0%
Still working...

Badai dari Grajegan 11 – Pajang Bersiap Menempuh Jalan Perang

Dironda 25 kali

Wedaran sebelumnya: Bhatara Pajang nyaris membuka singkap yang menutupi orang misterius itu. Dia menduga bahwa lelaki itu adalah Mpu Nambi.

Ken Banawa masih menyimak dan mencermati kata-kata Bhatara Pajang. Dan semakin besar rasa iba mengembang dalam hatinya. Dia tahu Bhatara Pajang tidak mengharap belas kasihan tentang jalan hidupnya tetapi Ken Banawa menahan diri.

“Aku tidak pernah berharap mempunyai atau menjumpai masa sulit seperti yang dialaminya. Boleh jadi, aku tidak akan sanggup mempunyai ketenangan seperti ini.” Ken Banawa berbisik pada dirinya. Untuk sementara waktu, dia  dapat merasakan kegamangan dan gelisah hati Bhre Pajang.

“Dan aku tidak melakukan apa pun untuk menuntut balas bagi kematian para prajurit di lereng Wilis,” terdengar Bhatara Pajang bersuara lirih. Ucapan yang mengandung penyesalan paling dalam. Rangkai kalimat yang menggambarkan bahwa dia benar-benar tidak berdaya menghadapi keadaan. Satu pilihan yang sangat sulit.

“Saya berencana menjodohkan Bondan itu bukan tanpa alasan kuat. Sebenarnya gelagat Ki Juru Manyuran telah saya ketahui. Bagiku, pernikahan adalah sebuah jalan damai. Saya pikir keinginannya untuk menguasai Pajang dapat diredam dengan membawanya masuk istana Pajang,” kata Bhatara Pajang.

Sesaat suasana menjadi sunyi. Rahang Bhre Pajang terlihat mengeras. “Saya mungkin dan bisa saja mengampuninya jika dia terbukti berada di belakang kekacauan yang terjadi pada malam pernikahan Bondan.”

Sejenak tatap mata Bhre Pajang menerawang jauh.

Lalu dia berkata lagi, “Mungkin sejarah akan mengenangku sebagai orang yang lemah karena ampunan yang berikan padanya, tetapi aku dapat melakukannya dalam batas tertentu. Aku mempunyai prasangka baik bahwa mungkin dia di bawah pengaruh atau tekanan pihak yang lebih kuat darinya. Tetapi membunuh seluruh utusan Pajang yang membawa hadiah untuk Sri Raja adalah kejahatan yang tidak terampuni.  Para utusan itu mempunyai anak, istri dan juga orang tua serta saudara. Lalu, seandainya, dia datang menemuiku di istana, aku pun dapat memberinya hadiah yang kurang lebih bernilai sama dengan yang dirampasnya. Tetapi ia tidak melakukannya. Pajang akan memberinya hukuman!”

Ken Banawa tidak memberi tanggapan atas keputusan pemimpin tertinggi Pajang itu. Dia menghormati alasan Bhatara Pajang yang akan menghukum Ki Juru Manyuran karena pembantaian yang telah terjadi setahun yang lalu.

“Dia bukan orang yang lemah, bahkan sepertinya dia merasa yakin dapat merengkuh hati Bondan yang mungkin telah hancur. Bondan mungkin akan kecewa jika mengetahui alasan pamannya menghukum Ki Juru Manyuran, tetapi dia akan mengerti. Aku meyakini itu! Dan selalu ada harapan di balik setiap kekacauan. Hukuman ini akan dapat memberi jalan keluar bagi Bondan dan Pajang.” Satu kesimpulan telah dimiliki oleh Ken Banawa dan dia akan bergerak sesuai arahan Bhatara Pajang.

Empat orang prajurit segera dipanggil oleh Bhre Pajang. Beberapa arahan singkat diberikan olehnya. “Kalian harus menuntaskan panggilan ini sebelum anak-anak lelap dalam buaian. Ki Banyak Abang, Resi Gajahyana dan Ki Nagapati harus berada di ruang ini sebelum tengah malam.”

Lantas dia berpaling pada Ken Banawa, katanya, “Paman tetap berada di tempat ini. Saya membutuhkan siasat dari Paman karena kita akan menghadapi medan yang berbeda dan khusus.”

Beberapa kejap kemudian, beranda yang terletak di bagian belakang itu menjadi sunyi. Begitu pula perasaan Bhatara Pajang yang tiba-tiba lebih senyap dari permukaan laut ketika tidak ada angin yang bergerak. Saat ini, Bhre Pajang merasa berada di dalam dasar sebuah jurang yang gelap. Dia terhempas dengan senyap.

“Aku tidak mungkin membunuhmu, anak muda. Tidak! Rencanaku untuk menjodohkanmu dengan anak Ki Juru Manyuran adalah sepenuhnya keinginanku untuk melihatmu bahagia. Kelak jika engkau telah mempunyai keturunan, maka tidak akan pernah ada perebutan kekuasaan di antara anak cucumu.

“Bibit perselisihan telah aku kubur saat ini meski itu harus ditempuh melalui jalan darah. Tetapi garis kehidupan memang selalu menyimpan persimpangan yang baru kita ketahui ketika seseorang berulah. Dan aku akan mengatakan yang sebenarnya jika bertemu dengan ayahmu. Jika pertemuan itu ada dan aku memang dihadirkan untuk itu. “Maafkan Paman, Bondan!” hati Bhatara Pajang berbisik panjang.

Kelopak mata Bhatara Pajang yang melekat erat menjadi sebuah pertanyaan bagi Ken Banawa, namun dia memilih untuk diam. Ken Banawa paham jika orang yang duduk di sampingnya tengah melakukan sesuatu dengan perasaannya sendiri.

Semua orang di istana Pajang larut dalam rasa sepi Bhatara Pajang. Mereka mendengar sebagian ucapan pemimpinnya karena ruang itu terbuka, mereka melihat mendung bergayut di wajahnya, orang yang dapat merasakan getar kesedihan dan amarah Bhatara Pajang meneruskan getaran itu pada yang lain. Maka dalam waktu singkat, setiap perasaan Bhre Pajang telah mendatangi hati setiap orang yang hidup di dalam istana.

Setiap orang bergegas melakukan percepatan untuk  bersiap. Mereka melihat sebuah masa depan, mereka harus menyesuaikan diri dengan langkah pemimpinnya. Mereka rela menyerahkan segala yang dimiliki untuk seseorang yang dipandang lemah oleh dunia.

Demi orang yang mempunyai kasih sayang melebihi kedalaman Laut Selatan, demi orang yang rela dihina karena kebijakannya, Pajang telah terbakar api peperangan!

Pada malam itu, seperti yang diharapkan oleh Bhatara Pajang, para utusannya telah tiba di tempat tujuan masing-masing. Pesan dan perintah telah dijatuhkan, setiap orang yang menerima amaran itu segera memberikan pesan penting pada setiap pemimpin kelompoknya.

Dan seperti halnya dua barak prajurit yang menggeliat dengan banyak persiapan, maka di padepokan pun terjadi keadaan yang sama.

Meski ucapannya ditujukan bagi Bhre Pajang yang tidak berada di padepokan, Resi Gajahyana berkata lirih pada dirinya, “Engkau telah membuat sebuah langkah penting, Angling Dhyaksa. Keputusan itu mungkin akan membuatmu terlihat lemah di depan Sri Jayanegara, tetapi kebenaran akan mencari jalan untuk menyatakan dirinya.”

Di hadapan Kao Sie Liong dan Zhe Ro Phan, Resi Gajahyana berkata, “Kalian dapat memilih karena pada dasarnya masalah ini tidak mewajibkan kalian untuk terlibat. Aku akan berada di belakang kalian jika kalian memutuskan untuk berdiam diri.”

Sejenak dua orang asing yang juga ahli dalam gelar pertempuran itu bertukar pandang. Kao Sie Liong mengangguk. Dia menoleh pada Resi Gajahyana dan mendapati bahwa lelaki yang berusia jauh di atasnya itu nyaris tidak menunjukkan tekanan pada mereka. Dan memang Resi Gajahyana tidak memberi perintah bagi mereka untuk terlibat!

“Kami akan melibatkan diri, Eyang! Keadaan ini tidak dapat dipisahkan dengan kehadiran buronan negara kami. Kami berdua telah mencintai  tanah ini, pada Bhre Pajang bahkan kami terkesan dengan anak muda itu, Bondan.

“Dengan alasan itu, kami akan merasa ringan untuk mengalirkan darah kami di atas tanah ini. Sosok Eyang sendiri, bagi kami, adalah anugerah yang luar biasa. Saya, Kao Sie Liong, akan merasa hina apabila tetap berpangku tangan dan melihat Eyang terjerat masalah pelik.”

Zhe Ro Phan bergeser maju, dengan tegas berkata, “Saya akan mengikuti langkah kaki Tuan meski harus memasuki kawah Merapi!”

Resi Gajahyana tidak memberi ucapan balik. Dia terharu dan itu dapat dilihat dari sinar matanya. Resi Gajahyana bergeser selangkah maju lalu berkata, “Kao Sie Liong, kau boleh menemaniku dalam pembicaraan tengah malam nanti di istana Pajang.”

Sambil menepuk lengan Zhe Ro Phan, Resi Gajahyana mengatakan, “Engkau berada di sini. Tiga cantrik akan menjadi penghubung kita. Wong Asman akan membantumu. Maka, bersiaplah! Aku mengenal Bhre Pajang, dan satu kemungkinan besar adalah dia akan memerintahkan kita bergerak pada akhir malam ini!”

  • Selain Ken Arok, seorang perwira militer Kediri pun mempunyai ingin menyingkirkan Kertajaya dari singgasana Kediri. Toh Kuning berada di sana untuk tidak Penyelamatan 2 dalam kewajibannya yang tidak terikat paugeran keprajuritan. Benturan kembali terjadi!
  • Pelayan dalam, orang yang dekat dengan Sultan Agung itu ternyata mempunyai ikatan kuat dengan Kakang Panji – pemberontak zaman Panembahan Senapati. Tanpa ada kesengajaan, Glagah Putih sempat terlibat adu kemampuan di sisi Kali Opak. Sedangkan di Tanah Perdikan Menoreh, Hari Bising 61 sedang merayap pelan.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.