Sabuk Inten 2

Jantung Ki Suradilaga berdentang lebih kencang dengan pertanyaan terakhir Raden Trenggana. Sebenarnya ia memang telah mendengar satu dua rencana dari para petugas sandi. Tetapi, ia belum dapat melakukan tindakan penting karena keterangan itu, menurutnya, masih belum jelas tujuannya meskipun mulai mengguncang sendi-sendi tata keprajuritan.
“Raden,” ia berkata kemudian. Agaknya Ki Tumenggung akan berkata dengan hati-hati agar Raden Trenggana tidak salah memahami sehingga kemudian membuat keputusan yang salah. Ki Tumenggung melanjutkan, ”Saya mendapat keterangan yang berlainan dari para petugas sandi yang bertugas di setiap jengkal wilayah yang berada di antara Demak dan Pajang. Saya mendengar apabila ada satu atau dua pemimpin prajurit yang mempunyai keinginan yang berbeda dengan Anda. Namun saya masih mendapat kesulitan untuk menembus dinding tebal yang berada di antara kami.
“Sebenarnya saya telah menelusuri kebenaran berita itu sesaat setelah aku mendapat laporan. Dan sampai hari ini, aku harus mengakui jika mereka benar-benar mempunyai perhitungan yang masak pada setiap berita yang mereka hembuskan.”

Raden Trenggana menyimak dengan dahi berkerut. Sesekali ia menarik napas dalam-dalam. Raden Trenggana masih meraba tentang sosok yang dimaksud oleh Ki Tumenggung Suradilaga.
Lalu Raden Trenggana bertanya, ”Apa yang menjadi landasan pemikiranmu hingga menilai mereka sangat cakap dalam membuat perhitungan?”
“Saat ini, dalam pengamatanku, beberapa kelompok prajurit mulai mengalami gesekan-gesekan kecil. Maksud saya adalah kelompok-kelompok prajurit sekarang tidak lagi mempunyai rasa kebersamaan dalam lapisan yang seperti dahulu atau beberapa bulan yang lalu,” Ki Tumenggung Suradilaga merasakan suaranya bergetar lain dari biasanya. Ada khawatir dalam hatinya jika keterangannya akan membuat penguasa Demak itu menjadi marah.
“Apakah mereka membuat kabar buruk tentang aku?”
“Tidak.”
“Apakah mereka menebar rasa takut pada rakyatku?”
“Tidak.”
“Lalu apa yang mereka katakan?”
“Mereka mengulang kata-kata Anda tentang rencana penyerbuan ke wilayah timur. Lalu mereka menyertakan sejumlah pertanyaan yang sebenarnya sulit dijawab oleh para prajurit. Dan justru kesulitan untuk menjawab pertanyaan itulah yang membuat sendi keprajuritan menjadi retak. Beberapa lurah bahkan berani membantah perintah seorang rangga.”
Raden Trenggana yang masih belum dapat menerima keterangan Ki Tumenggung Suradilaga kemudian bertanya,” Bukankah aku telah katakan pada para pemimpin prajurit tentang alasan itu?”
“Benar. Anda telah mengatakan itu pada kami semua.”
“Lalu mengapa para rangga dan tumenggung tidak menghukum mereka yang membangkang?”
“Kami bukan tidak berani menghukum mereka, Raden,” Ki Suradilaga tidak meneruskan kata-katanya. Rasa bimbang menghampirinya.
“Katakan saja!”
Agak ragu-ragu Ki Tumenggung untuk berkata. Ia diam lalu membulatkan tekadnya sekalipun di kemudian hari sebagian pemimpin yang lain akan kecewa dengan sikapnya.
“Raden Trenggana, sebenarnya aku telah bersepakat dengan beberapa tumenggung untuk tidak mengatakan kabar tidak jelas itu di hadapanmu. Tetapi, sebagai pemimpin kami, Anda berhak untuk mengetahui keadaan yang sedang berkembang,” desis Ki Tumenggung dalam hatinya.
“Katakan, Ki Suradilaga! Anda adalah seorang senapati yang dibanggakan para prajurit. Senapati telik sandi yang memiliki kecerdasan luar biasa. Seorang tumenggung yang akan mengorbankan apa saja demi kejayaan Demak,” tegas Raden Trenggana berkata-kata. Sementara Ki Tumenggung Suradilaga membenamkan wajah dalam-dalam.

Kemudian Ki Suradilaga berkata, ”Raden, orang-orang ini telah menanyakan kesiapan Demak. Dan mengatakan pada para prajurit jika Demak sebenarnya tidak mempunyai persiapan dan kelengkapan yang dapat mengatasi kadipaten-kadipaten di daerah timur. Bahkan mereka mengatakan jika kemenangan Demak adalah pemberian dari para adipati untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Kata-kata mereka ini ternyata mampu mengusik nalar prajurit. Beberapa lurah bahkan berani untuk menolak perintah rangga untuk melakukan latihan gelar perang dan kegiatan-kegiatan lain yang terkait dengan persiapan Anda.”
“Lalu kalian membiarkan pembangkangan itu terjadi?”
“Demikianlah, Raden Trenggana. Ketika seorang lurah mendapat hukuman, sejumlah prajuritnya berani mengangkat senjata dan hampir saja terjadi pertempuran di barak yang terletak di Kedungjati. Para prajurit itu secara nyata menawan empat orang anak buahku. Pada saat prajurit yang dikirim oleh Ki Patih telah tiba disana, seorang penghubung mengatakan padaku apabila telah terjadi peristiwa serupa di barak yang lain,” Ki Suradilaga mengambil jeda sejenak. Ia kemudian meneruskan, ”Untuk itulah Ki Patih meminta kami semua untuk tidak mengatakan peristiwa-peristiwa itu pada Anda hingga kami dapat mengungkap sosok yang berada di balik pembangkangan di dua barak itu.”
“Mengapa Paman Patih tidak mengatakannya padaku?” Sultan Trenggana bertanya-tanya dalam hatinya.
“Ki Patih Kusumanegara tidak ingin setiap persiapan ke Panarukan menjadi terganggu. Setiap benturan antar prajurit akan membuat mereka semakin lemah,” kata Ki Tumenggung Suradilaga.

