih tidak berhenti. Dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan kecepatan yang membuat orang-orang di sekitarnya hanya sempat menangkap bayangan geraknya. Seorang lawan yang baru saja berhadapan dengan seorang cantrik tiba-tiba terhuyung. Pada saat yang hampir bersamaan, lecutan cambuk menyambar tubuhnya.
Begitulah gerakan Kinasih justru membuka jalan bagi para cantrik Jati Anom. Orang-orang Ki Jabon Seta yang masih bertahan dengan gigih mulai kehilangan ruang. Setiap kali mereka berusaha membangun kembali kepungan, Kinasih telah lebih dahulu berada di tempat lain, mengacaukan keseimbangan mereka sebelum sabetan cambuk menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Bila bukan Kinasih, itu bisa Sukra atau Sayoga yang merusak semangat tempur mereka.
Perlawanan itu akhirnya surut. Bukan karena satu pihak tiba-tiba menjadi lebih kuat, tapi karena orang-orang Ki Jabon Seta satu demi satu kehilangan kemampuan untuk melanjutkan perkelahian.
Tidak seorang pun terbunuh. Tiga anak muda kepercayaan Agung Sedayu itu lebih memilih untuk melumpuhkan sesuai pesan Sedayu sebelumnya.
Para cantrik Jati Anom segera bergerak mengumpulkan mereka yang tumbang. Beberapa diseret menjauh dari gelanggang, sementara yang lain dibantu berdiri dan dikumpulkan di tempat yang lebih lapang. Pategalan selatan yang beberapa saat sebelumnya dipenuhi benturan dan gerakan yang saling menyilang pun berubah menjadi kesibukan yang berbeda.
Tidak ada sorak kemenangan. Para cantrik hanya berbicara seperlunya sambil memastikan orang-orang yang mereka kalahkan masih bernapas dan tidak berada dalam keadaan yang membahayakan.
Sukra dan Sayoga berdiri sejenak memandangi keadaan itu. Kinasih pun telah menghentikan gerakannya. Ranting yang sejak tadi berada di tangannya juga sudah tidak tampak lagi. Yah, gadis ini ternyata mulai sering menggunakan senjata dari benda yang terdekat dengannya saat memulai pertarungan.
Pertempuran telah selesai, tetapi ketegangan belum sepenuhnya meninggalkan pategalan selatan.
Di gelanggang Agung Sedayu.
Singkat waktu mereka ternyata sama-sama terpental beberapa langkah surut setelah mengadu kekuatan tinggi.
Namun begitu, Ki Jabon Seta rupanya menetapi rencananya dengan tidak akan memberi kelonggaran bagi Agung Sedayu. Maka, begitu dia berhenti, sekejap kemudian dia telah menerjang maju.
Entahlah, tiba-tiba sebilah keris lagi tampak melayang sedikit di depan tubuhnya dengan ujung mengarah pada Agung Sedayu. Bisa jadi, ini pengerahan ilmu puncak jalur perguruan dari Ki Jabon Seta tapi mungkin juga belum seluruhnya dikerahkan.
Perasaan setiap orang yang melihat pun menjadi tak karuan melihat keris yang melayang di depan Ki Jabon Seta dan sedang meluncur deras searah dengan pemiliknya. Sementara sebilah lagi masih tergenggam erat di tangan orang itu dengan nyala samar yang berpendar pada bilahnya.
Seketika udara terasa semakin panas. Rupanya Agung Sedayu telah mengerahkan lebih dari separuh kemampuan ilmu kebalnya.
Jaka Awar-awar dan Ki Warujayeng memandang Ki Astaman yang berulang-ulang menggelengkan kepala. Mereka paham orang itu tidak terkejut dengan kemampuan Ki Jabon Seta yang terungkap, tapi mereka terbelit pertanyaan: apakah karena serangan Ki Jabon Seta yang tidak terjangkau nalar yang menjadi sebab Agung Sedayu gagal mengetrapkan ilmu dahsyat yang dilontarkan lewat sorot mata?
Kenyataan di gelanggang justru mengatakan keadaan yang berlainan. Pada saat itu, keris Ki Jabon Seta yang melayang ternyata meluncur lebih deras daripada orang itu sendiri. Sulit mengurai sebabnya ketika keris itu tiba-tiba menukik, melayang datar, lalu ujungnya mengarah ke dada Sedayu seolah mampu menerobos pertahan cambuk yang berputar-putar sangat rapat. Debu membumbung tinggi dan bergolak di udara, membatasi jarak pandang bersama butiran tanah yang melesak masuk ke batang pohon sekitar gelanggang.
Namun serangan itu pun bukan penentu akhir hidup Agung Sedayu. Murid utama Kyai Gringsing ini cepat merendah lalu bergulingan di atas tanah. Sekejap kemudian, melalui gerakan yang tidak terputus, dia melentingkan tubuhnya sambil membidik ujung keris yang melayang itu dengan cambuknya.
Benturan kembali terjadi. Dentuman kembali menggebuk bagian dalam orang-orang yang berada di samping gelanggang mereka.
Tubuh Sukra dan Sayoga tampak bergetar lalu kaki mereka bergeser surut setapak dan masing-masing terlihat memegang dada mereka dengan pandangan tidak percaya. Sementara Kinasih tampak tetap berdiri tenang dengan rambut riap berkibar karena hempasan tenaga raksasa. Namun gadis ini pun sempat sedikit terguncang meski mampu membuat perisai yang melindungi dirinya.
Ternyata bahwa benturan ilmu melalui dua ujung senjata itu enimbulkan yang mengerikan. Gelanggang mereka seketika berubah.
Tanah di sekelilingnya terdorong menjauh membentuk lingkaran yang samar. Debu dan butiran tanah menumpuk tipis pada bagian tepi—membentuk gundukan rendah yang tidak rata. Seolah-olah benturan kedua ilmu itu membuat batas baru di antara mereka yang berada di dalam dan di luar gelanggang.
Debu belum benar-benar turun meskipun kabut perlahan mulai menipis. Di tengah gelanggang, Ki Jabon Seta terus menekan Agung Sedayu. Sabetan keris datang silih berganti, disusul tusukan-tusukan pendek yang berubah menjadi putaran. Setiap kali keris itu berbalik, lintasannya membentuk lingkaran cahaya yang berpendar di antara kepulan debu. Sehingga yang tampak dari kejauhan adalah Ki Jabon Seta dan Agung Sedayu sedanag bertempur di antara gulungan cahaya.
Namun, dari Ki Astaman sampai Kinasih, yang membuat pertarungan itu lebih mengguncang jantung adalah sebilah keris yang telah terlepas dari tangan Ki Jabon Seta. Senjata itu tidak jatuh dan tidak pula melayang tanpa arah. Keris itu berputar, menukik, kemudian berbalik dengan gerakan yang seakan-akan memiliki mata sendiri. Dari samping dia meluncur menuju tubuh Sedayu, lalu mendadak berubah arah ketika cambuk menutup jalan. Sesaat kemudian keris itu telah berada di belakangnya, kembali mengarah ke punggung, sebelum berputar lagi menuju sisi yang lain.
Agung Sedayu benar-benar kesulitan membaca arah dan arah datang serangan. ini seolah sedang menghadapi dua wujud Ki Jabon Seta sementara dia sendiri terhalang untuk mengetrapkan imunya sendiri, Kakang Kawah Adi Ari-ari. Lagipula itu pun tampaknya mustahil karena cambuk di tangannya sudah tentu tidak dapat terbagi lagi menjadi dua.
Maka Agung Sedayu segera sadar bahwa dirinya tidak hanya menghadapi seorang lawan di depannya. Dia sedang berdiri di tengah pusaran dua serangan yang bergerak dengan aliran berbeda—satu dikendalikan langsung oleh tangan Ki Jabon Seta, sementara yang lain seolah mempunyai kehendaknya sendiri.
Dari tempat yang tidak terjangkau pengawal maupun pengawasan pasukan khusus Mataram, Ki Kamejing dan Ki Ajar Poh Kecik tajam mengawasi perang tanding.
Seandainya ilmu yang yang keluar dari sepasang mata itu benar-benar ada, lawan Sedayu sepertinya telah menemukan cara untuk menghentikannya, pikir Ki Kamejing.
Di sampingnya, Ki Ajar Poh Kecik mempunyai penilaian yang berlainan. Menurutnya, Agung Sedayu benar-benar bertarung dengan tata gerak dan cara yang menakjubkan. Namun demikian, orang yang menjadi lawannya pun ternyata sangat kuat dan dahsyat.
Begitulah dua pendapat yang berbeda sudah terbit di dalam benak dua orang yang menjadi kepercayaan Ki Wira Sentanu. Serba sedikit mereka sudah mengantongi bahan-bahan yang sekiranya dapat dibawa ke dalam pertemuan, kelak.
- Membaca wedaran per wedaran ternyata Agung Sedayu berkembang dan semakin matang. Demikian pula lawan dan medan yang menjadi gelanggang yang sering berubah, termasuk perang tanding saat menghadapi Raden Atmandaru. Kerusuhan Besar Bukit Menoreh ini pun sepertinya sedang menyimpan sesuatu meski tidak pernah menjanjikan pasti terjadi.
- Tapi bukan karena Agung Sedayu yang semakin kuat sehingga Sukra berdiri sambil menepuk-nepuk dadanya seolah ingin mengatakan pada banyak orang agar bergegas menuju Geger Alas Krapyak 24. Tentu ada kisah yang memukau sedang berlangsung di sana.
- Di sana, di lereng Gunung Kendil atau mungkin Gondang Wates, banyak orang berharap yang akan muncul adalah Agung Sedayu. Saya pikir juga demikian hingga klik sendiri Hari Bising Bukit Menoreh 16 agar dapat mengerti yang sedang terjadi di lereng Gunung Kendil.
