Dironda 40 kali
Wedaran sebelumnya: Keberangkatan kelompok kecil pengawal Pringtali menarik perhatian Sima Baya. Ki Winih Jambe mengizinkan Sima Baya serta sejumlah orang lain untuk membayangi para pengawal Menoreh.
Sima Baya dan kelompoknya menjaga jarak dengan cukup dari barisan pengawal Pringtali. Ketika mereka tiba di lingkungan sekitar barak, Sima Baya memutar dari sisi luar, seolah-olah hanya mencari tempat yang baik untuk menyaksikan keributan yang masih berlangsung.
Agak lama kemudian mereka dapat melihat gerbang barat yang menganga lebar. Beberapa orang tampak berjaga di sekitarnya, sementara suara benturan dari dalam barak sesekali masih terdengar.
Sima Baya memperhatikan keadaan itu beberapa saat. “Gerbangnya terbuka,” katanya. Dia kemudian berencana kilat: cukup baik digunakan untuk menyerang. Selain menguji ketangguhan prajurit Mataram, dia juga ingin menyatakan bahwa perguruannya memang pantas diperhitungkan jika keadaan mulai tenang dan barak dalam tekanan.
Kata Sima Baya kemudian, “Kita masuk.”
Beberapa orang yang menyertainya saling berpandangan.
“Kita lihat kemampuan orang-orang yang dianggap sebagai prajurit Mataram itu,” tambahnya.
Sima Baya dan beberapa orangnya mendekati gerbang barat dengan langkah yang tetap tenang. Beberapa pengawal Menoreh yang berjaga segera memperhatikan mereka.
“Berhenti!”
Sima Baya tidak berhenti dan justru makin mempercepat langkah.
“Berhenti!”
Kali ini beberapa pengawal telah bergeser menutup jalan.
Tetapi Sima Baya sudah mengangkat tangannya. “Serbu!”
Kelompok kecil itu langsung menggebrak. Benturan pun pecah di ambang gerbang.
Para pengawal Menoreh tidak sempat lagi mempertanyakan maksud kedatangan mereka. Senjata telah saling beradu dan tubuh-tubuh segera bergerak dalam jarak yang rapat. Sima Baya sendiri menerobos paling depan, berusaha membuka ruang dengan serangan bertubi-tubi.
Dia semula mengira orang-orang yang berjaga di gerbang itu adalah prajurit Mataram yang tidak akan terlalu sulit diukur kemampuannya.
Ternyata dugaannya keliru.
Para pengawal Menoreh bergerak dengan ketenangan yang berbeda. Mereka tidak terpancing untuk mengejar atau membuka susunan. Setiap kali Sima Baya dan orang-orangnya mendesak, dua atau tiga orang segera bergeser mengisi ruang yang terbuka.
Benturan di sekitar gerbang semakin keras.
Beberapa orang dari kelompok Sima Baya berhasil masuk beberapa langkah, tetapi mereka segera berhadapan dengan pengawal lain yang datang dari bagian dalam. Pertempuran pun bergeser sedikit demi sedikit, kadang keluar dari gerbang, kemudian kembali mendekati ambang lalu terus mengalir ke bagian dalam barak.
Dari kejauhan, orang-orang mulai memperhatikan keributan baru itu.
Dan di tengah keadaan yang semakin berubah, Ki Sor Dondong beranjak dari duduknya, mendekati gerbang barat lalu mencoba membuka jalur hubungan dengan Prastawa.
Sima Baya sempat menoleh ke arah suara itu.
Orang yang bertelekan pada tongkat dan berteriak dari kejauhan itu bukan sekadar seseorang yang sedang menyaksikan pertempuran. Dari cara orang-orang di sekitarnya bergerak dan dari hubungan yang sedang dibangunnya dengan Prastawa, Sima Baya segera memahami bahwa kehadirannya dapat mengubah keadaan.
“Mundur! Keluar” serunya.
Beberapa orang sempat ragu, tetapi perintah itu segera diteruskan.
Kelompok kecil itu perlahan melepaskan tekanan. Mereka tidak lagi berusaha menerobos lebih jauh. Satu demi satu mundur melewati ambang gerbang, sambil tetap menjaga diri dari serangan pengawal Menoreh.
Setelah berada di luar, Sima Baya mengangkat wajah. Dengan suara keras, dia berteriak, “Hanya seperti inikah kemampuan pasukan khusus Mataram?”
Teriakan itu segera disambut dengan kalimat yang serupa sambil tertawa merendahkan oleh suara orang-orangnya. Mereka terus berteriak keras-keras sambil mundur, seolah-olah benturan singkat tadi bukan sesuatu yang perlu mereka khawatirkan.
Namun di dalam hati, Sima Baya telah mendapatkan sesuatu yang berbeda. Dia telah melihat kemampuan orang-orang yang berjaga di gerbang itu.
Dan dia juga telah menyadari bahwa orang yang bertelekan tongkat tadi dapat membuat keadaan berubah lebih cepat daripada yang diperkirakannya.
Kelompok itu kemudian menjauh dari gerbang barat, lenyap di balik fajar yang mulai meremang, meninggalkan suara pertempuran yang masih terdengar dari dalam barak.
Ketika para pengawal Menoreh dari Pringtali maupun mereka yang tadinya berjaga di jalur timur berhamburan masuk ke dalam barak dengan wajah penuh sukacita, tiga bayangan berkelebat menuju pategalan selatan.
Kemenangan telah mulai terasa di dalam barak. Suara orang-orang yang saling memanggil, langkah kaki berderap untuk kewajiban yang tidak terucapkan, dan kegembiraan yang pecah setelah ketegangan panjang membuat suasana berubah dalam waktu singkat. Beberapa orang bahkan telah mulai menyadari bahwa tekanan yang sejak tadi menghimpit mereka perlahan terlepas.
Tetapi tidak demikian dengan Sukra, Sayoga, dan Kinasih.
Ketiganya seolah tidak menaruh perhatian pada keadaan di dalam barak. Mereka bergerak meninggalkan keramaian, mengambil jalur menuju pategalan selatan dengan langkah yang tidak memberi kesempatan kepada kepada waktu untuk menahan.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting bagi mereka bertiga. Mereka bergerak seperti terbang dengan membawa kegelisahan.
Dan semakin jauh meninggalkan barak, semakin jelas bahwa tujuan mereka bukan sekadar menyusul orang-orang yang bertempur di selatan. Mereka sedang menuju sebuah gelanggang yang keadaannya sama sekali belum diketahui.
Di belakang mereka, suara kegembiraan para pengawal Menoreh masih terdengar.
Di depan, pategalan selatan menunggu dalam kesunyian yang berbeda.
Sukra mempercepat langkah. Sayoga dan Kinasih mengimbangi mengikuti dengan kecepatan seimbang.
Di pategalan selatan.
Agung Sedayu tegak berdiri. Dua telapak kakinya telah menapak utuh. Kakinya renggang, tubuhnya tegak dan tegar, sementara cambuk di tangannya masih bergerak menutup ruang di sekeliling tubuh. Setelah sekian lama tubuhnya dipaksa mengikuti aliran serangan lawan, kini dia bangkit dari tekanan dengan perubahan pada sikapnya.
Cambuk tak lagi berayun ketika dua lengan Sedayu menggantung di samping tubuhnya. Dengan lutut agak merendah, pandangan murid Kyai Gringsing ini tertuju lurus kepada Ki Jabon Seta. Agung Sedayu seperti telah menemukan kembali pusat kekuatan tubuhnya. Ada keteguhan tertentu pada cara Sedayu berdiri. Itu seperti seluruh tenaga tubuhnya sedang dikumpulkan pada satu pusat. Wajahnya menjadi hening. Pandangannya lurus kepada lawan.
Dari tempatnya mengamati, Ki Astaman menangkap perubahan itu. Benar. Sedayu telah mendapatkan pijakan. Bahkan lebih dari itu. Sikap tubuh Sedayu menunjukkan bahwa dia tidak sekadar hendak bertahan. Ada sesuatu yang sedang disiapkannya. Sesuatu yang membutuhkan ketenangan, ruang, dan waktu meski sedikit sekali.
Ki Astaman tidak mengalihkan pandangan. Pikirannya bertanya, “Apakah Sedayu akan mengungkapkan kedahsyatan ilmu melalui dua matanya?”
Menurut Ki Astaman, seandainya Agung Sedayu hendak menggunakan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya, maka inilah saat yang paling mungkin.
Di samping Ki Astaman, Jaka Awar-awar dan Ki Warujayeng juga sudah menduga-duga bahkan berharap bahwa mereka dapat menyaksikan kehebatan Agung Sedayu yang sudah lama tersiar di kalangan perguruan kanuragan.
Keadaan yang sama juga terbaca oleh Ki Jabon Seta. Kedudukan Agung Sedayu jauh berbeda dengan yang belum tampak sejak pertarungan dimulai. Tapi dia tidak akan memberi kesempatan kepada Sedayu untuk mempertahankan keadaan barunya.
Ki Jabon Seta teryata terus bergerak, dengan cepat dia mengayun langkah membuat lintasan memutari lawannya sambil sekali-kali melontarkan serangan berbahaya. Agung Sedayu pun akhirnya bergeser pula dengan cambuk yang sesekali juga berayun menangkis serangan Ki Jabon Seta.
‘Dalam pada itu’, tiba-tiba Ki Jabon Seta menyerang Agung Sedayu dengan kekuatan penuh. Serangan yang sangat dahsyat! Agung Sedayu tidak sempat menjaga jarak maka benturan senjata pun tidak terhindarkan. Ujung senjata mereka mengeluarkan dentuman yang sangat kuat hingga mampu mengguncang isi dada orang-orang yang bertarung di sebelah gelanggang mereka. Untuk sesaat, perkelahian kelompok antara Perguruan Orang Bercambuk dengan pengikut Ki Jabon Seta sempat terhenti!
Sebelum perkelahian kelompok itu berhenti sejenak.
Benturan dua perguruan yang masing-masing berjumlah agak besar itu masih berlangsung sengit. Bahkan mungkin lebih sengit dan keras jika dibandingkan dengan gerbang barat dan timur. Dua kelompok itu tidak mempunyai pemimpin yang dapat beradu siasat tempur. Masing-masing dari mereka bertempur perorangan.
Semula, pengikut Ki Jabon Seta lincah berloncatan dengan sikap merendahkan kemampuan cantrik yang datang dari Jati Anom, tapi kemudian yang tersisa adalah keterkejutan yang tak cepat habis. Betapa mereka mendapati bahwa para cantrik itu ternyata cukup tangkas dan mempunyai keberanian yang tak mudah dipatahkan dengan gertakan. Beberapa orang lantas terikat dalam perkelahian satu lawan satu lalu mulai menyebar, hampir memenuhi pategalan selatan.
Agak lama atau memang sulit untuk menakar waktu, kedatangan tiga anak muda dari timur itu secara mengejutkan mengubah keseimbangan. Kinasih memang tidak terjun langsung ke gelanggang, tapi berloncatan menutup ruang gerak atau mendorong paksa lawan kembali ke pertempuran. Gadis ini tidak perlu bertanya karena sudah mengenali tata gerak dan juga dari senjata bahwa para pemegang cambuk itu pasti orang-orang yang sempat dibicarakan kehadirannya di kediaman Ki Gede Menoreh. Terlebih lagi Sukra dan Sayoga pun langsung mengambil orang yang menjadi lawan cantrik Perguruan Orang Bercambuk.
”Siapakah kalian ini?” bertanya salah seorang pengikut Ki Jabon Seta.
”Sudah, diamlah. Berkelahi saja karena aku juga tidak tahu asal dan nama dusunku,” sahut Sukra sekenanya.
”Cah edan,” geram seorang lagi dari kubu Ki Jabon Seta.
- Benar. Orang itu tidak salah mengumpat karena Kerusuhan di Bukit Menoreh memang disebabkan banyak wong edan!
- Bila tidak, tentu orang lain tidak akan berkata, “Tidak perlu menunggu terlalu lama untuk meruntuhkan kekuasaan Jayanegara,” di Taring Yang Mengancam 1.
- Apalagi ketika keseimbangan pertempuran telah berubah total ketika seorang petarung bekelahi dengan segenap kemampuan dengan cara yang ganas di Kyai Plered 22, tepatnya di Sangkal Putung. Waktu itu, seorang pengawal, yang mengetahui Ki Garu Wesi telah berganti lawan, terhenyak! Tetapi saya tidak ingat bagaimana kelanjutan episode tersebut. Selamat mengikuti.