“Baiklah, aku akan berbicara dengan Paman Patih mengenai peristiwa itu,” kata Sultan Trenggana kemudian. Dentang dalam dadanya yang berpacu cepat itu kini mulai agak mengendap. Tatap mata tajam seperti menyiratkan kemarahan yang mulai padam. Ia berkata lagi, ”Kini aku akan katakan padamu. Aku minta kau berangkat ke Pajang dan menemui Adipati Hadiwijaya. Bawalah pusaka Sabuk Inten sebagai pertanda jika aku datang secara pribadi. Sampaikan padanya, aku mengundangnya datang ke Demak.”
Rasa terkejut memenuhi dada Ki Tumenggung Suradilaga. Ia dapat menduga jika mengundang Adipati Pajang merupakan pertanda ada kejadian atau rencana penting yang akan dikemukakan Sultan Trenggana. Tetapi ia tidak menyangka akan dibekali pusaka keramat Kesultanan Demak Bintara, keris Sabuk Inten.
“Kemarilah!” perintah Sultan Trenggana yang telah berdiri dan memegang Keris Sabuk Inten. Ki Tumenggung Suradilaga beringsut maju setapak demi setapak. Tangan Ki Tumenggung Suradilaga bergetar hebat saat menerima pusaka dari tangan Sultan Trenggana. Kening Ki Tumenggung sedikit mengembun saat ia menyimpan dengan hati-hati pusaka itu ke sebuah kantung kulit yang kemudian ia selempangkan di depan dada.
“Ki Tumenggung,” kata Sultan Trenggana penuh wibawa sesaat setelah kembali ke tempat duduknya, ”Bagaimana menurutmu jika aku meminta Pajang mengirim pasukan untuk bergabung dengan Demak?”
Ki Tumenggung Suradilaga tidak segera menjawab. Pikirannya masih dilintasi pertanyaan mengenai landasan Sultan Trenggana dengan memberinya pusaka keraton sebagai pertanda kehadirannya. Tentu saja Ki Suradilaga menjadi heran dan bertanya-tanya karena masih banyak pusaka yang sebenarnya dapat menjadi wakil kehadiran pemimpin Demak. Meski begitu, akhirnya Ki Tumenggung segera mengalihkan perhatiannya pada pertanyaan yang diajukan Sultan Trenggana.
“Adipati Pajang sudah barang tentu akan senang dapat membantu Demak. Sebagai seseorang yang pernah menjadi lurah wiratamtama, tentu saja Kanjeng Adipati Pajang akan dapat membantu Kanjeng Sultan menyusun rencana penyerangan,” jawab Ki Tumenggung Suradilaga.
“Begitukah?”
Ki Tumenggung Suradilaga menganggukkan kepala. Ia seolah mengingatkan Sultan Trenggana tentang seorang lelaki yang mempunyai ketajaman nalar di atas rata-rata dan ilmu kanuragan yang mungkin berjarak satu dua lapis dari Raden Trenggana sendiri.
Raden Trenggana mengangguk-angguk kecil. Lalu katanya, ”Kau tidak dapat segera mencapai Pajang dalam waktu yang singkat. Aku juga memintamu untuk mengamati sambil mengembangkan penelusuran untuk membuka singkap yang menutupi orang-orang yang kau katakan telah menebar benih keraguan dalam hati prajurit-prajuritku. Dan dalam perjalanan menuju Pajang, aku minta kau juga menempatkan satu dua orang yang dapat mengawasi keadaan yang mungkin saja dapat berubah. Maksudku, orang-orang itu dapat saja mengikutimu kemudian menyergap Angger Mas Karebet dalam perjalanan menuju kemari.”
“Saya perhatikan itu, Raden!” tegas Ki Tumenggung Suradilaga menanggapi permintaan Raden Trengana.
“Nah sekarang berangkatlah. Tidak boleh ada seorang pun yang tahu kepergianmu ke Pajang. Lalu kau tunjukkan pusaka itu apabila kau telah berada di hadapan Angger Mas Karebet.” Kemudian Raden Trenggana meminta Ki Suradilaga maju lebih dekat, lalu mengatakan beberapa patah kata dengan berbisik. Sesekali Ki Tumenggung terlihat menganggukkan kepala dengan kening berkerut. Beberapa lama kemudian Raden Trenggana bangkit berdiri dan melangkah keluar ruangan diikuti Ki Tumenggung Suradilaga beberapa langkah dibelakangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *