Sabuk Inten 13

Ki Rangga Sembaga tersnyum kecut dan menahan marah pada perilaku Kidang Tlangkas. Sebenarnya ia ingin menghukum prajurit muda itu, namun kebesaran nama Pangeran Parikesit membuatnya berpikir ulang. Sesungguhnya mudah saja bagi Ki Sembaga memukul kepala Kidang Tlangkas, tetapi ia juga harus menimbang kehadiran Ki Suradilaga. Walaupun Ki Suradilaga akan menyetujui keputusannya, tetapi Ki Sembaga tidak ingin mendahului orang yang setingkat lebih tinggi kedudukannya di Demak.
Merasa telah dapat mengendalikan suasana, Kidang Tlangkas berkata lugas dengan nada perintah, “Kalian tentu telah sadar dengan kesalahan ini, kini, aku minta kalian berdua menjauhi Sambi Sari. Sekarang!”
Manakala Kidang Tlangkas menutup mulutnya, Ki Suradilaga melayangkan tendangan ke bagian atas tubuh Kidang Tlangkas. Prajurit muda itu tangkas berkelit lalu membalas serangan dengan pukulan datar, lalu keduanya melompat saling menjauh. “Ki Rangga, kau lihat itu? Kau tentu melihatnya. Dan jangan pernah menyalahkanku jika aku membalas serangan itu.” Tubuh Kidang Tlangkas merunduk lebih rendah dari pinggangnya. Ia mengancam Ki Suradilaga dengan serangan yang dapat dipastikan berbahaya!

Sekejap kemudian keduanya terlibat dalam perkelahian seru. Sejumlah gebrakan awal telah menjadi tanda ketinggian olah kanuragan prajurit yang bertugas di halaman belakang istana Pajang. Ketekunan Kidang Tlangkas melatih diri telah membawanya lebih maju dari prajurit lain yang sejajar dengannya.

Beberapa saat kemudian.

“Hentikan…hentikan!” teriak Ki Sedayu Tawang. Dari tempat yang tidak terjangkau pandangan mata Ki Suradilaga, ia mengawasi setiap perbuatan anak muda yang datang bersamanya. Bahkan ia pun merasa geram dengan sikap Kidang Tlangkas yang dinilainya jauh melampaui batasan seorang prajurit. Tetapi ia cenderung menunggu perkembangan. Lalu ia muncul ketika perkelahian telah terjadi sekian waktu.
Namun sayang, ucapan Ki Sedayu Tawang untuk melerai perkelahian justru dijemput Ki Sembaga dengan terkaman dahsyat. Kemunculan Ki Sedayu Tawang adalah pertanda buruk bagi penyamaran mereka berdua, pikir Ki Sembaga. Ia mengenal Ki Sedayu Tawang sebagai duta tidak resmi Adipati Gresik. Sesungguhnya tidak ada permusuhan antara Pajang dengan Gresik, tetapi menurut Ki Sembaga, perilaku Ki Sedayu Tawang di Pajang telah melewati batas seorang utusan. Campur tangan Ki Sedayu Tawang dalam beberapa urusan di Pajang, dinilainya terlalu jauh hingga mempengaruhi cara pandang sejumlah kademangan pada pribadi Adipati Hadiwjaya. Mereka pernah membicarakan itu, tetapi Ki Sedayu Tawang berkeras bahwa ia hanya memberi nasehat tentang cara menjalankan roda pemerintahan di wilayah yang lebih kecil.

Maka perkelahian pun berkembang lebih cepat. Dua gelanggang mendadak tercipta pada awal malam di tepi luar pedukuhan Sambi Sari.
Dalam waktu itu, Ki Suradilaga harus mengakui Kidang Tlangkas memang lebih unggul dari prajurit biasa lainnya, dan pantas menjadi tangan kanan seorang petinggi. Laju serangan Kidang Tlangkas yang lincah memainkan kedua kakinya, bergantian mengirim tendangan, sekali-kali ia melayang tinggi menerjang bagian atas tubuh musuhnya, kadang kala ia menyapu kedua kaki Ki Suradilaga. Dan keseluruhan, Kidang Tlangkas mampu mengimbangi Ki Tumenggung Suradilaga.
Bagi Kidang Tlangkas, pertarungan itu bukan pertarungan biasa saja. Ia mempunyai kepentingan, selain menghalau dua orang yang dianggapnya sebagai penyusup, untuk membuktikan pada Ki Semabga bahwa ada prajurit seperti dirinya di Pajang. Hanya itu.

Sepanjang waktu perkelahian itu, bila ada orang yang teliti mengamati Kidang Tlangkas, ia akan mendapatkan keanehan pada sorot mata orang suruhan Pangeran Parikesit itu. Kedua sinar yang keluar dari matanya. Hasrat menggebu untuk segera mengalahkan Ki Suradilaga berhasil menguasai segenap semangat Kidang Tlangkas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *